Bersungguh-Sungguh untuk Sebuah Kesementaraan

Adalah Theoresia Rumthe sosok yang mendengungkan “kesungguhan dalam kesementaraan” ke dalam hidup saya. Dalam buku kumpulan puisinya “Tempat Paling Liar di Muka Bumi”, dia mengatakan, “Jika ketika jatuh cinta kau melakukannya dengan sungguh-sungguh, kelak ketika kau harus berpisah dengannya, kau tidak akan menyesal.”

IMG_20170708_132431

Continue reading “Bersungguh-Sungguh untuk Sebuah Kesementaraan”

Advertisements

Menikmati Pagi di Warung Kopi Purnama, Bandung

Awalnya saya hanya berniat untuk bersepeda keliling kota karena sudah lama tak melakukannya. Jalanan Bandung yang lengang di pagi hari memang menggoda. Apalagi udara sejuknya yang membuat diri tak ragu untuk banyak-banyak berkeringat. Saya kerap membayangkan Bandung 20 tahun yang lalu. Ketika dia belum sepadat sekarang. Ketika tak ada motor yang melintas dengan suara memekakkan telinga. Ketika tak ada berjuta angkot yang seenaknya sendiri memenuhi jalan. Pada masa itu saya akan dengan senang hati memutuskan untuk menetap di kota ini.

Continue reading “Menikmati Pagi di Warung Kopi Purnama, Bandung”

Review – Paris Letters

Paris Letters, atau dalam versi Indonesia disebut Surat dari Paris, merupakan kisah nyata kehidupan Janice MacLeod pada usia 34 tahun hingga beberapa tahun setelahnya. Meski bukan kisah fiksi, novel ini diawali dengan kekacauan dan berakhir dengan manis layaknya dongeng dan fiksi pada umumnya. Bedanya, Paris Letters membuat saya mampu percaya bahwa sekacau apapun hidup kita rasanya saat ini, bukan tidak mungkin kalau pada akhirnya kita menemukan kebahagiaan karena Janice telah menunjukkannya. Kita hanya perlu mengikuti kata hati dan percaya pada rencana Tuhan.

Continue reading “Review – Paris Letters”

11.11

Ada yang hilang…

Dulu kukira seberapa cepat kita move on ditentukan oleh seberapa tangguh hati dan jiwa ini. Ternyata kecepatan move on ditentukan oleh seberapa dalam rasa nyaman yang pernah ada.

Tenang, rindu ini milikku, bukan milikmu.

(Lagi-Lagi) Terdampar di Jogja

Setelah Desember lalu luntang-lantung bersama 5 orang teman di Malioboro, lagi-lagi saya terdampar di Jogja.

Sekitar akhir Februari saya berkata pada seorang teman, “Pengen ikut workshop menulis deh.” Lagi-lagi, Alam Semesta mendengar dan memberi jalan untuk terwujudnya keinginan saya. Tanda Alam Semesta itu berupa kicauan Mbak Windy Ariestanty mengenai sebuah acara bertajuk Kanca. Kanca adalah sebuah festival berbagi ilmu dan belajar bersama teman-teman yang dituan rumahi oleh Writing Table di mana Kak Windy merupakan salah satu founder-nya. Tanpa pikir 2x, saya langsung mendaftar untuk 2-day pass. Yap, festival ini berlangsung selama 2 hari, pada tanggal 18 dan 19 Maret 2017.

Continue reading “(Lagi-Lagi) Terdampar di Jogja”

Beauty and the Beast Live-Action: The Missing Piece

Beauty-Beast-2017-Movie-Posters
Taken from http://www.popsugar.com

Beauty and the Best versi live action milik Disney ini adalah versi ketiga yang saya tonton setelah sebelumnya versi animasi (yang juga) milik Disney yang rilis pada tahun 1991 dan versi teater dari Broadway (dengan alur cerita mengikuti alur yang diciptakan Disney) pada tahun 2015. Berbeda dengan 2 versi sebelumnya, versi live action ini memberikan beberapa penambahan cerita yang melengkapi kisah pendahulunya, misalnya apa yang menyebab sang pangeran menjadi bertabiat buruk atau mengapa Belle hanya tinggal berdua dengan ayahnya, apa yang terjadi pada ibunya.

Continue reading “Beauty and the Beast Live-Action: The Missing Piece”

Blog at WordPress.com.

Up ↑