Posted in film, review

Trinity: The Nekad Traveler

TrinitytehNekadTraveler
Sumber: twitter.com

Saya terhasut ocehan seru manusia-manusia penghuni linimasa saya di Twitter. Awalnya saya sama sekali tidak berminat menonton film ini. Mungkin membaca bukunya pun tak pernah. Tapi ceceran trailer dan soundtrack-nya di linimasa membuat saya penasaran. Apalagi seorang travel blogger yang saya ikuti menjadi cameo dalam film ini. Jadilah 16 Maret 2017 saya melangkahkan kaki ke bioskop. Continue reading “Trinity: The Nekad Traveler”

Posted in life

Masokis

Kadang saya pikir saya ini masokis. Dalam artian menyukai rasa sakit. Seperti ketika sekelebat kenangan melintas di benak.Bukannya mengusir kenangan itu, saya membiarkannya berkubang dan beranak pinak sampai akhirnya meluber, menyesaki rongga dada, dan meleleh keluar melalui mata. Saat rangkaian kenangan itu akhirnya berhenti, saya malah mencari kenangan serupa untuk diputar ulang di otak.

Kadang nyeri di dada dan basah di mata terasa seperti merebahkan diri di tempat tidur di penghujung hari yang panjang nan melelahkan. Nyaman dan yang jelas, saya menikmatinya.

Posted in life

Aku Ingin Jatuh Cinta

Seperti kedatanganmu yang tiba-tiba dalam hidupku
Seperti senyum manismu yang serta merta membuatku tak bisa lupa
Seperti alis tebalmu yang membuatku terjerembab di dalamnya
Aku ingin jatuh cinta lagi seperti itu
Lalu terjatuh semakin dalam doa-doa

Posted in friendship, hiking, life, things I love, travelling

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #4

Sebelumnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3

Hujan turun dengan deras. Sisi belakang tenda kami basah.

“Wah, terkondensasi,” kata David, meraba sisi tenda yang basah.Usut punya usut flysheet-nya tidak terpasang sempurna sehingga ketika basah, flysheet menempel dan air merembes hingga ke dalam tenda. “Nantilah kalau rada reda dibenerin.”

Ketika suara air yang menumbuk tenda melemah, dia beranjak. Udara dingin menyeruak masuk saat pintu tenda dibuka. Aku bergidik.

Aku bisa mendengar langkah-langkah David menuju belakang tenda. Dia menarik flysheet menjauh dan menyangganya dengan ranting-ranting yang ditemukannya. Tenda kami pun aman.

Continue reading “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #4”

Posted in celoteh, life

Teman Tidur

Ide menginap dengan teman selalu jadi sesuatu yang disambut dengan antusias. Sudah terbayang nikmatnya pillow talk; berbagi cerita dan mendengarkan cerita. Rasanya semua kisah bisa dibagi saat itu, dalam kamar-sebuah ruangan yang pribadi. Aku jadi berpikir barangkali kita lebih memerlukan teman tidur daripada teman hidup. Dan bukankah teman hidup itu juga teman tidur. Continue reading “Teman Tidur”

Posted in friendship, hiking, life, things I love, travelling

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #2

Sebelumnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #1

 

Jumat, 1 Mei 2015

Langit masih gelap ketika bus memasuki Terminal Mendolo, Wonosobo, namun suasana terminal sudah cukup ramai. Selain bus-bus antar kota yang berdatangan, tampak beberapa bus 3/4 yang siap berangkat dan kondektur-kondektur yang sibuk mencari penumpang.

Kami memutuskan menunggu terang lebih dulu dan beringsut ke salah satu sisi terminal. Menumpang di salah satu lapak penjaja makanan yang masih belum buka.

“Kita jadi nanti ke Dieng berdua aja?” Aku dan Idha membahas rencana kami setelah dari Prau. Niatnya memang setelah dari Prau ini, perjalanan dilanjutkan ke Dieng karena kami juga mengambil rute turun melalui Jalur Dieng dan masih ada 1 hari libur untuk dinikmati. Namun Amay harus kembali ke Bandung pada hari Sabtu. Robi pun menginformasikan hal yang sama. Alhasil, aku dan Idha melanjutkan rencana ini berdua.

Continue reading “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #2”

Posted in friendship, hiking, life, things I love, travelling

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3

Sebelumnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #2

Sabtu, 2 Mei 2015

Satu sindrom yang selalu menjangkiti setiap bermalam di gunung adalah malas bangun. Dingin yang menggigit membuat diri enggan untuk menyibak sleeping bag, apalagi keluar dari dalam tenda. Namun demikian, aku mendengar suara-suara di luar. Suara David. Suara Robi. Tak lama Amay pun menyusul keluar. Aku mulai tergoda menyaksikan apa yang mereka saksikan. Seperti apakah pagi di Prau…

Continue reading “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3”