(Lagi-Lagi) Terdampar di Jogja

Setelah Desember lalu luntang-lantung bersama 5 orang teman di Malioboro, lagi-lagi saya terdampar di Jogja.

Sekitar akhir Februari saya berkata pada seorang teman, “Pengen ikut workshop menulis deh.” Lagi-lagi, Alam Semesta mendengar dan memberi jalan untuk terwujudnya keinginan saya. Tanda Alam Semesta itu berupa kicauan Mbak Windy Ariestanty mengenai sebuah acara bertajuk Kanca. Kanca adalah sebuah festival berbagi ilmu dan belajar bersama teman-teman yang dituan rumahi oleh Writing Table di mana Kak Windy merupakan salah satu founder-nya. Tanpa pikir 2x, saya langsung mendaftar untuk 2-day pass. Yap, festival ini berlangsung selama 2 hari, pada tanggal 18 dan 19 Maret 2017.

Continue reading “(Lagi-Lagi) Terdampar di Jogja”

Advertisements

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #4

Sebelumnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3

Hujan turun dengan deras. Sisi belakang tenda kami basah.

“Wah, terkondensasi,” kata David, meraba sisi tenda yang basah.Usut punya usut flysheet-nya tidak terpasang sempurna sehingga ketika basah, flysheet menempel dan air merembes hingga ke dalam tenda. “Nantilah kalau rada reda dibenerin.”

Ketika suara air yang menumbuk tenda melemah, dia beranjak. Udara dingin menyeruak masuk saat pintu tenda dibuka. Aku bergidik.

Aku bisa mendengar langkah-langkah David menuju belakang tenda. Dia menarik flysheet menjauh dan menyangganya dengan ranting-ranting yang ditemukannya. Tenda kami pun aman.

Continue reading “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #4”

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #2

Sebelumnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #1

 

Jumat, 1 Mei 2015

Langit masih gelap ketika bus memasuki Terminal Mendolo, Wonosobo, namun suasana terminal sudah cukup ramai. Selain bus-bus antar kota yang berdatangan, tampak beberapa bus 3/4 yang siap berangkat dan kondektur-kondektur yang sibuk mencari penumpang.

Kami memutuskan menunggu terang lebih dulu dan beringsut ke salah satu sisi terminal. Menumpang di salah satu lapak penjaja makanan yang masih belum buka.

“Kita jadi nanti ke Dieng berdua aja?” Aku dan Idha membahas rencana kami setelah dari Prau. Niatnya memang setelah dari Prau ini, perjalanan dilanjutkan ke Dieng karena kami juga mengambil rute turun melalui Jalur Dieng dan masih ada 1 hari libur untuk dinikmati. Namun Amay harus kembali ke Bandung pada hari Sabtu. Robi pun menginformasikan hal yang sama. Alhasil, aku dan Idha melanjutkan rencana ini berdua.

Continue reading “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #2”

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3

Sebelumnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #2

Sabtu, 2 Mei 2015

Satu sindrom yang selalu menjangkiti setiap bermalam di gunung adalah malas bangun. Dingin yang menggigit membuat diri enggan untuk menyibak sleeping bag, apalagi keluar dari dalam tenda. Namun demikian, aku mendengar suara-suara di luar. Suara David. Suara Robi. Tak lama Amay pun menyusul keluar. Aku mulai tergoda menyaksikan apa yang mereka saksikan. Seperti apakah pagi di Prau…

Continue reading “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3”

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #1

Genre   : You might think that it’s an adventure story. Nah, it’s merely drama, dude. Sorry to disappoint you.

Tentang Prau

Terletak di Kabupaten Wonosobo.
Ketinggian 2.565 mdpl.
Terdapat 2 jalur pendakian utama, yaitu Patak Banteng dan Dieng. Dari Terminal Mendolo, Wonosobo kedua tempat ini dapat dicapai dengan menggunakan mobil-mobil elf. Tarifnya Rp 25.000 per orang. Dan tidak ada gunanya menawar karena semua sopir elf telah menjalin kesepakatan (update Mei 2016).
Jalur Patak Banteng memiliki 3 pos: Sikut Dewo, Canggal Walangan, dan Cacingan. Medannya berupa tanjakan dari basecamp hingga camp area. Diawali dengan anak tangga kemudian berubah menjadi jalan tanah setelah pos 1. Sebelum pos 1, warung-warung banyak di kanan kiri jalan setapak. Setelah camp area hingga puncak, medan cenderung datar dengan hamparan rumput dan bunga daisy di kanan kiri. Bila turun melalui jalur Dieng, medan berupa jalan tanah. Menjelang pemancar jalan terbagi 2: satu terus menanjak menuju pemancar, yang lain berbelok ke kiri. Jalur yang ini lebih ringan karena mengitari puncak pemancar, namun cukup membuat deg-degan karena sebelah kiri adalah jurang.

Simaksi : Rp 10.000

Kamis, 30 April 2015

Sebuah amplop tebal mendarat di mejaku. Pada permukaannya tertempel selembar kertas bertuliskan nama beberapa orang yang seruangan denganku, termasuk aku sendiri. Pesan pada kertas itu bertanda tangan Robi. Beberapa bungkus makanan ringan meluncur dari dalam amplop itu ketika aku membukanya. Mengertilah aku kiriman apa ini. Segera kubuka chat room dengannya.

Continue reading “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #1”

My Dear Rosie

????????

I still remember the day I brought you home.
March 24, 2013. Right after I got my test and before I went to Sunday church.
I was confused. I had no idea of what a right carrier looked like or how it should be, but when I saw you I knew that I had to bring you home.
That afternoon was my first time, bringing a really big rucksack in town. I felt embarassed that I thought if someone asked me where I had been, I’d had “Eiger” as my answer. But no one asked. I slipped into my room in silence.

Continue reading “My Dear Rosie”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑