Balada Brownies Magic Com

Sebagai seorang sweet tooth, kue kegemaran saya adalah brownies. Awal Agustus kemarin sempat gelisah dan resah macam orang diterjang malarindu gara-gara pengen banget ngegigit brownies. Kalau di Bandung, saya pasti langsung order browniesnya Teh Gladies. Sekarang kalau mau order harus tunggu tanggal PO dulu 😦 Mengingat ini saya jadi makin gundah gulana. Ribet amat, kan yang dagang brownies banyak? Well, gimana ya… hanya brownies Dapur Gladies yang mampu memuaskan lidah saya. Sampai akhirnya 2 minggu lalu saya mendapat resep brownies yang setelah dieksekusi hasilnya pas lidah turun ke hati. Uh, bahagianya… Mungkin begini rasanya merindu seseorang lalu sukses bertemu.

Continue reading “Balada Brownies Magic Com”

Advertisements

Menikmati Pagi di Warung Kopi Purnama, Bandung

Awalnya saya hanya berniat untuk bersepeda keliling kota karena sudah lama tak melakukannya. Jalanan Bandung yang lengang di pagi hari memang menggoda. Apalagi udara sejuknya yang membuat diri tak ragu untuk banyak-banyak berkeringat. Saya kerap membayangkan Bandung 20 tahun yang lalu. Ketika dia belum sepadat sekarang. Ketika tak ada motor yang melintas dengan suara memekakkan telinga. Ketika tak ada berjuta angkot yang seenaknya sendiri memenuhi jalan. Pada masa itu saya akan dengan senang hati memutuskan untuk menetap di kota ini.

Continue reading “Menikmati Pagi di Warung Kopi Purnama, Bandung”

(Lagi-Lagi) Terdampar di Jogja

Setelah Desember lalu luntang-lantung bersama 5 orang teman di Malioboro, lagi-lagi saya terdampar di Jogja.

Sekitar akhir Februari saya berkata pada seorang teman, “Pengen ikut workshop menulis deh.” Lagi-lagi, Alam Semesta mendengar dan memberi jalan untuk terwujudnya keinginan saya. Tanda Alam Semesta itu berupa kicauan Mbak Windy Ariestanty mengenai sebuah acara bertajuk Kanca. Kanca adalah sebuah festival berbagi ilmu dan belajar bersama teman-teman yang dituan rumahi oleh Writing Table di mana Kak Windy merupakan salah satu founder-nya. Tanpa pikir 2x, saya langsung mendaftar untuk 2-day pass. Yap, festival ini berlangsung selama 2 hari, pada tanggal 18 dan 19 Maret 2017.

Continue reading “(Lagi-Lagi) Terdampar di Jogja”

Beauty and the Beast Live-Action: The Missing Piece

Beauty-Beast-2017-Movie-Posters
Taken from http://www.popsugar.com

Beauty and the Best versi live action milik Disney ini adalah versi ketiga yang saya tonton setelah sebelumnya versi animasi (yang juga) milik Disney yang rilis pada tahun 1991 dan versi teater dari Broadway (dengan alur cerita mengikuti alur yang diciptakan Disney) pada tahun 2015. Berbeda dengan 2 versi sebelumnya, versi live action ini memberikan beberapa penambahan cerita yang melengkapi kisah pendahulunya, misalnya apa yang menyebab sang pangeran menjadi bertabiat buruk atau mengapa Belle hanya tinggal berdua dengan ayahnya, apa yang terjadi pada ibunya.

Continue reading “Beauty and the Beast Live-Action: The Missing Piece”

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #4

Sebelumnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3

Hujan turun dengan deras. Sisi belakang tenda kami basah.

“Wah, terkondensasi,” kata David, meraba sisi tenda yang basah.Usut punya usut flysheet-nya tidak terpasang sempurna sehingga ketika basah, flysheet menempel dan air merembes hingga ke dalam tenda. “Nantilah kalau rada reda dibenerin.”

Ketika suara air yang menumbuk tenda melemah, dia beranjak. Udara dingin menyeruak masuk saat pintu tenda dibuka. Aku bergidik.

Aku bisa mendengar langkah-langkah David menuju belakang tenda. Dia menarik flysheet menjauh dan menyangganya dengan ranting-ranting yang ditemukannya. Tenda kami pun aman.

Continue reading “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #4”

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #2

Sebelumnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #1

 

Jumat, 1 Mei 2015

Langit masih gelap ketika bus memasuki Terminal Mendolo, Wonosobo, namun suasana terminal sudah cukup ramai. Selain bus-bus antar kota yang berdatangan, tampak beberapa bus 3/4 yang siap berangkat dan kondektur-kondektur yang sibuk mencari penumpang.

Kami memutuskan menunggu terang lebih dulu dan beringsut ke salah satu sisi terminal. Menumpang di salah satu lapak penjaja makanan yang masih belum buka.

“Kita jadi nanti ke Dieng berdua aja?” Aku dan Idha membahas rencana kami setelah dari Prau. Niatnya memang setelah dari Prau ini, perjalanan dilanjutkan ke Dieng karena kami juga mengambil rute turun melalui Jalur Dieng dan masih ada 1 hari libur untuk dinikmati. Namun Amay harus kembali ke Bandung pada hari Sabtu. Robi pun menginformasikan hal yang sama. Alhasil, aku dan Idha melanjutkan rencana ini berdua.

Continue reading “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #2”

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3

Sebelumnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #2

Sabtu, 2 Mei 2015

Satu sindrom yang selalu menjangkiti setiap bermalam di gunung adalah malas bangun. Dingin yang menggigit membuat diri enggan untuk menyibak sleeping bag, apalagi keluar dari dalam tenda. Namun demikian, aku mendengar suara-suara di luar. Suara David. Suara Robi. Tak lama Amay pun menyusul keluar. Aku mulai tergoda menyaksikan apa yang mereka saksikan. Seperti apakah pagi di Prau…

Continue reading “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3”

Blog at WordPress.com.

Up ↑