To All The Boys I’ve Loved Before

"To All The Boys I've Loved Before" adalah Firebolt-ku. Sejak pertama aku melihat novel ini di Books & Beyond, meraihnya, membaca sinopsisnya, aku menginginkannya. Tapi nilainya terlalu tinggi untuk sebuah novel (nggak sampai 200.000 si, tapi budget-ku untuk sebuah novel itu 100.000 dan butuh berbulan-bulan serta niat untuk dapat membeli novel yang nilainya di atas... Continue Reading →

Advertisements

Barangkali Tuhan Memang Jenaka

Dulu, saya tidak ingin menikah. Seorang teman sampai bertanya, "Kenapa? Kamu pernah sakit hati sama cowok?" "Nggak." Bagaimana mungkin? Saat itu, hubungan saya dengan laki-laki sangat minim. Saya pernah punya pacar (yang bertahan beberapa bulan), tapi kami tidak pacaran. Hubungan itu semata hanya status. Hanya label. But nothing happened. Mengobrol pun jarang kami lakukan. Maka... Continue Reading →

What I Miss The Most

I miss his cooking. Those meals were delicious. He's way a better cooker than me. I miss the jokes we shared. Aneh bagaimana di dunia ini ada seseorang yang memiliki selera bercanda yang sama denganku. How he understood mine. I miss his mischievous smile. Ini tidak diragukan lagi. Senyum jahil itu yang selalu membuatku jatuh... Continue Reading →

Pecinta Kopi

"Kuenya enak," kataku setelah menyuap segigit. "Kopinya aseemmm." "Kopinya enak," sahutnya, tak terima. "Itu kopi arabika, yang memang sedikit asam. Coba cicipi yang ini." Dia menyodorkan cangkirnya. Aku menyeruput. "Pahit." "Ini kopi robusta." Aku hanya ber-"oooh" ria. Tak pernah mengerti ataupun merasakan yang dirasakan para pecinta kopi. Bagiku semua kopi sama saja. Dan kopi yang... Continue Reading →

Warna Kesukaan

Hitam adalah warna kesukaanku. Hitam seperti langit malam di mana kita menemukan bintang-bintang. Hitam seperti secangkir kopi yang kau seduh setiap pagi. Hitam seperti sepasang manik matamu di mana aku menemukan bayang diriku. "Warna kesukaanmu kan biru," kata seorang teman. "Seperti langit cerah di pagi hari." "Tidak," tampikku. "Warna kesukaanku hitam." Kemudian aku teringat... hitam... Continue Reading →

Minuman Favorit

Seorang temanku menyukai matcha. Ke mana pun kami pergi, bila tempat itu menyediakan matcha maka baginya tidak ada lagi pilihan. Hanya sebuah kepastian. Matcha. Bagi adikku, es teh manis selalu menjadi pendamping makanan yang tepat. Tapi aku... aku tidak memiliki satu jenis minuman tertentu yang selalu jadi pilihan pertamaku. Hanya saja, apapun yang kuminum saat... Continue Reading →

Pelangi

"Kau tahu? Leprechaun suka menyembunyikan emasnya di ujung pelangi," ujar gadis itu seraya beranjak berdiri. Kaki telanjangnya menapaki rumput yang masih basah oleh bulir-bulir air hujan. Oya? Apakah emas itu bisa kita gunakan untuk membeli waktu? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun? Tiga puluh? Enam puluh? Ayo kita curi. Supaya kita dapat merayakan ulang tahun bersama... Continue Reading →

Bersungguh-Sungguh untuk Sebuah Kesementaraan

Adalah Theoresia Rumthe sosok yang mendengungkan "kesungguhan dalam kesementaraan" ke dalam hidup saya. Dalam buku kumpulan puisinya "Tempat Paling Liar di Muka Bumi", dia mengatakan, "Jika ketika jatuh cinta kau melakukannya dengan sungguh-sungguh, kelak ketika kau harus berpisah dengannya, kau tidak akan menyesal." Sebagai seseorang yang pernah menyesal karena tidak jatuh cinta dengan sungguh-sungguh, saya... Continue Reading →

Heart Break

"Kenapa?" Hening di antara kami akhirnya koyak. "Beri aku alasan." Aku menarik napas dalam-dalam, sebuah keputusan yang salah karena justru membuat kerongkonganku serasa tercekat, dan menatapnya lekat-lekat. "Kau mengingatkanku pada ayahku. Matamu. Alismu. Senyummu. Kau begitu mirip dengannya. Bahkan bidang yang kau tekuni. Kesukaanmu. Karaktermu..." "Lalu? Bukankah setiap anak perempuan mencari sosok yang seperti ayahnya?"... Continue Reading →

Blog at WordPress.com.

Up ↑