Dari Mata

mata

Papa sering pusing beberapa hari terakhir ini. Beliau cemas kadar LDL-nya tinggi. Jadi aja segala macam kue nggak disentuh lagi. Ditambah lagi stok omega 3 di rumah sedang habis. Padahal sari pati ikan salmon ini adalah penangkal kolesterol andalan papa. Paniklah beliau… Continue reading “Dari Mata”

Advertisements

Balada Brownies Magic Com

Sebagai seorang sweet tooth, kue kegemaran saya adalah brownies. Awal Agustus kemarin sempat gelisah dan resah macam orang diterjang malarindu gara-gara pengen banget ngegigit brownies. Kalau di Bandung, saya pasti langsung order browniesnya Teh Gladies. Sekarang kalau mau order harus tunggu tanggal PO dulu 😦 Mengingat ini saya jadi makin gundah gulana. Ribet amat, kan yang dagang brownies banyak? Well, gimana ya… hanya brownies Dapur Gladies yang mampu memuaskan lidah saya. Sampai akhirnya 2 minggu lalu saya mendapat resep brownies yang setelah dieksekusi hasilnya pas lidah turun ke hati. Uh, bahagianya… Mungkin begini rasanya merindu seseorang lalu sukses bertemu.

Continue reading “Balada Brownies Magic Com”

11.11

Ada yang hilang…

Dulu kukira seberapa cepat kita move on ditentukan oleh seberapa tangguh hati dan jiwa ini. Ternyata kecepatan move on ditentukan oleh seberapa dalam rasa nyaman yang pernah ada.

Tenang, rindu ini milikku, bukan milikmu.

Masokis

Kadang saya pikir saya ini masokis. Dalam artian menyukai rasa sakit. Seperti ketika sekelebat kenangan melintas di benak.Bukannya mengusir kenangan itu, saya membiarkannya berkubang dan beranak pinak sampai akhirnya meluber, menyesaki rongga dada, dan meleleh keluar melalui mata. Saat rangkaian kenangan itu akhirnya berhenti, saya malah mencari kenangan serupa untuk diputar ulang di otak.

Kadang nyeri di dada dan basah di mata terasa seperti merebahkan diri di tempat tidur di penghujung hari yang panjang nan melelahkan. Nyaman dan yang jelas, saya menikmatinya.

Aku Ingin Jatuh Cinta

Seperti kedatanganmu yang tiba-tiba dalam hidupku
Seperti senyum manismu yang serta merta membuatku tak bisa lupa
Seperti alis tebalmu yang membuatku terjerembab di dalamnya
Aku ingin jatuh cinta lagi seperti itu
Lalu terjatuh semakin dalam doa-doa

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #4

Sebelumnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3

Hujan turun dengan deras. Sisi belakang tenda kami basah.

“Wah, terkondensasi,” kata David, meraba sisi tenda yang basah.Usut punya usut flysheet-nya tidak terpasang sempurna sehingga ketika basah, flysheet menempel dan air merembes hingga ke dalam tenda. “Nantilah kalau rada reda dibenerin.”

Ketika suara air yang menumbuk tenda melemah, dia beranjak. Udara dingin menyeruak masuk saat pintu tenda dibuka. Aku bergidik.

Aku bisa mendengar langkah-langkah David menuju belakang tenda. Dia menarik flysheet menjauh dan menyangganya dengan ranting-ranting yang ditemukannya. Tenda kami pun aman.

Continue reading “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #4”

Blog at WordPress.com.

Up ↑