[Review] Madre

Judul                      : Madre: Kumpulan Cerita
Penulis                  : Dee Lestari
Penerbit                : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : xiv + 178 halaman
Tahun terbit         : 2015

“Ndak ada yang kebetulan, Mei. Percayalah, jalannya memang harus begitu,” sahut Pak Hadi.

Membaca Madre menjadi sebuah sarana kontemplasi bagi saya. Adakalanya saya menyesali keputusan yang telah saya ambil atau apa yang telah terjadi. Tapi apa yang dikatakan Pak Hadi, tokoh dalam Madre, membuat saya tersadar dan berdamai dengan apa yang telah terjadi.

Madre bercerita tentang Tansen Wuisan yang mendadak memiliki darah Tionghoa. Selama hampir 30 tahun, Tansen hidup dengan pengetahuan bahwa kakeknya adalah orang Tasikmalaya, neneknya orang India, dan ayahnya orang Manado. Namun hari itu dia diberitahu bahwa kakeknya yang sesungguhnya adalah seorang Tionghoa dan mewariskan padanya satu anggota keluarga baru: Madre.

Melalui penuturannya, Dee berhasil membangun suasana toko roti yang telah berusia setengah abad dan membuat saya turut merasakan betapa tuanya, betapa bersemangatnya para pekerja Tan de Bakker. Bagaimana kasih sayang mereka pada Madre yang agaknya sudah menjadi alasan mereka untuk bangun dan beranjak setiap paginya.

Selain pelajaran mengenai roti, Madre juga membuat saya merenung tentang makna kebebasan yang sesungguhnya. Tansen yang begitu tidak ingin terikat dengan bisnis roti dan berkeras ingin kembali pada kehidupannya yang bebas di Bali dihadapkan pada pertanyaan ini. Dengan harus kembali ke Bali, bukankah itu berarti dia tidak bebas?

Selain cerpen Madre, kumpulan cerita ini juga terdiri atas 12 cerita pendek dan puisi lain. Masing-masing menyuguhkan perenungan akan hidup. Masing-masing bernapaskan latar belakang spiritual dan religi Dee maupun pengalaman hidupnya.

Tak hanya sekali Dee menggunakan poin dalam agama Katolik untuk membawakan narasinya. Misalnya pada cerpen Madre “Mereka menantiku seperti seorang Mesias yang akan membawa kehidupan baru.”

Pengalaman mengenyam pendidikan di sekolah Katolik pun disematkan pada tokohnya, Christian dan Rako, dalam cerpen “Menunggu Layang-Layang”.

Melalui Madre, Dee membawa kita menempuh berbagai emosi, meditasi, dan peristiwa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: