Posted in book, review

[Review] Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi

Judul                       : Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Penulis                   : Eka Kurniawan
Penerbit                 : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman  : vi + 170 halaman
Tahun terbit          : 2015

Maya merasa hancur setelah calon suaminya meninggalkannya pada malam menjelang pernikahan mereka. Dengan hanya secarik pesan, laki-laki itu pergi untuk menjalani kisah kasih dengan sahabat Maya sendiri. Sakit yang dirasakannya membuatnya ingin mengakhiri hidup. Hingga suatu hari dia bermimpi mengenai kekasih yang akan memberinya kebahagiaan. Ketika mimpi itu datang setiap malam, Maya tahu dia harus pergi untuk mencari tahu kebenaran mimpi itu.

Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi merupakan buku kumpulan cerpen Eka Kurniawan yang telah dimuat di berbagai media cetak sejak 2006 hingga 2013. Di dalamnya termuat 15 cerpen dengan berbagai tema. Di antaranya mengenai pelacuran, dendam, dan mimpi.

“Gerimis yang Sederhana” hadir sebagai cerpen pembuka. Seperti yang tertulis dalam judulnya, kisah ini sederhana, ringan tanpa banyak misteri, mengenai pertemuan seorang laki-laki dan perempuan yang diharapkan dapat saling jatuh cinta. Ditulis menggunakan alur maju yang membawa kita ke akhir cerpen yang menimbulkan senyum.

Cerpen-cerpen berikutnya cenderung lebih berat dengan tema-tema yang mengusik. Alur yang digunakan maju mundur, namun tidak membuat cerita semakin rumit, justru membuatnya terasa tidak membosankan. Cerita dibawakan tidak hanya dari sudut pandang satu tokoh saja. Seperti pada “Gincu Ini Merah, Sayang”, cerita dibawakan dari sudut pandang kedua tokohnya, Marni dan Rohmat Nurjaman. Menggunakan kacamata masing-masing tokoh inilah, Eka Kurniawan membangun cerita dan misterinya. Hingga di akhir cerita kita akan menggigit bibir mendapati pahitnya sebuah kesalah pahaman dan ketak-saling-percayaan.

Tak melulu menggunakan manusia sebagai sosok tokoh utama, beberapa cerpen berkisah tentang sebuah batu, seekor anjing, dan seekor bebek. Dengan penjabaran yang tidak bertele-tele, Eka Kurniawan membawa kita melaju melalui aliran cerita dengan cepat. Kejutan di akhir cerita pun tersampaikan dengan telak.

Ketika memegang buku ini, saya berharap dapat kembali menemukan cinta. Tapi ternyata yang saya temukan adalah rasa takut. Dalam kelima belas cerita pendeknya, Eka Kurniawan menyajikan sisi dunia yang kelam di mana kebahagiaan dapat berakhir dengan tragedi dalam sekejap mata.

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s