Bersungguh-Sungguh untuk Sebuah Kesementaraan

Adalah Theoresia Rumthe sosok yang mendengungkan “kesungguhan dalam kesementaraan” ke dalam hidup saya. Dalam buku kumpulan puisinya “Tempat Paling Liar di Muka Bumi”, dia mengatakan, “Jika ketika jatuh cinta kau melakukannya dengan sungguh-sungguh, kelak ketika kau harus berpisah dengannya, kau tidak akan menyesal.”

IMG_20170708_132431

Sebagai seseorang yang pernah menyesal karena tidak jatuh cinta dengan sungguh-sungguh, saya langsung setuju dengan pemikiran tersebut. Karena itulah, dalam jatuh cinta saya yang berikutnya, saya bersungguh-sungguh. Meski kali ini, saya tahu dengan pasti bahwa jatuh cinta ini hanyalah sebuah kesementaraan. Atau mungkin justru itu yang membuat saya semakin bersungguh-sungguh. Karena waktu kami terbatas. Karena suatu hari saya tidak akan punya kesempatan lagi. Saya ingin menggunakan waktu yang ada sebaik-baiknya. Waktu yang sesungguhnya kami curi dari kehidupan.

Kenyataannya, jatuh cinta itu diakhiri dengan patah hati yang amat parah. Saya kecewa. Saya merasa dikecewakan. Saya marah. Kemudian saya menyesal telah bersungguh-sungguh. Saya merasa berkorban terlalu banyak dalam segala hal, terutama perasaan.

Ketika melihat Theoresia Rumthe masih teguh dengan pendiriannya, masih mendengungkan hal tersebut dalam cuitan-cuitannya, saya mulai mempertanyakan hal tersebut. Untuk apa bersungguh-sungguh bila kita tahu hal tersebut akan berakhir? Untuk apa bersungguh-sungguh bila kita hanya akan menjadi “cuma masa lalu” bagi orang tersebut? Untuk apa bersungguh-sungguh bila hanya akan menjadi kenangan atau bahkan diabaikan? Bukankah itu hanya akan menjadi kesia-siaan?

IMG_20170708_132753

Kemudian sebuah suara lain yang rasanya berasal dari suatu tempat yang jauuuuuhhh di kedalaman diri saya berkata, “Tidak sungguh-sungguh, kamu menyesal. Sungguh-sungguh pun, kamu menyesal. Mungkin kamu memang orang yang gemar menyesali segalanya.” Saya terhenyak.

Saya memang menyesali banyak hal dalam hidup. Saya suka mengungkit. Saya tidak mudah beranjak dari masa lalu. Masa-masa indah akan terus terputar dan membuat saya ingin kembali atau menyesali mengapa saya tak lagi bisa melakukan hal-hal menyenangkan tersebut ataupun sebahagia itu. Memori-memori buruk tentu saja dengan senang hati merajai pikiran saat suasana hati buruk. Membuat saya marah sekali lagi, kecewa sekali lagi, sedih sekali lagi, menyesal sekali lagi. Membuat saya memulai kalimat dengan, “Seandainya saya dulu…” atau “Seharusnya saya dulu…”.

Saya menyadarinya, kali ini pun saya masih terus menggenggam masa lalu itu. Tak mau melepasnya, berharap dapat mengubahnya. Tak mau menerimanya, berharap tak pernah terjadi. Saya masih terus berkutat dengan segala perasaan negatif hingga saya hanya bisa melihat bahwa hubungan sementara yang telah saya jalani itu buruk. Padahal yang seharusnya saya lakukan adalah bersyukur. Karena saya telah bersungguh-sungguh. Saya telah menjalani kesementaraan itu sepenuh dan seutuh yang saya mampu. Bahwa sesungguhnya banyak hal indah dalam kesementaraan itu. Bahwa sebenarnya, saya sendiri yang memilih untuk jatuh dan tinggal dalam kesementaraan itu.

Suara dari kedalaman diri saya itu kembali terdengar, “Tak ada yang perlu disesali karena kamu sudah menjalani masa tersebut dengan sebaik-baiknya. Tak ada waktu yang terbuang karena kamu sudah belajar menyayangi seseorang dengan segala yang ada pada dirinya dan segala yang ada pada dirimu. Tak ada pula yang sia-sia karena meski hanya menjadi masa lalu-menjadi memori, kamu telah menorehkan memori yang baik.”

Pada akhirnya, saya mengerti kesungguhan dalam bertindak ini bukan tentang orang lain, bukan tentang bagaimana mereka menanggapi kesungguhan saya, melainkan tanggapan saya sendiri atas semua usaha yang telah saya kerahkan. Ini tentang kepuasan diri sendiri karena telah melakukan yang terbaik.

Dan bukankah hidup sendiri adalah sebuah kesementaraan? Saya toh tidak akan hanya duduk diam sembari menunggu hingga waktunya tiba saat semua berakhir. Saya akan tetap menjalaninya dengan bersungguh-sungguh, meski  tahu semua yang saya peroleh di dunia kelak hanya akan menjadi memori-kelak tidak akan saya bawa ke kehidupan selanjutnya. Karena tak ada yang sia-sia bila kita telah melakukan yang terbaik. Mulai sekarang, saya akan kembali bersungguh-sungguh melakukan segalanya, meski semua adalah kesementaraan.

IMG_20170708_132814

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: