Menikmati Pagi di Warung Kopi Purnama, Bandung

Awalnya saya hanya berniat untuk bersepeda keliling kota karena sudah lama tak melakukannya. Jalanan Bandung yang lengang di pagi hari memang menggoda. Apalagi udara sejuknya yang membuat diri tak ragu untuk banyak-banyak berkeringat. Saya kerap membayangkan Bandung 20 tahun yang lalu. Ketika dia belum sepadat sekarang. Ketika tak ada motor yang melintas dengan suara memekakkan telinga. Ketika tak ada berjuta angkot yang seenaknya sendiri memenuhi jalan. Pada masa itu saya akan dengan senang hati memutuskan untuk menetap di kota ini.

Pagi itu, ketika melintasi Jalan Asia Afrika, tiba-tiba terpikir mengapa saya tidak mampir ke Kafe Purnama saja untuk sarapan. Jadilah sepeda saya berbelok ke Jalan Alkateri, sebuah jalan kecil yang tidak banyak dilalui kendaraan bermotor. Kondisi ini membuat Kafe Purnama layaknya sebuah sanctuary di tengah padat dan bisingnya pusat kota Bandung.

Pertama kali saya menemukan nama Kafe Purnama adalah saat saya mencari-cari rekomendasi kafe di Bandung. Beberapa nama sudah saya kenal dan pernah saya singgahi. Kafe Purnama menarik perhatian karena disebut sebagai kafe legendaris dan sudah berjalan 4 generasi. Mungkin karena itu, kafe ini mempertahankan kesannya sebagai kafe yang antik dengan interiornya yang membawa pengunjungnya ke tahun 1920-an. Uniknya lagi, kafe ini buka dari pagi hingga malam dengan variasi menu dari roti dan pisang hingga nasi sehingga memang cocok sebagai tujuan sarapan, makan siang, dan makan malam.

Salah satu menu yang terkenal adalah roti selai sarikaya dimana selai sarikayanya adalah bikinan sendiri dan kopi susu. Dalam kesempatan saya yang sebelumnya, saya memesan kedua menu itu. Demikian pula, pagi itu.

Saat itu masih pukul 7 pagi, baru setengah jam sejak pintu-pintu kafe ini dibuka, tapi meja-meja di bagian depan sudah terisi penuh. Begitu rombongan di meja yang satu pergi, rombongan yang lain datang untuk mengisinya. Terus dan terus. Masing-masing asik dengan obrolan mereka. Pagi itu, yang datang kebanyakan adalah keluarga dan banyak kakek-kakek serta nenek-nenek. Berbeda dengan di malam hari yang didominasi kumpulan mahasiswa, baik yang datang sambil menenteng tugas atau pun untuk sekadar nongkrong.

Kafe Purnama terasa seperti rumah alih-alih sebuah kafe. Mungkin inilah kelebihan yang dimiliki sebuah usaha yang telah melalui beberapa generasi.

Ketika saya meninggalkan Kafe Purnama, seorang laki-laki mendekat dengan sepedanya. Dia mengenakan pakaian bersepeda lengkap. Tidak seperti saya yang hanya berpakaian kasual. Saya penasaran dimana dia akan memarkir sepedanya karena hal itu yang tadi menjadi kebingungan saya. Dan tanpa babibu, laki-laki itu menenteng sepedanya masuk ke dalam bangunan kafe. Saya hanya ber-“oh” tanpa suara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: