Posted in celoteh

Review – Paris Letters

Paris Letters, atau dalam versi Indonesia disebut Surat dari Paris, merupakan kisah nyata kehidupan Janice MacLeod pada usia 34 tahun hingga beberapa tahun setelahnya. Meski bukan kisah fiksi, novel ini diawali dengan kekacauan dan berakhir dengan manis layaknya dongeng dan fiksi pada umumnya. Bedanya, Paris Letters membuat saya mampu percaya bahwa sekacau apapun hidup kita rasanya saat ini, bukan tidak mungkin kalau pada akhirnya kita menemukan kebahagiaan karena Janice telah menunjukkannya. Kita hanya perlu mengikuti kata hati dan percaya pada rencana Tuhan.

Di usianya yang 34 tahun Janice merasa hidupnya harus berubah. Diatidak memiliki pasangan dan merasa kesepian. Pekerjaan yang dilakoninya memungkinkan Janice untuk memiliki apartemen di kawasan elite, tapi itu tidak membuatnya puas. Karena dia membuat iklan-iklan yang diselipkan di buku telepon atau dikirimkan ke alamat-alamat melalui pos secara acak. Menurut Janice, dia hanya membuat surat-surat sampah dan berpartisipasi dalam merusak lingkungan hidup. Sampai akhirnya dia bertanya: Mimpi siapa yang kujalani? Karena ini jelas bukan mimpiku. Berangkat dari pertanyaan ini, Janice mulai mencari jalan untuk membenahi hidup.

Dia menulis buku harian. Ini seperti saran yang tertulis dalam buku yang dibacanya. Dari kegiatan rutin ini, Janice menemukan pertanyaan baru: Berapa banyak uang yang kaubutuhkan untuk berhenti bekerja? Untuk menjawabnya, Janice membuat kalkulasi. Berhemat. Merapikan isi apartemennya: membuang barang-barang tak terpakai, menyumbangkan baju pantas pakai ke badan amal, melunasi tagihan… Dia merapikan hidupnya. Dan setelah 1 taun menabung, dia memiliki tabungan yang cukup untuk membiayai hidupnya selama 2 tahun tanpa bekerja. Jadi Janice mengundurkan diri dan terbang ke Paris.

Kemudian Paris Letters membawa kita berjalan-jalan di Paris; menyusuri jalan-jalannya yang dipagari pencakar langit hingga sulit untuk menemukan Eiffel, merasakan ramainya turis di sekitar Eiffel beserta para pencopet yang coba menipu mereka, makan baquette setelah lelah berjalan, atau duduk di kafe seberang toko daging dan mencuri pandang ke arah penjualnya yang bagaikan Daniel Craig bermata biru. Setelah menutup buku ini, saya merasa baru saja mengunjungi Paris. Bahkan tiba-tiba saya ingin kembali membukanya agar kembali berada di Paris seolah buku ini adalah Pintu Kemana Saja.

Di Paris inilah Janice memulai proyek “Surat dari Paris”. Dia akan melukis dan menuliskan sepenggal kisahnya di Paris lukisan tersebut kemudian menjualnya. Di Paris ini  pulalah Janice bertemu Christophe, laki-laki yang membuatnya jatuh cinta meski tanpa kata.

Paris Letters berbicara tentang impian dan cinta. Tentang realita kehidupan. Membaca Paris Letters membuat saya ingin membenahi isi lemari seperti Janice dan menyusun rencana hidup dengan cermat seperti Janice. Ketika menemukan novel ini rak toko buku, saya tergoda oleh sampul depannya yang cantik. Ketika memungut dan membaca sinopsis di sampul belakangnya, saya tergelitik. Saat itu saya baru saja mengajukan surat pengunduran diri saya. Saat itu saya baru saja menyudahi perang batin antara mempertahankan penghasilan tetap atau memulai kehidupan baru.

Janice pada usia 34 tahun itu seperti saya saat ini. Putus asa pada kehidupan. Tapi ketika Janice kemudian merencanakan pelariannya dengan baik, saya benar-benar kebalikannya. Jika Janice berhemat mati-matian, saya malah membeli 9 buah buku dalam kurun waktu 3 minggu! 9, bayangkan! Itu rekor! Sebelumnya saya tidak pernah membeli sebanyak itu bahkan dalam kurun waktu 1 bulan pun.

Paris Letters mengandung pelajaran yang cocok bagi mereka yang merasa tidak puas dengan pekerjaannya, dengan kehidupannya, atau yang seperti Janice-bertanya-tanya, “Mengapa Tuhan? Mengapa aku tidak punya pacar?”. Yah, seperti saya juga. Buku ini sangat cocok untuk saya. Menyadarkan saya untuk membuat perhitungan lebih matang dalam mengambil keputusan, untuk tegas dan tidak ragu, dan untuk menerima apa yang ada saat ini dengan percaya pada rencana Tuhan.

Judul : Paris Letters – Surat dari Paris
Penulis : Janice MacLeod
Penerjemah : Linda Boentaram
Halaman : 312 halaman
Terbit : 2017

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...