Stasiun Gambir dan Argo Parahyangan Kelas Ekonomi

Kenangan itu menerjang saya seperti gulungan ombak berderap ke pantai. Gambir memang menyimpan banyak cerita. Hanya saja, saya tidak menyangka akan sebanyak ini.

Tahun 2013 menjadi kali pertama saya singgah di stasiun ini. Takjub. Baru kali itu saya melihat sebuah stasiun di Indonesia yang bagaikan sebuah pusat makanan. Berbeda dengan stasiun lain yang paling berisikan Dunkin Donuts, Roti O, dan Alfamart atau Indomaret; Gambir memiliki lebih dari 1 minimarket, lebih dari 1 merk donat, lebih dari 1 merk roti kopi, dan berbagai pilihan makan besar mulai dari KFC (sejak 2016 ada pula McDonald’s), Bakmi GM, bakso, Solaria, dan lain-lain, dan lain-lain. Tapi pada kedatangan saya yang kali pertama itu, saya tidak sempat mengedarkan pandang menyusuri tiap sudutnya. Hari itu saya terburu-buru mengejar jadwal misa ketiga Gereja Katedral yang dimulai pukul setengah 11. Kereta Argo Parahyangan yang dijadwalkan tiba sebelum pukul 10 ternyata mengalami keterlambatan. Ya, niatan saya ke Jakarta saat itu memang hanya untuk mengikuti misa di Katedral. Tahun 2013 adalah saat di mana saya memiliki pemikiran untuk mencicipi perayaan ekaristi di berbagai katedral di dunia ini.

Hari itu saya kembali ke Bandung dengan kereta yang berangkat pukul setengah 4 sore. Saya masih ingat tanggal hari itu. 8 Desember 2013. Sepiring ketoprak-untuk kali pertama dalam hidup saya (dan terlalu pedas!)-, patah hati (yang kini sudah tak terasa), festival di Monas (yang tak sempat saya saksikan), pertemuan tak terencana dengan sepasang teman yang berniat menikmati festival tersebut, pocong jadi-jadian ketika tengah menanti mereka berdua, dan sebuah misi yang terselesaikan. Pertemuan awal saya dengan Gambir begitu singkat, namun memiliki banyak cerita.

Kali kedua saya ‘mendarat’ di Gambir pernah saya ceritakan di sini. Saat itu saya hendak bergabung dengan teman-teman lain guna melakukan perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Lombok. Di kesempatan kedua ini saya tiba menjelang tengah malam. Stasiun sepiiiii… dan ketika berkomunikasi dengan teman yang menjemput, saya baru menyadari kalau saya buta Gambir. Saya tidak tahu di mana letak 7-11. Saya bahkan tidak tahu yang mana pintu utara dan mana pintu selatan. Syukurlah saat itu ada bapak satpam yang menangkap kebingungan saya, menanyai, dan memberitahu.

Kali ketiga dan entah hingga kali ke berapa adalah masa-masa yang tidak hanya meninggalkan banyak cerita, tapi juga rasa. Masa-masa yang membuat Gambir seperti sebuah rumah bagi saya. Masa-masa yang membuat saya merasa akrab dengan Gambir lebih dari saya merasa akrab dengan Tawang.

Di masa-masa itu ada rindu yang coba dibayar. Genggaman tangan yang tak ingin saling melepas. Langkah-langkah kaki yang nyaris berlari menyongsong perjumpaan. Obrolan absurd di Bakmi GM. KFC Super Besar 2 dengan tambahan 1 bungkus nasi untuk dimakan di kereta. Kotak-kotak bekal berisi hasil masakan sendiri yang dibuka di teras Indomaret.

Sampai akhirnya, semua itu terhenti. Dan saya tak pernah menyangka akan kembali lagi ke stasiun ini. Delapan bulan kemudian. Kedatangan saya kali ini semata karena ingin mencicipi gerbong kelas ekonomi baru milik Argo Parahyangan.

Menurut seorang teman, kereta ekonomi ini tidak nyaman. Jarak antar kursinya terlalu sempit. Namun kursi-kursi ini disusun menjadi 2 kubu. Setengah baris kursi di depan menghadap ke belakang sementara sisanya yang berada di belakang menghadap ke depan sehingga 8 kursi di tengah saling berhadapan. Menurutnya, bagian itu adalah yang paling nyaman untuk kaki panjangnya.

Bagi saya yang berkaki pendek, kereta ekonomi ini nyaman sekali. Apalagi kalau dibandingkan kereta ekonomi yang pengaturan duduknya saling berhadapan.

Jarak antar kursinya masih memungkinkan saya untuk meluruskan kaki dengan menyelipkannya ke kolong kursi.

Sesungguhnya saya ternganga pada detik saya memasuki gerbong ini. Interiornya cakeeppp. Bahkan lebih bagus daripada interior gerbong kelas eksekutif Harina yang harganya selangit itu. Karena merupakan gerbong baru, perancangannya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kebijakan yang ada sekarang ini. Untuk AC, misalnya. Kelas bisnis dan ekonomi yang jaman dahulu kala tidak mendapat fasilitas ini pada akhirnya memiliki beberapa AC yang ditempel pada langit-langit gerbong. Pada gerbong baru ini AC dibangun menyatu dengan gerbong jadi tidak ada semburan kencang udara dingin seperti yang terjadi di gerbong bisnis dan ekonomi lama. Loker untuk menyimpan barang bawaan di bagian atas tidak lagi berupa baris-baris besi, tapi seperti loker kelas eksekutif. Gerbong ini bahkan dilengkapi TV! Letaknya pun bukan hanya di ujung-ujung gerbong, tapi juga di tengah.

Bila jodoh saya dengan Argo Parahyangan dan Gambir masih berlanjut, saya akan kembali ke gerbong ekonomi ini dan mencecerkan lebih banyak cerita di sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: