Beauty and the Beast Live-Action: The Missing Piece

Beauty-Beast-2017-Movie-Posters
Taken from http://www.popsugar.com

Beauty and the Best versi live action milik Disney ini adalah versi ketiga yang saya tonton setelah sebelumnya versi animasi (yang juga) milik Disney yang rilis pada tahun 1991 dan versi teater dari Broadway (dengan alur cerita mengikuti alur yang diciptakan Disney) pada tahun 2015. Berbeda dengan 2 versi sebelumnya, versi live action ini memberikan beberapa penambahan cerita yang melengkapi kisah pendahulunya, misalnya apa yang menyebab sang pangeran menjadi bertabiat buruk atau mengapa Belle hanya tinggal berdua dengan ayahnya, apa yang terjadi pada ibunya.

Saya yang sempat bertanya-tanya bagaimana gadis desa seperti Belle tahu caranya berdansa pun segera mendapat jawaban. Versi live action ini juga menambahkan beberapa adegan di penutupnya. Jika pada versi sebelumnya ending berlangsung cepat dan singkat, pada versi ini kita diajak untuk merasakan haru birunya Clocksworth, Lumiere, Mrs Potts, dan Chip ketika berubah menjadi perabotan. Kemudian ketika kutukan akhirnya sirna, kita dibawa dalam kemeriahan reuni para penghuni istana bersama penduduk desa. Namun sayangnya, versi ini justru meniadakan satu line Belle yang sangat penting. Line yang menjadi pernyataan jatuh hatinya pada Beast, momen yang menandai bahwa Belle mulai merasakan monster di hadapannya memiliki hati yang jauh lebih tampan daripada penampilannya. Pada detik itulah, saya merasa kecewa. Scenes yang menyusul berikutnya tidak mampu membuat saya merasa bahwa Belle sudah jatuh cinta pada Beast. Mereka hanya terlihat seperti sepasang sahabat yang menemukan kecocokan dan saling peduli.

Saya juga tidak merasa terbawa dalam aliran perasaan yang coba diciptakan dalam film ini. Jika dalam 2 versi sebelumnya saya merasa bersemangat saat Belle menyanyikan keinginannya untuk melihat dunia yang lebih luas kemudian merasa sedih saat dia harus terkurung di istana Beast dan kehilangan ayahnya, dalam versi ini saya tidak mengalami naik-turun perasaan itu. Meski tak dapat dipungkiri, lagu dan tari yang ditampilkan memang mempesona. Terutama pada bagian “Be Our Guest” yang gegap gempita. Lagu-lagu yang digunakan di sini merupakan aransemen ulang dari versi sebelumnya.

Beauty and the Beast ini juga berhasil dalam pemilihan pemeran. Setiap aktornya mampu membawakan karakter yang mereka perankan dengan sempurna. Emma Watson yang selama 10 tahun dikenal sebagai Hermione Granger berhasil menjelma sebagai gadis desa cantik yang menggemari buku dan sangat menyayangi ayahnya.

Sebagai seorang perempuan, hal yang membuat saya penasaran sejak awal adalah gaun yang dikenakan Belle saat berdansa dengan Beast. Gaun kuning milik Belle tersebut terlihat sangat cantik. Bahannya terlihat lembut dan jatuh. Apalagi dalam filmnya diceritakan motif pada gaun tersebut ditambahkan dengan sihir. Sepanjang 2 jam pemutaran, agaknya scene inilah yang membuat pupil mata saya membesar. Gaun ini bahkan mengalahkan gaun biru Cinderella dalam versi live action yang ditayangkan 2015 lalu.

Sebelum pemutarannya, film ini sempat menggegerkan dunia internasional karena pernyataan sang sutradara mengenai adanya gay scene. Beberapa negara menyatakan penolakannya. Banyak pihak menyayangkan tindakan Disney ini. Menurut mereka, Disney adalah sahabat keluarga, selalu mengajarkan untuk memiliki mimpi dan memperjuangkannya. Dalam 2 film terakhirnya, Frozen dan Maleficent, Disney bahkan mengobarik-abrik pemahaman yang telah ratusan tahun ditanamkan dalam imajinasi anak perempuan dan memberikan pesan baru: cinta sejati dapat ditemukan dalam keluarga, bukan hanya dari sosok prince charming. Kali ini pun, saya berpendapat, Disney sedang melakukan terobosan itu. Melalui adanya gay scene, Disney bermaksud mengatakan, “Kamu diterima. Kamu adalah bagian dari kami, tak peduli suku, agama, ras, maupun orientasi seksualmu.” And well, setelah menyaksikan filmnya dengan mata kepala sendiri, saya mendapati gay scene itu hanya muncul 2 kali dan hanya sekelebat mata. Bahkan seorang teman saya tidak menyadari adanya gay scene. Saya tidak tahu apakah anak-anak kecil akan menyadarinya atau tidak. Karena setahu saya anak-anak kecil biasanya lebih jeli daripada orang dewasa.

Sebagai penggemar kisah Beauty and the Beast, saya merasa tidak terlalu puas dengan versi live action ini, tapi film ini tetaplah istimewa dengan para aktor yang membawakan serta kecanggihan efeknya. Oh, dan gaun kuning yang tiada duanya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: