Posted in film, review

Trinity: The Nekad Traveler

TrinitytehNekadTraveler
Sumber: twitter.com

Saya terhasut ocehan seru manusia-manusia penghuni linimasa saya di Twitter. Awalnya saya sama sekali tidak berminat menonton film ini. Mungkin membaca bukunya pun tak pernah. Tapi ceceran trailer dan soundtrack-nya di linimasa membuat saya penasaran. Apalagi seorang travel blogger yang saya ikuti menjadi cameo dalam film ini. Jadilah 16 Maret 2017 saya melangkahkan kaki ke bioskop.

Voila! Teater yang kira-kira dapat menampung 200 orang itu lengang. Hanya ada seorang mbak-mbak di kursi paling atas, tepat di seberang kursi yang akan saya duduki. Lima orang mbak-mbak dua baris di depannya. Dan 2 orang mbak-mbak di barisan tengah. Sepi dan tanpa laki-laki. Dan… hei, hanya ada saya di sisi tempat saya duduk. Menjelang film dimulai, masuk 2 pasangan muda-mudi. Akhirnya, ada juga laki-laki. Dan yang sepasang duduk di barisan tengah di depan saya. Akhirnya (lagi), saya (merasa) punya teman.

Beberapa menit setelah film dimulai, ketika Trinity mengunjungi destinasi wisata pertamanya, saya langsung teringat pada film “5 cm”. Keduanya, menurut saya, menyuguhkan kenikmatan, keasikan, dan keindahan, tapi perjuangan dan lelah yang ada di baliknya tidak tampak.

Alur cerita kemudian membawa saya melompat dari satu destinasi ke destinasi lain, dengan bumbu persoalan maha dahsyat a la pekerja yang doyan jalan-jalan yaitu cuti yang minim, konflik dengan tokoh lain, misteri, pesan yang coba disampaikan, dan tentu saja kisah cinta. Sayangnya, bumbu-bumbu itu ditambahkan dalam jumlah yang kurang pas. Hingga credit muncul, saya masih merasa film ini hanya merupakan serangkaian pemandangan indah destinasi wisata populer, tanpa jalinan cerita yang kuat.

Persoalan cuti yang begitu mudahnya terselesaikan. Well, dalam kehidupan nyata, ini adalah masalah besar dan menjadi hambatan utama rencana jalan-jalan. Yah, mungkin kehidupan nyata saya dan Trinity memang berbeda.

Konflik Trinity dengan sahabatnya yang mereda begitu saja ketika Trinity mendapat tiket gratis ke Maldives. Konflik dengan orang tuanya yang tak jelas kelanjutannya. Yang cukup membuat kesal adalah kisah cintanya. Dimulai dengan amat mempesona dengan kemisteriusan Paul hingga saya merasa ini akan menjadi satu kisah yang keren, tapi ternyata berakhir dengan janggal. Banyak hal dalam film ini yang ujungnya membuat saya berkomentar, “Loh? Udah? Begitu doang?” Adegan ketika sepupu Trinity menghilang di Filipina, misalnya. Awalnya, penonton sudah dibawa ke suasana tegang dan seolah masalah ini akan berlanjut menjadi semakin seru, tapi kemudian penyelesaiannya begitu mudah.

Bagian yang menurut saya paling menarik, namun kembali hanya diolah begitu-begitu saja, adalah adanya tokoh misterius bernama Mr. X. Tokoh yang memiliki peran besar dalam kehidupan Trinity, tapi sampai cerita berakhir Trinity tetap tidak tahu siapa sosok yang bersembunyi di balik nama Mr. X tersebut. Tidak ada petualangan untuk mencari tahu identitas sesungguhnya dari sosok Mr. X. Usaha Trinity pun tampak begitu-begitu saja, tidak tampak rasa penasaran yang membabi buta. Malah dia terkesan santai saja menikmati fasilitas yang Mr. X berikan. Kan kesel ya… Ah, tapi ini mungkin karena saya orang yang rasa penasarannya tinggi.

Saya bisa menangkap tips travelling dan pesan yang coba disampaikan film ini. Namun rasanya semua seperti ide-ide yang ditempelkan menjadi satu, alih-alih dilebur menjadi satu jalinan cerita yang utuh.

Bagaimanapun, akhirnya kisah ini tetap mampu menyentuh satu bagian dalam diri saya. Bagian di mana saya merasa seperti Trinity. Sesungguhnya, menyaksikan Trinity dengan segala kerinduan dan pergulatannya membuat saya merasa menyaksikan diri sendiri. Hanya pertanyaannya adalah: Apakah saya akan seberani Trinity, keluar dari zona nyaman and live my passion?

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s