Posted in friendship, hiking, life, things I love, travelling

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #4

Sebelumnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3

Hujan turun dengan deras. Sisi belakang tenda kami basah.

“Wah, terkondensasi,” kata David, meraba sisi tenda yang basah.Usut punya usut flysheet-nya tidak terpasang sempurna sehingga ketika basah, flysheet menempel dan air merembes hingga ke dalam tenda. “Nantilah kalau rada reda dibenerin.”

Ketika suara air yang menumbuk tenda melemah, dia beranjak. Udara dingin menyeruak masuk saat pintu tenda dibuka. Aku bergidik.

Aku bisa mendengar langkah-langkah David menuju belakang tenda. Dia menarik flysheet menjauh dan menyangganya dengan ranting-ranting yang ditemukannya. Tenda kami pun aman.

Tenda Curhat

“Kita curhat aja yuk!” Idha mengusulkan dengan wajah berseri.

Ya, sesi curhat memang biasanya mampu menghangatkan bahkan mencairkan suasana. Tenda yang semula hening pun menjadi riuh oleh persetujuan.

“Oke, kita mulai dari Idha,” kataku menunjuk pemberi ide. Namun Robi memiliki ide lain. “Bagaimana kalau kita mulai dari…”

“Mba Cas…”

“Casper…”

Idha dan Robi menunjukku bersamaan.

Damn! Aku? AKU?? Kok jadi aku? Ini tidak mungkin kebetulan. Pasti telah terjadi KONS.PI.RA.SI.

“Ada apa sama yang duduk beda 2 meja sama aku?” Robi memulai tanpa basa-basi.

“Nggak ada apa-apa.”

“Mosok kalau nggak ada apa-apa pas ulang tahun ngasi kado.”

“Nggak papa, kan? Waktu Idha ulang tahun aku juga ngado.”

“Ya kan beda kalau sesama cewek sama cewek-cowok.”

Akhirnya aku menyerah. Sebagian karena desakan yang sudah begitu memojokkan, sebagian lagi karena rupanya jauh di dalam hati aku sudah tidak tahan ingin membagi kisah ini. “Oke. Tapi apa yang diucapkan di sini nggak akan keluar dari dalam tenda ya,” kataku membuat kesepakatan. Robi setuju. Dan memang hanya dia yang perlu setuju. Karena Idha toh sudah tahu dari dulu sementara David berasal dari lingkungan yang berbeda dengan kami.

Curhat kami lebih seperti wawancara, di mana Robi bertanya dan aku menjawab. Ternyata menguras memori itu melelahkan juga. Atau barangkali karena melibatkan terlalu banyak perasaan, adrenalinku jadi diproduksi besar-besaran yang menyebabkan peningkatan suhu. Tiba-tiba di dalam tenda terasa jauh lebih hangat.

“Duh, kok jadi panas ya.” Aku melepas jaket. Sekaligus merasa haus. Aku mengambil botol air minum yang ada di pangkuan David sembari berkata, “Sori ya… sori ya…”

Wawancaranya masih berlanjut. Diselingi banyak tawa. Menertawakan masa lalu.

“Sakit banget ketawane,” David mengomentari tawaku yang kurasa biasa saja. Tapi mungkin perasaanku yang salah. Rongga dadaku serasa penuh. Tanpa kusadari aku menghela napas berat. Dan David meledak dalam tawa. Refleks telapakku bergerak menimpuknya.

“Nggak nyangka seorang yang cool bisa…” David tidak melanjutkan kata-katanya, hanya menggunakan gerakan  tangannya untuk menyelesaikan kalimatnya.

“Makasih lho. Aku suka dibilang cool. Dan kamu bukan orang pertama yang bilang gitu.”

“Ya iyalah,” sambut Robi serta merta. “Kalau jalan aja…” Dia memperagakan muka lempeng. “Kalau mau nyapa sampe bingung.”

“Jadi sekarang sudah? Selesai sama dia?” Kami kembali ke topik semula.

“Ya. Sekarang sudah selesai. Move on.”

“Ooo… jadi free ya? Free? Ya… ya…”

“Oke, next. Masnya,” aku melemparkan bola pada David. “Silahkan. Ada kisah cinta apa?”

“O.. Harus kisah cinta?”

“Iya,” jawabku.

Kemudian David menceritakan sebuah kisah. Singkat. Tanpa emosi. Disusul Idha yang sama denganku; diselingi banyak tawa. Sampai menyanyikan “Cinta Datang Terlambat”-nya Maudy Ayunda. Padahal kan… cintanya nggak datang terlambat.

Terakhir adalah Robi. Sama seperti David, Robi pun menyampaikan ceritanya dengan tenang.

Sesi curhat dilanjutkan dengan sesi ketawa-ketiwi dan cerita ini itu.

“Pantesan. Waktu di kosan itu juga berasa aneh. Padahal temen sekantor, tapi kok obrolannya nggak cair gitu,” ujar David begitu mengetahui aku dan Idha baru mengenal Robi dalam trip ini.

“Iya. Setelah kenal, ternyata orangnya…” Aku baru akan mengucapkan kesanku terhadap Robi.

“Lha, kamu… Waktu belum kenal, keliatan cool. Ternyata…”

Semua menyambut dengan tawa.

“Mbak Casp.. Mbak Casp… Melihat wajah cool-mu, setiap orang jadi ingin memberikan kehangatan,” ujar David seraya beranjak keluar dari tenda.

Hujan sudah reda.


Minggu, 3 Mei 2015

Aku terbangun oleh dingin di sisi kiriku. Ternyata David yang seharusnya mengisi ruang di sisi kiriku tak ada. Semalam memang dia bertahan di beranda, menyeduh susu jahe. Kami sempat bercanda, membicarakan suara dengkur Robi yang saat itu sudah tertidur dan betapa susah dia dibangunkan. Sampai ketika akhirnya aku dan Idha menenggelamkan diri di balik sleeping bag, David masih betah di tempatnya.

Tidak mudah mengecek jam dalam cahaya remang, tapi aku berhasil mengetahui kalau saat itu jam 1. Membuka pintu tenda, aku menemukan David terbungkus sleeping bag, berbaring di beranda.

Melihat David terbangun, aku bertanya, “Kok tidur di sini? Nggak di dalem?”

Dia menegakkan diri dalam posisi duduk. Tampak mengantuk. Kemudian berbaring lagi dan melanjutkan tidur. Jadi aku menutup pintu tenda dan mencoba kembali tidur.

Jumlah tenda sepertinya sudah bertambah banyak. Di sisi kanan terdengar sayup suara orang mengobrol. Sementara di sisi kiri suara-suara itu terdengar keras, berisik, dan mengganggu. Agaknya penghuni tenda sebelah baru saja tiba dan mendirikan tendanya persis di sebelah kami. Seakan belum cukup, mereka memutar campur sari dengan volume suara yang mampu membangunkan naga tidur.

Sunrise Datang Terlambat

Aku terbangun oleh suara-suara. Ternyata sudah pagi, sudah waktunya mengejar matahari terbit. Kami bersiap-siap. Aku tetap memakai kaus kaki untuk tidur, malas menggantinya dengan kaus kaki untuk berjalan, dan mencari headlamp.

Dinginnya pagi segera membuat tubuh bergidik. Benar saja, sekeliling danau kini penuh dengan tenda. Perjalanan menuju puncak Sikunir berlangsung lambat karena banyaknya orang. Pendaki dan wisatawan berbagai usia berkumpul jadi satu, mendaki setiap anak tangga. Kali ini harapan kami untuk dapat menikmati sunrise yang indah cukup besar karena langit tidak tampak mendung dan keberadaan kabut nihil.

Langit sudah agak terang ketika kami tiba di puncak Sikunir. Untuk mencari tempat yang nyaman pun kami harus menelusup kesana kemari saking padatnya.

Setengah jam matahari yang ditunggu-tunggu tak kunjung tampak. “Sunrise datang terlambat kalau gini namanya,” celetuk David, mengadaptasi judul lagu yang kami sebut-sebut malam sebelumnya. Kemudian semburat cahaya tampak jauh di timur, tapi pancarannya terhalang awan-awan. Ya, langit pagi itu dipenuhi awan. Tahulah kami sunrise itu tidak akan datang pula pagi ini. Meski demikian indahnya pemandangan sekeliling mampu mengobati rasa kecewa dan membuat kami tetap semangat berfoto.

“Mau rasa apa?” tanya David setelah setengah jam dan sekian spot foto. Dia menemukan penjual pop mie.
“Apa aja, asal bukan rasa kehilangan,” jawabku.

David hanya tersenyum mengambang. Senyum tidak tahu harus berkomentar apa. Aku tertawa. “Rasa apa aja boleh kok.”

Dia menggangguk kemudian beralih pada yang lain. Robi menyebutkan rasa mie yang diinginkannya, tapi senyum mengambang itu kembali muncul saat jawaban Idha terdengar, ”Yang penting bukan rasa rindu.”

“Selalu gitu dua cewek ini. Galau.”

Aku dan Idha terbahak.

“Padahal kita kan nggak serius ya. Cuma buat bercandaan.”

“Iya, seru-seruan aja.”

Matahari sudah tinggi saat kami menikmati pop mie. Sinarnya memancar tanpa halangan karena awan-awan juga sudah pergi.

“Masé kausé bagus ok,” ujarku, mengagumi kaus hitam dengan tulisan Pearl yang dikenakan David. Kaus itu memang terlihat istimewa bagiku. Mungkin karena tulisan Pearl-nya atau karena kausnya memang bagus dengan warna kaus hitam dan tulisan putih. Sederhana dan mengena. Iya, mengena di hati hingga ke momen-momen masa lalu yang tak mungkin terjadi lagi. “Belinya di mana sih?”

“Jadi di Malang dulu ada toko yang jual kaus tematik.”

“Ooo…”

“Ya, nanti ya, kalau saya ke Malang.”

“Titip ya…”

“Ya.”

Di kemudian hari, aku baru tahu kalau kaus itu tidak memiliki jahitan di sisi kanan dan kirinya. Membuatku semakin menggemarinya.

Dieng

Tiba kembali di tenda, aku menyesali kemalasanku tidak mengganti kaus kaki. Kaus kaki putih bersih itu sekarang belepotan tanah kecoklatan. Nodanya tidak akan bisa hilang, batinku.

Kenyang oleh pop mie dan olahan kentang khas Wonosobo yang kubeli dalam perjalanan turun, kami tidak memasak apapun. Hanya berkemas kemudian melanjutkan perjalanan.

Karena keterbatasan waktu, kami harus memilih satu dari sekian lokasi wisata yang ada di Dieng. Pilihan jatuh pada Batu Pandang. Idha pun menawar 4 ojek untuk mengantar kami ke tujuan.

Awalnya, aku tidak memperhatikan. Tapi ketika ojek yang kutumpangi menepi sejenak untuk mengisi bensin, aku mendapati motornya unik juga 😕

Untuk menuju spot batu pandang, kami harus menaiki banyak anak tangga. Sensasinya tidak kalah dengan naik gunung. Apalagi kami memanggul carrier.

Ternyata di sana ada beberapa spot lagi. Latar belakangnya adalah Telaga Warna dan Pengilon dengan ketinggian yang berbeda-beda.

Ketika kami berfoto di tempat yang paling rendah, aku dan Idha melihat 2 orang mbak-mbak tengah memanjat untuk menuju spot foto di sebelah kami. Melihat kemiringannya saja aku sudah malas menuju ke sana, tapi 2 orang ini yang mengenakan celana lapis rok semangat sekali.

“Mbaknya hebat tuh,” Idha menunjuk mereka dengan tatapannya.

“Mereka pendaki muslimah jangan-jangan,” sahutku. Mereka memang mengenakan hijab.

Beranjak ke spot lain. Kami bertemu adik kecil yang takut-takut menyebrang menuju spot foto di mana beberapa anggota keluarganya yang lain sudah menunggu dan menyerukan dukungan agar dia berani menyebrang. Tempat itu memang agak terpisah dan dihubungkan oleh setapak yang menyerupai jembatan.

“Ayo, Dek. Nggak papa. Nggak serem kok,” Idha ikut membujuk adik itu.

“Mau juga dong dirayu…” David menimpali.

“Bawain carrier-ku dong… Nggak berat kok,” sahutku.

“Nggak seberat beban hidupku,” sambung Idha.

“Nggak seberat beban masa lalu yang harus kulupakan,” imbuhku lagi.

“Lho to, mesti ngono ok.”

Aku dan Idha terbahak.

Usai rombongan keluarga si adik berfoto, giliran kami menyebrang. Mengambil beberapa foto lalu berpindah tempat. Di sini kami justru bertemu dengan rombongan mbak-mbak jagoan tadi. Orang tua dan seorang saudaranya. Dan benar saja, dari perbincangan dengan sang bapak, kami mengetahui kalau kedua perempuan itu pernah mendaki Rinjani. Di sini kami akhirnya saling membantu untuk mengambil foto bersama.

Rombongan itu turun untuk menuju lokasi lain. Kami mulai membicarakan bagaimana akan kembali menuju pintu masuk Dieng, di mana kami juga akan naik bus 3/4 untuk kembali ke Terminal Mendolo.

“Ke sananya gimana?”

“Uklam. Tahes,” sahut David.

“Apa tu?”

“Mlaku. Sehat.”

Aku berpikir. Idha pun tampaknya memikirkan hal yang sama karena ketika aku hendak bertanya, dia sudah menyuarakannya lebih dulu, “Mlaku kok bisa uklam si? Bukan ukalm.”

“Nggak mesti semua dibaliknya gitu. Disesuaikan juga pengucapannya enaknya gimana.”

“Jadi kalo David dibalik Divad?” tanya Idha.

“Nggak semua kata dibalik. Trus kayak ‘en-ge’ itu nggak dibalik jadi ‘ge-en’.”

“Oh, ada irregular-nya gitu ya?” sahutku.

“Ya…”

“Jadi kalau ‘ngising’, tetep ‘ngising’?”

“Nggak. Itu nggak dibalik. Tapi saya salut lho bisa langsung kepikiran ke sana.”

Hasil bertanya pada bapak-bapak penjaga, Idha memperoleh informasi mengenai jalan potong menuju pintu masuk Dieng. Lokasinya di kanan jalan. Kami menemukannya. Setapak itu menerabas hutan. Jalannya masih becek, barangkali karena minimnya cahaya matahari yang bisa menerobos masuk. Tapi tak lama, kami tiba kembali di keramaian.

Hal pertama yang kami lakukan adalah makan. Karena Robi sudah kelaparan. Selesai makan dan ke toilet, kami menyempatkan diri mampir untuk membeli carica. Sempat terjadi perdebatan sengit antara Idha dan ibu penjual carica tatkala Idha menawar harga carica per dus dari 27.500 menjadi 27.000. Dengan carica di tangan, kami langsung menuju Terminal Mendolo.

Pulang

EditTiba di terminal, masih ada cukup waktu sebelum bus David berangkat. Dia membongkar bawaannya. Menyerahkan tenda serta matras padaku sambil berkata, “Maaf ya… Cuma bisa sampai di sini saya membawanya.”

Kemudian dia beranjak ke toilet, tak lupa menitipkan carrier-nya pada Robi. Seketika rintik air yang semula gerimis berubah menjadi hujan deras. Ketika kembali dengan mengenakan kaus yang masih bersih, David panik menyelamatkan carrier-nya yang memang diletakkan di tempat rawan terciprat air hujan.

“O iyo, sori, Lek, sori…” ucap Robi serta merta, menyadari kelalaiannya.

Berpisah Jalan

“Turun gunung, nggak ada pesan yang masuk. Ternyata sayalah yang pulang dengan hati galau,” ujar David, mendadak berubah sendu.

“Sebelum berpisah, saya mau foto kalian bertiga dong.” Dia pun mengambil foto aku, Idha, dan Robi. Kemudian menyimpan ponselnya dan menyandang carrier yang kini kosong, berpamitan, lalu beranjak menuju busnya.

Kami masih menunggu 2 jam sebelum bus Budiman yang kami tumpangi berangkat menuju Bandung.

Perjalanan Prau yang kuimpi-impikan memang tidak mencapai tujuan awalnya. Tapi ini menjadi salah satu perjalanan yang istimewa dan meninggalkan kesan tersendiri. Setiap pendakian selalu mempertemukan yang semula asing dan mengakrabkan yang sudah saling mengenal. Tapi perjalanan ini adalah twilight moment dalam hidupku.

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

One thought on “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s