Teman Tidur

Ide menginap dengan teman selalu jadi sesuatu yang disambut dengan antusias. Sudah terbayang nikmatnya pillow talk; berbagi cerita dan mendengarkan cerita. Rasanya semua kisah bisa dibagi saat itu, dalam kamar-sebuah ruangan yang pribadi. Aku jadi berpikir barangkali kita lebih memerlukan teman tidur daripada teman hidup. Dan bukankah teman hidup itu juga teman tidur.

Pernah ada masa-masa aku patah hati. Masa-masa transisi dari berdua menjadi sendiri. Ketika itu saat terberat yang kurasa bukanlah malam hari seperti yang kerap kubaca di novel maupun kicauan orang-orang. Perjuanganku dimulai sejak membuka mata di pagi hari. Sepi. Sendiri. Perasaan itu langsung menyergap dan membungkus alam sadarku. Disusul kesadaran bahwa tidak akan ada pesan masuk maupun panggilan telepon yang menderingkan ponselku. Aku menangis. Sesenggukan. For me, it’s never cry myself to sleep. It’s always in the morning and thus ruin my day.

Berbeda ketika seorang teman menginap. Terbangun dan mendapati seseorang di sisiku sepertinya membuat ‘iblis sepi’ tak mampu mendekat.

Teman tidur. Itulah yang manusia butuhkan. Karena menjelang tidur hingga selepas tidur adalah saat paling rentan. Ketika manusia terjun dalam kesendirian. Ketika hiruk pikuk kehidupan tak mampu lagi menjadi penyita perhatian. Juga saat paling pribadi yang hanya dibagi dengan orang-orang yang berarti.

Tetaplah bersamaku
Jadi teman tidurku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: