Posted in friendship, hiking, life, things I love, travelling

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3

Sebelumnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #2

Sabtu, 2 Mei 2015

Satu sindrom yang selalu menjangkiti setiap bermalam di gunung adalah malas bangun. Dingin yang menggigit membuat diri enggan untuk menyibak sleeping bag, apalagi keluar dari dalam tenda. Namun demikian, aku mendengar suara-suara di luar. Suara David. Suara Robi. Tak lama Amay pun menyusul keluar. Aku mulai tergoda menyaksikan apa yang mereka saksikan. Seperti apakah pagi di Prau…

Kabut. Semua tertutup kabut. Sunrise Prau nan tersohor yang kami idam-idamkan juga tidak tampak.

Frame tendanya ketinggalan,” David memulai cerita. Dia mengacu pada gundukan di samping tenda kami. Setidaknya awalnya kukira begitu. Namun setelah diperhatikan lagi, ternyata itu adalah pendaki-pendaki yang bersembunyi di balik sleeping bag serta carrier mereka. Rupa-rupanya rombongan ini adalah pengejar sunrise yang berangkat tengah malam dan tiba subuh. Sayangnya, sunrise tak ada, frame tenda pun tak terbawa.

Perhatianku tertuju pada dua orang yang meringkuk paling dekat dengan kami. Sepertinya mereka adalah pasangan kekasih. Dengan posisi tubuh yang tampak nyaman, saling menghangatkan.

Kami menghabiskan sisa pagi berkeliling, mengambil foto dengan latar Sindoro-Sumbing saat kabut sedikit menyingkir, mencoba berpuas diri dengan hasil yang ada, berjanji akan kembali lagi suatu hari nanti kemudian memasak.

Untuk makan pagi, kami berencana memasak spagetti. Dan baru tahu pagi itu bahwa David tidak suka spagetti. Berbeda dengan kawannya yang sangat menggemari makanan itu. Beruntung, saat itu ada yang membawa mie instan.

Di tengah kesibukan mengiris dan merebus, David tampak ‘asik’ membuang air dari dalam tenda. ‘Bocor’ di tenda cowok ternyata lebih heboh. Hujan deras membuat air masuk melalui puncak tenda yang menganga. Baru setelah itu, David menemukan flysheet tenda terselip di antara tumpukan barang Robi. Buru-buru flysheet itu dibentangkan. Namun air sudah terlanjur menggenangi tenda mereka. Malam pun harus dilewati dalam basah dan dingin. Terlebih bagi Robi yang hanya mengenakan jaket karena sleeping bag satu-satunya diberikan pada Peni.

Sekitar pukul 10 kami mulai berkemas. Begitu tenda dibongkar, aku baru melihatnya. Tenda kami berdiri di atas setapak. Pantas saja Peni merasa kebasahan saat tidur.

Selesai berkemas, kami menyempatkan diri foto bersama. Mengingat belum ada satu pun foto kami berenam. Ketika itu di dekat kami duduk beberapa mas-mas yang tengah asik bercengkrama. Kami meminta tolong salah satu di antaranya. Ternyata orangnya asik dan suka bercanda. Saling bertanya asal masing-masing, tahulah kami bahwa dia berasal dari Tanah Abang.

dsc_0850
Terima kasih untuk Mas-mas Tanah Abang

Menuju Puncak

Perjalanan kami lanjutkan menuju puncak Gunung Prau kemudian turun melalui jalur Dieng. Jika sebelumnya terus menanjak, menuju puncak medan cenderung datar dengan hamparan hijau dan bunga daisy di sana sini. Tanjakan muncul kembali menjelang puncak. Di puncak, lagi-lagi foto kami harus berlatarkan kabut.

Jalur Dieng

Perjalanan turun melalui Dieng tidak kalah susahnya. Jalannya yang berupa tanah, licin karena diguyur hujan semalaman. Jika tidak hati-hati, terpleset sangat mudah terjadi. Amay berkali-kali menjadi korban jalan licin ini.

“Gimana sih cara turunnya yang bener?” serunya setelah terjatuh kesekian kali.

“Jalannya miring,” sahutku sembari menunjukkan padanya trik yang pernah diajarkan padaku 2 tahun berselang. Telapak kaki tidak menghadap lurus ke depan, tapi miring beberapa derajat. “Kayak kepiting.”

Berikutnya yang kutahu, dia berjalan sambil menggumam, “Money. Money. Money.” Kenapa jadi money? aku membatin. “Uang. Uang. Uang.”

“Aku mempraktekkan kata Mba Cas. Jalannya miring, kayak Mister Crab.”

Lalu aku pun paham.

Ketika pohon-pohon mulai renggang, Telaga Warna dan Telaga Pengilon tampak di kejauhan. Menjelang gapura jalur Dieng, kanan dan kiri setapak dihiasi tanaman carica, buah khas Wonosobo, yang bentuknya seperti pepaya versi mini.

dscn0039
Pohon Carica

Selepas gapura dan perkebunan penduduk, kami memotong jalan melalui pemukiman (Kembali lagi pada Mei 2016, akses menuju jalan ini sudah ditutup). Tiba kembali di riuhnya kehidupan, kami segera mencari makan dan merencanakan perjalanan selanjutnya.

Dieng

Karena menuju Telaga Warna sudah cukup dekat dari posisi kami saat itu, kami memutuskan untuk berjalan kaki. Idha bercerita mengenai temannya yang menemukan jalan masuk lain sehingga mereka tidak perlu membayar tiket masuk. Tak lama kami bertemu rombongan yang berjalan ke arah berlawanan. Mengetahui kami sedang menuju Telaga Warna, mereka memberitahu untuk masuk melalui gapura dengan bambu-bambu di bagian depannya. Dengan demikian kami tidak perlu membayar tiket masuk.

Benar saja, kami menemukan gapura dengan bambu-bambu di bagian depannya. Sebagian dari kami ingin mencoba masuk. Sebagian ragu, termasuk aku. “Kita terbatas waktu soalnya,” jelasku, mengacu pada Amay dan Peni yang busnya akan berangkat sore itu. Sementara kami tidak tahu apakah jalan di belakang gapura ini benar menuju ke tujuan kami. “Jadi nggak berani coba-coba,” lanjutku, yang disetujui oleh David. Akhirnya kami memilih tidak memasuki gapura itu.

Baru beberapa meter melangkah, di depan kami berdiri pagar dan tembok yang berlubang. Idha langsung bersemangat. “Kita bisa masuk lewat sini! Ini nyambung ke Telaga Warna! Tu keliatan telaganya.” Semua setuju. Satu demi satu, orang kemudian carrier, menyelinap melalui lubang itu.

dscn0041

dscn0043
Penampakan dari sisi dalam
dscn0044
Setapak setelah ‘pintu masuk’

Benar saja, setapak di balik tembok itu langsung mengantar kami ke Telaga Warna. Di sini aku baru memperhatikan kaus yang dipakai David. Kaus berwarna hitam itu nyaris polos, kecuali satu kata lima huruf yang tercetak di bagian depannya: Pearl. Satu kata singkat yang serta merta melambungkan pikiranku pada satu hal.

Aku mencari momen yang tepat, untuk menyejajari langkahnya dan bertanya, “David, suka ngedrum?”

“Nggak,” jawabnya. Dia menuturkan bahwa bukan drum alat musik yang dikuasainya, melainkan gitar. “Alat musik yang sudah umum. Semua orang bisa.” Yeah, aku bukan orang berarti.

“Ah, nggak juga,” sanggahku.

“Ya… hampir semua oranglah bisa gitar.”

Aku tertawa. “Oh… kirain bisa ngedrum. Terus di-endorse sama Pearl gitu.”

“Lha mbaknya pake Eiger, di-endorse sama Eiger to berarti…”

Telaga Warna tidak bisa dibilang sepi hari itu, tapi kami masih bisa berfoto tanpa perlu antri atau berebut spot dengan pengunjung lain. Kala itu air telaga berwarna hijau. Kami berjalan menyusuri Telaga Warna menuju telaga di sebelahnya. Sayup-sayup terdengar percakapan Amay dan David yang menemukan kesamaan selera musik.

Telaga yang satu lagi bernama Telaga Pengilon. Sepi. Bahkan tidak ada siapapun lagi di sana selain kami. Telaga yang satu ini agaknya tidak terlalu diminati sehingga menjadi kurang terawat dan terabaikan. Akses jalannya jelek, masih berupa tanah yang kala itu becek dan menyerupai bubur. Air telaganya sendiri abu-abu gelap dan sekilas memang tidak terlihat menarik.

“Ternyata setelah didekatin gini tok ya,” David berkomentar. “Nggak kayak di fotone.”

“Ya sama kan? Ranu Kumbolo juga cuma gitu-gitu aja,” sahutku, mengomentari danau yang tersohor di Semeru.

Tapi lawan bicaraku sepertinya tidak terima. “Nggak. Buatku, Ranu Kumbolo itu indah kok.”

Keluar dari area telaga, kami melalui pintu yang seharusnya. Saat itu sudah sore, jadi diputuskan untuk berpisah rombongan saat itu. Amay dan Peni naik ojek untuk kemudian disambung bus 3/4 menuju Terminal Mendolo. Seminar aku dan 3 orang teman lain melanjutkan perjalanan ke Sikunir.

Kami menyewa mobil. Untungnya. Karena perjalanan ke Sikunir ternyata begitu panjang. Berkelok-kelok dan naik turun. Kadang terlihat kondisi jalan yang tak lagi sempurna dengan lubang menganga. Namun kami temui juga beberapa laki-laki dengan carrier di punggung yang tengah berjalan kaki. Kalau dipikir manusia sebenarnya manja karena adanya fasilitas. Terbukti dengan banyaknya orang yang bisa berjalan berkilo-kilometer sambil membawa beban berat hingga tiba di puncak gunung. Tapi ketika tempat tujuannya bisa ditempuh menggunakan alat transportasi, jarak yang terbentang jadi terasa terlalu jauh dan tidak memungkinkan untuk ditempuh dengan berjalan kaki.

Akses kendaraan bermotor terhenti sampai Telaga Cebong, Desa Sembungan-desa ini merupakan desa terakhir sebelum puncak Sikunir. Area tersebut merupakan lahan parkir yang di kelilingi warung. Sesuai rencana, kami berniat untuk langsung mendaki Sikunir dan membuka tenda di puncaknya. Namun seorang bapak menghentikan langkah kami. Beliau memberitahu sebaiknya tidak bermalam di puncak. Pertimbangannya adalah kondisi puncak yang terbuka berisiko jika turun hujan karena tidak adanya pohon yang dapat melindungi dari angin. Selain itu, puncak Sikunir selalu dipadati pengunjung, terlebih pada saat long weekend seperti saat itu. Akhirnya kami disarankan untuk membuka tenda di tepi Telaga Cebong. Dan memang di sana telah berdiri beberapa tenda.

Berjalan mengitari Telaga Cebong, kami mencari lokasi yang pas di hati. Teman-teman menginginkan tempat yang sejauh mungkin dari tenda-tenda lain demi memperoleh suasana yang hening. Lain denganku yang was-was kalau hujan kembali mengguyur. Sepanjang hari itu mendung tidak beranjak dari langit. Berada di dekat tenda-tenda lain akan menguntungkan bila hujan sungguh datang.

Kami terus berjalan. Jauh meninggalkan tenda-tenda yang sebagian besar berdiri di dekat jalan masuk. Saat itu memang jumlah tenda yang berdiri hanya sedikit. Sangat sepi. Yang membuat aku semakin cemas. Ketika kami sudah sangat terpencil, teman-teman akhirnya berhenti berjalan dan berkata, “Di sini saja.” Kami pun mendirikan tenda.

“Cuma berempat kan? Kita pakai satu tenda aja ya,” usul Idha. “Tenda kalian. Tenda kita bocor soalnya.” Kami mendirikan tenda berwarna merah-biru itu. Kali ini tidak melewatkan flysheet-nya. Menggelar matras dan menyusun carrier di satu sisi tenda. Sisa satu matras kami gunakan untuk mengalasi bagian teras tenda. Di sana logistik digelar; minuman sereal, susu jahe, dan spagetti yang masih separuh bungkus.

Setengah enam sore gelap turun lebih cepat dengan datangnya kabut. Di seberang danau lampu-lampu mulai dinyalakan.

dscn0052

Aku meraih di antara tumpukan minuman sachet. Bermaksud membuat susu jahe untuk mengatasi dingin. Kutemukan satu bungkus… Namun ternyata tanggal kadaluwarsanya sudah lewat 2 bulan. Aku menemukan satu pak susu jahe lain dan menyeduhnya.

Tak lama, titik-titik air mulai berjatuhan dari langit. Kami semua masuk ke dalam tenda dan menutup pintunya.

Berikutnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #4

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

2 thoughts on “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s