Posted in friendship, hiking, life, things I love, travelling

Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #2

Sebelumnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #1

 

Jumat, 1 Mei 2015

Langit masih gelap ketika bus memasuki Terminal Mendolo, Wonosobo, namun suasana terminal sudah cukup ramai. Selain bus-bus antar kota yang berdatangan, tampak beberapa bus 3/4 yang siap berangkat dan kondektur-kondektur yang sibuk mencari penumpang.

Kami memutuskan menunggu terang lebih dulu dan beringsut ke salah satu sisi terminal. Menumpang di salah satu lapak penjaja makanan yang masih belum buka.

“Kita jadi nanti ke Dieng berdua aja?” Aku dan Idha membahas rencana kami setelah dari Prau. Niatnya memang setelah dari Prau ini, perjalanan dilanjutkan ke Dieng karena kami juga mengambil rute turun melalui Jalur Dieng dan masih ada 1 hari libur untuk dinikmati. Namun Amay harus kembali ke Bandung pada hari Sabtu. Robi pun menginformasikan hal yang sama. Alhasil, aku dan Idha melanjutkan rencana ini berdua.

“Iya. Nanti kita nge-camp di Sikunir aja.”

“Loh… Kalian ada rencana ke Dieng?” David yang mendengar percakapan kami, nimbrung. Ternyata informasi yang dia dapat dari Robi hanya sebatas Prau saja.

“Iya. Mau ikut?”

David menyatakan keikut sertaannya ketika Robi kembali dari toilet. “Robi mau ikut juga nggak ke Dieng?”

Ekspresinya bimbang. Antara pacar yang harus ditemani pulang dan keinginan hati untuk berlibur. Ketika dia menatap Peni, bibir gadis itu mengucapkan kebebasan untuknya, tapi tatapan matanya tampak tidak sepenuhnya rela.

Pada akhirnya, kami pergi berempat ke Dieng.

Sekitar jam 6, kami menuju konter bus Budiman untuk membeli tiket kembali ke Bandung: 2 tiket tertanggal 2 Mei sore dan 3 tiket tertanggal 3 Mei sore. Sementara David bertualang sendiri mencari tiket kembali ke Jakarta. Namun ternyata konter baru melayani pembelian pada jam 7.

Setelah tiket di tangan, kami mengangkut barang-barang ke salah satu bus 3/4. Para sopir dan kondukter bus ini sepertinya telah menjalin kesepakatan untuk menetapkan tarif yang sama bagi para pendaki yang hendak menuju Patak Banteng. Kami membayar Rp 25.000 per orang dan mendapatkan 2 tempat duduk di sebelah sopir, 2 di belakang sopir, dan 2 lagi di bagian paling belakang.

Bapak Kondektur masih saja semangat memasukkan penumpang, meski tak ada lagi tempat duduk tersisa di dalam bus. Sampai setiap petak terisi barulah pintu ditutup. Bus melaju. Itu pun masih tetap mengambil penumpang di jalan.

Peni yang semenjak tiba di Wonosobo tidak banyak bicara, di sini kembali menemukan teman. Sang sopir ternyata adalah orang Sunda yang mengadu nasib ke Wonosobo. Sepanjang perjalanan terdengar riuhnya obrolan mereka dalam bahasa Sunda di tengah teriakan kondektur serta percakapan penduduk lokal dalam bahasa Jawa.

Patak Banteng

Kami diturunkan di tepi jalan. Awalnya aku kira di sanalah letak pos Patak Banteng karena di kanan kiri tampak pula rombongan- rombongan pendaki. Nyatanya, di sana hanya ada warung-warung. Untuk mencapai Pos Patak Banteng, kita masih harus berjalan kaki melalui rumah-rumah penduduk.

Di sini kami melengkapi perbekalan; 11 botol air minum, yang sebagian besar dibagi ke dalam carrier Robi dan David, dan sayur mayur. Aku, Amay, dan Idha beranjak untuk membeli yang kedua. Setelah bertanya ke sana kemari, kami menemukannya di gang menuju basecamp.

Entah siapa yang memilih topik pembicaraan kami. Yang aku tahu Idha sudah mulai menceritakan angan-angannya bertemu seseorang dalam pendakian kali ini.

“Pengennya yang deket rumah. Jadi nggak jauh-jauh dari ibuk. Kalau pulang rumah gampang.”

“Jangan-jangan nanti nemune di sini.”

“Mas-mas Wonosobo.”

“Ato jangan-jangan sama temene Ibor itu. Kalian cocok lho…”

“Yuk, kita jodohin yuk,” godaku.

“Siapa? David itu? Moh. Moh,” sahutnya serta merta. Ada luka dalam nadanya. Retak di hatinya merambat naik, mengukir gurat ekspresinya. Kata orang, manusia yang pernah patah hati tak akan sama lagi.

Well, tapi memang harus begitu kan? Apa gunanya pelajaran hidup sepahit itu kalau manusia yang mengalaminya masih tetap pribadi yang sama? Kita jatuh dan kita belajar untuk tidak jatuh di lubang yang sama maupun serupa.

Kami kembali membawa tempe dan sebungkus bahan-bahan untuk membuat sup. Kemudian untuk memenuhi panggilan perut yang mulai lapar, kami beranjak mencari makan. Mie Ongklok menjadi sasaran. Menitipkan barang-barang di depan warung tempat kami membeli air mineral, kami menyambangi warung mie ongklok yang tepat berada di seberang jalan. Kata-kata si ibu penjual yang memberitahu bahwa butuh waktu cukup lama untuk menyiapkan bumbu racikan mie ongklok yang ketika itu habis tak menyurutkan hasrat kami untuk mencicipi mie khas Wonosobo itu.

dscn0001
Mie Ongklok

Dipesanlah beberapa mangkuk mie ongklok dan bakso. Sembari menunggu, kami disibukkan oleh bahasan tentang bahasa Malang yang digunakan David. Gaya bahasa itu membalikkan cara membaca sebuah kata menjadi dari belakang ke depan sehingga kita mengenal istilah ‘kera ngalam’ yang berarti arek malang.

Kemudian 2 mangkok bakso pesanan kami datang.

“Ini apa?” tanya David sambil menunjuk bakso di hadapannya.

Maksudnya? batinku dalam hati. Amay pun sepertinya sama bingungnya karena dia menjawab dengan ragu-ragu, “Bakso.”

“Oskab,” sahut David. Barulah kami mengerti kalau dia masih membahas bahasa Malang.

Usai makan, kami kembali untuk repacking. “Kita berangkat sekarang?” tanya David. Saat itu hanya aku dan Idha yang berada disana, sementara yang lain sedang ke toilet.

Idha menoleh, memberiku tatapan yang seolah berkata ‘Loh, kok anak ini malah ngajakin sekarang si? Emang dia nggak Jumatan?’ sembari menjawab, “Err.. terserah,” dengan ragu-ragu.

Pertanyaan yang sama kembali dilontarkan ketika Robi datang. “Nunggu jumatan sek,” jawabnya.

Karena sulit untuk melakukan bongkar muat carrier di tempat tersebut, kami memutuskan untuk menuju basecamp saat itu. Dari tempat kami turun dari bus, gang menuju basecamp ada di seberang jalan. Dari sana terdapat beberapa petunjuk jalan yang memungkinkan kita menemukan basecamp dengan mudah.

Basecamp dan area sekitarnya dipadati pendaki. Untungnya kami masih mendapat tempat yang cukup lega di dalam. Kedua laki-laki meninggalkan barang bawaannya kemudian beranjak menunaikan sholat Jumat.

Sekian menit menunggu aku mulai merasakan kebutuhan untuk ke toilet. Setelah memberi tahu Idha, aku keluar dan mencari tanda-tanda di mana ada toilet. Di sebelah kiri basecamp terdapat tangga yang menuju deretan rumah penduduk. Di rumah-rumah itu tertempel tulisan ‘TOILET’. Aku pun bertanya pada seorang ibu yang duduk di depan rumah, “Bisa ke toilet, Bu?” Ibu itu mempersilahkan sembari menunjukkan letak toiletnya.

Setelah membereskan segala urusan, aku berjalan keluar dan bermaksud kembali ke basecamp, tetapi si ibu menghentikan langkahku. Ternyata aku harus membayar. Karena meninggalkan semua uangku di dalam tas, aku memberitahu si ibu bahwa aku akan kembali dan membayar nanti.

Semakin siang, langit bukannya semakin terang, malah semakin temaram. Lapisan kelabu menutupi langit. Aku mengecek waktu. Hampir setengah satu. Sebentar lagi teman-teman yang lain kembali, pikirku. Jadi aku bersiap-siap, yang lain pun sibuk melakukan repacking. Memakai sunblock, mengepak semuanya, dan merapikan carrier. Kemudian bersama tas pinggangku kembali ke rumah ibu tadi. Setibanya di sana, aku tergoda untuk pipis sekali lagi. Ketika hendak membayar, aku kembali tergoda… Kali ini oleh setumpuk pisang goreng yang tampak hangat dan nikmat.

Sambil mencomot pisang goreng, aku bertanya pada si ibu, “Cuacanya akhir-akhir ini gimana, Bu? Hujan nggak?”

“Nggak,” jawab si ibu. “Cerah terus. Baru sekarang aja mendung.”

Dipenuhi harapan akan cuaca yang cerah, aku kembali ke basecamp dan menyampaikan informasi ini pada teman-teman. Meski sebenarnya cemas masih terselip di hati.

Begitu Robi dan David kembali, kami langsung mengajak mereka berangkat. Mereka berkemas-kemas.

“Ini tu 1 Mei ya… Hari Buruh,” celetuk Idha.

“Kita naik di Hari Buruh, turun di Hari Pendidikan,” ujar David sembari mengencangkan tali carrier.

Kami mengawali perjalanan dengan doa kemudian mulai melangkah. Tak lupa melakukan pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp 10.000 per orang.

Menuju Camp Area

Gunung Prau terbilang gunung yang pendek, hanya setinggi 2.565 mdpl, namun di awal perjalanan saja kita sudah disambut dengan rangkaian anak tangga. Di sisi kanan, jauh di bawah tampak perkebunan warga. Hujan sepertinya memang menunggu kami. Baru beberapa langkah, bulir-bulir air itu sudah berjatuhan riuh mengiringi jalan kami, memaksa kami untuk menepi sejenak dan mengenakan jas hujan. Namun tak butuh lama hingga hujan berubah menjadi gerimis kecil yang semakin lembut kemudian menghilang. Beberapa meter sebelum pos I, kami kembali berhenti untuk beristirahat. Peni terlihat kelelahan, duduk di atas batu dengan kaki diluruskan dan wajah pucat. David memanfaatkan momen ini untuk melepas jas hujan plastik warna hijaunya.

Pos I yang dinamai Sikut Dewo hanya berupa plang di pinggir jalan, tanpa satu area untuk beristirahat. Tepat setelah itu, rute berlanjut ke tanjakan di sebelah kiri jalan. Di sini jalan menyempit menjadi setapak dan berupa tanah. Licin saat basah, mengepulkan debu saat kering.

Sembari menunggu Peni dan Robi menyelesaikan satu tanjakan, kami berfoto. Kebetulan di sana ada warung yang tergeletak tak berpenghuni. “Yuk, foto bertiga!”

David dimintai tolong untuk mengambil gambar. Dan dalam usahanya melakukan yang terbaik, dia terus mengambil jarak dari kami. Mundur terus mundur, membuat kami ngeri karena setapak itu sempit dan dia bisa jatuh bila mundur selangkah lagi.

Klik. Satu foto diambil. “Senyum dong…”

Aku menarik ujung-ujung bibirku. Kemudian dia tersenyum geli.

“Kok senyumnya gitu si?” Amay berbisik pada kami.

“Senyum kita aneh ya, Mas?” Idha berseru.

Tapi aku merasa senyumku aneh.

dsc_0793

Saat Peni muncul, wajahnya tampak lelah dan lega. “Gimana Peni?” tanya Idha.

“Rasanya mau mati,” jawabnya diiringi tawa.

Selepas dari sana, perkebunan warga digantikan pohon-pohon tinggi.

wp-image-79945885jpg.jpg

Peni tampaknya sudah mulai beradaptasi dengan medan. Dia sudah mulai ceria dan bahkan bisa berseru, “Semangat, Mas!” pada pendaki yang berlalu saat kami istirahat. Ini membuat Robi bereaksi, “Weh, wes iso ngono saiki,” sementara yang lain tertawa.

“Kayak Pai, ya?” ujar Idha, mengacu pada David.

“Iya.” Aku bergumam menyetujui.

“Hm?” Yang bersangkutan rupanya tahu tengah dibicarakan.

“Kamu tu kayak temenku,” sahut Idha.

“Kok isok?”

“Mirip aja.” Tapi informasinya tidak menuju pada penjabaran lebih lanjut. (Dan sekarang aku tidak lagi ingat kenapa 2 tahun lalu aku dan Idha merasa David dan Pai itu mirip. Setelah semakin mengenal keduanya sih memang  benar-benar terasa mirip. Setipe. Beban berat di carrier. Tipe alfa. You know? Semacam menjadi relawan mencari lapak tenda because your team need it.)

dscn0003

“Aku tahu kenapa namanya Pos Cacingan,” celetuk Idha saat kami melalui papan penanda pos. “Karena akar-akar pohonnya kayak cacing.” Sepanjang perjalanan menuju pos 3 kami memang disambut dengan akar-akar yang mencuat di berbagai tempat.

dscn0005
Lelah

Tiba-tiba saja Amay kram. Jemari kakinya kaku dan berada dalam posisi yang janggal. Terdengar seruan-seruan masukan mengenai apa yang sebaiknya dilakukan, tapi tidak ada dari kami yang benar-benar tahu apa yang harus dilakukan. Bak ksatria berkuda putih, melintaslah mas-mas (bersama sosok yang diyakini sebagai kekasihnya) dan dengan baik hati menawarkan bantuan. Berkat pertolongan mas berkekasih dan istirahat sejenak, kaki Amay sudah kembali normal.

Menjelang camp area, undakan dengan batas-batas dari bambu menyambut. Pemandangan dari sana sepertinya mengagumkan. Sayang, hari itu berkabut.

dscn0009

Konser Musik Raksasa oleh Para Penghuni Angkasa

Betapa lega rasanya ketika akhirnya menemui jalan datar apalagi dengan bonus hamparan rumput hijau. Tenda berbagai warna mulai tampak di sana sini. Ya, kami sudah tiba di camp area. Saat itu pukul 4 sore. Mencari tempat yang tepat, kami terus melangkah. Tiba di suatu ruang yang cukup luas, datar, dan belum dihuni satu tenda pun dalam radius 500 meter, kami telah mempertimbangkan untuk membongkar muatan ketika seseorang memberitahu bahwa tempat itu tidak disarankan untuk mendirikan tenda. Tempatnya terlalu terbuka; berisiko terpapar angin kencang dan tersambar petir. Ini pun menjelaskan mengapa area tersebut bersih dari tenda.

Orang itu juga menunjukkan pada kami di mana sebaiknya mendirikan tenda. Kami pun mengikuti sarannya. Ternyata di sana sungguh tempat yang ideal; datar dan berada di depan pemandangan khas Prau-Sindoro Sumbing yang menjulang gagah. Sayang sekali lagi sayang, saat itu gunung kembar tersebut tidak tampak jelas karena tersembunyi di balik kabut.

Di area ini jumlah tenda yang mengisi lebih banyak lagi. Beberapa bahkan bertengger di puncak-puncak bukit yang terpisah. Kami segera memilih spot dan membongkar carrier. Gerimis kembali turun.

Satu demi satu tenda didirikan. Tempat milik perempuan lebih dulu. Berwarna jingga, hasil Idha meminjam dari teman BPI-nya. Kemudian tenda yang baru dijemput Robi dari tempat persewaan sore sebelumnya. Berwarna merah-biru.

“Ini nggak ada flysheet-nya? Cuma segini?” tanyaku, memandang tenda yang telah berdiri tapi bagian puncaknya menganga, memperlihatkan bagian kerangka di mana tali disimpulkan.

“Nggak ada,” jawab Robi sembari menggoyang carrier-nya, menunjukkan isinya yang kosong.

“Aneh,” aku masih tak percaya. “Masak gini si?”

Seolah kesal karena tak diperhatikan, dingin meniupkan angin membuat merinding. Kami pun menerima saja kenyataan mengenai tenda tersebut dan memilih masuk ke tenda, berganti baju. Rasanya seperti berada dalam rumah berpenghangat alih-alih tenda ketika baju yang basah oleh keringat telah berganti dengan baju kering.

Kegiatan selanjutnya tentu saja memasak. Dibuka dengan Robi yang membantu menyalakan kompor sembari mengumpat, “Jancok!” saat jemarinya tersengat panas. Dilanjutkan dengan mereka berlima sibuk merebus, memotong, dan mengiris. Sementara aku bersembunyi dalam tenda yang hangat. Karena toh, tidak ada lagi yang bisa dikerjakan ;p

Makan malam hari itu pukul 7. Adalah suatu peristiwa langka makan malam tepat waktu saat berada di gunung. Menunya sop dan tempe goreng. Kami makan di dalam tenda. Karena gerimis memutuskan berubah menjadi hujan, kabut tak henti datang dan pergi, ditambah kini guruh menabuh genderang tak henti-henti. Terdengar seperti konser musik raksasa oleh para penghuni angkasa. Riuh.

Hujan terus mengguyur. Kilat datang membelah udara, menyebarkan cahaya terang sesaat sebelum guntur menggelegar. Kami memutuskan mengisi waktu dengan bermain ABC. Nama-nama hewan. Boleh dengan bahasa apapun. Di huruf-huruf tertentu, kami menyebutkan nama hewan yang sama, namun dengan bahasa yang berbeda. Di huruf A, Idha jadi yang pertama berseru, “Asu!”. Di beberapa huruf lainnya, 3 bahasa tidak mampu mengakomodasi 6 nama hewan yang dibutuhkan sehingga ada yang harus kalah.

Ketika Peni kalah, dia dihukum menggoda Robi dengan menyanyikan lagu dangdut.

Ketika David kalah. Semua terdiam memikirkan hukuman.

“Aku tahu!” seru Idha. “Masnya nggombalin Mbak Cas.”

Semua menyambut baik ide itu. Selayaknya orang yang dihukum nggombalin, David terdiam sesaat. Ketika menyuarakan kata gombal pertamanya, tangannya sibuk mengutak-atik SB dan tatapannya menghindari kami. Kami sibuk tertawa-tawa, asik menikmati hasil keusilan Idha sampai yang kuingat dari paragraf gombal itu hanya kalimat terakhirnya. “Maukah kamu menjadi yang pertama dan terakhirku?”

Saat seluruh abjad sudah habis, permainan berganti menjadi tebak lagu. Kami terbagi menjadi 2 tim secara otomatis sesuai posisi duduk saat itu. Amay-Robi-Idha. David-Aku-Peni. Peraturannya adalah lagu hanya disenandungkan. Masing-masing mengeluarkan lagu favoritnya. Berbagai genre. Lagu jaman orang tua masih remaja hingga lagu terkini. Lagu dangdut yang disenandungkan Peni. Lagu ‘Gereja Tua’ yang disenandungkan David (which surprised me, karena penampilannya bukan penampilan orang yang mendengarkan lagu semacam ‘Gereja Tua’). Lagu galau yang disenandungkan Idha. Lagunya Kerispatih yang disenandungkan entah siapa. Waktu mendengarnya aku merasa familiar dengan lagu itu, lagu yang pernah jadi begitu spesial. Tapi memoriku tak mampu menggapai judulnya.

Yang ternyata si pemberi teka-teki juga salah menyebutkan judul karena Idha menyahut, “Kayaknya judulnya bukan itu wes.” Lagu yang dimaksud adalah “Tapi Bukan Aku”. Aku menemukan judulnya ketika sudah kembali ke Bandung saking penasarannya.

Lagu yang paling membekas untukku adalah lagu yang disenandungkan Amay. Lagu yang tidak asing, tapi aku memang tidak pernah tahu judulnya. Jadi ketika David masih berkata, “Aduh… ini apa ya…” berusaha keras mengingat, aku sudah berkata, “Silahkan… Aku memang nggak tau judule ok, cuma pernah tau lagu ini.”

Kami akhirnya tidak berhasil menebak judul lagu itu. David menyerah. Amay menyerukan jawabannya dengan bangga, “Kirana. Lagunya Dewa 19.” Dan aku akhirnya tahu judul lagu itu.

♫ Kirana jamah aku, jamahlah rinduku
Takkan pernah usai cintaku padamu ♫

“Kalau begitu dijalani saja, tidak perlu diakui.”

Hujan tidak berhenti turun malam itu. Sampai tenda kami bocor dan tetes-tetesnya jatuh di atas kepala. Idha pun beride menggunakan celana jas hujannya untuk menutup bocor. Worked! Kami kembali tidur nyenyak sampai pagi.

Berikutnya : Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #3

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

2 thoughts on “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s