Posted in celoteh, life, things I love, travelling

Misa di Kapel Karmel, Lembang

Akhirnya mewujudkan keinginan pergi ke Lembang pagi-pagi. Tujuannya ikut misa Minggu pagi di Karmel.

Terbangun sekitar jam 4. Beranjak dari kasur jam 6 kurang. Rencananya 6.15 sudah harus order go-jek. Jadi kalau 6.30 belum juga dapet driver, bisa putar haluan ke Paulus naik Milky. Tak dinyana-nyana driver didapat dalam sekejap. Aku bergegas menuju mulut gang.

6.30, driver tiba. Ternyata orangnya masih sangat muda (kalau dilihat dari wajahnya). Dia mengaku tidak tahu jalan ke Lembang. “Saya belum pernah sampai sana.” Aku jadi berpikir jangan-jangan karena ketidak tahuan ini, dia accept orderanku.

Singkat cerita, kami berkendara ke Lembang. Motornya nyaman. Kelihatan masih baru. Kinclong. Dan ya memang terasa masih baru. Setengah jam kami menembus udara pagi yang dingin. Begitu tiba di tempat tujuan, masnya berkata, “Jauh juga ya,” masih dengan senyumnya. Tapi dia tidak mengeluh. “Jangan lupa bintangnya ya, Teh.” Dengan senang hati kuberi.

Aku sudah pernah masuk ke Kapel Karmel sebelumnya. Tapi itu bertahun lalu. Aku lupa, ternyata tempatnya benar-benar mungil. Beberapa baris bangku yang ada di sana hanya terbagi menjadi 2 kolom.

Saat itu masih jam 7 lewat 5, baru ada tidak lebih dari 5 orang di dalam kapel. Kemudian berangsur-angsur bangku terisi dari belakang ke depan. Baru di tempat ini saya melihat misa pagi padat umat. Karena ketiadaan layar yang menampilkan teks lagu hasil proyeksi, kami semua membutuhkan Puji Syukur. Pada tiap deret bangku yang dapat menampung 6 orang itu tersedia 3 Puji Syukur. Jadi harus 1 berdua.

Satu hal lagi yang baru kutemui pada misa di kapel ini: umat yang interaktif dengan Pastur. Pertanyaan-pertanyaan dari Pastur dijawab dengan suara lantang, bukan sekadar bisik-bisik ragu.

Pagi itu Pastur membuka khotbahnya dengan sebuah pertanyaan, “Apa kabar?” Umat pun menyahut. Terdengar beberapa jawaban. Namun yang aku tangkap adalah suara tante di sebelah saya, “Luar biasa,” katanya. Si Tante, aku perhatikan, membawa beberapa bungkus Aqua sachet tisu basah untuk galon. Membuatku bertanya-tanya untuk apa membawa-bawa tisu basah sebanyak itu ke gereja.

Sementara itu, jawaban yang ditangkap oleh Pastur adalah, “Baik.” ‘Baik’ di kapel ini ternyata memiliki makna berbeda dilihat dari pertanyaan dan pernyataan Pastur berikutnya.

“Baik artinya apa?” Hening. “Lupa? Atau mungkin karena banyak pendatang baru ya. Saya melihat adanya wajah-wajah baru.” Baik yang dimaksudkannya adalah sebuah akronim dari Bangga Aku Ikut Yesus.

Kemudian dia juga menyampaikan 5 kesalahan yang dilakukan manusia selama hidupnya:
– salah memasak nasi (menjadi bubur). Penyesalannya 1 hari.
– salah potong rambut. Penyesalannya 1 bulan.
– salah mengerjakan ujian (hingga menjadi tidak lulus). Penyesalannya 1 tahun.
– salah memilih pasangan hidup. Penyesalannya, umat kompak menjawab, “Seumur hiduuuupppp.”
– salah memilih Juru Selamat. Penyesalannya selama-lamanya.

Pada saat doa persembahan, Tante mulai menggunting bungkus tisu basah yang dibawanya. Aku jadi mulai bisa menebak maksud dan tujuannya. Kemudian benar saja. Menjelang komuni, dia membagi-bagikan tisu itu untuk membersihkan tangan sebelum ‘makan’.

Great experience there 🙂 Aku juga jadi tahu kalau di sisi kiri altar ada ruangan lagi yang digunakan oleh para biarawati.

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s