Heart Break

“Kenapa?” Hening di antara kami akhirnya koyak. “Beri aku alasan.”
Aku menarik napas dalam-dalam, sebuah keputusan yang salah karena justru membuat kerongkonganku serasa tercekat, dan menatapnya lekat-lekat. “Kau mengingatkanku pada ayahku. Matamu. Alismu. Senyummu. Kau begitu mirip dengannya. Bahkan bidang yang kau tekuni. Kesukaanmu. Karaktermu…”
“Lalu? Bukankah setiap anak perempuan mencari sosok yang seperti ayahnya?”
“Aku tidak ingin menderita seperti ibuku.” Kugigit bibir kuat-kuat, berharap dapat mengurangi rasa sakit di bagian lain tubuhku. “Maaf.” Aku beranjak. Melangkah pergi dari tempat itu. Melangkah pergi dari hidupnya.
Bagi anak perempuan-anak perempuan lain, ayah adalah cinta pertama mereka. Bagiku, ayah adalah patah hati pertamaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: