[Resensi] Critical Eleven – Ika Natassa

Judul Buku                           : Critical Eleven
Penulis                                 : Ika Natassa
Editor                                   : Rosi L. Simamora
Penerbit                               : PT Gramedia Pustaka Utama
Ketebalan Buku                  : 344 halaman
Tahun Terbit                       : 2015

Pertama kalinya saya membaca “Critical Eleven“, kisah ini masih berbentuk cerpen dalam sebuah buku kumpulan cerpen berjudul Autumn Once More. Cerita yang mengambil setting dalam sebuah penerbangan ini langsung mencuri hati saya. Sejak itu pula saya jatuh cinta pada Ika Natassa dan langsung memboyong pulang karya-karyanya yang lain. Betapa tidak sabarnya saya ketika mendengar “Critical Eleven” dikembangkan menjadi sebuah novel.

Dalam cerpennya dikisahkan Tanya Baskoro (Anya) terkenang akan pertemuan pertamanya dengan Aldebaran Risjad (Ale) dalam salah satu perjalanan udara yang dilakukannya. Pasalnya, keduanya bertemu dalam penerbangan mereka dari Jakarta menuju Sidney. Anya yang seorang banker sibuk dan selalu bekejaran dengan waktu langsung menemukan kecocokan berbincang dengan Ale yang seorang sarjana perminyakan dan menghabiskan separuh waktunya di rig yang cenderung monoton. Namun sayang, hubungan mereka yang diawali dengan manis itu kemudian harus menjadi kenangan. Judul critical eleven sendiri diambil dari istilah dalam dunia penerbangan untuk menggambarkan 11 menit paling kritis dalam pengendalian pesawat, yaitu 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing. Ini kemudian dianalogikan dengan perjumpaan pertama dengan seseorang: 3 menit kesan pertama dan 8 menit sebelum mereka berpisah yang menentukan apakah akan ada perjumpaan selanjutnya atau tidak.

Novelnya membeberkan lebih jauh apa yang terjadi setelah pertemuan di pesawat hari itu. Kencan-kencan mereka, hubungan jarak jauh yang harus mereka jalani, dan kehidupan pernikahan mereka. Keduanya hidup bahagia hingga satu kejadian menimbulkan sakit hati Anya, membuatnya mengabaikan sang suami. Ale pun harus berjuang untuk mendapatkan maaf istrinya dan mengembalikan keharmonisan keluarga mereka.

Ditulis dengan gaya alur maju mundur, Ika Natassa kembali bermain dengan flash back. Satu hal yang membuat saya jatuh cinta dengan gaya menulisnya: caranya membawa kita melompati waktu. Begitu halus, tanpa kalimat penanda yang klise.

Kedua karakter utama dalam novel ini diberi kesempatan untuk membawakan cerita dari sudut pandang masing-masing. Sosok Anya lebih banyak memulai kisahnya dengan beranalogi; mengutip dari film, novel, atau materi yang berkaitan dengan pekerjaannya. Sementara kisah Ale diperkaya dengan ilmu tentang kopi yang muncul saat interaksi dengan sang ayah.

Sedikit berbeda dari novel-novel Ika Natassa lainnya di mana kehidupan mewah amat ditonjolkan dengan penyebutan merek-merek mahal berulang-ulang dan umpatan yang bertebaran di mana-mana, Critical Eleven terasa lebih lembut. Di sini Ika Natassa lebih terfokus pada sakit hati yang dialami Anya dan usaha Ale untuk berbaikan kembali dengan istrinya. Meski merek ternama masih nampak di beberapa adegan untuk menggambarkan karakter Anya dan teman-temannya sebagai sosialita yang hidup di kota metropolitan.

sumber: IG Ika Natassa

Dari cerpen menjadi novel, kini “Critical Eleven” akan segera mengambil bentuk yang lebih nyata lagi dengan pengadaptasiannya ke layar lebar. Ale dan Anya diperankan oleh Reza Rahadian dan Adinia Wirasti yang tak diragukan lagi kemampuan aktingnya. Menggandeng Jenny Jusuf-yang sukses mengadaptasi Filosofi Kopi ke layar lebar-sebagai penulis skenario, saya yakin Critical Eleven dapat menjadi sebuah film yang berakar pada novelnya namun memiliki cita rasa tersendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: