Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #1

Genre   : You might think that it’s an adventure story. Nah, it’s merely drama, dude. Sorry to disappoint you.

Tentang Prau

Terletak di Kabupaten Wonosobo.
Ketinggian 2.565 mdpl.
Terdapat 2 jalur pendakian utama, yaitu Patak Banteng dan Dieng. Dari Terminal Mendolo, Wonosobo kedua tempat ini dapat dicapai dengan menggunakan mobil-mobil elf. Tarifnya Rp 25.000 per orang. Dan tidak ada gunanya menawar karena semua sopir elf telah menjalin kesepakatan (update Mei 2016).
Jalur Patak Banteng memiliki 3 pos: Sikut Dewo, Canggal Walangan, dan Cacingan. Medannya berupa tanjakan dari basecamp hingga camp area. Diawali dengan anak tangga kemudian berubah menjadi jalan tanah setelah pos 1. Sebelum pos 1, warung-warung banyak di kanan kiri jalan setapak. Setelah camp area hingga puncak, medan cenderung datar dengan hamparan rumput dan bunga daisy di kanan kiri. Bila turun melalui jalur Dieng, medan berupa jalan tanah. Menjelang pemancar jalan terbagi 2: satu terus menanjak menuju pemancar, yang lain berbelok ke kiri. Jalur yang ini lebih ringan karena mengitari puncak pemancar, namun cukup membuat deg-degan karena sebelah kiri adalah jurang.

Simaksi : Rp 10.000

Kamis, 30 April 2015

Sebuah amplop tebal mendarat di mejaku. Pada permukaannya tertempel selembar kertas bertuliskan nama beberapa orang yang seruangan denganku, termasuk aku sendiri. Pesan pada kertas itu bertanda tangan Robi. Beberapa bungkus makanan ringan meluncur dari dalam amplop itu ketika aku membukanya. Mengertilah aku kiriman apa ini. Segera kubuka chat room dengannya.

Casper : Robi, ulang tahun?

Robi      : Engga. Cuma syukuran kecil-kecilan aja, kan nanti mau naik gunung

Aku terbahak. Kutuliskan ucapan selamat ulang tahun disertai beberapa harapan. Dia membalasnya dengan ucapan terima kasih kemudian menyambungnya dengan agenda kami siang itu. Seperti kata Robi, dia akan naik gunung. Atau lebih tepatnya, kami akan naik gunung. Kami berenam.

Ini adalah pendakian yang masa-masa perencanaannya paling menguras emosiku. Wacananya telah dicetuskan sejak 6 bulan sebelumnya. Sengaja memilih tanggal 30 April hingga 3 Mei karena potensinya yang luar biasa (baca: long weekend). Sebagai destinasi ditetapkan Gunung Prau yang masih termasuk dalam area Pegunungan Dieng di Kabupaten Wonosobo. Para peminat dikumpulkan. Tetapi seiring berjalannya waktu, beberapa orang membatalkan keikutsertaannya karena berbagai alasan. Rencana perjalanan pun beberapa kali diubah. Oke, yang kedua ini karena aku terlalu banyak maunya. Yang jelas, segala keribetan yang terjadi semakin menyadarkanku kalau aku tidak cocok menjadi inisiator dan lebih baik menjadi pihak yang diajak saja. Menjelang hari keberangkatan, tersisalah 6 orang, termasuk aku dan Robi. (P.S Robi ini pun awalnya sudah akan batal karena sebuah alasan yang misterius.)

Robi     : Nanti jadi setengah hari?

Casper : Iya dooong… Aku keluar jam 2-an mungkin. Ada meeting dulu.

Robi     : Jadi ketemu di mana nanti?

Beberapa hari sebelumnya Robi telah menyampaikan idenya agar kami semua kumpul lebih dulu di satu tempat untuk kemudian berangkat ke pool bus Budiman, sarana transportasi kami menuju Wonosobo, bersama-sama. Menurutnya, dengan demikian kami juga dapat packing ulang dan recheck barang bawaan lebih dahulu. “Biar tenda yang bawa cowok-cowok aja,” katanya melalui WhatsApp. Membaca ini, aku yang saat itu sudah mengemas benda itu rapi dalam carrier pun mengeluarkannya kembali.

Casper : Kosmu di gang situ kan? Nanti kan kalau pulang, aku jalan lewat situ. Aku mampir.

Robi      : Atau mau dijemput?

Aku terhenyak sesaat lalu tertawa ironis. Seseorang yang kuharapkan bertanya begitu tak pernah menanyakannya. Padahal Robi ini baru kukenal karena trip ke Prau ini. Padahal seseorang itu… ah, sudahlah.

Aku memberitahunya kalau aku akan berjalan kaki saja.

14.15 WIB

Aku tidak bermaksud begitu, tapi adrenalin memacu langkahku kencang, nyaris berlari. Acara Tatap Muka dengan atasan yang melelahkan akhirnya berakhir dan indahnya liburan membentang di depan mata. Dengan cekatan, aku membereskan meja, mematikan komputer, lalu menyambar tas dan meninggalkan ruangan. Rasanya selalu aneh, aneh yang menyenangkan, ketika pulang di jam istirahat untuk merealisasikan sebuah rencana hebat. Awalnya, aku ragu untuk ijin setengah hari. Sesuai kebijakan perusahaan, ijin setengah hari akan membuat absensi kami minus satu, bukan setengah *sigh*. Namun jadwal keberangkatan bus kami ke Wonosobo dan waktu tempuh menuju titik keberangkatan mengharuskan kami pulang lebih awal.

Aku sudah di depan.

Aku memberitahukan kedatanganku pada Robi melalui WhatsApp. Yang bersangkutan tak lama kemudian muncul dari balik pagar. “Yuk, masuk dulu.”

Seorang gadis mungil menyambutku ceria begitu aku tiba di muka kamar Robi yang pintunya terbuka lebar. “Hai, Mba Casss,” serunya seraya melambaikan tangan.

“Hai…,” balasku. Sementara dalam hati, aku menggumam, “Ini toh yang namanya Peni.” Dari seluruh perempuan yang berangkat ke Prau, cuma Peni yang sebelum ini tak kuketahui wujud rupanya.

Di ruangan itu duduk satu sosok lain dengan gitar dalam pelukan. Pasti teman Robi dari Jakarta, dugaku dengan yakin. Sekitar 2 minggu lalu Robi menyampaikan bahwa seorang temannya dari Jakarta akan bergabung.

Robi mempersilahkanku masuk, memperkenalkanku pada temannya yang bernama David (tentu saja dugaanku benar), dan menawariku kue. Kue ulang tahunnya. Cheese cake berlabel Harvest, ahh… salah satu surga dunia. “Astaga! Aku belom ngucapin selamat ulang tahun…” Secara langsung, maksudku. Jadi aku menjabat tangannya dan menyampaikan ucapan selamat sekali lagi. “Gaya ih, ulang tahun dirayain di Prau,” candaku.

“Jadi nanti gimana berangkat ke Cimahinya?” tanya Robi sementara aku sendiri tengah melayang oleh cheese cake yang meleleh di lidah.

“Bareng-bareng kan?” sahutku, setengah tak acuh.

“Soalnya nanti aku nganter dia dulu,” Robi menunjuk ke seberang, ke arah pacarnya. “Jadi nanti kita berangkatnya misah ….” bla bla bla. Aku tak mengerti apa yang dikatakan Robi. Masalah apa yang coba disampaikannya.

“Ya udah, kamu anterin Mba Cas dulu aja sana. Sekalian ambil tenda,” ujar Peni. “Kan Mba Cas mau mandi-mandi dulu juga.”

Kami sudah siap untuk beranjak ketika David menyandarkan gitar yang dipegangnya ke dinding. Sebuah benda di dekat gitar itu kini berdiri menarik perhatianku. “Itu sudah penuh belum kalo diisi tenda?” Aku menunjuk satu carrier berwarna merah hitam. Jawaban yang kudengar begitu menyenangkan hati. ”Kalau gitu bisa dong ya bawa matras satu?”

Jadilah Robi mengantarkanku pulang sekaligus mengambil tenda dan matras.

“Jadi nanti gimana ke Cimahinya?” Dia kembali bertanya setibanya kami di depan kosku.

“Ya, ketemu di perempatan deket Babakan Ciparay situ juga oke.”

“Masalahnya kalau jauh-jauh, temenku kan nggak tahu jalan. Nggak tahu angkotnya juga. Jadi kalau bisa bareng-bareng sama kamu.” Ooo… saat itu baru aku memahami masalah yang sejak tadi coba diutarakan Robi. Mau nitip anak orang gitu, maksudnya?

“Gimana kalau dia dianterin ke sini aja? Jam 4-an gitu,” aku mengusulkan.

Kami pun sepakat. Tapi Robi masih belum beranjak. Dia kembali bertanya. “Eh, kamu tendane yang sudah ngebentuk ya? Yang ada tiang-tiange?”

“Iya.”

“Punyaku tenda pramuka.”

“Loh?”

“Kan pinjem temenku. Adane itu. Punyae ome.”

Aku terbahak. “Wow. Ya semoga nanti bisa masangnya.”

“Pake apa ya masange?”

“Nanti cari batang-batang kayu di sana,” jawabku santai, tapi Robi masih tampak risau.

“Ya udah. Aku balik dulu.”

“Oke.”

Begitu Robi menghilang, aku langsung berlari ke kamar. Mengepak barang-barang untuk terakhir kalinya. Memasukkan benda-benda yang sering digunakan ke dalam tas pinggang. Lalu bergegas mandi.

wp-image-1380900049jpg.jpg

Sebuah pesan masuk di WhatsApp ketika aku sibuk mengeringkan rambut. Dari David, yang bertanya di mana meeting point kami. Aku membalasnya sesuai hasil percakapan dengan Robi kemudian ‘melemparkan’ ponselku kembali ke tempat tidur. Benda itu masih tetap mengeluarkan suara-suara tanda ada pesan masuk. Aku tak mengacuhkannya dan kembali bersiap-siap.

Tidak sampai 5 menit, suara itu kembali terdengar.

Aku wes di bawah ya

Di depan kos mu

What???! Bagaimana mungkin dia menulis “kosmu” dengan spasi?? Oh, oke, bukan hal itu yang mendesak saat ini… Ini kan baru setengah 4! Cepet amat datangnya…

Panik, aku melemparkan handuk basah, menyibakkan rambutku yang masih lembap, kemudian berlari-lari menuruni tangga menuju pintu depan. Sosok yang mengirimkan pesan sudah berdiri di depan pos kamling di seberang gang.

“Mau nunggu di dalem?” seruku, tanpa beranjak keluar melewati pagar.

Dia menggerakkan tangannya tanda ‘tidak’ dan berkata akan menunggu di situ saja.

“Oke, tunggu sebentar ya.” Aku kembali melesat ke dalam sambil menggerutu dalam hati. Kalau begini, aku jadi harus cepat-cepat.

Beberapa saat kemudian kami sudah menyusuri Jalan Kopo.

“Ternyata tadi tendane kurang,” ujarnya memulai percakapan.

“Oh, ya?”

“Untungnya nemu persewaan yang deket.”

Syukurlah, tenda pramukanya nggak jadi dipakai. “Di mana?”

“Di Cimahi.”

“Jadi ini Robi nganter Peni sekalian ngambil tenda?”

Dia mengiyakan. Kemudian hening.

“Kita naik angkotnya ke mana?” dia bertanya.

“Cimahi.”

“Nyegatnya di mana?”

“Perempatan depan situ, terus nyebrang.”

Hening.

“Mbaknya sudah ke mana aja?” dia kembali bertanya.

“Yaaa… yang deket-deket sini aja.”

“Kalau masnya, sudah ke mana aja?” aku balas bertanya.

“Nggak. Belum ke mana-mana.”

“Biasanya orang jawab ‘belum ke mana-mana’, tapi sebenarnya sudah ke banyak gunung.”

“Nggak. Kalau ini beneran belum ke mana-mana.

Ke Rinjani, sudah pernah?” tanyanya lagi.

“Sudah.”

“Kita-kira spend biaya berapa ke sana? Dan berapa hari?”

Aku menjawab pertanyaan itu sekilas karena saat itu kami sudah tiba di perempatan. Kebetulan sekali lampu lalu lintas sedang menyala merah, jadi aku mengajaknya untuk buru-buru menyeberang.

Di dalam angkot topik pertanyaannya beralih ke pekerjaan.

“Kalau kayak gitu, parameter suksesnya apa ya?” tanyanya setelah aku memberitahu apa saja yang kukerjakan.

Hm? “Ya nggak bisa langsung ketahuan. Kan itu efeknya lebih ke brand-nya lebih dikenal orang.”

“Oh, pake CSI gitu ya…” dia menjawab pertanyaannya sendiri. CSI yang dimaksud adalah Customer Satisfaction Index, in case ada yang bertanya-tanya.

Saat itu aku menyadari dua hal. Satu, lagi-lagi aku tidak berhasil menangkap arah pembicaraan lawan bicaraku. Aku memang tidak pintar dalam hal yang satu ini. Dua, aku tengah berbincang dengan seorang yang pandai.

Setelah itu, kami terbenam dalam keheningan. Awalnya, aku masih berpikir, “Oke, jadi harus mencari topik apa?” tapi kulihat teman seperjalanan yang duduk di hadapanku ini baik-baik saja menghadapi kebisuan di antara kami. Jadi kusimpulkan bahwa tidak apa-apa untuk tetap diam sampai kami tiba di tempat tujuan. Merasa lebih santai dan nyaman, aku menyandarkan punggung. Bertemu orang baru selalu membuatku tegang.

Kami menjadi yang pertama tiba di pool bus Budiman. Ruangannya kosong, hanya kami dan mas yang bertugas.Setelah meletakkan bawaan di kursi-kursi kosong, aku melunasi tiket-tiket kami dan membatalkan 3 tiket yang tidak jadi digunakan.

David rupanya telah menemukan topik lagi. Ketika aku duduk di sebelahnya, kami membicarakan libur Lebaran.

“Lebaran mudik, Mbak?”

“Iya.”

“Sudah dapet tiket?”

“Sudah. Masnya?”

“Belum dapet aku.”

“Masnya dari mana sih?”

“Dari Malang. Sama ambek Robet.”

“Ooo… temen apanya Robi si?”

“Temen kuliah.”

“Ooo… Aku pernah ke Malang. Kerja praktek. Di Nestle.”

“Di Kejayan ya… Sudah deket kota Pasuruan itu. Rumahku masih lebih gunung lagi. Di…” Dia menyebutkan satu nama tempat yang asing dan kemudian dengan mudah terlupakan oleh otakku.

“Jadi nanti gimana? Nggak mudik?”

Dia menyebutkan pesawat sebagai alternatif terakhir. Baru saat itu aku melihat tas pinggang yang kami gunakan sama. Well, memang susah untuk menjadi satu-satunya ketika kamu mengenakan Eiger.

Robi dan Peni tiba sekitar setengah jam kemudian. Mereka kemudian terlibat dalam pembicaraan ‘serius’ soal makan malam. Pembicaraan yang berujung pada Peni lari secepat kilat ke dalam mall. Pool bus Budiman di Cimahi ini memang menginang pada mall yang tersohor di Cimahi, Cimahi Mall atau yang lebih akrab disebut cimall. Aku bergegas menyusulnya.

Peni memesan makanan sejumlah hasil diskusinya tadi kemudian kami menunggu. Sembari menunggu, aku ‘menginterogasinya’ sedikit. Yang membuatku tahu kalau ternyata dia belum pernah naik gunung dan tidak punya minat untuk itu.

“Iya, dipaksa tuh,” celetuknya santai sambil tetap asik menekuri ponselnya ketika kutanya apa yang akhirnya membuatnya ikut ke Prau.

Menjelang jam 6, Amay tiba. Mas yang duduk di balik meja konter juga sudah memberikan isyarat bahwa bus sudah siap berangkat. Jadi kami menggotong bawaan kami dan beranjak menuju halaman parkir bus.

Sepuluh menit menjelang setengah tujuh. “Idha mana Idha?” Robi mulai bertanya. Well, aku yang mengenal Idha sebagai orang yang tepat waktu, tahu bahwa dia akan datang tepat waktu. Itu berarti dia akan datang pada pukul 18.30, nggak kurang and wouldn’t miss the bus as well. Tapi anak-anak yang belum mengenal Idha ini tentu saja cemas. Jadi aku berusaha melakukan sesuatu, seperti menghubungi lewat WhatsApp dan telepon.

Jarum panjang berdetak ke angka 6. Yang dinanti masih juga belum tampak. Pesan yang kukirim padanya melalui WhatsApp hanya bertanda centang tunggal. Teleponnya tak diangkat. Sementara kondektur sudah mulai naik ke bus, tanda bus sudah siap untuk tinggal landas. Aku beringsut mendekati sang sopir. “Tunggu, Pak.  Masih ada seorang lagi. Masih di jalan. Tapi sudah deket. Sebentar lagi sampai.”

“Masih ada temennya?” tanya sopir itu.

“Iya.”

Aku memandang kerumunan di sekitar bus, mencari sosok yang familiar. Sebuah sepeda motor mendekat, seorang pria dan seorang wanita pada boncengannya. Tapi bukan yang kucari. Motor itu berlalu. Mungkin mencari bus lain di area ini. Motor lain datang. Perempuan yang duduk diboncengannya mengenakan jaket biru yang tak asing dengan rambut diikat yang juga tak asing. Tas besar di punggungnya meyakinkanku.

“Idha!” Anak itu menoleh. Setelah mengucapkan perpisahan dengan sosok yang mengantarkannya, dia melangkah menaiki undakan di pintu bus.

Yah, begitulah Idha Pristyani. She wouldn’t miss the bus 😉

Perjalanan kami ke Wonosobo pun dimulai.

Teman-teman Baru

Idha berkenalan dengan keempat orang yang lain sebelum duduk di sebelahku. Amay dan Peni duduk di seberang kami. Sementara Robi dan David di belakang. Meskipun 5 di antara kami adalah rekan satu kantor, tapi baru pada trip inilah kami dipertemukan.

Ketika memulai rencana ini, aku mengajak 3 orang temanku yang sudah pernah ke Prau sehingga setidaknya ada orang yang sudah berpengalaman di antara kami. Aku juga mengajak beberapa teman kantor lain, termasuk Idha, Amay yang sudah berpesan agar dia diajak naik gunung, dan seorang teman lagi yang juga sangat ingin naik gunung. Sayangnya, hampir semuanya batal ikut, termasuk seorang teman yang kusebut terakhir. Dia kemudian menyarankanku mengajak Robi yang menurut penuturannya juga sangat ingin naik gunung. Robi ini yang kemudian mengajak Peni dan David.

“Ini Amay yang temennya temenku itu?” Idha berbisik sembari menunjuk Amay. Keduanya memang memiliki beberapa teman yang sama karena faktor almamater. Beberapa waktu sebelum ini, Idha dan Amay masing-masing telah menyampaikan padaku bahwa mereka memiliki teman yang memiliki teman yang bekerja di tempat mereka berkerja dan sepertinya ikut dalam rombongan ke Prau (Nah, coba pahami maksud kalimat ini ;p ).

Aku mengiyakan pertanyaan Idha. Kemudian mereka berdua berkenalan dan berbincang bagaikan sepasang teman lama yang baru berjumpa kembali.

wp-1482991151746.jpg
Dynamic Duo
jagoan
Para Jagoan
first-timer
Our strong first-timers

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikutnya : Prau #2

Advertisements

One thought on “Mengejar Golden Sunrise di Gunung Prau #1

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: