Posted in dongeng, fiction, romance

Photograph

Ini adalah kisah tentang seorang ksatria gagah berani yang tinggal di istana. Ksatria yang pergi menemani Pangeran melawan naga dalam usaha menyelamatkan sang Putri. Ksatria yang selalu siap melindungi kerajaan. Ksatria yang bersama sang Raja menaklukan berbagai tempat di belahan bumi.

Hingga suatu hari dalam sebuah perjalanan menunaikan misi yang diberikan kepadanya, Ksatria ini tiba di sebuah hutan. Hutan ini bukan hutan biasa karena di sanalah para elf tinggal. Hutan ini bukan hutan biasa karena di sanalah sang Ksatria menemukan keajaiban. Keajaiban itu memiliki rambut hitam nan panjang dengan suara seperti denting lonceng dan mata layaknya langit malam; luas, kelam, namun bercahaya.

Ini juga adalah kisah tentang seorang elf yang hidup jauh di dalam hutan. Elf yang bertugas menjaga tumbuh-tumbuhan dan pohon di hutan tetap hidup. Elf yang menemukan keajaiban ketika serombongan manusia datang berkunjung. Keajaiban itu memiliki suara yang berat dan dalam hingga mengisi kekosongan dalam dirinya dengan tatapan mata yang hangat dan genggaman mantap yang tak akan pernah dia lupakan.

Ini adalah kisah tentang ksatria dan elf yang saling jatuh cinta. Tentang tatap mata dan senyum yang saling mereka lempar ketika matahari bersinar. Tentang pertemuan-pertemuan mereka di bawah terang bulan. Tentang kisah-kisah yang dibagi, dihembus angin, dan disimpan oleh awan. Tentang kecemasan-kecemasan yang memberatkan langkah mereka.
Karena manusia bukan untuk elf. Dan elf bukan untuk manusia. Mereka tak mungkin bersama. Ah… kisah Aragorn, putra Aratorn, dengan Arwen Tinuviel itu hanya fiktif belaka. Kalian sadar itu, kan?

Malam itu bulan tampak sangat besar dan bersinar amat terang. Elf itu, duduk di sebuah dahan pohon berusia ratusan tahun dengan sang Ksatria di sisinya, mendendangkan sebuah lagu yang membuat angin menari hingga daun bergemerisik. Senyum sang Ksatria adalah bayaran yang lebih dari cukup baginya.
“Aku harap kita dapat menghentikan waktu,” desah Elf itu. Kepalanya bersandar pada pundak sang Ksatria. Tangannya dalam genggaman sang Ksatria.
Seolah alam mengerti kesedihannya, malam menjadi hening.
“Ayo kita hentikan waktu,” ujar sang Ksatria tiba-tiba.
Elf mengangkat kepalanya dan menatap mata Ksatria.
“Aku pernah mendengar tentang seorang penyihir yang hidup di gunung. Dia dapat melakukan segalanya,” jelas Ksatria.
“Apakah dia dapat menghentikan waktu?”
“Kemungkinannya adalah 50:50.”
“Ayo kita temui dia.”
“Tapi itu tidak akan mudah. Perjalanan yang harus kita tempuh panjang dan berbahaya.”
Elf menggenggam tangan Ksatria erat. “Mari kita hadapi bersama.”

Mereka pun memacu kuda mereka. Melalui pagi dan malam. Hutan dan lembah. Rawa dan padang belantara. Badai dan panas terik. Hingga mereka tiba di tempat di mana penyihir itu tinggal.
“Jadi kalian ingin menghentikan waktu?” ucap sang Penyihir ketika melihat mereka.
“Benar.”
“Kalian mencari orang yang salah. Aku tidak bisa menghentikan waktu.”
Elf dan Ksatria saling bertukar tatap kecewa.
“Tapi aku bisa membawa kalian menuju dunia di mana waktu terhenti.”
“Di manakah itu?”
Photograph.” Penyihir itu tersenyum. “Di sana kalian tak perlu khawatir lagi akan apa yang dikatakan Raja Manusia dan Pemimpin Elf jika kalian bersama. Photograph, adalah dunia kalian sendiri.”
“Apa yang harus kami lakukan untuk ke sana?”
“Tidak banyak,” Penyihir itu terkekeh, “Tidak banyak. Aku hanya membutuhkan ciuman kalian. Ya, ciuman adalah yang kau butuhkan jika ingin menghentikan waktu… atau menuju dunia di mana waktu terhenti.” Penyihir itu kembali terkekeh. “Sisanya adalah bagianku.” Seringai terpampang di wajahnya.
Mereka setuju. Penyihir pun segera menyiapkan prosesi.
“Aku selalu membayangkannya,” ujar sang Elf, “bagian dari dongeng, ‘and they lived happily ever after’.”
“Sekarang kau tidak perlu membayangkannya lagi. ‘Both the Knight and the Elf left for Photograph and they lived happily ever after.'” Then he kissed her.
Sang Penyihir menatap keduanya perlahan menghilang dalam kerlip-kerlip sihir.

Sesuatu terjatuh dari udara. Penyihir itu memungutnya. Selembar kertas dengan sosok Ksatria dan Elf di dalamnya. Kemudian seringai kembali muncul di wajahnya.
Penyihir itu melewatkan satu informasi penting. Jiwa siapapun yang memasuki Photograph akan menjadi miliknya.

In a photograph
Where our eyes are never closing
Hearts are never broken
Times forever frozen still

P.S:
Ini akibatnya saat aku terus menerus mendengarkan Photograph-nya Ed Sheeran.
Well, pada kenyataannya, hanya karena yang satu laki-laki dan yang lain perempuan tidak berarti mereka dapat saling jatuh cinta lalu hidup bahagia bersama.
There are some other A to Z yang harus dipenuhi juga. Seperti mereka harus dari klan yang sama: sama-sama manusia, sama-sama elf, sama-sama kurcaci. Mereka juga harus dari kasta yang sama: sama-sama bangsawan atau sama-sama rakyat jelata.
Begitulah *grin*

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s