Akulturasi

Akulturasi /n./ percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi

Baru-baru ini saya bertemu lagi dengan seorang kawan lama. Sosok yang menjadi teman sekelas saya saat SMP ini sedang ditugaskan di Bandung setelah sebelumnya ditugaskan di Surabaya selama 2 tahun, Semarang (kota asal kami) selama setahun, dan Jakarta selama beberapa bulan.

Malam itu kami sedang menyantap hangatnya wedang ronde di Jalan Cibadak.
“Gimana menurutmu?” tanyanya setelah saya menelan suapan pertama.
“Enak si… tapi manis doang. Jahenya kurang.”
Dia mengangguk mantap. “Podho. Di sini tu kurang ya bumbu-,” ujarnya lebih ke pernyataan, alih-alih pertanyaan.
“Iya! Waktu pertama di Bandung juga aku merasa semua hambar,” kataku bersemangat. Akhirnya menemukan seseorang dengan cita rasa sama di negeri asing ini.
Ups, tapi bukan itu yang mau saya sampaikan pada tulisan berjudul “Akulturasi” ini. Maaf untuk curhat colongan yang OOT ini.

Jadi, kawan saya ini bercerita bahwa saat dia dan seorang temannya berniat keluar membeli makan malam di warung sekitar kosnya, mereka bertemu dengan patroli polisi. Karena niatnya tidak pergi jauh, mereka hanya membawa uang seperlunya, tanpa dompet (dan surat-surat), ponsel, bahkan sang teman yang dibonceng tak mengenakan helm. Demi menghindari tilang, sang teman turun. Mereka pun berpisah dan tak dapat saling menghubungi. Kawan saya bahkan sempat tersasar jauh karena kondisi jalan Bandung yang didominasi jalan satu arah. Setelah menemukan jalan kembali ke kos, kawan saya mendapati temannya belum kembali ke kos. Pergilah kembali dia mencari temannya.
Jebule dek’e belok ke kanan. Nunggu di situ, mondar-mandir koyok wong kentir. Ngguyu ngakak dewe pas ketemu. ‘Nggapleki, Koen’,” kawan saya mengulangi pembicaraan ketika mereka bertemu kembali.
Perhatian saya tersita pada 2 kata yang diucapkannya. “Nggapleki, Koen.” Dua kata yang menarik. Perpaduan dialek khas 2 daerah berbeda. Diucapkan oleh seorang yang pernah menetap di 2 daerah itu selama beberapa waktu. Inilah salah satu bentuk akulturasi, yang saya temui dan dengar dengan telinga sendiri.
Mungkin beberapa bulan lagi saya akan mendengar kawan saya itu berkata, “Atulah… nggapleki, Koen.”
Hahahaha… aneh =___=

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: