5 Weekends in a Row: Travelling

Ketika menuliskan kisah ini, aku sedang dalam perjalanan kembali ke Bandung; perjalanan  yang menjadi bagian terakhir dari Rangkaian Ngluyur 5 Akhir Pekan Berturut-Turut.

Well, bukannya kusengaja juga sih. Awalnya, aku hanya melingkari 22 dan 23 Agustus dengan keterangan “Ulang Tahun Awaspala: Penmas Papandayan”. Tiga bulan kemudian ketika berbincang dengan Idha dan yang lain di sebuah warung makan di Desa Patak Banteng, aku menambahkan beberapa lingkaran pada bulan Agustus; di tanggal 15, 16, dan 17: Trip ke Pulau Harapan, Kepulauan Seribu. Tak sampai 2 bulan kemudian selepas turun dari Cikuray, lingkaran-lingkaran itu bertambah dengan cepat. Tiba-tiba aku mendapati that my weekends were all booked!

15 – 17 Agustus : Pulau Harapan, Kepulauan Seribu
22 – 23 Agustus : Papandayan
29 – 30 Agustus : Merbabu
5 – 7 September : Semarang
12 – 13 September : Lawu

Excited?
Ya!! Of course, I was excited. Setiap akhir pekan meninggalkan Bandung, tidak diam di kos. Aku merasa seperti traveller and began to wonder how it would really feel.

Aku cemas!!
Tentu saja aku cemas. Bepergian lima minggu berturut-turut, 3 di antaranya merupakan pendakian ke gunung yang akan banyak menguras tenaga. Apakah aku akan punya stamina yang cukup kuat? Apakah pada satu titik aku akan tumbang hingga harus giving up one of those plans? Rasa cemas ini memasuki puncaknya pada bulan Agustus.

Tapi aku optimis 🙂
Aku yakin aku pasti bisa.

“Senin – Jumat: wanita karir. Sabtu – Minggu: wanita kerir”

14 – 15 Agustus: Menjelang Pulau Harapan, Kepulauan Seribu
14 Agustus pagi aku terbangun dengan kondisi saluran pernapasan tidak karuan. Aku teringat pada temam sebelah meja yang memang terserang flu berat sejak kemarin. Kemudian aku bersin-bersin sepanjang hari. Virus flu seakan sudah melambai-lambai girang di hadapanku.
Tak mau kalah dalam pertempuran, aku mengonsumsi vitamin, makan dengan baik, dan hiatus dari kebiasaan tidur tengah malamku.
Gejala flunya belum lenyap, tapi tak menghalangi keberangkatanku menuju Pulau Harapan. Semoga indah! 😉

18 – 22 Agustus: Menjelang Papandayan
Trip Pulau Harapannya berlangsung seru!! Gejala flunya tetaplah gejala. Sesekali aku merasa suhu tubuhku naik, tapi barangkali karena hatiku gembira (dan hati yang gembira adalah obat yang manjur) maka tubuhku masih mampu menandingi serangan pasukan virus flu. Bahkan aku merasa kondisi tubuhku membaik pasca trip dan sempat menulis “Barangkali Travelling-lah Jawabnya” *grin*. Karena itu, aku menghentikan asupan vitaminku di hari Rabu, 19 Agustus 2015.

22 Agustus 2015. They got me! The influenza viruses. Damn it!! Aku lengah dan mereka menemukan celah. Pertahananku rubuh persis di hari aku akan berangkat ke Papandayan. Great!
Aku tidak tumbang. Aku masih mampu berdiri dan berlari. Jadi, aku mandi dan mengangkat carrier-ku. Aku tidak mungkin membatalkan trip ini. Ada teman, a super-excited one, yang perlu kutemani. Ada barang-barang untukku, yang sudah dititipkan oleh teman-teman yang tidak berangkat ke Papandayan pada teman yang berangkat. Lagipula, pikirku, aku akan pergi bersenang-senang, jadi aku pasti bisa.

24 – 28 Agustus: Menjelang Merbabu
Awalnya, kupikir minggu di mana aku memiliki kemungkinan terbesar untuk tumbang adalah awal September, pasca Papandayan dan Merbabu. Nyatanya, virus flu mengobrak-abrik semuanya.
Oh, Papandayannya berlalu dengan baik tentu saja. Meski begitu tiba kembali di kos, aku langsung mandi dan tidur (12 jam! yeah!).
Aku flu beraaaaattttt… seberat-beratnya. Terakhir kali flu seberat itu adalah April 2014, setelah Penmas Awaspala ke Gede. Yap, sama seperti sekarang, setelah penmas. Why? Why? Why????
Ingusku tak terbendung dan membuatku susah bernapas. Belum lagi mimisan yang selalu hadir di pagi, siang, dan malamku. Dan batuk-batuk dengan rasa gatal di kerongkongan.
Syukur ada asistensi dari Ibu Dokter Amay dengan berbagai nasehat yang diberikannya.

image

Ternyata kecemasan apakah bisa ke Merbabu akhir pekan tersebut tak dirasakan olehku seorang diri. Kemarau kering efek el niño telah menyebabkan beberapa (banyak!) gunung kebakaran dan Merbabu adalah salah satunya yang berakibat ditutupnya gunung tersebut untuk pendakian. Trip pun dialihkan. Alternatifnya adalah Lawu atau Andong.
Well, aku mulai pesimis dengan kondisi tubuhku. Setiap malam aku sudah terlelap sebelum pukul 9 malam, badan rasanya pegal dan lelah. Selain itu, bernapas saja rasanya begitu sulit, musti dilakukan dengan penuh kesadaran dan sekuat tenaga. *sigh* Jika tujuannya adalah Merbabu atau Lawu, I probably would give it up.
Dua hari menjelang hari H, Merbabu masih belum dibuka, sementara Lawu malah ikut terbakar dan ditutup. Akhirnya diputuskan untuk mengalihkan trip ke Andong. It felt like a warm breeze for me *grin*. God always make a way, uh?

31 Agustus – 4 September: Menjelang Semarang
Kurasa travelling memang benar adalah jawabnya. Ketika Selasa, Rabu, dan Kamis sore minggu lalu aku selalu merasa lemas dan ingin tumbang di tempat tidur, Jumat sore pada hari keberangkatanku ke Solo, aku merasa segar bugar dan bersemangat. Bahkan… aku yang mendapat tempat duduk tepat di hadapan AC dan sudah cemas jika semburan hawa dingin buatan itu akan memporak-porandakan kondisiku lagi nyatanya terbangun di Sabtu pagi dengan sehat sentosa. Sungguh! Tak ada lagi demam. Tak ada lagi meriang. Tak ada lagi ingus. Hanya sedikit hidung tersumbat dan batuk-batuk.
Andong trip went well as if I had never been sick during the weekdays.

Selama 3 hari setelahnya, sisa-sisa flu itu masih ada. Sedikit susah bernapas. Sedikit batuk. Tapi itu sudah tal berarti. Di hari keempat, aku sudah manusia utuh lagi 😉

8 – 11 September: Menjelang Lawu
Hey, I told you right, that Lawu was in fire and thus forbidden for any hiking activities? Jika trip sebelumnya dialihkan, trip ini mau tak mau dibatalkan. Karena setelah Lawu, Sumbing dan Ungaran pun mengalami nasib serupa.
Aku dan Idha, di lain pihak, menggunakan tiket kereta kami untuk tujuan yang lebih jauh. Sebuah kota yang terletak di ujung lain pulau.
Tak ada halangan berarti untuk perjalanan yang satu ini. Aku sehat dan bahagia dan tak sabar untuk bertemu kawan lama.

Seperti yang kukatakan tadi, sekarang aku sedang perjalanan kembali ke Bandung. Rencana-rencana itu sudah terealisasi. Beberapa mengalami perubahan, but I gave up none of them *yihaa!*. And now I know how it really felt. Amazing! Stupendous! Spectacular! *pasang kembang api biar rame*
1. Gak ada yang namanya stres
Hidup nyenengin banget! Kamu tahu di ujung pekan ini ada sesuatu yang menantimu.
Aku sendiri jadi merasa pekanku memiliki tujuan. Tujuan yang menyenangkan.

2. Time dashed! Light speed!
Beneran!!! Kalau biasanya waktu serasa berjalan cepat, kali ini rasanya jauh lebih cepat. Analoginya: biasanya kita naik KRL, sekarang naik shinkansen.
Gimana nggak? Minggu malem atau Senin pagi tiba di kos; Selasa-Rabu unpacking, bersih-bersih, dan istirahat; Kamis sudah packing lagi; tiba-tiba sudah Jumat lagi… berangkat lagi. Begituuuu terus selama 5 minggu… tahu-tahu sekarang umurku sudah 26 tahun 2 bulan 😦 dan aku belum melakukan sesuatu yang berarti dalam 2 bulan ini *tiba-tiba curhat*.

3.Hidup selama weekdays serasa nggak nyata
Ya itulah jeleknya saya. Ketika menanti sesuatu, selama penantian itu nggak bisa diisi dengan sesuatu yang berguna. Kerja nggak fokus. My mind would always wonder to the upcoming-weekend or the one that had passed, to its precious moments.
Parahnya lagi, di kos suka sok ngerasa capek, padahal kalau disuruh ngluyur ke mana juga masih mampu. Alhasil cuma molor dan main-main aja isinya 😦

It was fun!! Fun! Fun! FUNTASTIC!
Aku mau mengulangnya lagi kapan-kapan.
Tapi sekarang sudah waktunya beristirahat. Menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Mencuci sleeping bag dan tenda yang berdebu. Menyelesaikan kisah-kisah yang melulu masih berstatus draft.

Kisah-kisah Rangkaian Ngluyur 5 Akhir Pekan Berturut-Turut bisa dibaca di sini:
15 – 17 Agustus : Pulau Harapan, Kepulauan Seribu (belom ada)
22 – 23 Agustus : Papandayan (belom ada juga)
29 – 30 Agustus : Andong (belom… belom ada juga :p )
5 – 7 September : Semarang (ini juga belom ada)
12 – 13 September : Reunion (ini juga belom adaaa~~~ *grin*)

“Working is only my way to spend days between weekends.”Twivortiare, Ika Natassa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: