End-of-Day Warmth

Rumah makan itu sudah gelap. Jam operasionalnya telah berakhir sejak 1 jam lalu. Meski begitu, aku tetap menyeret kakiku yang serasa mau patah ke sana dan mendorong pintu kacanya. Seperti yang kuduga, pintu itu tidak terkunci, seolah memang menunggu kedatanganku.

Annyeong haseyo…” sapaku. Kegelapan menyelimuti begitu pintu kembali tertutup. Tapi aku tak butuh cahaya untuk tahu ke mana harus melangkah. Aku mengenal tempat ini seperti aku mengenal suara ketukan hak sepatuku. Seperti aku mengenal anak-anak tangga yang membawaku ke lantai 2 (7 anak tangga sebelum tangga itu berbelok ke kanan dan menghadapkanmu pada 7 anak tangga lagi). Seperti aku mengenal pemilik tempat ini dan kebiasaannya melakukan eksperimen selepas menutup dan membersihkan rumah makan yang dikelolanya.
Annyeong haseyoooooo…” Aku mengulang sapaanku ketika melihat sang tuan rumah. Choi Il Sam membeli bangunan 2 lantai ini 2 tahun lalu, merenovasinya, dan menyulap lantai 1 menjadi rumah makan. Dia sendiri menghuni lantai 2.
Lelaki itu tak menyahut. Dia sibuk menekuri sesuatu di meja dapur dan baru mengangkat kepalanya saat aku tiba di hadapannya.
Annyeong haseyo, Chief.” Chief… begitulah dia memanggilku sejak aku menjadi Editor in Chief di majalah tempatku bekerja.
“Apa hasil eksperimenmu hari ini, Chef? C-magz bisa memuatnya sebagai topik utama. Choi Il Sam, chef muda yang berhasil menemukan resep baru ramyeon.”
Tanpa kata-kata, Il Sam menunjuk jajaran pot berisi kerikil. Dari antara kerikil itu tanaman hijau mungil tumbuh.
“Apa itu?”
“Kangkung.”
“Apa itu kangkung?”
“Sayur.”
Somebody help me? Seakan hariku belum cukup berat, sekarang aku masih harus berhadapan dengan seorang teman yang pelit penjelasan.
Aku menghempaskan diri di sofa ruang tengah yang hanya berjarak 5 langkah. Menyandarkan kepalaku pada puncak punggung sofa. “Wow, itu akan jadi topik utama yang sempurna. Sayur busur sungai.” (Korean: kang/gang = sungai; kung/gung = busur)
Aku mendengarnya mendengus tertawa.
“Bagaimana C-magz hari ini?”
Aku membuang napas keras-keras. “Kau tahulah. Menjelang akhir bulan. Deadline. Chaos. Bahkan masih ada artikel yang belum selesai karena narasumber yang susah ditemui. Lalu…” Rentetan kejadian dan masalah yang terjadi hari itu susul menyusul meluncur keluar dari mulutku tanpa bisa dibendung. “Neomu pigonhae. Jinja.” (Sangat melelahkan. Sungguh.)
“Tapi kalian akhirnya berhasil menghubungi narasumber itu, kan?”
“Ya, wawancaranya akan dilakukan besok.”
Hening. Suara denting sendok dan cangkir beradu.
“Kopi, Chief?” Il Sam mengangkat cangkirnya ke udara.
Errgh! Itu sih solusi untuknya. His daily dose of caffeine. Sementara aku? Mencium aromanya saja aku sudah mual. “Dasar, Pecandu Kafein!” Menanggapi penolakanku, yang tentunya sudah diduganya itu, dia hanya tersenyum, menampilkan gurat-gurat di dekat dagunya.
“Masaklah sesuatu untukku…”
Dia menyesap kopinya sebelum menjawab, “Bibimbap?”
“Jangan terlalu banyak minyak wijen. Tambahkan kecap asin sedikit lebih banyak. Pastikan kuning telurnya masih mentah. Dan taburi keju,” lanjutnya menguraikan detail bibimbap favoritku panjang lebar.
“Oh… kau chef terbaik di dunia!” seruku seraya beringsut kembali ke konter dapur.
“Aku hanya seorang teman yang mengenalmu terlalu lama.”
Aku tertawa dan menggertakkan gigiku, berlagak hendak menggigitnya. Tangannya bergerak lincah mengambil penggorengan, menjadikannya tameng.
Tak lama, penggorengan itu sudah mendesis-desis riang ketika Il Sam menumis wortel, lobak, taoge, dan jamur shitake. Keempatnya kemudian melingkar rapi di atas nasi dalam mangkuk. Ditutup dengan telur setengah matang yang tingkat kementahan kuning telurnya tampak begitu menggiurkan. Il Sam menyerahkan kejunya padaku untuk kutaburkan sendiri.
Lidahku sudah tidak sabar untuk mencecap isi mangkuk di hadapanku. Kusambar sumpit.
Jalmogesseumnida, Chef.” (Terima kasih atas makanannya/Selamat makan)
Jalmogesseumnida, Chief.” Dan dia kembali menyesap kopinya.
Inilah yang kaubutuhkan di penghujung hari yang berat; makanan hangat dan nikmat… oh, dan seorang kawan yang siap memasakkannya untukmu. Err… maksudku, seorang kawan yang siap mendengarkan kisahmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: