Untung Hati Bukan Gigi

Berikut adalah alasan mengapa aku bersyukur bahwa hati bukanlah gigi:
1. wpid-fb_img_1437894591951.jpg

Gigi tidak dapat menyembuhkan diri. Sementara, menurut Ibu Dokter Kania, hati adalah organ tubuh yang proses penyembuhan selnya paling cepat. Oke, oke, aku tahu, hati yang dimaksud di sini adalah liver dan bukan heart, but hey! Heart does heal itself, right?
So, thanks God, hati bukan gigi. Bayangkan kalau setiap hati kita terluka, kita harus ke dokter. Dan tidak cukup sekali! Karena sang dokter akan berkata, “Ini nggak bisa langsung ditambal tetap ya. Harus perawatan dulu. Saya tambal sementara dulu. Nanti seminggu lagi kembali lagi.”
Lalalala~~~~ sampai lelah saya nambalin gigi =___=

2. Biayanyaaaaaaaaaa~~~~
Baru-baru ini aku terpaksa mencabut gigi. Ya, ya, gigi-tinggal-seperempat-bagian yang selama bertahun-tahun kupertahankan itu akhirnya kurelakan. Well, ini mengajarkanku bahwa adakalanya kita harus merelakan sesuatu, meski kita masih sangat menyayangi sesuatu itu atau sesuatu itu tampaknya merupakan milik kita. Untuk hari depan yang lebih baik, letting go may be the choice.
Oke, oke, kembali ke topik! Jadi aku mencabut gigi geraham tercintaku and it cost me Rp 600.000,-.
Ketiadaan satu gigi ini berpotensi mengacaukan keseimbangan susunan gigi sehingga aku harus menyelipkan gigi palsu pada lubang menganga yang ditinggalkan geraham tercintaku. And it cost me another Rp 800.000,-.
So it took Rp 1.400.000,- (*cry* bisa buat beli tiket promo Garuda Indonesia CGK-LOP pp) untuk membenahi satu gigi. Belum termasuk ratus demi ratus ribu yang kukeluarkan di masa-masa silam saat aku masih keukeuh untuk mempertahankannya. Oh, dan jangan lupakan waktu, tenaga, dan emosi yang tercurah untuk menuju klinik dan ngantri dokter.

P.S Pakai gigi palsu itu nggak nyaman. Sungguh. Memiliki kepalsuan dalam diri itu sungguh mengganjal.
P.S.S Tapi gigi palsu kan nggak mungkin sakit ya. Hmmm… ide memiliki hati palsu jadi terdengar menarik *eh

3. Hati cuma 1. Satu itu aja ngurusnya sudah susah dan bikin lelah, kan? Bayangkan kalau hati seperti gigi, ada 32!!

Jadi, sekarang jelas kan lebih baik sakit hati atau sakit gigi?
Aku sih jelas pilih sakit hati. Obatnya gampang gampang susah.
1. Mengakui dan menerima bahwa kita memang terluka
2. Berdoa, serahkan semua pada Tuhan
3. Niatkan untuk mengampuni
😉

“Iya, Mbak,” kata Kania lagi. “Tapi otaknya ini… Syaraf kan nggak bisa diobati. Perkembangannya sudah berhenti waktu kita 11 tahun.”
“Oh, iya ya… Oh, iya ya…” aku hanya bisa mengulang-ulang 3 kata itu seiring pemahaman meresap di otakku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: