Mabok Oskab

Sarapan dan Makan Siang
Sarapan dan Makan Siang

Bukan karena sedang berhemat yang membuat saya cuma ngunyah sebutir obat maag saat sarapan dan makan siang Jumat, 24 Juli 2015 kemarin (berasa nulis berita pake hari dan tanggal lengkap). Semuanya dimulai dari undangan Amay pada Kamis malam untuk mampir ke kosan Robi karena katanya ada oleh-oleh oskab untuk kami. Oskab itu bahasa Malangnya bakso. Jadi, sehabis karaoke, aku, Amay, dan Idha bertandang ke rumah kos di Jalan Madesa itu. Sang tuan rumah menyambut hangat meski saat itu sudah hampir jam 10 malam.

Sedikit mengobrol ini dan itu, kami pun berpamitan. Tujuan berikutnya adalah kosku. Kami merebus 3 porsi oskab pemberian Robi itu jadi satu. Jumlahnya mungkin ada 30 butir kemudian menghabiskannya beramai-ramai. Tengah malam Amay kembali ke kosnya sementara Idha menginap di kamarku.

Oskab olahan keluarga Robi
Oskab olahan keluarga Robi

Kami mengobrol sambil setengah berbaring. Aku tidak merasa kenyang sebelumnya, tapi saat itu perutku mulai terasa penuh membuatku takut untuk berbaring. Padahal kantuk sudah menyerang dengan hebat. Alhasil aku mengabaikan jeritan lambung dan membiarkan kantuk memeluk.

***

Jumat pagi aku bangun dengan perut masih terasa penuh. Jadi aku hanya meneguk teh tawar hangat dan susu kotak yang sudah kubeli. Satu jam kemudian aku menelan antasid. Semakin siang kondisi sistem pencernaanku semakin tidak karuan. Isi lambung dan usus serasa hendak keluar dari lubang input dan output, tapi rasa itu palsu karena semuanya hanya bergolak di organ pencerna dan penyerap.

Susu kedelai yang kubeli pagi itu (setiap Jumat aku selalu membeli susu kedelai yang dipesan dari beberapa hari sebelumnya) tidak tersentuh. Camilan yang kubawa (karena mengira akan lapar pada jam 10) tidak tersentuh. Air minum dalam botol hanya berkurang setengahnya. Padahal biasanya digestion system sudah bagaikan vacuum cleaner. Rupanya hanya excess produksi asam lambung yang bisa membuat seorang Casper kehilangan nafsu makan.

Bagaimana tidak? Lidah tidak tergoda apapun. Setiap bau, setiap gambar, bahkan mendengar nama makanan pun sudah membaut mual. Seteguk air yang mencapai lambung membuat organ tersebut bagai tertusuk-tusuk.

Saat jam makan siang, aku memutuskan hanya menelan sebutir antasid lagi.

Sekitar setengah 2, aku mulai merasa lapar. Ini bagus, pikirku. Rasa lapar hanya dirasakan oleh lambung yang sehat. Mungkin konsentrasi asam lambungnya sudah menurun. Jadi aku memasukkan sedikit susu kedelai. Lima belas menit kemudian, ketika respon lambung tampak positif dan dia masih merasa lapar, aku memasukkan lagi sebungkus Oreo cake. Selama 75 menit berikutnya aku memasukkan 3 biskuit coklat sedikit-sedikit.

Satu jam kemudian, aku amat sangat berantakan.

Enam puluh menit yang tersisa sebelum bel pulang berdering serasa teramat lama. Aku sudah tidak fokus untuk bekerja. Suhu ruangan terasa terlalu dingin. Kursinya terlalu tidak nyaman. Aku ingin berbaring. Aku  ingin berguling dalam selimutku yang hangat. Aku ingin memuntahkan saja semuanya.

Kemudian aku teringat sesuatu.

Aku tidak berdoa sebelum melahap oskab-oskab itu. Aku juga tidak berdoa memohon kesembuhan ketika merasa lambungku tidak nyaman. Malah melarikan diri pada butir-butir antasid.

Jadi aku berdoa. Aku memohon kesembuhan. Jika dengan muntah, tubuhku bisa terasa lebih baik, biarlah aku muntah.

Percaya tidak? Setelah itu aku merasa ingin muntah, bukan sekadar golakan samar-samar di lambung. Tapi dorongan itu tidak terlalu hebat. Belum. Jadi aku masih menunggu. Menunggu dorongannya lebih kuat. Sekitar 8 menit kemudian, aku memutuskan untuk ke toilet.

Aku terbatuk. Tidak ada yang keluar. Tapi aku merasa sesuatu bergerak naik dari lambung.

Aku terbatuk lagi. Masih tidak ada yang keluar. Sesuatu menyentuh pangkal kerongkonganku.

Aku terbatuk lagi. Bubur pencernaan berwarna kecoklatan menyembur keluar. Lambungku bagai dihantam dengan tekanan besar. Isinya keluar dalam 4 ronde, menyisakan rasa pahit dan tidak nyaman di kerongkongan. Tapi aku lega. Rasanya lebih ringan dan nyaman.

Ini adalah pertama kalinya aku muntah dalam… errr… 15 tahun.

Aku tidak bisa berhenti bersyukur ketika isi lambungku akhirnya keluar. The power of praying 🙂

Jadi, itu pengalaman saya bersama oskab dan doa. Jangan lupa berdoa sebelum memulai segala aktivitas. Jangan lupa bersandar dan mengandalkan Tuhan dalam segala sesuatu. Doa haruslah menjadi gaya hidup sehingga tidak mungkin lupa.

P.S Sampai sekarang aku masih mual kalau ngebayangin oskab

P.S.S Ketika muntah, ada satu pemandangan yang ganjil. Di antara genangan bubur coklat, ada sesuatu yang berwarna kehijauan. Padahal sayur terakhir yang kumakan adalah kangkung pada Kamis siang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: