Ada Apa Dengan Cikuray?

Note : Sekadar ekspresi pribadi. There’s no foot note for every local dialect used in this writings.

 ***

Cikuray… Aku pernah begitu ingin berada di sana. Pemandangan dari puncaknya yang menawan; lautan awan berhias semburat warna-warni cahaya matahari yang tengah beranjak dari balik gunung; pernah begitu menggodaku. Kesempatan untuk menyapa gunung di Garut ini beberapa kali datang. Namun setiap kali ada saja hal yang membuatku harus melepaskannya.

Tak hanya keindahannya, segala kisah tentang medannya pun menghampiri telingaku. Tanjakan-tanjakan terjal. Hutan tanpa batas. Hingga berbagai kisah misteri yang menyertai berita-berita pendaki hilang maupun tersasar. Informasi-informasi ini bagai air yang perlahan tapi pasti memadamkan bara hasratku untuk berdiri di 2821 mdpl. Gunung Cikuray tersisihkan dari daftar gunung yang ingin kusambangi.

Sampai Rifai mencetuskan keinginannya untuk menyapa Cikuray.

Nanti di puncaknya mau pegang tulisan ‘akhirnya ke sini juga’,” tulisku pada Rifai melalui sebuah messenger.

Seminggu sebelum hari yang dinanti-nanti, Idha menghubungiku melalui messenger.

Aku baca catper cikuray kok udah deg2an banget ya
Kaya yg br mau pertama naik rasanya
Huhu

What? That’s Idha who’s speaking. Idha yang selalu tenang. Idha yang nggak gampang panik. Berbeda denganku yang selalu cemas akan segalanya. Cikuray ini cukup spesial juga rupanya. Aku berkata padanya bahwa yah, begitulah Cikuray. Tapi beberapa temanku yang sudah ke sana dapat bercerita dengan tenang bahwa perjalanan mereka lancar dan tanpa hambatan berarti. Tanpa ada campur tangan unsur mistis. Jadi, perjalanan kita juga akan baik-baik saja.

Lalu aku menceritakan bagaimana aku salah menyebut Sikunir sebagai Cikuray ketika menuturkan kisah perjalanan Prau-Dieng kami pada temanku. Persis seperti yang dia lakukan satu setengah bulan sebelumnya.

Ada apa dengan Cikuray???? Idha membalas.

Hahahaha
We’ll see the mistery it hold, next week

***

Sabtu, 13 Juni 2015

Alarmku berbunyi untuk ketiga kalinya menandakan waktu sudah berdetik di pukul 5 pagi. Aku meringkuk lebih rapat. Pagi rasanya lebih dingin dari biasa. Mata ini juga ingin menutup lebih lama. Setelah 5 hari wajib bangun pagi, aku menginginkan hari Sabtu yang bebas dari alarm, tapi… Ponselku kembali bersuara. Kali ini karena adanya pesan-pesan yang masuk ke messenger. Aku menggapai-gapai dalam gelap. Membuka sedikit kelopakku untuk mengecek siapa yang begitu rajin. Rifai yang bertanya apakah ada masjid di dekat kost-ku (yang kujawab, “ada”). Stefi yang bertanya apakah aku dan Idha sudah bangun (yang kujawab, “belom”).

“Baiklah, 15 menit lagi. Beri aku waktu 15 menit saja lalu aku pasti bangun,” pintaku pada alam semesta. Tapi messages berikutnya dari Rifai terus berdatangan. Oh, baiklah, aku bangun. Lalu duduk termenung dalam kegelapan.

Tiga puluh menit kemudian, Rifai mengabarkan kalau dia sudah mengamankan diri di masjid Terminal. Sementara Stefi memberitahu kalau dia sudah mandi. ‘Ayoookkk banguuunnnn… Udara segar di gunung menanti,’ tulisnya penuh semangat. Sejak semalam dia dan Idha menginap di kost-ku agar dapat berangkat ke Garut sesuai jadwal, pukul 7 tepat. Idha tidur sekamar denganku, sementara Stefi tidur di kamar sebelah bersama teman sekantor kami yang lain, Kenny. Kenny sendiri tidak ikut berangkat ke Cikuray.

Tim perjalanan kali ini terhitung spesial. Teman mempertemukan teman. Mulanya hanya ada Rifai atau yang lebih akrab disapa Pai, Idha, aku, Adit, dan Fayumi. Aku pun mengajak Robert dan Dafid. Yang disebut terakhir ini adalah teman Robert yang baru kukenal pada pendakian ke Prau sebelumnya di mana dia mendapat nickname Ipid dari Amay. Kemudian Idha, sebagai penyalur keinginan hati Rifai, mengajak Stefi, seorang penduduk negeri Ayam Payung Merah yang baru berkenalan dengan tim kecil ini pada pendakian Papandayan 2 bulan berselang. Amay, penduduk negeri Ayam Payung Merah yang lain, yang semula tidak ingin ikut pun akhirnya memutuskan bergabung saking kangennya menggendong carrier. Dafid juga menggandeng seorang temannya, yang mengajak temannya lagi, untuk bergabung. Namun sayang, menjelang hari H, teman Dafid ini menyatakan tidak bisa ikut. Jadilah kami bersepuluh, Temannya teman yang bertemu dengan temannya teman (Errr… tak perlu susah-susah berusaha memahami. Ini sekadar menulis yang terlintas di otak kok.). Berkumpul karena satu kecintaan yang sama. This was how our love for hiking made us friends.

Pukul 6 kurang 15 menit, aku sudah berubah status dari ‘belum mandi’ menjadi ‘sudah mandi, wangi, dan cantik jelita’. “Ayo, Dha, kita belanja,” ajakku pada Idha. Pagi itu kami masih memiliki satu tugas: berbelanja sayuran. Beruntung pedagang sayuran berserakan di mana-mana (oke, ini berlebihan, cuma 2 kok) di dekat kost-ku. Tak sampai 20 menit, kami sudah menenteng tas plastik berisi buncis, tempe, dan bahan-bahan untuk membuat sop plus 2 kantung molen isi coklat.

Setibanya kembali di kost, Idha langsung menghambur ke kamar mandi. Sementara aku mengetuk pintu kamar di mana Stefi berada. “Hai, sudah siap…” sapaku seraya menyodorkan molen.

“Kita berangkat jam berapa si?”

“Jam 7.”

Ponselku berbunyi lagi. Dari Dafid, yang bertanya apakah kami sudah berangkat. Well, you guys knew the answer. Dia sendiri sudah tiba di Terminal Guntur sejak pukul 5.

Aku kembali ke kamar dan menuntaskan sisa packing-ku. Kamera, uang, madu, air minum, susu Ultra rasa coklat, semua masuk ke saku celana. Tak lama, Idha keluar dari kamar mandi. Di saat yang sama suara-suara familiar terdengar dari balik pintu kamar.

Amay dan Robert sudah tiba. Mereka hendak mengambil matras dan tenda. Suasana seketika riuh. Packing dan repacking. Udara penuh dengan aroma antusiasme. Aku tersenyum dan berkata, “Aku baru sekali ini lho berangkat naik gunung rame-rame gini.”

“Biasanya sendirian ya,” sahut Idha.

Aku balas mengangguk. Kau tahu? Sendiri itu enak. Tapi bersama teman-teman itu menyenangkan. “Yuk, kita foto duluuuu…”

image
“Medipala goes to Cikuray” (Photo taken by Kenny)

Menuju Garut

“Coba Pai dihubungi,” kataku pada Stefi. Karena aku meninggalkan ponselku. Sengaja. Aku telah berniat untuk menjadikan perjalanan ini layaknya liburan di masa silam ketika yang kita punya hanya kamera. Bukan ponsel cerdas yang demikian cerdasnya hingga mampu mendikte kita dalam bertindak. “Dia ada di mana,” lanjutku.

Tapi yang bersangkutan tak kunjung ada kabarnya maupun tampak batang carrier-nya hingga kami tiba di meeting point, perempatan Kopo. Di sini seorang bapak telah menunggu. Bukan menunggu kami secara spesifik, tapi dia tengah menjaring penumpang. Dalam hitungan detik, Bapak tersebut sudah terlibat pembicaraan serius dengan juru bicara kami.

“Empat puluh ribu, Neng,” tawar si Bapak.

“Orang kemarin saya ke Garut cuma 20.000,” balas Idha.

Ketika itu ada seorang bapak lain. Beliau tersenyum dan menggumam, “Nyaho.” Kemudian beliau menghampiri salah seorang dari kami, yang posisinya paling jauh dari Bapak Kondektur Elf, dan memberitahu bahwa ongkos ke Terminal Guntur memang Rp 20.000 maka jangan mau bila diminta bayar lebih.

“Ya udah, dinaikkin dulu barang-barangnya,” kata si Bapak Kondektur.

“Masih nunggu temen lagi.”

“Berapa orang rombongannya, Neng?”

“Berenam, Pak.”

“Nunggu satu orang lagi berarti ya?” Hening. “Ya udah dinaikkin dulu aja barangnya.”

“Dua puluh ribu ya, Pak.”

“Nggak bisa, Neng. Sudah nggak ada yang mau sekarang kalo segitu. Dua puluh rima ribu minimal.”

“Ya udah, kalo gitu nanti aja, Pak.”

“Dinaikkin dulu aja barangnya.” Si Bapak tetap gigih.

“Nanti aja, Bapak.” Idha pun tak kalah gigih. Dia mulai menatapku, ‘Gimana?’ ‘Well, aku sih nggak masalah 25.000 juga. Tapi karena sebenarnya bisa 20.000, mari kita cari Elf yang lain saja.’

“Ayo, Neng, dah, ayo,” kata si Bapak dengan suara setengah pasrah.

“Dua puluh ribu, ya.”

“Mana barangnya.”

Kami pun bergerak menghampiri Elf yang dimaksud si Bapak. Idha sebagai yang paling depan. Carrier-nya pun berpindah tangan. Dengan sigap, bapak tersebut membawa Deuter berbalut rain cover biru itu ke atas Elf. Di saat yang sama Rifai muncul, setengah berlari.

Tiba-tiba terdengar keributan. Agaknya setelah merasa punya sandera, si Bapak merasa posisinya lebih kuat untuk mengajukan penawaran harga.

“Sudah nggak bisa, Neng, 20.000 mah.”

“Nggak mau kalo gitu, Pak. Turunin!”

Tapi si Bapak acuh.

“Turunin, Pak!”

Kedua belah pihak sama-sama keras, tak mau mengalah. Kami berlima hanya mampu terdiam. Muncullah Bapak Sopir Elf sebagai penengah. Bapak berpostur tambun ini tampil dengan senyum lebar, memperlihatkan rongga lebar pada jajaran gigi di rahang atasnya. Entah bagaimana dengan yang lain, tapi aku merasa suasana melembut seketika. Aku tak tahu bagaimana negosiasi berjalan, tapi akhirnya Idha setuju. Dia menuju bangku depan Elf bersama Rifai. Sementara kami berempat duduk di bangku paling belakang.

Sekitar pukul setengah delapan, setelah beberapa kali berhenti untuk mencari penumpang, Elf memasuki tol Buah Batu. The journey was finally started.

 

Terminal Guntur dan Mereka yang Terlambat

I kept checking on my watch. ‘Apakah kami akan tiba di Terminal Guntur sesuai jadwal?’ menjadi pertanyaan yang terus menghantuiku mengingat jam keberangkatan kami yang melenceng 30 menit. Well, yeah, as an INFJ, I had a Judge character in me, which meant I loved to stick on schedule.

Betapa leganya ketika mengetahui kami telah mencapai Tarogong dan waktu masih menunjukkan pukul setengah sepuluh lewat sekian menit. Jarum panjang jam masih di sekitar angka 12 ketika kami tiba di Terminal Guntur. Berkumpul di depan Alfamart yang menjadi meeting point kami, masing-masing langsung menghubungi anggota tim yang lain. Robert menghubungi Dafid. Rifai menghubungi Adit.

Dafid tak merespon. Namun sejurus kemudian dia tampak berjalan ke arah kami bersama seorang perempuan kecil mungil. Senyum lebarnya langsung menuai komentar.

“Ciyeeeee…”

“Keliatan beda ih… cerah banget senyumnya.”

Mari sarapan,” jawabnya membela diri seraya mengusap perut dan menunjuk warung makan yang baru ditinggalkannya.

Sosok perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Aya. Di saat yang sama Dafid menyapa kami satu demi satu… tapi tak mengacuhkanku. Oke, fine!

“Hah? Baru sampai Cileunyi?” terdengar suara terkejut Rifai. Rupanya Adit telah mengangkat teleponnya.

Yeah, say goodbye to itinerary. Namun anehnya, aku tak merasa kesal. Meski telah menghitung ulang dan mendapat angka 11 malam sebagai estimasi kami tiba di camp area, resah tak menghinggapiku. Aku hanya merasa… baik-baik saja. Aneh. Padahal seharusnya aku gundah dulana karena mesti berjalan hingga demikian larut menembus hutan. Ada apa dengan Cikuray?

“Eh, tadi jadi-ne ongkos Elf 150.000?” Idha bertanya.

“Iya,” jawabku.

“Bapak-e nagih ke belakang ya? Tahu Idha di depan,” Rifai menimpali.

“Tak tunggu-tunggu lho. Kok nggak nagih-nagih. Padahal sudah tak siapin uang 120.000 pas,” ujarnya kesal sembari menunjukkan selembar uang seratus ribuan dan dua puluh ribuan yang sudah dipersiapkannya.

Aku tertawa. “Kamu sengaja disuruh depan. Diamankan.”

Kami memutuskan untuk menanggapi erangan 6 lambung yang minta diisi lebih dahulu. Mengikuti jejak Dafid dan Kak Aya, kami memasuki warung makan yang baru mereka tinggalkan. Warung tersebut sepi. Hanya ada kami. Kondisi yang membuat kami lupa diri dan terus bertahan di sana sementara menunggu Adit dan Fayumi.

image
Menanti

***

Menjelang tengah hari, sebuah pesan dari Adit masuk ke ponsel Idha, menanyakan posisi kami. Namun setelah itu mereka bagai menghilang. Pesan maupun panggilan yang dilakukan Idha dan Rifai tidak mendapat respon. Menit-menit yang berlalu membuat aku dan Idha makin senewen. Hampir pukul 1 siang ketika Fayumi memberi kabar. Mereka telah mencapai Tarogong. Akhirnya, penantian ini akan segera berakhir.

Masing-masing segera sibuk repacking. Logistik dan 8 botol air bervolume 1,5 L dibagi-bagi ke dalam 3 carriers para lelaki. Aku mencoba mengangkat ketiganya satu demi satu. The weight left me speechless.

“Itu mereka,” Idha menunjuk ke seberang jalan. Tampak Adit dan Fayumi berjalan ke arah kami. Sewaktu mendengar mereka masih berada di Cileunyi 3 jam lalu rasanya memang kesal. Tapi melihat mereka di sini, tampak lelah, jadi tidak tega. Tentunya mereka juga buru-buru. Tentunya mereka juga diliputi cemas sepanjang perjalanan. Jadi aku hanya mampu bertanya, “Berangkat jam berapa dirimu?”

Adit menyampaikan maafnya dan bercerita bahwa bus yang dia tumpangi baru ada pukul setengah 9. Perbaikan di salah satu tol menyebabkan gangguan arus lalu lintas sehingga banyak bus terlambat. Kedua anak ini ternyata juga kelaparan. Tapi karena kami harus berburu dengan waktu, jadilah mereka membungkus nasi dari warung makan tempat kami menunggu.

To my surprise, Idha tidak mengomel. Alih-alih, dia sibuk menghubungi sopir pick up yang sebelumnya telah sepakat untuk mengantar kami ke Pos Pemancar, Dayeuh Manggung dengan biaya Rp 40.000,- per orang. Nilai ini adalah hasil tawar menawar antara Siapa-Lagi-Kalau-Bukan-Idha dengan sopir yang bersangkutan. Harga pasarannya sendiri sebesar Rp 45.000,-.

“Yuk, kita masuk ke terminal. Mobilnya ada di belakang.”

Di dalam terminal seorang bapak dengan seragam biru menghentikan kami. Menurut penuturannya, kami harus membayar karcis peron jika masuk ke terminal. Padahal sebenarnya cuma numpang lewat.

Tiba di belakang terminal, kami menunggu lagi sementara mobil dipersiapkan. Ternyata di sinilah Idha mengeluarkan omelannya.

“Kamu tahu nggak dia tu sudah nunggu dari jam 5,” Idha mengacu pada Dafid yang berdiri di sebelah kirinya.

Tapi kejadian berikutnya membuat kami meledak dalam tawa karena Dafid berkata, “Nggak papa, Mas. Santai wae,” sambil menepuk pundak Adit. Idha pun tak bisa berkata-kata.

Lalu entah siapa yang memulai, aku? Idha? Amay?, tapi kami mulai menyenandungkan single terbaru Hivi! yang berjudul “Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi?”

“Aku suka banget suara Dea di lagu ini,” seruku pada Amay. “Coba Dea itu cowok, pasti aku sudah tergila-gila. Dia tuh seniman banget. Musik, suaranya oke. Ngegambar jago. Trus orangnya filosofis,” uraiku panjang dan menggebu.

“Sama kayak aku dong. Seniman,” kata Amay dengan ekspresinya yang konyol.

“Mba Casp,” panggil Dafid. “Ternyata Anda salah. Itu ada pasar,” tunjuknya ke seberang jalan. Beberapa minggu lalu dia memang sempat bertanya padaku apakah ada pasar di dekat Camp David. Terminal Guntur nggak bisa dibilang dekat dengan Camp David si… tapi aku paham maksudnya. “Oh, iya… buat kalo ke Papandayan dari Jakarta ya? Tapi kan aku langsung ke Cisurupan, nggak berhenti di sini.”

“Ya informasi saja.” And he was always like that.

Pick up yang dinanti-nanti datang. Kami menaikkan barang-barang dan memposisikan diri. Aku duduk di ujung, pada ekor mobil. Ini adalah kedua kalinya aku melintasi kota menggunakan pick up. Debu, angin, sinar matahari, dan mungkin dilihat orang-orang. Tapi siapa peduli?

Memasuki Cilawu, Cikuray mulai menyapa. Menjulang di hadapan kami, hijau dan menggoda. Udara mulai sejuk ketika kami tiba di Dayeuh Manggung. Hijaunya perkebunan teh terhampar luas di kanan kiri jalan. Berbanding terbalik dengan pemandangan yang memanjakan mata, jalan yang kami lalui sungguh menyiksa pantat. Tipikal jalan menuju gunung atau bukit: berbatu-batu. Jalan yang tak mulus ini membuat kami terguncang-guncang, pantat berulang kali berbenturan dengan bak pick up. Apalagi sisi kananku adalah dinding pick up yang permukaannya tidak rata. Setiap terjadi guncangan, aku harus menatap tubuhku agar tak membentur bagian ini.

Aku tengah sibuk mempertahankan posisi ketika seorang pria melompat ke atas bak. Lebih tepatnya sih, menyangkutkan dirinya di sisi pick up. Satu kakinya memang berada dalam bak, tapi kaki yang lain menggantung begitu saja di luar. Posisi yang sangat tidak nyaman maupun aman. Dia menenteng sebuah kotak yang berisi 2 ekor anak anjing. Hasil ternak, katanya. Rupanya pria tersebut tinggal di dekat pos pendaftaran. Rumahnya bersama 5 rumah lain adalah rumah tinggal terakhir yang dapat ditemui sebelum Pos Pemancar. “Dari situ ke Pemancar masih satu jam lagi. Berapa orang?”

“Sepuluh.”

“O, kalau sepuluh sih masih bisa. Dua belas orang maksimal. Kalau lebih, sudah nggak bisa naik mobilnya.”

Tiba di tempat yang dimaksud, pria itu turun. Sementara kami mengutus Dafid yang duduk di paling ujung untuk mendaftarkan rombongan kami. Kesempatan ini digunakan untuk mengatur ulang tempat duduk. Aku bergeser sedikit ke kiri hanya agar tidak berada di paling ujung lagi, tapi Robert menawarkan tempatnya yang bagai VIP karena bersandar pada carriers. Aku tentu saja tidak melewatkan tawaran emas ini. “With pleasure,” jawabku.

Tak kira bakal nolak. Padahal aku cuma basa-basi lho,” ujarnya seraya beranjak.

Dafid kembali membawa lembar-lembar tiket masuk kemudian kami melanjutkan perjalanan.

image
“Horeee… ke sini juga,” seruku. “Akhirnya ke sini kan…” Rifai menimpali.

 

Sisa perjalanan terasa lebih nyaman meski kondisi jalan sama sekali tidak lebih baik. Rifai kini yang duduk di ujung berteriak-teriak mengaduh. Ternyata posisi tidak hanya menentukan prestasi, posisi juga menentukan kenyamanan.

Pukul setengah 3, pick up menghentikan lajunya. Di Pos Pemancar ini kami kembali harus melakukan registrasi. Menuliskan nama komunitas (Paipala), nama ketua (Rifai), jumlah anggota (10 orang), dan rencana berkemah di mana. Isian terakhir ini yang cukup memusingkan. Mbak yang menjaga pos pendaftaran menyampaikan informasi bahwa di Pos Bayangan dan Pos 7 hampir bisa dipastikan sudah penuh. Sementara yang kutahu Pos 6 masih cukup jauh dari puncak. Tempat camp yang jauh dari puncak itu beresiko gagal menikmati sunrise. Karena aku tidak pandai memutuskan, aku tinggalkan perkara itu pada dua sejoli Robert dan Dafid.

Jarum jam tengah membentuk sudut siku-siku ketika kami memulai pendakian.

 

Estafet Tanjakan

Matahari pukul 3 sore yang masih sedikit terik, tapi sudah cukup lembut mengiringi langkah kami di antara rimbunnya tanaman teh. Ini pertama kalinya bagiku, berada sedekat ini dengan tanaman yang hasil seduhan daunnya tak pernah absen dari hari-hariku. Ternyata tanaman teh memiliki satu batang yang tumbuh sekitar 30 cm ke atas kemudian bercabang-cabang. Pada cabang-cabang inilah bermunculan daun-daun hijau segar.

image
Hamparan perkebunan teh

Seorang teman bercerita padaku bahwa gerumbul tanaman teh tersebut cukup kuat. Ketika dia mendaki Cikuray, dia meletakkan carrier dan membaringkan tubuhnya pada karpet hijau tersebut. Voila! Makhluk berklorofil itu mampu menahan bobotnya. Awalnya sih aku juga ingin mencoba ketangguhan tanaman ini. Tapi begitu melihat bahwa tingginya saja lebih tinggi dari puncak kepalaku, aku mengurungkan niat.

Melintasi kebun teh
Melintasi kebun teh

“Aku kok deg-degan ya,” gumam Idha.

Masih? “Kenapa?”

“Nggak tahu.”

“Biasanya deg-degan nggak?”

“Nggak tahu,” jawabnya setelah jeda sekian detik.

“Nggak, berarti.”

Dia tertawa.

“Aku nggak baca yang mistis-mistis si tentang Cikuray, tapi ngga tau kenapa deg-degan.”

Really. Ada apa dengan Cikuray?

Di dekat sebuah pondokan kecil, langkah teman-teman terhenti. Jeda yang kupikir hanya bagian dari istirahat ternyata mengandung masalah.

“Kuotanya sudah penuh,” Rifai memberitahu.

“Sudah penuh di atas,” Bapak yang duduk di pondokan itu menambahkan. Loh? Jantungku serasa turun ke lambung. Otakku berhenti bekerja mendadak. Kalau memang sudah penuh, mengapa kami diijinkan lewat di 2 pos pendaftaran sebelum ini? “Dari pagi banyak yang naik. Sudah nge-camp aja di pos 1. Besok pagi baru naik.”

Wew, no sunrise then. Lagipula membayangkan besok pagi-pagi baru memulai 7 jam perjalanan ke puncak Cikuray, lalu mau tiba di bawah lagi jam brapa?

“Masak nge-camp di pos 1, Pak?” Aku mendengar salah satu dari kami memprotes.

“Kan malah enak, kan? Santai-santai dulu hari ini. Sudah sore ini.”

“Sudah penuh beneran ya, Pak?”

“Sudah. Sudah 900 orang yang naik.”

“Ya… 10 orang kan nggak nyampe sekian persennya dari 900, Pak.” Aku bahkan kehilangan kemampuan menghitung berapa persen 10 dari 900.

“Sudah, biar nggak capek, ini dibercandain sama bapaknya,” kata seorang bapak lain yang duduk di sebelah bapak itu. Otakku tidak langsung mampu mencerna informasi ini. Ketika atmosfer terasa lebih ringan dan aku merasakan hembusan lega di sekitarku, baru aku menyadarinya. Sial! Kita dikerjain. Dua hari sebelumnya kami juga mendengar kabar bahwa pendakian ke Paguci (Papandayan, Guntur, Cikuray) ditutup karena beberapa kasus pendaki meninggal. Sebuah kabar yang ternyata hanya isapan jempol. Sekarang ini… Oh, ada apa denganmu, Cikuray?

Meski begitu, teman-temanku bergeming. Kenapa tidak segera berjalan lagi?

Kemudian aku menangkap gerak tubuh Rifai. Dia menatap Idha dan mengedik ke arah pondokan. “Nggak ah, yang tulisannya bagus aja,” sahut Idha.

Rifai beralih menatapku dan lagi-lagi mengedik ke arah pondokan. Apa sih? Dia mengulangi gerakan tersebut. Barulah aku melihat sebuah buku tergeletak dalam keadaan terbuka di meja pondokan. Ternyata kami harus mendaftar ulang lagi di sini. Ah… apakah tiap jalan beberapa meter, kami harus selalu mendaftar ulang? Aku menuliskan nama kami bersepuluh, nomor telepon yang dapat dihubungi (nomor Rifai), serta tanggal rencana kami naik dan turun.

Gunung Cikuray terkenal dengan tanjakannya yang tiada henti dan menguras tenaga. Dari setiap mulut yang menceritakan Cikuray, aku selalu mendengar frase ‘lutut ketemu dagu’ yang berarti tanjakannya demikian curam hingga kita harus mengangkat lutut tinggi-tinggi. Lepas dari pondokan tadi, tanjakan pertama menyambut kami. Hamparan perkebunan teh pun sudah tak tampak lagi.

Tanjakan Cihuy
Tanjakan Cihuy
image
Di ujung Tanjakan Cihuy, padang ilalang ungu menanti
image
15 menit dari Pos Pemancar, padang ilalang segera berganti pohon-pohon tinggi

“Kayaknya aku tahu deh deg-degan kenapa,” engah Idha. Wajahnya sudah memerah dan basah oleh keringat.

“Kenapa?”

“Karena aku nggak yakin sama tanjakan di awal-awalnya. Aku deg-degan kuat nggak ya. Nanti yang lain gimana.”

Aku mengangguk. “Sekarang sudah baik-baik saja?”

“Sudah.”

Yang tidak kami sadari saat itu adalah kami tengah menempuh Tanjakan Ambing.

image
Puncak Tanjakan Ambing

Setelah Tanjakan Ambing, Cikuray memberikan sedikit bonus dengan pemandangan padang ilalang ungu lagi. Kemudian…

image
Tanjakan Sakti menyambung Tanjakan Ambing
image
Tanjakan Sakti

“Ayo, Dha,” Rifai menyemangati Idha yang tampak melangkah satu-satu.

“Ya udah, kamu jalan duluan aja sana. Nanti aku susul.” Idha selalu begitu. Jangan nungguin, nanti aku semakin lama malah.

“Ya, tapi kamu juga jangan paling belakang sendiri gitu.” Rifai juga selalu begitu. Tidak tenang kalau bukan dia yang paling belakang.

image
Rifai yang setia menunggui Idha di belakang

“Pos dua…” Ribut-ribut Idha dan Rifai membuatku menoleh. Rupanya seorang pendaki memberitahu mereka bahwa Pos 1 sudah lewat dan kini kami sedang menuju Pos 2. Benarkah? Kalau begitu, di mana letak Pos 1? Saat memeriksa jam, aku menjadi lebih terkejut lagi mendapati waktu baru berlalu 30 menit sejak kami mulai mendaki tadi. Cepat juga. Padahal di catper-catper yang kubaca butuh waktu minimal 1 jam dari satu pos ke pos berikutnya.

“Mba Cas, aku jadi pengen teriak,” celetuk Amay di tengah usaha kami mengangkat berat tubuh dan carrier untuk naik satu undakan lebih tinggi.

“Teriak aja.” Pikirku mungkin dia lelah. Lelah selalu membuat kita ingin berteriak, kan?

“Sadam! Kamu di mana?”

Eh? Aku terbahak. Dasar Sherina.

Meski melalui tanjakan yang serasa tanpa ujung maupun jeda, aku beruntung berjalan bersama orang-orang yang mampu membuat suasana lebih ceria. Seperti ocehan bodor Adit pada Fayumi. “Kenapa, Fay?” terdengar suara Adit di belakangku bertanya pada soulmate-nya itu. “Mencari-cari tambatan hati?” Aku tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Hanya menduga Fayumi baru saja berpegangan pada Adit sehingga Adit merespon demikian.

“Kau sahabatku sendiri,” lanjut Adit tanpa disangka-sangka, melafalkan lirik lagu “Perahu Kertas”. Otomatis membuatku terbahak.

Tanjakan berikutnya yang menyapa kami adalah Sanghiang Taraje.

Taraje,” gumamku. Kata dalam bahasa Sunda ini seperti tak asing. Tapi aku tak mampu mengingat artinya. Jadi aku menanyakannya pada Stefi yang kebetulan sedang duduk beristirahat di dekatku.

Taraje itu tangga bambu.” Penjelasan ini menyalakan lampu dalam otakku. Lelucon yang pernah dilontarkan Kang Herman hampir satu tahun lalu. Lelucon mengenai orang mabuk yang mengeluhkan betapa taraje yang dinaikinya tak kunjung habis. Ternyata orang mabuk tersebut tidak sedang menaiki tangga, tapi merayap di rel kereta api.

“Mbak, ati-ati lho,” Idha berseru pada Kak Aya yang berjalan lebih dahulu bersama Adit sementara kami masih asik menikmati istirahat.

“Iya…” Kak Aya balas berseru.

“Ati-ati sama Adit, maksudnya.”

Aku tertawa. Menurut penuturan Idha yang sudah mengenal Adit semenjak kuliah, laki-laki yang satu ini termasuk golongan laki-laki bermulut manis yang patut diwaspadai. “Tapi cewek yang suka sama dia tu banyak ok, Mbak. Cantik-cantik san,” Idha mengungkapkan rasa herannya padaku.

image
Sanghiang Taraje
image
Trek Sanghiang Taraje

Jalur pendakian Cikuray terbilang ramai. Di kanan kiri kami kerap menemui sekelompok orang yang tengah beristirahat sambil memasak. Beberapa bahkan bersama tenda mereka yang masih berdiri. Ketika itu, sama sekali tidak terbersit dalam pikiranku bahwa mungkin mereka memang melewati malam di sana.

“Jadi, apa warna hari ini?” Rifai bertanya di sela kami melepas lelah.

“Mmm…” Aku mencoba mencecapnya. Apakah kelabu? Apakah biru? Apakah hijau? Apakah kuning? “Entahlah,” jawabku akhirnya. Aku sungguh tak menemukannya. Bahkan hitam tidak, putih pun.

Ketika kami kembali melangkahi akar-akar yang melintang, baru aku tersadar. Bagaimana aku bisa merasakan warna dalam hidupku jika dia yang mewarnainya sudah tidak ada lagi?

Pos 2 pun berlalu tanpa kami sadari. Ketika menemukan plat tanda pos, plat tersebut bertuliskan angka 3. Saat itu 2 jam telah berlalu sejak terakhir aku mengecek arloji.

Kalau dipikir-pikir, Cikuray ini menggemaskan juga. Setiap bonus selalu diikuti dengan tanjakan. Seperti halnya dengan Pos 3 ini yang langsung disambung dengan Tanjakan Wakwaw.

Tanjakan Wakwaw
Tanjakan Wakwaw

 

“Udah nanjak terus. Nanti turun juga nggak enak pula. Banyak akar,” kata Rifai. “Semeru tuh enak… buat lari.”

“Semeru kan landai,” sahut Dafid. “Dari puncak sampai Arcopodo…”

Aku tidak tahu lagi apa yang mereka bicarakan selanjutnya. Perhatianku tersedot pada momen mereka mengucapkan ‘Arcopodo’. Aku suka. Aksen mereka terasa pas. Mungkin karena selama ini aku hanya mendengar Arcopodo diucapkan orang Jakarta. Sementara Dafid adalah orang Malang dan Rifai sudah beberapa tahun tinggal di Tuban.

image
Para lelaki tangguh yang masih mampu tersenyum meski memanggul tenda, bergalon-galon air, serta berkilo-kilo logistik. Well, maybe not all of them.

Kemudian gelap turun. “Kakak Rifai, nanti kalau gelap, aku deket-deket ya,” ujarku pada Rifai yang cuma dibalas senyuman. Tapi sejujurnya, aku tidak merasakan cemas seperti yang selalu kurasakan ketika harus menembus hutan dalam gelap. Mungkin karena kami beramai-ramai. Atau mungkin karena jalur pendakian ini yang tidak terasa sepi berkat adanya tenda sepanjang jalur.

Pukul 18.05 ketika kami tiba di Pos 4. Di pos ini tenda-tenda bertebaran. Beberapa teman di bagian depan terlibat pembicaraan dengan penghuni tenda yang kami lewati. Agaknya orang tersebut memberitahu bahwa Pos 4 sudah penuh.

“Coba aja di Pos 5,” sarannya. “Deket kok. Cuma 15 menit.” Hah? Serius?

“Lima belas menit beneran, Mas?” tanyaku memastikan. “Bukan cuma 15 menit penyemangat?”

“Iya, beneran kok 15 menit.”

Aku sungguh ternganga ketika 15 menit kemudian plat bertuliskan angka 5 itu benar-benar tampak di depan kami. Ada apa dengan catper-catper yang kubaca? Ada apa dengan orang-orang yang kuinterogasi? Ada apa dengan Cikuray?

To our disappointment, di Pos 5 ini pun tak ada lagi tempat.

“Jadi gimana?”

“Istirahat dulu aja sebentar.”

Sebagian dari kami menjatuhkan diri di tanah. Aku melepaskan carrier.

“Sebagian nunggu aja. Terus ada yang naik, nyari di atas,” usul Rifai.

“Tapi nunggu pun, kita juga harus sudah menemukan tempat di sini. Kalau nggak, percuma,” Dafid menimpali.

“Ayo, Pai! Kan Paipala.”

“Jadi serius Paipala?” Tadinya nama itu, aku yakin, hanya iseng diucapkan Idha karena kami dari Negeri Ayam Payung Merah menamakan diri Medipala sementara Fayumi menyebut dirinya dan Adit yang dari Kujang sebagai Kujangpala. Rifai satu-satunya personil dari TPPI pun diberi nama Paipala. Siapa sangka nama itu justru menjadi nama kami semua bersepuluh.

“Loh? Kenapa nggak serius?” sahut Dafid. “Saya tertarik kok bergabung dengan Paipala. Kharismanya Bapak Pai itu…”

“Nanti yang mau gabung syaratnya musti ganteng,” celetuk Robert.

“Hmmm… nggak ada yang bisa gabung dong di sini. Ketua sendiri juga ga bisa,” ujarku berseloroh.

“Iya ya. Nanti Pai-nya sendiri gak bisa gabung,” Robert mengiyakan.

“Wah, dalem banget itu,” sahut Amay. Iya. Rasanya sudah biasa kalau perempuan yang bercanda demikian. Tapi ketika sesama laki-laki yang mengatakannya, errr… it sounded serious.

“Ya udah yuk, kita jalan lagi.”

Headlamp dan senter mulai dikeluarkan.

“Aku mau berjalan dalam kegelapan saja,” ujar Ketua Paipala.

Kami kembali berjalan, menembus kegelapan. Pada satu titik aku berhenti. Hingga Rifai tiba di sisiku, berkata, “Kamu nungguin aku ya?” membuatku tergelak. Dia berhasil menebak maksudku.

Sepanjang jalan tak tampak cukup ruang untuk mendirikan 3 buah tenda. Masing-masing gundah. Ini adalah salah satu tantangan Cikuray yang pernah disampaikan seorang teman. Tantangan yang juga sempat kusampaikan pada Rifai. Cikuray punya lahan yang sangat terbatas untuk mendirikan tenda. Hanya saja aku tak menyangka sampai sebegini terbatasnya. Sampai tenda dapat ditemui di mana-mana. Tiap pendaki agaknya memanfaatkan lahan seadanya.

Kami berhenti pada sebuah batang pohon yang melintang.

“Gimana ni kalau kita terus ke atas tapi ternyata sudah penuh?” Rifai kembali bertanya.

Ngarambes,” jawab Dafid.

Yang diberi jawaban tampak kebingungan. “Sembarang,” Robert menerjemahkan bahasa khas Malang tersebut. “Dibalik itu.”

Di pihak lain, Idha duduk terpisah, sibuk menekuri smartphone-nya.

“Sudah ga sabar nih buka tenda,” kata Robert. “Pengen denger ceritanya Casper.” Ceritanya Casper? Masih belum habis rasa penasarannya?

“Boleh. Boleh,” jawabku. “Tanya aja nanti. Mau denger cerita apa.”

Kemudian Idha menyerukan informasi yang telah disimpannya di smartphone.

“Yakin nggak nih dapet tempat di atas?”

“Aku si yakin. Coba kita tanya.” Aku berseru pada Idha, “Dha, kamu yakin kita dapet tempat di pos berapa?”

“Aku si yakin di Pos 7.”

Kemampuan Idha yang sudah demikian dipercaya memberikan suntikan keyakinan. “Ya udah yuk, jalan lagi.”

 

“It’s cold and we have nowhere to sleep”

Kembali kami menemui banyak tenda di sepanjang jalan. Masing-masing menyala dan tampak hangat. Aku sudah membayangkan nikmatnya berada dalam tenda. Makan. Bercanda. Main UNO.

“Ini di sini bisa ni,” terdengar suara Rifai. Aku berhenti. Sementara Kak Aya, Robert, Idha, dan Amay sudah lebih dulu menghilang di depan dan tak mendengar ketika kupanggil. “Satu di sini,” dia menunjuk satu sudut yang berdekatan dengan tenda lain, “satu di sini,” satu area di dekat tenda pertama, “yang ini yang dipake buat jalan di sini. Jadi bisa bikin tenda satu di sebelah sini.” Sedikit memakan jalan, tapi sepertinya masih bisa.

“Ada yang nungguin aja di sini. Yang laen nyari lagi ke atas.”

Oke, aku menunggu. Bersama Adit, Fayumi, dan Stefi. Sementara Rifai dan Dafid menghilang dalam kegelapan malam. Tidak perlu menunggu hingga 5 menit, dinginnya udara sudah mulai terasa menggigiti kulit. Aku menyusupkan tangan ke lengannya Adit yang duduk di sebelah kiriku. Sebenarnya posisi ini juga sangat menguntungkan. Karena jurang ada di sisi kiri kami, dari sisi ini pula angin berhembus. Dengan demikian keberadaan Adit menghalangi angin langsung menerpaku. Tapi tetap saja… rambut-rambut halus di lenganku satu demi satu menegakkan diri.

“Mba Cas nggak ngambil jaket?” Adit bertanya.

“Nggak. Ngambilnya susah.” Mager pula dengan udara sedingin itu.

Dia diam.

Tak lama, dia mengulangi pertanyaan yang sama dan aku pun masih memberikan jawaban yang sama. “Mau pake jaketku aja? Nggak polar tapi.”

“Nggak usah,” aku menggeleng. ”Nggak papa kok.”

“Gampang kok ngambilnya.”

Kembali aku mengulang jawaban “tidak”-ku.

Hening.

Selang beberapa waktu, Adit kembali bertanya, “Pake jaketku piye?”

“Lha terus kamu?” Wew, benarkah aku berkata begitu? Jadi sekarang aku sudah mengaku kalah pada dingin dan membutuhkan jaket?

“Ada itu. Gampang kok ngambilnya.” Serta merta Adit berdiri, membuka jaketnya, dan menyampirkannya padaku. Ketika itu, aku baru menyadari kalau yang diberikannya adalah jaket polarnya. ‘Well, Idha, I guess I know why lots of girls fell for him.

“Eh, aku punya roti,” celetuk Stefi. Kemudian kami membagi-bagi roti itu. Rasanya ketika menyentuh lidah… Mungkin nggak pernah di dunia ini ada roti yang seenak roti itu. Dalam hitungan detik, benda itu lenyap, seolah tak pernah ada. Dan dingin kembali terasa.

Aku mencoba menikmati pemandangan yang disuguhkan langit, tapi ranting-ranting pohon yang rimbun menghalangi pandanganku. Sementara itu, beberapa rombongan cowo silih berganti lewat. Beberapa dari mereka bertiga, beberapa berempat, ada pula yang berenam dengan 2 orang perempuan. Kebanyakan dari mereka sama seperti kami, mencari tempat untuk mendirikan tenda. Beberapa tampak mencari-cari di sekitar tempat kami menunggu. Aku mulai curiga jangan-jangan mereka mau memakai area ini untuk mendirikan tenda. No way! Jadi aku meminta Adit untuk bertanya apa mau mereka, hehehe… Ternyata mereka sedang mencari teman yang agaknya sudah berjalan lebih dulu di depan serta mendirikan tenda. Selain mereka, masih ada lagi beberapa rombongan yang juga mencari temannya. Agaknya, bukan hanya kami yang membagi rombongan demi mencari secuil lahan untuk beristirahat.

Hampir satu jam berlalu. Bukankah katanya hanya perlu 15 menit untuk mencapai puncak? Apakah mereka menemukan camp area? Yang demikian luas sekaligus demikian penuh sehingga susah mencari lahan untuk 3 buah tenda? What did make them so long? Aku berpindah posisi, membelakangi jurang dan menghadap tenda yang jaraknya hanya sekitar 10 langkah dari kami. Cahaya memancar dari dalam tenda itu. Nyala api. Kehangatan. Haruskah aku mengetuk pintunya dan bernyanyi, “Sir, can you help us? It’s cold and we have nowhere to sleep”? Tentu saja aku tidak melakukannya. Instead, I just kept on waiting the others to come… for what feel like a century.

Meanwhile…

Idha’s POV

Para cowok itu, Pai dan Ipid, menyusul kami. Sementara keempat orang yang lain telah berjaga-jaga di lahan yang akan kami gunakan seandainya tidak menemukan tempat lagi, mereka berencana naik untuk mencari tempat yang lebih nyaman. Aku, Anggin, Mbak Aya, dan Robi pun menunggu. Tempat kami duduk menunggu tak jauh dari sebuah tenda. Kami bisa melihat di dalam para penghuninya sedang memasak. Kami saling berbisik. “Masnya nggak niat bagi-bagi.” Bisikan yang memang terlalu keras hingga sosok-sosok yang menjadi objek pembicaraan mendengarnya. Penghuni tenda itu pun menampakkan diri dan menawarkan teh hangat pada kami. Percakapan mulai mengalir hingga kedua belah pihak mengetahui kalau masing-masing adalah orang Jawa. Penghuni tenda yang lain pun tak mau kalah. Mereka masing-masing menyebutkan asalnya. Hingga obrolan yang serius berubah menjadi tawa canda.

Satu jam menunggu, kedua sosok yang dinanti belum juga muncul. Sementara pendaki-pendaki lain yang naik setelah mereka untuk misi yang sama, sudah turun. Setiap mendengar langkah kaki, kami menyerukan nama mereka berdua. Namun nihil. Kami mulai cemas, terutama Robi. Dia mulai berpikir untuk menyusul mereka berdua. Tapi aku mencegahnya.

“Aku merasa tidak berguna sebagai laki-laki,” ucapnya.

Aku meyakinkannya bahwa mereka tidak akan apa-apa. Bahwa aku yakin mereka menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Bahwa itulah yang membuat mereka lama.

Kemudian kami mendengar suara yang familiar. Robi berseru, “Fid!!” Tak ada jawaban.

Aku pun meneriakkan nama Pai, “PAAIIIIIII!!!”

 

Dafid’s POV

Saya dan Bapak Pai naik. Lalu kami berduaan di dalam kegelapan malam. Oke, bercanda.

Kami berusaha naik secepat mungkin, tapi prakteknya setiap satu tanjakan kami berhenti untuk istirahat. Nggak kuat. Beban terasa kian berat karena setiap bertemu dengan pendaki lain, berita yang dibawa sama: area sudah penuh. Kami semakin pesimis. Satu tanjakan dan kami berhenti lagi, mengambil napas sembari memikirkan apa yang sebaiknya kami lakukan.

Tiba-tiba dua orang pendaki turun sambil membawa tenda. Mereka bercerita bahwa seorang teman mereka mengalami hipotermia. Kami mengobrol dalam bahasa Indonesia, tapi saya merasa logat mereka sama dengan saya. Ternyata arek Malang juga. Mereka satu rombongan berlima belas; 8 orang sudah di atas, sementara 7 orang lagi masih di Pos 5. Mereka berdua mengambil tenda untuk camp di bawah.

Mereka memberi tahu kami bahwa ada masih ada space di atas, cukup untuk 2 tenda. Informasi itu cukup untuk membuat kami yang tadinya lesu menjadi girang kembali. Kami pun bergegas naik.

 

Rifai’s POV

Aku naik berdua dengan Ipid. Entah mengapa rasanya sangat lelah. Sedikit-sedikit kami beristirahat. Ditambah lagi, setiap melihat tenda, tak ada lagi tempat tersisa. Setiap orang yang turun juga membawa informasi “sudah penuh”. Sampai akhirnya kami bertemu dengan 2 orang dan setelah ngobrol sebentar ternyata mereka orang Jawa. Orang Malang, lebih tepatnya. Langsung saja Ipid ngobrol banyak dengan mereka. Mereka memberitahu kalau kami bisa camp di pos 7, dengan resiko terpencar. Aku sih tidak ingin berpencar. Mereka juga memberitahu kalau di atas, sebelah kiri jalan, ada satu tenda yang sudah berdiri dan di dekat tenda tersebut masih ada cukup lahan. Sebelum tenda tersebut pun, di sebelah kanan jalan ada satu area lagi.

Dari situ kami melanjutkan perjalanan. Masih dengan banyak istirahat. Selama berjalan, aku mengamati sisi-sisi jalan dengan senter. Hingga di sebelah kanan tampak satu area yang cukup lapang. Barangkali ini lahan yang dimaksud 2 orang tadi. Aku memberitahu Ipid. Langsung saja kami sepakat untuk membangun tenda di tempat itu, meski terasa dipaksakan dan hanya muat untuk 2 tenda, bukan 3 seperti rencana semula.

Di tengah kesibukan mendirikan tenda, aku mendengar suara orang lewat dari arah belakang. Agak ngeri, aku bertanya pada Ipid, “Itu suara apaan, Pak?”

“Paling hewan,” jawabnya.

Entah suara apa sebenarnya, aku tidak tahu. Kami kembali fokus mendirikan tenda agar dapat segera menemui yang lain yang telah terlalu lama menunggu.

***

“Pai!” Aku mendengar suara Adit berseru. Aku kembali merasakan dingin pada kaki dan telapak tanganku. Ternyata aku tertidur. “Pai!” Terdengar suara Adit lagi.

Tak lama sosok yang dimaksud muncul. Akhirnya… Dan tanpa membawa carrier. Itu berarti mereka menemukan tempat di atas. Pai segera mengajak kami berjalan lagi. “Yuk. Udah berdiri tendanya. Cuma muat 2. Tapi besar kok tenda yang dibawa Ipid. Bisa muat 6 orang. Nanti yang satu lagi 4 orang.”

Setengah sadar aku mengangkat carrier dan memanggulnya. Langkah-langkahku ringan karena kesadaran yang belum sepenuhnya kembali ke tubuh. Tak lama kami berjalan, tampak sosok Idha, Amay, Robert, Kak Aya, dan Dafid. Masing-masing masih membawa carrier, kecuali Dafid. Perlahan otakku berusaha mencerna kisah yang sebenarnya terjadi.

Begitu melihatku Idha langsung berkata, “Yuk! Mba Cas matanya sudah sayu gitu.” Tentu saja, ini mata baru bangun tidur. Mereka pun berpamitan pada orang-orang yang ada di sekitar situ.

Sembari kembali berjalan, otakku mulai memahami serta memilah siapa-siapa saja yang pergi mencari lapak dan siapa yang tinggal, menunggu. “Berapa jauh?” tanyaku, masih belum sepenuhnya sadar.

“Dua puluh menit paling,” jawab Rifai.

Tanjakan-tanjakan yang kami lalui membuat kesadaranku kembali lebih cepat. Tapi frase itu tidak terbukti kebenarannya. Lututku tidak menyentuh dagu, baik secara denotatif maupun konotatif. Kalau dibandingkan dengan tanjakan menuju puncak Pangrango, tanjakan Cikuray masih relatif bersahabat.

Pukul setengah sepuluh langkah kami terhenti. Di kanan jalan tampak 2 tenda telah berdiri. Dikelilingi pepohonan, tempat itu tampak unik.

Idha segera menyerbu masuk ke tenda untuk berganti pakaian karena dia akan memasak. Begitu pula ketiga cewek yang lain. Aku menunggu. Berusaha mencari Orion pada langit malam. Tapi di tempat ini pun pohon-pohon demikian rimbunnya. Padahal aku menanti-nanti pendakian ini dengan harapan dapat berjumpa lagi dengan langit penuh bintang.

Ketika Idha selesai dan keluar dari tenda sembari membawa seperangkat alat masak, aku beringsut ke tenda. “Sudah penuh,” aku diberitahu ketika hendak memasukkan barangku ke tenda yang kecil. “Ke tenda yang itu aja.”

“Jadi 7 orang dong di sini.” Aku berberes cepat-cepat lalu keluar dari tenda.

Beruntung jalur sudah sepi sehingga kami bisa menggelar matras dan segala peralatan masak di sana. Masing-masing tampak sibuk. Menggoreng cireng, membumbui tempe, memasak sop… dan Rifai lagi-lagi menghadapi nesting berisi beras. Pasca pendakian ke Papandayan lalu tampaknya dia telah mengukuhkan diri sebagai chef spesialis nasi.

Karena hanya di situ satu-satunya tempat yang lengang, aku pun memilih membantu Rifai.

“Kamu kan lebih tua dari aku, Kakak Senior Rifai,” kembali aku memprotes Rifai yang terus memanggilku ‘Mba Cas’.

“O iya, kamu kan sebentar lagi ulang tahun ya?”

“Iiiih… kamu kok inget siii…”

Proses memasak nasi pun menjadi sedikit heboh ketika matangnya nasi tidak merata. Setengah kilo beras rupanya terlalu banyak untuk ukuran nesting yang digunakan. Akhirnya sebagian nasi terpaksa dipindahkan. Aku memegang wadahnya sementara Rifai menyendok. Tapi beberapa nasi tercecer ke bibir nesting dan mengalir turun. Jadi aku mendekatkan wadah yang kupegang ke nesting. Siapa sangka, hal itu malah membuat…

“Jangan digoyang-goyang,” Rifai memberitahu. Nestingnya kehilangan keseimbangan di atas kompor.

“Oke.”

Tapi tiap kali dia menyendok, ada saja nasi yang tercecer ke bibir nesting. Peringatan yang sama pun dikeluarkan Rifai lagi dan lagi. Sampai akhirnya dia berseru, “Jangan digoyang-goyang!”

“Ini nasinya berceceran.”

“Udah biarin aja.”

Sewaktu nasi yang dipindahkan dirasa cukup. Rifai menambahkan air kemudian tinggal menunggu nasi tersebut tanak.

“Pengen denger ceritanya Casper ih.” Lagi-lagi Robert mengutarakan keinginannya. Rasa ingin tahu pada mata dan senyumnya membuatku penasaran apa yang sebenarnya ingin dia tanyakan. Toh, bukankah dia sudah mendengar kisah ini dari pihak satunya? Apalagi yang ingin dia ketahui?

“Boleh. Boleh,” aku pun memberikan jawaban yang sama. “Nanti kan setenda.”

“Asiikkk…”

Aku juga mengutarakan pada Amay satu pertanyaan yang membebani benakku selama ini. “Amay, kenapa namamu Amaysha? Kenapa Nuriyang? Kenapa Ginda?”

“Mbak Casper, Mbak Casper adalah orang kesekian ratus yang menanyakan hal itu.”

Yah… namanya memang mengundang pertanyaan si…

Pembicaraan beralih ke gunung. Bagaimana Rifai ingin merasakan menginap yang lama di tepi Ranu Kumbolo. Pada pendakian yang dia lakukan sebelumnya, dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk itu. Pendakian Semeru dilakukannya selama 2 hari 1 malam (Jagoan! Kakak Senior Rifai memang… Hidup Paipala!!) dan tenda dia dirikan di Arcopodo.

“Pengen camp lama di Sagara Anak juga,” imbuhnya.

“Iyaaaaa,” sahutku.

“Pengen ke air terjunnya. Ke sana nggak waktu itu?”

“Nggak,” jawabku.

“Air panasnya?”

“Nggak.”

“Aaahhh…”

“Ayooo ke sana lagiiii…”

“Nggak mau ah.”

“Ya udah. Nanti aku ke sana sama suamiku aja.”

“Weittsss…” Kali ini Robert yang menyahut. “Kalau ternyata dia nggak mau gimana? Kalau dia nggak suka naik gunung? Maunya ke pantai?”

“Nggak, sudah nggak mau lagi sama yang nggak suka naik gunung.”

“Jangan gitu to ya. Nggak boleh membatasi.”

No! I’d rather be alone than being with someone but had to giving up my dreams, giving up things I like.

“Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.” – Spasi, Dee Lestari

Sudah tengah malam ketika makanan siap disantap. Beberapa orang sudah bergulung dalam tenda, enggan keluar. Aku beranjak memanggil mereka. Acara makan berlangsung singkat, apalagi jika dibandingkan dengan acara masak-memasaknya. Kebanyakan orang kehilangan nafsu makan ketika berada di gunung. Robert adalah satu-satunya orang yang kutahu tetap mampu makan banyak.

Semua makan dalam diam. Hanya Dafid yang berkomentar, “Kane lop.”

“Enak pol.” Kembali Robert menerjemahkan ketika yang lain kebingungan.

Selesai mengamankan semua peralatan di sisi pohon serta menutupnya dengan matras, kami menjejalkan diri dalam tenda. Satu tenda berisi Amay, Stefi, dan Kak Aya. Tenda yang lain berisi sisanya.

Tenda yang sejatinya berkapasitas 4 orang itu menjadi hangat seketika. Kami mencoba mengatur posisi. Membujur sesuai bentuk tenda, masing-masing bersebelahan dengan pasangannya. Dafid dan Robert. Aku dan Idha. Adit dan Fayumi. Sementara yang tak berpasangan tidur dalam posisi melintang di sisi pintu tenda, Kakak Senior Rifai. Kakak yang satu ini tadinya sudah rela untuk tidur di luar tenda jika seandainya tenda tidak muat. “Tapi kasi matras aluminium.” Hanya itu permintaan yang dia ajukan. Tapi aku tidak rela kalau ada yang sampai tidur di luar tenda.

“Ayo cerita,” tagih Robert.

“Ya kamu tanya to. Mau tahunya tentang apa?”

“Sekarang tambatan hatimu siapa?” Loh? Kok… kirain masih mau nanya tentang kisah di masa lalu.

“Nggak ada,” jawabku.

“Ya udah,” sahutnya datar. “Selesai kalau gitu.” Rasanya ingin terbahak-bahak karena adegan yang anti klimaks ini.

Satu demi satu dari kami terlelap. Suara dengkur Robert dan Adit terdengar bersahutan. Sementara Rifai bergerak-gerak gelisah. Ketika aku menggapai ke atas, terpal tenda menyentuh kulitku. Tidak ada matras.

“Pai,” panggilku.

“Hm?” Kudengar Rifai menyahut.

Aku ingin bertanya, ’Kedinginan?’ tapi tak ada suara yang keluar. Tanpa kusadari, aku terlelap.

 

Minggu, 14 Juni 2015

Semburat merah jambu telah berpendar di horizon ketika kami keluar dari tenda. Dingin, tapi tak menggigit. Aku masih mampu bertahan dalam kaus, kemeja, dan celana legging yang kukenakan. Usai para lelaki mengamankan peralatan masak ke dalam tenda serta menguncinya, kami memulai pendakian menuju puncak. Saat itu pukul 5.15. Aku mulai bertanya-tanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak. Lima belas menit kah? Tiga puluh menit kah? Jangan-jangan kami bakal terlambat untuk menyaksikan sunrise.

Nyatanya, dalam sekejap kami telah tiba di Pos 7. Suasana Pos 7 terasa familiar. Tapi di mana ya aku pernah merasakan suasana semacam ini? Tenda di mana-mana, berdiri di antara pepohonan. Sedikit menaiki tanjakan dari Pos 7, kami menemukan tempat datar terbuka. Dari sana pandangan ke arah timur terbentang luas. Kaki kami pun terhenti, tak mampu menolak godaan untuk mengabadikan detik-detik terjaganya penguasa siang.

Matahari perlahan terjaga. Langkah malu-malunya menebar semburat jingga pada cakrawala
Matahari perlahan terjaga. Langkah malu-malunya menebar semburat jingga pada cakrawala

 

Berhenti sesaat ini memperlebar jarak kami dengan teman-teman yang di depan. Tinggallah aku, Idha, dan Dafid sebagai tiga yang paling belakang.

Puncak Cikuray telah sarat manusia ketika kami tiba. Begitu padat tak ubahnya kerumunan penonton konser atau pengunjung pasar malam. Benarlah kata Hafit. Menuju puncak Cikuray sebaiknya pagi-pagi benar karena puncak pasti penuh dan kita akan kesulitan mencari tempat bila kesiangan. Kondisi yang kami hadapi membuat kami harus berdesak-desakan di antara lautan manusia untuk dapat mencapai posisi yang lebih tinggi.

Kami terus mendaki dan mendaki; Idha di paling depan, kemudian aku, disusul Dafid; sembari mencari-cari keberadaan teman-teman yang lain. Namun mereka sama sekali tak tampak. Hingga kami mencapai titik tertinggi Cikuray, di mana berdiri sebuah shelter. Atap datar shelter ini pun penuh manusia. Manusia-manusia yang tiap pasang matanya mengarah ke timur. Menanti.

Warna jingga merekah di batas cakrawala di seberang sana, menerangi lautan awan putih yang bergelombang lembut. Warna indigo langit luntur, memucat perlahan. Indah.

“Yang lain mana?” Dafid menoleh padaku.

Aku ingin berkata, ‘Nanti. Nanti kita cari mereka. You’ll miss the moment if you’re busy looking for them in this ocean of people.’ Tapi bibirku tetap terkatup rapat. Suara lain dalam diriku yang berkata, ‘You’ll miss the moment too if you are busy paying attention to the others’ seakan memaksaku bergeming. Suara yang sama juga pastilah yang membuatku menyingkirkan kamera agar perhatianku tak terbagi.

Jingga perlahan berubah menjadi kuning terang ketika matahari beranjak semakin tinggi. Saat itulah Idha mengajak kami untuk berpindah posisi. Menuju sisi barat puncak, kami menjumpai beberapa tenda. Dalam benakku timbul tanya, bagaimana rasanya menginap di puncak yang benar-benar terbuka seperti ini. Tanpa pohon untuk memperlambat laju angin. Tapi bisa menjadi yang pertama untuk mencari posisi terenak (mungkin di atap shelter) menyaksikan matahari terbit. Sisi barat puncak ternyata lebih lengang. Dari sisi ini Gunung Papandayan tampak membentang. Di sebelah kirinya, bayangan Gunung Cikuray yang mengerucut sempurna jatuh menimpa.

 

image

Aku dan Idha mengambil beberapa foto di sini. Sementara Dafid tampak tidak berminat karena menurutnya pemandangan di latar belakangnya kurang menarik. Kemudian kami memutari seantero puncak dengan harapan dapat bertemu dengan teman-teman yang lain. Namun hingga kami kembali titik asal, mereka tak tampak. Aku bersuara seperti bocah yang menangis dan berujar, “Mereka mana?” Idha pun menimpali dengan ekspresi senada. Suatu kondisi yang membuat Dafid merespon, “Eh… opo lho.” And that expression simply reminded me to my brother.

“Itu mereka!”

Ternyata ketujuh orang yang lain berada satu tingkat di bawah. Kami pun bergerak turun. Lengkap 10 orang, kami menghabiskan beberapa waktu berfoto-foto di tempat itu. Matahari sudah semakin tinggi. Cahayanya begitu terang hingga tampak putih.

DSCN0066

Ketika kerumunan memudar, kami kembali ke puncak. Idha yang telah siap dengan dress warna hitamnya berniat mengambil foto seluruh badan.

“Fotoin. Sampe bawah ya.” Dia menyerahkan ponselnya pada Dafid.

“Kamu mundur lagi ke belakang,” kataku menyarankan ketika bayangan Idha yang tertangkap oleh kamera ponsel tidak mencakup keseluruhan tingginya.

“Cukup mundur aja,” Dafid mengoreksi. “Karena mundur pasti ke belakang.”

“Kan pake majas pleonasme,” aku tak mau kalah. Dia tak berkata-kata lagi, hanya tersenyum dan kembali fokus pada modelnya.

image

Walaupun penuh orang, tetap saja suhu puncak Cikuray pagi itu mampu membuat rambut-rambut halus di lenganku berdiri. “Padahal jaketnya sudah dua, tapi masih aja dingin.” Aku memegang jaket Idha dan Robert sementara mereka asik berfoto.

“Karena dipakainya nggak properly,” Dafid berkomentar. Memang, kedua jaket tersebut hanya kusampirkan masing-masing ke bahu kanan dan kiri.

“Mmm… mungkin karena dinginnya bukan berasal dari luar, tapi dari dalam,” kataku mengacu pada pendapatnya yang selalu mengatakan bahwa aku ini orang yang dingin. Tapi dari tanggapan yang dilontarkan Idha, agaknya mereka menangkap lain maksudku.

Kami berpindah posisi. Mengambil beberapa foto dengan latar belakang dinding shelter yang bertuliskan “Cikuray 2821 mdpl”. Prosesnya cukup menyiksa karena di depan kami asap sisa api unggun membumbung.

Dingin. Padahal matahari sudah cukup tinggi, tapi dingin itu masih menggigit. Aku melihat Idha, berdiri tak jauh di belakangku. Serta merta aku melingkarkan lenganku ke tubuhnya, menyusupkannya ke balik jaket yang dia kenakan. Hugging her. She hugged me back.

“Kalau sama anak-anak BPI pasti sudah langsung pada ngumpul. ‘Yuuu… peluk peluk peluk.’ Karena mereka nggak ngeliat cewek cowok, tapi sudah dianggep keluarga aja gitu,” Idha berkisah.

“Kirain Sakura family sudah kayak keluarga juga.” Aku mengacu pada nama geng kecilnya semasa kuliah, di mana Adit dan Rifai menjadi bagiannya.

“Mereka si… pada jaim.”

Mata Dafid menangkap kami. Lalu dia mundur beberapa langkah.

image

Perut laparlah yang akhirnya membawa kami turun dari puncak. Begitu tiba di tenda, Idha segera mengganti dress-nya dengan kaus dan celana. Sementara itu, kami mulai menyadari absennya seseorang.

“Adit mana?”

Masing-masing celingukan. Tak ada tanda-tanda kehadiran Adit.

“Tadi dia di depanku.”

“Bukannya tadi dia sama kamu?”

Kebablasan? Atau jangan-jangan masih di belakang?”

Mosok ya kebablasan? Kan dia nggak paling depan to? Mestine kan liat kita di sini.”

Berbagai pertanyaan muncul dan alibi dibeberkan. Oke, jangan-jangan inilah jawabannya. Ada apa dengan Cikuray? Jangan-jangan inilah jawabnya. Aku mulai teringat segala kisah pendaki nyasar di Cikuray. Aku mulai cemas perjalanan ini akan berbuntut pada kisah yang tak menyenangkan. “Jangan-jangan di dalam tenda. Dha! Adit di dalam nggak?”

“Iya!” Aku terkejut. Sungguhkah?

Tenane?”

Iyo,” sahut Idha ringan seraya keluar dari dalam tenda.

“Beneran?” tanyaku pada sosok-sosok di dekatku.

“Nggak,” jawab Rifai. Matanya meneliti tenda yang kini kosong. Sepertinya Idha menganggap pertanyaan kami hanyalah satu gurauan yang lain. “Bablas berarti dia.” Oh, no

Tapi tak ada yang menyusul ataupun mencarinya. Kemudian sesi memasak dimulai dan orang-orang kembali sibuk. Saat aku berganti pakaian di dalam tenda, terdengar suara Adit. Rupanya dia memang melewatkan tenda dan terus turun hingga pohon tempat kami menunggu malam sebelumnya. Barulah dia tersadar kalau dia sudah melangkah terlalu jauh.

“Kan ada orang di sini. Masa nggak keliatan?”

“Nggak keliatan ok. Beneran.” Setidaknya kami sudah lengkap kembali.

image

image

image

image

image

Acara masak memasak semakin mendekati akhir. Tersisa kubis yang masih digoreng beramai-ramai.

“Coba ini jam berapa?” Dafid menyodorkan layar ponselnya pada aku dan Robert yang ada di dekatnya. “Tapi jangan liat yang ini.” Dengan ibu jari dia menutup bagian atas layar. Kini yang tampak di layar hanya serangkaian titik yang tersusun dalam beberapa kolom dan baris. Beberapa dari titik itu berwarna, sisanya hitam. Warna tersebut berpindah-pindah, bergerak dari satu titik ke titik lain. Pada beberapa kolom sebelah kanan, perpindahan terjadi dengan cepat. Pada kolom kedua dari kiri perubahan terjadi setelah jeda sekian waktu. Sementara kolom paling kiri cenderung statis.

“Ini apa sih?” tanyaku. “Morse?” Tepat ketika aku menutup mulut, aku menyadari kalau tidak ada garis di sana. Lalu apa? Braille? “Emm… ini 9.” Aku menunjuk titik-titik di kolom paling kiri. Bukannya aku mampu membaca titik-titik itu sih. Hanya saja aku baru melihat jam beberapa menit sebelumnya.

“Ya,” Dafid membenarkan. “Terus? Menitnya?”

Aku menyerah. Dafid menyebutkan menit yang ditunjukkan oleh titik-titik tersebut. “Bilangan biner,” terangnya. Ooh… Itu kan ilmu jaman SMP, yang tak berhasil kupahami. “Warna mewakili satu. Tanpa warna, nol.”

“Jadi kalian masih terus pake bilangan biner?”

Dafid menjawab singkat, “Nggak.”

“Ini sih pemrograman dasar banget,” Robert menambahkan.

“Gimana sih bilangan biner tuh? Sudah lupa.”

“Gimana ya?” Robert mencoba mengingat dengan terbata-bata. Kemudian Dafid menjelaskan dengan lancar dan gemilang. Tapi aku tetap tak mengerti.

Usai makan, kami memasuki agenda yang paling tidak menyenangkan dari serangkaian kegiatan naik gunung: packing. Ternyata bukan hanya aku yang tidak menikmati acara beberes-melipat sleeping bag-menggulung kembali tenda ini. Beberapa yang lain pun melontarkan komentar senada.

Semuanya baik-baik saja, awalnya. Aku ikut membongkar tenda; mencabut pasaknya dan entah bagaimana melewatkan sebuah padahal sebelumnya aku tak menemukan pasak yang masih menancap, melipat tenda… Mendadak knop mood-ku bergeser.

“Tiba-tiba bete,” gumamku. Dasar Cancer!

Dafid yang tengah melipat tenda denganku mendengarnya. “Bete. Butuh Teman. Berarti kamu nggak mengganggap saya teman?”

“Nggak.”

Asem ik.”

Nesu ok.”

“Nggak. Saya cuma mempraktekkan bahasanya orang Salatiga.”

Itu bukan bahasa Salatiga, gerutuku dalam hati. ‘Asem ik’ itu milik orang Semarang. ‘Ik” itu milik orang Semarang.

“Casper, beli rain cover Eiger berapa?” Robert berseru.

Waktu di Sikunir sudah nanya deh… Aku menggeleng. “Dikasih.”

“Mbaknya kan di-endorse sama Eiger,” celetuk Dafid. Aku tertawa. Itu bercandaan kami ketika di Dieng.

Selesai dengan tenda, giliran Adit yang tampak sibuk dengan sampah. Berplastik-plastik sampah yang kami hasilkan disatukan ke dalam trash bag kelewat besar. Ketika aku turut menata posisinya agar lebih mudah dibawa, Rifai datang dan mengeluarkan separuh sampah itu. “Dibagi dua aja,” katanya. Jadi aku membungkus sampah yang tersisa, bersama Adit mengikatnya menggunakan cable tie, dan mengaitkannya pada carrier Adit dengan karabiner yang telah kupersiapkan.

“Masuk sampahnya?” tanyaku, menghampiri Rifai yang tengah menutup carrier-nya.

“Sampahnya diambil lagi sama Fayumi kok.”

Adit kemudian menyampaikan hal yang sama. “Sampahnya dibawa aku sama Fayumi. Kita kan nggak bawa tenda.” Pernyataan sederhana yang membuatku semakin menyukai tim ini. Sekaligus semakin merasa bersalah dengan kekesalanku kemarin.

“Seringan bulu?” tanyaku pada Rifai begitu dia menyandang carrier-nya.

“Ha?” dia balas bertanya dengan wajah bingung.

Idha dan Dafid yang ada di dekat kami pun dengan baik hati menjelaskan maksudku. (“Bulu. Bulu. Carrier-mu itu lho sekarang apakah seringan bulu?“) Tapi tetap saja Ketua Paipala itu tak mengerti.

“Kalau kalian berdua mengerti dan cuma dia yang enggak, berarti yang salah bukan aku kan?”

“Kamu tu… coba memahami Mba Cas to Pai…”

Saat semua sudah siap, kami berdiri dalam lingkaran, mengucap doa sebelum memulai perjalanan turun.

image

Pukul 11 lewat 10 menit perjalanan turun dimulai. Karena perjalanan naik kemarin ditempuh dalam kegelapan, jalur tersebut kini terasa asing. Satu-satunya yang kurasa familiar hanya batang pohon melintang yang kemudian kami gunakan sebagai tempat berfoto.

Tidak seperti kata Rifai hari sebelumnya, menuruni Cikuray terasa menyenangkan. Berlarian pun masih bisa, meski dengan adanya akar-akar mencuat. Sekarang aku tahu kenapa banyak orang berlarian ketika turun gunung. Beban terasa lebih ringan ketika berlari. Menempuh turunan dengan perlahan memberikan tekanan yang lebih besar pada lutut. Itulah yang membuat lututku lemas hingga tak mampu lagi menopang pemiliknya dalam beberapa perjalanan turun gunung sebelum ini.

Di satu area yang cukup lapang, kami berhenti. Mengambil napas sejenak. Bersandar pada pohon sejenak. Sampai ada yang berkata, “Ayo jalan…”

Beberapa langkah berjalan, pemandangan yang timpang muncul di hadapan. Di sebelah kanan adalah jalan setapak, tanah coklat yang bersih. Sementara di sisi kiri adalah area tanah “berhiaskan” bungkus makanan di sana sini. Kentara sekali sebelumnya tenda-tenda berdiri di situ. Kakiku membawaku ke area itu. Aku mendengar mulutku berucap, “ Woaow…” Lalu terdiam.

Bimbang.

Aku berbalik. Menatap teman-temanku yang menapaki setapak satu demi satu.

Enam tahun lalu seseorang mencontohkan padaku untuk memungut tiap sampah di gunung, meski bukan kita yang menghasilkannya. Tapi di situlah aku. Hanya termangu kemudian berlalu tanpa melakukan apa-apa.

Berjalan terus ke bawah, kami akhirnya melewati pohon tempat kami menunggu semalam.

image

Tiga puluh menit lepas dari tengah hari kami tiba di Pos 3. Beberapa pendaki tampak sibuk berbenah dalam guyuran sinar matahari yang menerobos di sela-sela dahan.

“Cepet juga ya sudah Pos 3 lagi. Kemarin kita jam berapa sampai sini?”

“Setengah enam,” aku menyahut.

Tersisa 2 pos lagi. Menuju Pos 2, langkah terasa lebih santai. Kami berhenti sesekali untuk melemaskan kaki, menarik napas dengan lega, dan banyak kali untuk berfoto-foto ria. Kadang foto-foto itu adalah foto candid. Kadang model-modelnya cukup tanggap kamera untuk serta merta berpose. Dafid menepuk-nepuk carrier-ku ketika aku berhenti di sisi sebuah pohon sembari menunggu.

“Tertarik ngebawain?” kataku.

“Tertarik menarik.”

“Tertarik… menarik… itu kata dasarnya sama-sama ‘tarik’,” gumamku. Dan semakin dipikir, frasa itu semakin menarik.

Langkah kami kembali terhenti di area dengan satu sisi terbuka. Aku mengingat tempat itu. Sisi terbukanya yang memungkinkan cahaya matahari menerobos dengan bebas dan memamerkan pemandangan hamparan hijau langsung mencuri perhatianku. Sayangnya, dalam perjalanan naik kemarin, tempat ini terisi oleh sebuah tenda dan penghuninya yang sibuk memasak. Tapi kini aku bisa berjalan ke tepiannya dan menyaksikan lembah yang membentang di sisinya.

image

Kami berhenti cukup lama di sini, menunggu Rifai, Stefi, dan Kak Aya. Belakangan baru kuketahui kalau Stefi menghadapi masalah yang sama denganku. Lututnya mulai kepayahan menopang tubuh. “Untung ada Pai yang nemenin terus di belakang,” ujarnya penuh haru. Sementara itu, Amay yang tampak lelah, menyandarkan diri pada pohon lalu memejamkan mata.

Rifai datang dengan membawa kabar bahwa ada yang terkilir. “Maka-ne mas-e naik.”

Aku pun teringat pada sosok familir yang tadi sempat bertanya pada kami, “Sehat?” Setelah Rifai menceritakannya, aku baru menyadari kalau dia adalah orang yang kemarin bercanda bahwa kuota sudah penuh.

Adit, aku, dan Robert berada pada urutan paling depan ketika kami kembali bergerak. Pohon-pohon semakin renggang. Perlahan-lahan menghilang digantikan ilalang. Robert berbalik dan tersenyum, “Akhirnya keluar dari hutan.” Kami memutuskan untuk berhenti dan menunggu yang lain. Adit sendiri sudah jauh di depan.

Di tempat kami berhenti kali ini tampak pula pendaki-pendaki lain yang tengah beristirahat. Tempatnya cukup nyaman. Dengan absennya pohon, area pandang kami menjadi lebih luas. Hanya saja, ketiadaan pohon juga berarti tiupan angin yang lebih kencang dan ini berarti… dingin! Terlebih dengan kaus kami yang sudah basah. Jadi, tak lama setelah personel kembali lengkap, aku dan Robert memutuskan untuk kembali berjalan menyusul Adit yang sudah entah di mana serta Dafid yang sudah berjalan lebih dulu.

Medan sudah bukan lagi berupa tanah, melainkan pasir. Licin. Aku hampir terpeleset ketika berlari di lahan miring. Alih-alih berusaha mengerem, aku pikir lebih baik terus berlari sembari menyesuaikan langkah dengan kemiringan jalan hingga mencapai tempat yang datar. Gerumbul semak dan pepohonan kembali memenuhi sisi kanan serta kiri setapak. Namun tak lama padang ilalang kembali tampak di sisi kanan.

“Ayo, kita berhenti dulu. Sambil nungguin yang lain,” ajak Robert.

Tak disangka kami kembali bertemu dengan Adit dan Dafid yang juga tengah menyingkir ke sisi kiri jalan. Tempat itu sangat ideal untuk digunakan beristirahat. Teduh dan lapang.

image

Rombongan demi rombongan pendaki melintas. Masing-masing membawa kantung berwarna hitam berisi sampah. Satu rombongan bahkan setiap personilnya membawa kantung-kantung sampah besar nan penuh.

“Jangan-jangan mereka nge-camp seminggu.” Terdengar salah satu dari ketiga cowok di dekatku berkomentar. Yang ada dalam pikiranku malah, mungkin mereka mengadakan aksi bersih Cikuray.

Fayumi muncul dari antara gerumbul tanaman yang membentuk gapura beberapa menit kemudian. Dia bergabung dengan kami, mencari posisi yang nyaman, berbaring.

“Yuk! Nanti mereka dateng, berhenti lama lagi,” ajak Robert.

Aku pun telah siap untuk berjalan lagi. Namun Dafid menjawab, “Duluan aja. Saya mau menunggu sambil menikmati angin sepoi-sepoi.”

“Nanti berhenti lama lagi.”

“Ya… nanti aku ndelik di semak-semak. Pas mereka lewat, aku ngikut di belakang.”

Sementara sepasang sahabat itu bercakap, sebuah kesadaran menghentakku. Siapa coba yang pernah berkata ingin duduk-duduk di tepi Oro-oro Ombo, menikmati hembusan angin, belaian hangat matahari, dan membiarkan waktu berlalu tanpa mencemaskan apapun. Siapa coba yang selalu ingin mengalir bersama waktu dan bukannya berkejaran dengannya. Sekarang siapa yang begitu terburu-buru bahkan ketika waktu melangkah dengan tenang. Again, it’s my Judge character that took action, always keeping me focus on the goal and never enjoyed the process.

Oke, ini bukan Oro-oro Ombo, tapi ladang ilalang berwarna ungu dan bukit-bukit yang menjulang di sisi seberang sana tetaplah mampu memberikan kenyamanan pada penglihatan. Jadi, aku kembali menyandarkan beban tubuh pada bumi. Dan membiarkan waktu mengalir. Sementara itu, aku kembali mendengar Dafid berkata, “Pemandangan yang seperti ini entah kapan bisa menikmatinya lagi.” Yes, he was right. Nanti akan ada waktunya aku merindukan dan membutuhkan semua ini. Jadi, kenapa tidak menikmatinya sepenuhnya selagi bisa.

“Itu suara mereka,” celetuk salah seorang dari kami.

Aku pun mendengarnya. Suara yang familiar. Seperti suara Idha… atau Amay. Namun sosok yang dinanti-nanti tak kunjung muncul. Sementara suara-suara itu kembali terdengar. Kami kemudian berhipotesa bahwa mereka juga sedang beristirahat. Kami hanya terpisah semak-semak.

“Foto nggak, Fid?” Robert menawarkan. Dia sendiri dan aku sudah asik bergaya sebelumnya.

“Sedang tidak mood untuk foto.” Dafid beranjak. Berjalan beberapa langkah. Mengeluarkan Snickers. Menawarkan pada kami. Mengambilnya kembali dengan galak.

Nesu ok,” komentarku.

It was mine. I just take it back,” dia berkilah.

“Tapi minta laginya gitu…”

“Iya, nggak dengan sopan…” Robert menyatakan sependapat denganku.

“Ayo. Saya sudah mood untuk foto sekarang.”

“Jadi, tadi nggak mood karena laper?”

“Nggak,” kembali dia mengelak.

image

“Loh? Ternyata pada nungguin di sini,” Idha muncul dengan gegap gempita. “Padahal kita santai-santai di sana loh.”

“Iya. Tahu. Suara kalian kedengaran kok,” kata Adit.

“Suara-ne Amay meneh. Nek ngguyu,” imbuh Robert.

Mosok?” Yang disebut merasa tidak terima. “Coba aku tanya Mba Casper. Mba Casper, apa iya suara ketawaku kedengaran sampe sini tadi?” Aku mengiyakan. Amay tertawa.

Kami kembali menempuh sisa perjalanan. Pemancar mulai tampak di ujung jalan.

image

Tiba kembali di Pemancar, Idha, Stefi, Kak Aya, dan aku menyerbu kamar mandi. Antreannya cukup menguji niat. Aku mulai ragu-ragu. Idha yang paling depan di antara kami berempat harus mengantre sekitar 3 orang. Dia dengan Stefi terpaut 4 orang. Setelah itu baru Kak Aya dan aku. Jam saat itu sudah bergerak menuju pukul setengah empat. Otakku mulai menghitung. Kami bisa berangkat dari sini setidaknya pukul 4. Dengan demikian, tiba di Terminal Guntur pukul setengah 6. Masih cukup sore untuk mengejar angkutan apapun. Apakah bisa dalam waktu sekitar 30 menit antrean ini habis dan aku mendapat giliran?

Rifai yang menyusul kami pun akhirnya pergi lagi melihat antrean yang panjang. Ketika melihat Idha masuk ke bilik paling ujung, aku mengurungkan niat. Kalau kami bisa tiba di Terminal Guntur cukup sore, aku bisa meminjam toilet di Alfamart lagi, pikirku.

Ternyata Rifai dan Adit pergi mencari toilet lain yang available. Hanya ada Amay, Robert, Dafid, dan Fayumi bersama carriers kami. Kak Aya juga rupanya menyerah dan mengikuti jejakku meninggalkan toilet.

Mungkin karena perut yang belum diisi dan tubuh yang lelah, tiupan angin di Pos Pemancar ini terasa begitu dingin. Bahkan lebih dingin daripada di hutan maupun puncak Cikuray. Ditambah lagi cahaya matahari perlahan menghilang.

“Beli batagor yuk,” Amay berusul. Warung-warung di sekitar pun akhirnya berhasil juga menarik minat kami. Berempat; aku, Amay, Kak Aya, dan Stefi yang telah kembali dari toilet; memesan batagor. Anehnya, Idha belum juga kembali.

Anak itu baru muncul ketika kami sedang menunggu pesanan batagor disiapkan. Rifai dan Adit menyusul kami, tampak segar sehabis mandi, turut memesan batagor. “Itu kamar mandinya kosong kok sekarang,” Rifai memberitahu.

Spontan aku mengintip ke arah toilet yang memang tampak dari sisi warung. Kosong. Tanpa antrean satu orang pun. Segera aku berlari menuntaskan niat yang tertunda.

Lega dan bahagia, aku kembali, menjumpai Idha yang duduk bersandar pada dinding. “Mbak, tadi aku pingsan di kamar mandi.” Ha?

“Pantesan Stefi sudah keluar kok kamu belum keluar-keluar.”

“Iya. Tadi kayaknya ada deh. Sekian detik gitu. Aku nyandar ke dinding kan, terus tahu-tahu sudah di bawah.” Angka sekian detik ini, ketika kemudian kami telusur lebih lanjut berubah menjadi sekitar 45 menit.

Datanglah Rifai, membicarakan pick up yang kami gunakan untuk menuju terminal.

“Yok,” dia mengulurkan tangan mengajak Idha.

“Apa?”

“Yok. Nawar pick up.”

“Kalian ajalah. Aku masih lemes.”

Proses mencari pick up ini berlangsung pelik (dan tidak memungkinkan untuk menawar karena semua sudah dipatok dengan harga Rp 45.000,-, terlebih lagi juru bicara kami sedang tidak dalam kondisi yang fit untuk menunjukkan taringnya). Awalnya sebuah truk kecil ditawarkan pada kami. Namun entah bagaimana, sarana transportasi tersebut justru digunakan oleh rombongan lain yang jumlahnya lebih besar.

Pada akhirnya, Robert yang mengurus perihal pick up ini karena Bahasa Sundanya cukup baik. Sementara Rifai merasa tidak mampu berkata-kata menghadapi para Mang-Mang pick up dan aku sibuk melahap batagorku.

Pukul 5, pick up yang kami tumpangi bergerak meninggalkan Pos Pemancar. Lima belas orang beserta 15 carriers mereka dijejalkan dalam satu pick up. Untuk menghemat tempat, pintu bak dibuka setengah, carriers ditumpuk rapi di sana kemudian diikat kuat-kuat. Sementara para pemiliknya menempatkan diri masing-masing, mencari posisi ternyaman yang mungkin didapat. Beruntung, pemandangan sepanjang jalan dan obrolan penuh tawa yang berlangsung mampu menarik perhatian dari ketidak nyamanan.

Geus itu sudah.” Kali itu bahasannya adalah Bahasa Sunda.

“Kok mesti ono kajian bahasa to tiap munggah gunung?” celetuk Amay. “Gara-gara Ipid ki kayane.”

Aku menyatakan sependapat. Di pihak lain, yang disebut namanya tidak merasa demikian, “Loh? Kok aku?”

Kalau dipikir-pikir memang iya sih. Kajian bahasa sejauh ini terjadi 2 kali, di Prau dan Cikuray. That has shortlisted the suspect number. Dafidlah yang doyan membahas dialek lokal. Dialah yang berkata, “Yang paling nggak aku ngerti itu kalimat ‘Kamu ndak meh makan?’ Kalau di Malang, meh itu artinya hampir.” Ekspresi ‘piye jal?’ yang semula biasa saja pun menjadi topik tersendiri di tangan Dafid. Belum lagi sejumlah dialek lokal yang lain. Dia satu-satunya yang kerap menggunakan bahasa khas tempat asal. But that’s what made the trip more fun. For me.

Mendekati gapura Dayeuh Manggung, 2 orang bocah kecil melambai dari halaman rumah mereka di sisi kiri jalan. Senyum mereka ceria. Ucapan perpisahan mereka terdengar lantang gembira, seolah menyisipkan pesan, “Datang lagi ya!”

Pulang

Matahari telah berganti shift dengan bulan saat sopir pick up menginjak rem dan mobil berhenti di depan Terminal Guntur. Perpisahan sesi 1 terjadi. Adit, Fayumi, Dafid, dan Kak Aya, masing-masing harus mengejar bus yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan masing-masing.

Aku dan 5 orang yang lain pun bergegas mencari elf untuk mengantar kami ke Terminal Leuwi Panjang. Namun, sepanjang jalan hanya bus-bus menuju Terminal Cicaheum saja yang ada. Terbersit ide untuk menggunakan jasa bus dengan jurusan ini saja. Namun terdengar suara tidak setuju karena itu berarti kami harus menempuh satu perjalanan panjang lagi menggunakan angkot untuk menuju Leuwi Panjang. Well, aku sebenarnya juga enggan menempuh rute yang demikian, tapi alternatif lain yang kami miliki adalah menunggu elf Leuwi Panjang yang kemungkinan besar sudah tidak ada lagi malam itu.

“Nanti turun di Cileunyi, terus naik elf lewat tol,” suara seorang ibu yang menjelaskan kepada sebagian dari kami menyadarkanku.

Benar juga! Kami kan tidak harus turun di Cicaheum. Informasi ini bagaikan angin segar yang membangkitkan semangat. Kami pun sepakat mengikuti anjuran ibu itu.

Dengan carrier tersandang di bahu, kami naik ke bus. Jarak antar tempat duduk di bus itu sangat hemat. Rasanya sudah tidak ada ruang lagi untuk bergerak begitu aku duduk dengan carrier dalam pangkuan. Kepala pun hanya dapat menoleh ke satu arah. Belum jauh bus berjalan, kami sudah menemui macet. Perjalanan ini akan terasa sangat panjang, pikirku. Aku memutuskan tidur untuk membunuh waktu. Sebelum rasa sesak napas itu datang karena ruang gerak yang sempit.

Beberapa kali aku terbangun. Kehilangan orientasi lokasi. Pemandangan yang kujumpai tak berubah. Antrean panjang kendaraan bermotor aneka jenis.

“Mba Cas, masih punya air?” Stefi yang duduk di belakangku bertanya.

Aku mengangkat sedikit carrier-ku agar dia dapat menjangkau selang water bladder yang terpasang di sana. Rupanya Stefi, Amay, dan Rifai menderita kekeringan. “Kami sudah dehidrasi,” menurut penuturan Rifai. Dengan keringat membasahi wajahku, beruntung aku tidak mengalami hal yang sama.

Betapa leganya ketika terdengar suara kondektur bus menyerukan, “Cileunyi! Cileunyi!”

Begitu kaki kami menginjak aspal lagi, Rifai menyampaikan salam perpisahan. Ini adalah kedua kalinya aku berpisah dengan Rifai di Cileunyi. Selalu ada rasa tidak nyaman yang menyusup. Dalam dua kesempatan ini, perjalanan Rifai selanjutnya selalu diwarnai ketidak pastian. Yang kali ini bahkan benar-benar tidak pasti. Terlebih lagi, melihatnya mengambil arah yang berbeda seorang diri, mengingatkanku pada diri sendiri. Bagaimana dalam banyak kesempatan, aku selalu melangkah sendiri.

Elf yang akan membawa kami ke Terminal Leuwi Panjang telah sedia di mulut tol. Aku sudah begitu tidak tenang menanti sang sopir elf menginjak pedal kopling dan menggerakkan tuas persneling. Aku ingin bertemu kamar mandi. Aku ingin bergumul dengan tempat tidur dan selimutku. Betapa bahagianya ketika 15 menit berlalu dan roda-roda elf mulai berputar, membawa kami memasuki tol.

Empat puluh lima menit kemudian kami tiba di Terminal Leuwi Panjang. Stefi memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan kembali ke kost-nya di Cimareme alih-alih mengikuti langkah Idha yang menginap di kost-ku. Kami berpisah jalan. Rombongan semakin susut saat Amay dan Robert pun turut mengucapkan perpisahan.

Sudah hampir tengah malam ketika aku menutup jendela kamar, siap untuk tidur (tentu saja sudah bersih dan wangi). “Sekarang aku tahu ada apa dengan Cikuray,” kataku pada Idha ketika kami berguling di tempat tidur malam itu.

“Apa?”

“Kamu pingsan.”

Kami tertawa.

Sekitar pukul 1 pagi Adit mengabarkan bahwa dia dan Fayumi sudah tiba di Cikampek. Disusul kabar serupa dari rombongan Jakarta, Dafid dan Kak Aya, dua jam kemudian. Yang terakhir tiba di rumah adalah Kakak Senior Rifai, 24 jam kemudian.

***

Satu lagi perjalanan diselesaikan. Satu lagi memori digoreskan. Satu lagi kenangan yang akan menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan.

"Sebelum waktu memisahkan detikku detikmu. Sebelum dewasa, menua memisahkan kita." -So7- (Photo taken by Mas-yang-lagi-istirahat-deket-TKP)
“Sebelum waktu memisahkan detikku detikmu. Sebelum dewasa, menua memisahkan kita.” -So7- (Photo taken by Mas-yang-lagi-istirahat-deket-TKP)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: