Tenda Curhat

“Sin, kosong nggak besok?”

“Kosong. Kenapa?”

“Temani aku yuk. Ke Papandayan.”

“Kok tiba-tiba?”

“Butuh udara segar nih… Kangen juga guling-guling di Tegal Alun.”

“Siap. Siap. Sinta siap menemani!”

 ***

Gunung Papandayan yang hanya 3 jam dari Bandung selalu jadi favoritku. Selain karena letaknya yang dekat, medan gunung itu juga memanjakan. Tak ada tanjakan yang terlalu terjal, tak ada tangga batu yang menyiksa kaki, bahkan tak ada puncak yang kerap membangkitkan ambisi untuk jadi yang paling superior.

Hari Sabtu, pukul 10.30, 13 jam setelah Sinta mengiyakan ajakan mendadakku melalui messenger, aku tengah terombang-ambing di atas ojek. Kendaraan beroda dua yang membawa aku dan Sinta menuju Camp David, base camp Papandayan, itu bergerak naik-turun seiring kontur permukaan jalan yang dihiasi banyak lubang. Aku mencengkeram pegangan logam di sisi tempat duduk penumpang erat-erat, berdoa agar tidak terlempar atau merosot di jalan yang terus menanjak itu.

Ojek Sinta tiba lebih dulu. Ekspresi wajahnya bagai baru saja turun dari roller coaster. Tapi dia berseru riang ketika melihatku turun dari ojek. “Camp David!!” Mau tak mau aku ikut tersenyum melihat wajah bahagianya.

Camp David dipenuhi mobil yang berjajar. Di sana sini tampak kerumunan pendaki yang tengah bersiap; melakukan packing ulang atau mengisi perut. Padahal tak sampai 2 tahun lalu tempat ini masih lapang. Mobil-mobil yang bertandang hanya beberapa gelintir mobil bak terbuka yang mengantar atau menjemput pendaki. “Camp David sudah berubah banyak ya,” Sinta menyuarakan pikiranku.

Aku mengangguk. “Ayo kita langsung naik saja,” ajakku. Semoga di Pondok Saladah nanti tidak seramai dugaanku. Bukan keramaian yang kucari. Bukan itu alasanku “menculik” Sinta akhir pekan ini.

Setelah berdoa, kami mulai menyusuri jalan berbatu. Pemandangan kami mulai didominasi warna putih kekuningan khas belerang dengan aksen tumbuhan hijau di beberapa tempat. Bau belerang yang berasal dari kawah sesekali menyapa indera penciuman. Samar-samar aku mendengar Sinta bercerita; tentang teman-teman di kantornya, tentang anak baru di divisinya, tentang teman-teman kuliah kami. Sementara itu, pikiranku melantur, melayang kembali pada kejadian 15 jam lalu.

Pemandangan kami mulai berganti. Tanah berlapis belerang kini menjadi lahan gembur. Tampak Cantigi tumbuh meninggi di banyak tempat, bahkan membentuk kanopi yang menudungi salah satu setapak. Sebuah sungai yang tak terlalu lebar melintang pada jalur, membuat kami harus melompat dari batu ke batu jika tak ingin basah. Tak lama padang rumput membentang di depan kami. Jika terus ke sana, kami akan mencapai Tegal Panjang. Namun Pondok Saladah yang kami tuju mengharuskan kami berbelok arah ke kiri.

“Selamat datang di Pondok Saladah!!” Sinta berseru ketika warna-warni tenda mulai tampak di depan kami. Ternyata ramainya Pondok Saladah tidak seperti dugaanku. Namun jauh lebih ramai. Pupus sudah harapan untuk menikmati damai dan tenangnya alam. Gagal sudah misi melarikan-diri-dari-kenyataan-ku. Untuk mencari tempat mendirikan tenda saja kami harus berjalan mengitari seluruh Pondok Saladah. Akhirnya kami menemukan tempat di antara pepohonan. Satu area yang tak terlalu luas tapi cukup itu bersih dari akar dan bebatuan.

Selama setengah jam kami berkutat membangun tenda, membongkar isi carrier, dan menatanya dalam tenda. Usai itu, segera saja sebungkus nata de coco dan sari buah dibuka. Kenikmatan yang dihasilkan barangkali bagaikan seteguk air di padang gurun. Beruntung, rindangnya dahan melindungi kami dari panas matahari yang mulai terik.

Semakin sore semakin banyak pendaki yang tiba. Semakin banyak pula tenda yang dibangun. Celoteh memenuhi udara. Suara derap langkah, suara denting panci, bahkan suara petikan gitar. Ini sama sekali bukan yang kuharapkan.

Bahkan hingga malam menjelang keadaan tak banyak berubah. Riuhnya suasana masih terasa. Bahkan beberapa orang bertingkah sangat norak dengan berseru-seru menirukan suara serigala. Aku merasa seperti di pasar malam alih-alih di tengah alam.

“Aku bisa mengambil cuti Selasa dan Rabu besok,” ujar Sinta tiba-tiba. “Lalu kita bisa pergi ke gunung mana yang kau mau. Mungkin ke sini lagi atau…” dia mengangkat bahu, “manapun. Yang kau mau,” tambahnya.

Aku hanya menatapnya. Bingung dan terkejut. Dia seperti selalu mampu membaca pikiranku. Bahkan isi hatiku. Mungkin dia memperhatikan aku yang terus menatap nanar ke atas, kepada rimbun dedaunan yang menghalangi pandanganku dari taburan bintang. Mungkin dia juga memperhatikan wajah masamku tiap mendengar suara-suara gaduh di luar sana. Bahkan mungkin dia sudah memiliki sederet hipotesa sejak aku mengirimkan pesan itu semalam karena matanya menyiratkan pertanyaan, “Dari apa kau melarikan diri?”

Pipiku basah.

Kepedihan yang mengalir dalam diam itu berubah menjadi sedu sedan dalam hitungan detik. Sinta meraihku dan membiarkanku menangis di pelukannya. Aku membebaskan semuanya; serpih-serpih hati yang melukai rongga dadaku, rasa kecewa, dan harapan yang jadi debu.

“Aku nggak akan pergi,” kataku dengan suara sengau. “Ibu melarangku. Ayah pun.”

Sinta ternganga. Berulang kali bibirnya membuka dan menutup seperti ingin mengatakan sesuatu namun urung. “Kau sudah mempersiapkan segalanya,” jeritnya akhirnya.

“Aku tahu. Ini bukan tentang segala usaha yang sudah kulakukan. Atau waktu. Atau biaya. Ini tentang mimpi yang padam. Tentang harapan yang gugur.” Aku menelan ludah. Sakit. Semua kata-kata ibu dan ayah di telepon masih terngiang.

Perjalanan solo adalah sesuatu yang kuimpikan sejak dulu. Setahun lalu aku mulai mempersiapkan perjalanan ini. Perjalanan yang sedianya akan terjadi minggu depan. Rencana perjalanan kususun detail. Aku bahkan mempelajari bahasa lokal tempat tujuan. Aku menggali banyak pengetahuan mengenai tempat itu. Namun ijin orang tua tak kunjung kukantongi. Meski aku telah menunjukkan betapa aku siap.

“Masih ada 5 hari… 4 hari lagi. Setelah kita turun dari sini, kau masih bisa membujuk mereka. Aku akan membantumu. Aku tahu bagaimana persiapanmu selama ini. Aku sering melakukan perjalanan denganmu, aku tahu seperti apa kau. Aku akan berusaha meyakinkan mereka.”

“Tapi…”

“Ayo… Jangan menyerah sampai akhir.”

“Selama ini kau berjuang seorang diri. Tapi kalau aku ikut membujuk mereka, siapa tahu berhasil,” Sinta menambahkan dengan senyum lebar penuh percaya diri.

Senyum itu menular padaku. Rasa percaya dirinya turut menular. Ya, masih ada beberapa hari lagi. Aku tidak seharusnya menyerah sekarang.

Aku mengangguk padanya. Aku menempuh 3 jam perjalanan ke luar kota dan mendaki gunung selama 2 jam untuk mencari damai dan menenangkan hati. Namun ternyata damai itu kutemukan dalam sosok teman seperjalananku, sahabatku, yang telah bersamaku sejak awal.

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: