Sang Penjaga

3 Kata 1 Cerita #2

Words from Ci Cindy: Jamban. Kebelet. Bau.
—————–

Napas Melisa memburu. Jantungnya berdetak tak karuan. Ketakutan membuatnya frustasi. Dia terisak. “Wah… wah… Lihat siapa yang menangis.” Sosok di seberang Melisa menatapnya dengan mata berbinar. Bahkan mata itu menyiratkan kemenangan. “Melisa yang populer. Murid paling pintar di sekolah. Kesayangan guru. Siswi paling cantik dan sempurna. Kira-kira apa yang membuatnya meneteskan air mata di tengah kehidupan yang sempurna itu?” Si pemilik suara kini bergerak ke arahnya. Setiap langkah kakinya terdengar berkali-kali lebih keras dalam toilet yang kosong. Tubuh Melisa gemetar. Pandangannya terpaku pada pisau dalam genggaman sosok itu.

“Apa karena benda ini?” Sisi tajam pisau itu kini menyentuh pipi Melisa. “Mungkin primadona sekolah ini takut kecantikannya hilang. Mungkin dia cemas teman-teman pelacurnya akan meninggalkannya.” Orang itu menurunkan pisaunya, menelusuri leher Melisa. “Tapi jangan khawatir, itu tak akan terjadi,” dia menyeringai, “karena aku sudah membereskan mereka. Bahkan orang tua si tolol Rebecca itu mungkin tak akan bisa mengenali wajahnya.”
Melisa terbelalak. Gadis di hadapannya benar-benar tidak waras. Dia ingin menjerit, memaki, tapi lidahnya seperti tak mampu berkata-kata. Paru-parunya bahkan terasa berat untuk bernapas.
Gadis itu mengangkat dagu Melisa dengan ujung pisau, membuat darah mengalir menuruni permukaan logam itu. “Temanmu itu barangkali sudah belajar untuk menjaga kata-katanya. Tapi sayang, dia tak punya kesempatan untuk membuktikannya.” Dia mengangkat bahu dengan acuh.
“Kenapa?”
Tatapan gadis itu berubah tajam. Wajahnya mengeras. “KENAPA?!” serunya seraya menjenggut rambut Melisa kemudian menghempaskan kepalanya ke lantai. Denyut menjalar ke seluruh kepala Melisa ketika keramik menyambut tengkoraknya. Pedih menusuk matanya hingga dia tak mampu membuka kelopaknya. Namun Melisa dapat merasakan napas teman satu sekolahnya itu ketika dia berbisik di wajahnya. “‘Kenapa’ kau bilang? Apakah gadis-gadis seperti kalian memang seperti itu? Begitu saja melukai perasaan seseorang lalu melupakannya?”
Denyut di kepalanya mulai memudar. Susah payah Melisa membuka mata. Sosok itu kembali tampak olehnya. Kemarahan tergambar jelas di wajahnya. “Sonya…” rintih Melisa. Dalam hitungan detik sepasang tangan menyambar krah kemejanya kemudian mendorongnya dengan keras ke dinding diiringi teriakan, “Beraninya kau menyebut namaku!” Melisa merasa tubuhnya remuk. Dia bertanya-tanya apakah sekarang penderitaannya sudah berakhir.
Tapi dia masih dapat mendengar jeritan-jeritan Sonya. “Teman bodohmu itu memuji betapa cocoknya kau dengan Ben.” Sonya bergidik. “Menjijikkan.”
“Aku menyukai Ben selama bertahun-tahun. Menjaganya. Melindunginya bocah-bocah tengil yang mengganggunya. Aku bahkan melakukan apa saja untuk tetap bersamanya. Mendaftar ke SMP di mana dia mendaftar. Berusaha diterima di SMA di mana dia diterima. Aku selalu ada untuk Ben. Kemudian kalian datang.” Sonya mengarahkan pisaunya pada Melisa. “Mengganggu dan menggoda pangeranku! Merayunya dengan tawa genitmu. Menempel padanya ke manapun dia pergi. Tentu saja aku tidak bisa tinggal diam.”
“Dan sekarang tiba giliranmu,” seringai Sonya kembali muncul, “untuk mendapat pelajaran dariku.” Diraihnya rambut Melisa lalu menariknya ke salah satu bilik toilet. Dengan kasar dia memasukkan kepala gadis itu ke air yang menggenang dalam jamban. Melisa meronta namun tenaganya sudah habis. Perlawanannya tak berarti.
Ketika akhirnya Sonya menarik kepalanya keluar dari air, gadis itu gelagapan, meraih udara banyak-banyak ke dalam paru-parunya. “Aku ingin tahu,” Sonya berjongkok di hadapannya, “segenit apa mulut ini mampu tertawa setelah aku membenahinya.”
Napas Melisa tercekat menyadari apa yang akan dilakukan Sonya. Pisau itu kini berada di sudut bibirnya. Detik berikutnya dia merasakan nyeri yang amat sangat. Cairan hangat mengalir menuruni lehernya. Berakhir. Dia hanya ingin ini berakhir. Tak peduli bagaimana.
Sonya tampak mengucapkan sesuatu dilihat dari bibirnya yang bergerak-gerak. Namun otak Melisa tak lagi mampu mencerna apapun. Sesuatu yang berwarna perak dan merah tua mendekat ke matanya. Berikutnya hanya sakit luar biasa dan gelap. Tubuhnya ambruk. Bau besi dan garam adalah yang terakhir dihirupnya sebelum kehampaan membekap.
“Kuharap sekarang kau mengerti,” dengan ibu jari dan telunjuk Sonya menyusut darah dari pisau, “kalau,” dia bangkit, “Ben hanya milikku seorang.” Diinjaknya bola mata Melisa yang menggelinding dekat kakinya kemudian berlalu meninggalkan tempat itu dengan senyum puas.

“Ben, aku ke toilet dulu ya. Kebelet nih.”
“Oke, Dan. Ketemu di tempat parkir ya.”
Mereka berpisah jalan. Sementara Daniel berbelok ke lorong yang menuju toilet, Ben menuruni tangga menuju tempat parkir. Jam sekolah berakhir 2 jam lalu. Hanya saja Ben dan Daniel tetap tinggal untuk memyelesaikan tugas kelompok mereka. Di sepanjang lorong tak tampak kehadiran siswa lain. Tiba-tiba telinga Ben menangkap suara langkah kaki. “Cepat sekali, D…” Bukan Daniel yang tampak olehnya ketika berbalik, tapi seorang siswi. Tubuhnya terbungkus jaket dan celana training yang merupakan seragam olahraga mereka. Ben mengenali sosok gadis itu. Mereka satu sekolah sejak SD. Gadis itu tersenyum lebar. Senyum yang entah bagaimana membuat Ben merinding. “Kau tidak perlu cemas lagi, Ben,” ujar gadis itu kemudian berlalu, mendahului Ben turun tangga.
Belum sempat Ben bertanya apa maksud gadis itu, suara langkah lain muncul di lorong. Kali ini terdengar tergesa. Daniel muncul di puncak tangga, wajahnya pucat pasi.

–E.N.D–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: