Posted in celoteh, fantasy, fiction

Si Penebar Embun

3 Kata 1 Cerita #1

Words from Idha: Embun. Senja. Rindu.

—————

Cyl menghembuskan napas keras-keras. “Aku bosan!” serunya. Angin yang bertiup membawa kata-kata itu melayang di udara. “Aku muak menebar embun setiap pagi. Aku muak bangun pagi-pagi buta, meminta labu penuang pada Paman Lorse tua yang pemarah, lalu melayang di atas dedaunan hingga sinar matahari pertama mencapai bumi. Rasanya selalu sama. Dingin dan mengantuk. Aku benci melakukan semua itu, Sylko.” Makhluk kecil berukuran sekepalan tangan dengan sayap jala-jala mengangguk pengertian di sisi kepala Cyl.

“Aku ingin seperti Myrt dan Dern dan Purr dan Lynn dan… ahhh, pasti menyenangkan sekali menjala senja. Menangkap cahaya mentari dan mewarnai angkasa. Tidak ada bangun pagi. Tidak ada menunggu sambil diterpa angin dingin. Dan yang paling menyenangkan, tak ada paman tua tukang ngomel itu. Kau tahu kan Sylko, Bibi Zuu itu baik sekali. Dia bahkan tidak marah ketika Pepy tak sengaja membuat jalanya robek.” Kembali gadis kecil dengan rambut merah menyala itu membuang napas keras. “Tapi aku tak akan bisa seperti mereka.” Sylko berhenti mengepakkan sayapnya dan hinggap di bahu Cyl, tangan-tangan mungilnya mengusap pipi Cyl, berusaha menghibur. Bulu-bulu biru-kehijauan Sylko yang menutupi sekujur tubuhnya terasa lembut di kulit Cyl.
“Seandainya Ratu… Aku tahu!” Tiba-tiba gadis itu menegakkan punggung, serta merta membuat Sylko terkejut dan terpental dari pundaknya. “Aku akan memohon pada Ratu Merlych agar menugaskanku menjala senja. Gadis itu pun berlari riang menemui Sang Pemimpin. Terbayang olehnya melayang bersama angin sepoi dan mengendarai awan kemudian melukis di langit bersama teman-temannya.
Ratu Merlych adalah seorang anggun dan bijaksana. Dia mengatur seluruh NareLand dan bersama penduduknya memastikan alam selalu berhias setiap hari. Menebar embun, menjala senja, meluncurkan hujan… semua itu tak lepas dari bantuan angin dan awan. Hari itu angin yang berhembus menyampaikan sesuatu pada pendengarannya. Bibirnya menampilkan senyum ketika memahami apa yang terjadi. Tak lama suara yang telah dikenalnya memantul pada dinding-dinding kediamannya.
“Ratuuuu… Ratu Merlych, Cyl mohon ijin menghadap.” Cyl membungkuk di hadapan Ratu Merlych.
“Ada apa, Cyl?” Suara Ratu Merlych terdengar ramah dan tegas di saat bersamaan.
“Ratu, ijinkanlah Cyl untuk menjala senja.”
“Apa yang membuatmu ingin menjala senja, Cyl?”
“Cyl…” Gadis itu terdiam. “Cyl…”
“Apa kau bosan menebar embun?”
“Ng… Ya, Ratu. Cyl bosan menebar embun.”
“Apa menurutmu menjala senja lebih menarik?”
“Em,” dengan mantap Cyl mengangguk. “Pasti menyenangkan mewarnai langit.”
“Baiklah, kau boleh menjala senja mulai hari ini.”
Mulut Cyl ternganga oleh senyum lebar. Matanya berbinar.

Sudah seminggu Cyl menjala senja. Dia bisa berangkat dan bangun tidur sesuka hati. Tak ada yang menggerutu bila dia datang terlambat beberapa detik untuk mengambil perlengkapan. Dia pun tak perlu merasa kedinginan lagi. Matahari sore hari selalu hangat dan angin berhembus lembut. Tapi hari itu, usai menjala senja dan mengembalikan jalanya pada Bibi Zuu, Cyl kembali duduk termangu. Matanya memandang jauh ke langit gelap di mana bintang-bintang berkedip jahil.
Sylko hinggap di pundaknya, menyentuh pipinya Cyl, memberinya tatapan yang bertanya, “Apa yang kau pikirkan?”
“Ini aneh, Sylko. Aku kira aku akan sangat bahagia menjala senja. Oh, bukannya aku tidak bahagia. Aku senang. Aku menikmatinya. Tapi… aku selalu merasa sedih ketika sinar terakhir matahari hilang ke balik bayang-bayang. Oh, bintang-bintang dan bulan tampak cantik, tentu saja. Tapi…” Cyl menumpukan dagunya pada lutut. “Kurasa aku rindu menebar embun. Aku rindu melihat cahaya mentari pertama menggapai bumi. Dan anehnya, aku rindu pada Paman Lorse. Aku ingin kembali menebar embun, Sylko.” Cyl terisak.
Sylko mengepakkan sayapnya dan melayang di depan wajah Cyl. Ekspresinya berkata, “Kau harus memohon pada Ratu Merlych agar dapat kembali menebar embun.”
“Tidak, itu akan sangat konyol.”
Sylko memutar matanya. “Ini bukan waktunya untuk mementingkan gengsi.”
“Bagaimana kalau Ratu Merlych marah dan menganggap aku main-main dengan tanggung jawab ini?”
Sylko mengangkat bahu. “Kau tak akan pernah tahu kalau hanya terus bertanya-tanya di sini.”

Cyl melayang bersama angin pagi yang menggigit. Di tangannya, labu penuang mengucurkan embun ke dedaunan. Sylko melayang di sisinya, matanya hanya berupa celah sempit, berat oleh rasa kantuk. Tapi Cyl merasa segar pagi itu. Setiap kali setetes embun menimpa sehelai daun, jantungnya berdetak keras, bibirnya mengembangkan senyum. Dalam hati dia bertanya-tanya bagaimana dulu dia bisa tidak menyadari indahnya embun yang memercik pada dedaunan. Sementara itu di ufuk timur, semburat jingga merayap perlahan, mengintip, memastikan apakah sudah tiba waktunya untuk menampilkan diri. Dan Cyl menyambutnya dengan gembira, cahaya pertama yang lama tak dijumpainya.

— E.N.D —

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s