Posted in celoteh, life, romance

Pilihan

“Maukah kau tuk menjadi pilihanku
Menjadi yang terakhir dalam hidupku
Maukah kau tuk menjadi yang pertama
Yang slalu ada di saat pagi ku membuka mata”

Sepenggal lirik lagu berjudul “Pilihanku” milik Maliq & d’Essentials tersebut pernah mencuri hati saya. Membuat saya manggut-manggut dan terpesona akan keromantisannya. Sampai saya menyadari bahwa menjadi pilihan bukanlah hal yang romantis.

Menjadi pilihan berarti berada di antara jajaran satu bahkan lebih orang lain dan kemudian kamu dinilai sebagai yang paling baik, paling layak.

Ini tidak hanya berlakudalam hal pasangan, tapi juga teman. Saya pernah menjadi pilihan (atau yang saya rasa lebih tepat disebut sebagai cadangan). Begini, ketika seseorang atau sekelompok orang merencanakan liburan, dia atau mereka mulai mencari personil-personil untuk bergabung dalam liburan tersebut. Dalam benak setiap orang tentunya akan serta merta muncul nama-nama. Nama-nama inilah prioritas orang tersebut. Nama-nama yang tidak dipilih karena memang selalu ada di sana. Baru ketika si perencana masih membutuhkan orang, dia mulai memilih siapa saja yang dia rasa cocok untuk bergabung.

Di lain waktu saya juga pernah merasakan menjadi prioritas. Bagaimana dalam sebuah rencana saya termasuk orang pertama yang mendapat tawaran untuk bergabung. Bahkan meski beberapa kali saya menyatakan tidak bisa, tawaran-tawaran lain tak henti datang. Saat itulah saya menyadari bahwa saya ada dalam benak mereka. Seperti mereka ada dalam benak saya. Saya itulah saya merasa berarti karena keberadaan saya memiliki makna bagi kehidupan orang lain. Saat itulah saya memahami maksud kalimat “Never put as a priority someone who take you as an option.”

Oke, dalam kasus ini menjadi pilihan (atau cadangan) memang menyebalkan. Tapi mungkin dalam kasus pasangan hidup, beberapa masih berpikir, “Bukankah memang seperti itu? Di antara sekian banyak orang, dia memilih saya. Dia bisa saja memilih seseorang yang lebih ini dan lebih itu, tapi dia memilih saya. Bukankah itu romantis?”

Ya. Setiap orang bebas berpendapat. Toh, semua kembali ke perasaan masing-masing.

 

Tapi saya… Saya tidak mau menjadi pilihan. Saya ingin menjadi satu-satunya.
Karena saya pun tak pernah memilih.

Sejak awal memang cuma ada kamu… satu-satunya bagi hatiku.

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s