Semeru: Pesona yang Tak Kunjung Habis

Sebagai penggemar berat langit dan segala ornamen yang menghiasinya, saya kerap menghabiskan waktu berlama-lama memandangi pergerakan awan, bias cahaya matahari, dan formasi tebaran bintang. Suatu hari saya terbangun di tengah malam yang dingin menggigit. Namun ketika mendongak malam itu, langit menyapa dengan ribuan bintang yang kilaunya bahkan lebih indah daripada berlian. Keinginan untuk berlindung di balik kantung tidur dan tenda yang hangat pun tergusur. Alih-alih saya duduk dalam balutan gelap menikmati hening dan cantiknya alam yang tak akan saya dapat di kota itu. Ya, malam itu saya tidak sedang berada di atap rumah. Malam itu saya sedang berada di ketinggian 3000 meter di atas permukaan laut, menyusuri leher sebuah gunung bernama Semeru.

Jika orang-orang umumnya menaruh minat pada Semeru karena hasrat menjejakkan kaki di tanah tertinggi pulau Jawa atau terdorong rasa penasaran akan popularitasnya, saya tidak menaruh ambisi apapun akan Semeru. Kepergian saya semata-mata karena mendengar serunya beberapa orang teman merencanakan liburan mereka ke sana dan saya pikir kenapa tidak, saya pun belum pernah ke Semeru.

Memanfaatkan satu libur di hari Kamis dan bermodalkan satu cuti di hari Jumat, saya mengikuti jejak keempat teman saya menuju sisi lain Pulau Jawa. Di Tumpang yang mungil tempat sebagian besar pendaki Semeru melakukan persiapan finalnya kami bertemu dengan 8 kawan seperjalanan yang lain. Delapan orang yang bergabung karena membaca rencana perjalanan ini di forum backpacker. Delapan orang yang baru kami temui wujud nyatanya hari itu.

Namun perasaan asing itu tak ada. Perjalanan belasan kilometer dengan berbagai level kemiringan tanjakan kami lalui dalam tawa dan kesetiaan. Tunggu menunggu ketika yang lain merasa lelah dan butuh mengambil napas panjang. Berbagi perbekalan dan memberikan uluran tangan jika diperlukan. Menikam dingin dengan obrolan lepas di muka tenda. Seolah kami telah saling mengenal selama bertahun-tahun.

Malam itu ketika meluruskan kaki di tengah perjalanan menuju Mahameru, puncak Semeru, saya bersyukur telah memutuskan bergabung dalam perjalanan ini. Apa yang saya lihat dan rasakan sungguh tak tertandingi oleh apapun yang saya lihat dan rasakan sebelumnya. Lautan lampu kota terhampar di hadapan berpadu dengan megahnya samudra bintang di angkasa. Semua dilatar belakangi gelap dan heningnya malam. Memikirkan bahwa dalam naungan lampu-lampu kota itu puluhan ribu manusia tengah terlelap, saya merasa sangat istimewa. Tak semua orang mengetahui kecantikan yang malam miliki dalam gelapnya atau kenyamanan yang dia berikan dalam sunyinya. Dan saya bisa menikmati semuanya secara utuh. Ketiadaan dinding di sekeliling dan absennya polusi cahaya membuat saya merasa benar-benar menyatu dengan malam.

Indah memang, tapi perjalanan pamungkas menuju Mahameru ini juga menguji ketahanan batin. Medan yang berupa pasir bukan merupakan pijakan yang mantap bagi kaki. “Naik selangkah turun dua langkah” menurut istilah orang-orang. Untuk menempuh beberapa meterpun rasanya benar-benar melelahkan. Akan tetapi semua itu terbayar. Ketika matahari menyembul dari balik lapisan awan beberapa jam kemudian. Cahayanya menebar semburat kekuningan menerangi bentang alam di sekitar, menangkap basah gunung-gunung yang menjulang, berusaha mengintip ke balik awan. Dan hangatnya menyibak dingin yang selama beberapa jam terakhir membuat sekujur tubuh gemetar.

Sunrise

Tak hanya atraksi matahari terbit yang menjadi incaran di puncak Semeru. Letupan kawah Jonggring Saloka yang terjadi sekitar 15 menit sekali pun menjadi momen yang dinanti-nanti. Setiap kali gemeruh terdengar dan awan keabuan “dibatukkan”, orang-orang berlarian mendekat, kamera di tangan siap membidik. Tak sedikit pula yang menjadikannya latar belakang untuk berpose.

Jonggring Saloka

Mengagumkan. Mempesona. Tak terlupakan. Hingga membuat saya berniat kembali lagi suatu saat nanti. Tapi ternyata pesona yang coba ditebar oleh Semeru pada saya belum habis.

Bayangan akan nikmatnya rawon dan nyamannya tempat tidur adalah semangat kami menempuh perjalanan turun. Sementara tubuh mulai lelah, terlebih lagi pundak dan kaki yang tak henti memanggul serta menopang. Rasanya benar-benar sudah tidak sabar untuk berlari turun dan menemukan kenyamanan. Kemudian gerimis menitik. Rintik halus itu berubah menjadi jarum-jarum air tak lama kemudian. Lelerannya pada bumi membuat tanah licin dan mempersulit pergerakkan kami. Belum lagi badai angin yang membarenginya.

Ketika itulah beberapa teman yang berada di bagian belakang iring-iringan berseru memanggil bantuan. Kami pun berhenti. Dua dari kami kembali untuk memenuhi permintaan tolong tersebut. Sementara angin terus berpusar-pusar, membelai kulit, menebar dingin. Teman-teman saya dengan sigap mencari cara menghangatkan diri. Salah seorang mengeluarkan flysheet, yang lain memasang kompor dan memasak air.

Entah berapa lama kami menunggu, kawan-kawan pun akhirnya tiba. Ternyata seseorang dari rombongan lain yang berjalan beriringan dengan kami mengalami hipotermia. Orang itu belum benar-benar sadarkan diri ketika dia dibopong ke tempat kami menunggu. Itulah pertama kalinya saya melihat tindakan penyelamatan seorang yang terkena hipotermia. Saya melihat teman saya bergerak secepat kilat menghampiri orang itu dan menamparnya ketika dia kembali tak sadarkan diri. Saya melihat bagaimana orang itu tak bereaksi sama sekali ketika kulitnya disulut api. Suasana amat menegangkan hingga dingin pun terabaikan.

Sebuah tenda didirikan dan 3 kompor dinyalakan di dalamnya. Bagi orang normal, suhu dalam tenda itu tak ubahnya sauna. Tiga orang teman saya memutuskan untuk tinggal dan memberikan bantuan bagi rombongan tersebut mengingat mereka hanya berempat. Sementara saya dan teman-teman lain turun lebih dulu untuk memberi tahu tim SAR.

Sekitar pukul sebelas malam kami tiba di Ranu Pane. Melapor pada tim SAR sekaligus beristirahat di sebuah warung. Antara lega sudah tiba dan cemas memikirkan teman-teman yang lain, kami memikirkan langkah selanjutnya. Tak disangka, beberapa menit lepas tengah malam ketiga teman kami muncul. Kondisi orang yang terkena hipotermia sudah lebih baik sehingga mereka pamit turun lebih dulu. Sungguh melegakan.

Pagi di Ranu Pane itu terasa amat cerah. Beberapa teman saya seolah membalas seluruh momen makan-seadanya di gunung dengan memesan berpiring-piring rawon serta bakso Malang. Saat-saat terakhir sebelum kembali ke rutinitas masing-masing itu kami habiskan dengan mengambil beberapa foto bersama dan saling bertukar id akun media sosial.

Awaspala

Rupanya, Semeru hanyalah awal. Hingga kini kami berdua belas masih setia berkomunikasi dan melakukan kopi darat di sela-sela kesibukan. Agaknya, benarlah kata orang, ‘Naik sebagai orang asing, turun sebagai saudara’.

Tulisan ini pernah dimuat di kompastravelfair.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: