Posted in dreams, friendship, hiking, life, things I love

Rinjani: The Very Best Moment

Tahun Ke-26, Bulan Pertama, Hari Ke-17

Aku terbangun setengah jam sebelum tengah malam. Hening. Semua orang masih lelap dalam tidur. Atau mungkin beberapa dari mereka terusik oleh dingin seperti yang kurasakan. Menarik diri lebih dalam ke kantung tidur, aku berusaha untuk kembali tidur.

Namun agaknya dingin telah berhasil merebut kenyamananku. Satu jam kemudian aku kembali terbangun. Kali ini tanda-tanda kehidupan mulai terdengar. Suara-suara laki-laki dan perempuan yang tengah mempersiapkan diri untuk memulai pendakian menuju puncak terdengar dari sisi tenda sebelah kiri. Aku mendengarkan baik-baik. Suara-suara itu terdengar asing. Tak ada satupun yang kukenal. Entah mengapa, aku merasa takut tertinggal. Bagaimana kalau aku ketiduran dan mereka berangkat tanpa aku? Tapi melihat Mami yang masih pulas di sampingku, aku merasa kecemasan itu sama sekali tak penting.

Sementara itu dingin mulai meracuni pikiran dan semangatku. Alangkah nikmatnya kalau bisa berlindung di balik kantung tidur saja. Di luar sana pasti dingin menggigit. Sementara yang kuinginkan hanya hangat sinar matahari. Tidur akan membuat proses penantian itu lebih cepat dan lebih mudah dilalui. Sebuah suara lain dari dalam diriku berseru, “Tenang saja. Ketika berjalan nanti, dinginnya tak akan terasa. Kau sudah pernah mengalaminya. Setahun lalu. Semua akan baik-baik saja. Masa iya, kamu rela melewatkan puncak ini?

Benar. Aku tak mungkin melewatkan puncak ini. Tidak.

Pukul setengah dua tenda-tenda di kanan-kiriku mulai bersuara. Suara-suara yang kukenal. Aku membangunkan Mami. Tak lama kemudian suara Om pun terdengar memanggil. Dia memasak air untuk membuat makanan pengganjal perut sebelum berangkat: oatmeal plus sereal.

Setelah meminta ijin pada Mami, aku memakai sepatuku di dalam tenda lalu menyelubungkan gaiter. Setengah jam kemudian kami telah berkumpul di luar tenda. Beberapa melakukan pemanasan untuk melemaskan otot tubuh yang kaku pasca bangun tidur. Yang lainnya mengunci tenda menggunakan cable tie.

Sebelum berangkat, kami berdiri dalam lingkaran. “Ya, ini perjalanan ketiga kita di Rinjani,” Boim memulai. “Tepat pukul 2,” dia menengok jam tangannya, “kita akan memulai pendakian menuju summit. Rapet aja ya nanti jalannya.” Kemudian dia memimpin doa.

“Oya, nanti kalau badai tiarap aja ya,” imbuh Hafit usai berdoa. “Soalnya di atas masih suka badai. Anginnya kenceng.”

Aku melihat Moo berjalan mendekat. Dia berhenti di antara aku dan Halili yang saat itu berdiri di sisi kiriku. “Nih,” dia memulai, “nanti kan kita bakal kebagi dalam tim-tim kecil. Kita tetep bertiga ya.”

“Oke,” kami mengiyakan.

Iring-iringan mulai bergerak. Perlahan dalam satu barisan rapi menyusuri setapak. Dengan sendirinya kami bertiga; Moo, aku, dan Halili; berjalan dalam satu urutan. Di depan tampak Kang Herman berdiri menepi lalu bergabung dengan kami.

Aku sudah bertanya-tanya ke sana sini, pada mereka yang pernah mencapai puncak Rinjani. Semuanya menuai jawaban yang sama:  perjalanan menuju puncak merupakan bukit pasir, tapi kemiringannya nggak seekstrim Semeru. Aku pun mulai bertanya-tanya kapan bukit itu dimulai? Apakah sekarang? Karena semua yang kita pijak adalah pasir. Well, sebenarnya sejak awal juga semua setapak dihiasi pasir.

“Bakal macet,” Moo yang berjalan tepat di depanku memberitahu. “Kalau bisa nyelip, nyelip aja.” Dan Moo pun menunjukkan ucapannya dengan menapaki jalur-jalur yang tidak biasa. Dia memotong di sana sini, tapi tak pernah pergi terlalu jauh. Selalu menunggu. Maaf ya, Moo, aku terlalu inert untuk mengambil jalur yang tidak biasa.

Kami tiba di satu tempat yang cukup terbuka. Kencangnya tiupan angin sangat terasa tanpa adanya pohon ataupun batu besar sebagai penghalang. Semenit saja di tempat ini dingin sudah menggeretakkan gigi, membuat kami menggigil. Sayangnya, di sinilah teman-teman di bagian depan memutuskan untuk menunggu teman-teman yang masih ada di belakang. Memang, tempat terbuka tersebut memberikan ruang yang cukup untuk berdiri dan menunggu tanpa menghalangi mereka yang hendak terus berjalan.

Dengan jahil, aku berdiri di depan Halili dan Yogi, menjadikan mereka barikade hembusan angin. Sementara Moo malah dengan konyol berdiri di belakang Yogi sambil berkata, “Ngumpet di belakang Yogi ah… biar nggak dingin.”

Seorang foreigner dengan jaket pink melintas. Disusul seorang temannya. “Nah, kan, kesusul sama bule. Gini ni kalo kelamaan,” ujar seseorang yang tak kutahu siapa. Di belakang dua orang lelaki asing itu berduyun-duyun orang asing yang lain, laki-laki dan perempuan dalam pakaian seadanya. Agaknya kulit mereka telah kebal dengan suhu udara serendah ini. Mereka tampak tangguh dengan langkah-langkah lebar dan tegap serta masing-masing tangan mengayuh trekking pole.

Kemudian Uci muncul, sempoyongan. Tak berapa lama dia muntah. Yang lain bertanya cemas. “Nggak papa. Masuk angin kok,” katanya menenangkan. Selembar salonpas ditempelkan di pusarnya untuk menjaganya tetap hangat. Minuman-minuman hangat yang dibawa disuguhkan padanya.

Begitu rombongan paling belakang tampak, kami melanjutkan langkah. Medan yang menyambut semakin sulit untuk ditempuh. Napasku memburu. Aku teringat pada kata-kata Om Quncen mengenai langkah-langkah pendek yang lebih menghemat energi.

“Napasnya yang panjang, Mba,” saran Moo. Oke, sepanjang jalan aku berusaha fokus pada langkah pendek dan napas panjang. Tapi sulit mengambil langkah-langkah pendek ketika kau berjalan di belakang Moo yang memiliki kaki panjang. Aku harus selalu mempercepat langkah agar tak ketinggalan. Napasku pun terengah. Pada jarak tertentu Moo akan berhenti, menunggu. Ketika kami sudah dalam jangkauan suaranya lagi, dia akan bertanya apakah perlu beristirahat sejenak. Tidak, lebih mudah untuk terus berjalan perlahan daripada berlari lalu terdiam lama. Aku ini sangat inert. Butuh driving force yang besar untuk berubah state. Namun setiap menemukan batu besar untuk bernaung dari terpaan angin, tak pelak kami berhenti sejenak. Setiap kali kami berhenti, pria berjaket pink itu selalu melintas. Aku bahkan tak tahu kapan kami melewati dia.

Lelah membuatku tak menyadari bahwa rombongan kami tengah beriringan dengan rombongan lain. Sampai seseorang berkomentar, “Mbaknya keren ih.” Aku mendongak, mencari sumber suara, dan menemukannya tengah berjalan melewatiku.

Aku kembali menatap jalur yang kutapaki. “Eh, ketemu mbaknya yang keren lagi.” Mendongak, aku mendapati wajah yang baru kutemui beberapa menit lalu. Kali ini pemiliknya bersandar pada sebuah batu. “Style-mu keren, Mbak.” Aku hanya mampu tersenyum padanya.

Ketika sudah berlalu, aku jadi berpikir, “Kerennya di mana? Bukannya sama aja kayak yang lain?” Lalu pasir dan kerikil mengusir pikiran itu dari otakku.

Kami bersandar pada dinding batu. Masing-masing mulai mencari asupan. Moo mengeluarkan sebutir apel lalu mengedarkannya. Semua menyumbang gigitan, kecuali aku yang merasa lebih butuh sukrosa daripada fruktosa. “Bibir kalian manis sekali, Kawan-kawan,” seru Kang Herman saat apel tersebut tersisa bagian tengahnya.

Ketika kembali melangkah, tiba-tiba dia mencari tisu. Rupanya serangan yang mustinya menyerang saat fajar itu datang terlalu dini. Beruntung, aku membawa tisu kering dalam daypack-ku. Untung sekali lagi, tak jauh dari kami diam sebuah batu besar yang dapat digunakan untuk bersembunyi. Sembari riuh menyampaikan bahwa dia akan mencetak rekor buang air di ketinggian lebih dari 3000 mdpl, Kang Herman melangkah ke balik batu.

Waktu sudah beranjak ke pukul 5. Tak terasa sudah 3 jam kami berjalan. Teman-teman seperjalananku memutuskan untuk menunaikan sholat subuh terlebih dahulu. Jadi, aku duduk bernaung pada batu tersebut, yang selain besar juga memiliki ceruk. Sementara itu, teman-teman yang lain mulai menyusul; Mami dan Om, Uci dan Alpin. Pasangan pertama terus berjalan. Namun Uci, yang agaknya kedinginan luar biasa, dan Alpin menambah jumlah kami yang berhenti. Uci duduk di sebelahku. Tampak luar biasa menderita.

“Mau pake SB?” tawar Moo.

“Iya, iya, boleh tuh SB,” sahut Alpin.

Dibentangkanlah sleeping bag tersebut menyelimuti aku dan Uci. Di bagian luarnya selimut aluminium melapisi. “Ayo kita berpelukan,” kata Uci sembari menahan dingin. Beberapa kali angin meniup selimut dan sleeping bag tersebut hingga merosot.

“Eh, ini jangan tidur loh.” Terdengar suara Alpin memperingatkan. Saat itu aku masih cukup sadar untuk mengiyakannya, meski dengan mata terpejam.

“Mba Cas.” Terdengar suara Moo memanggil. “Mba Cas…” Tiba-tiba aku menyadarinya. Aku sudah tertidur!

“Sudah, jangan nangis,” suara Alpin menghibur lembut. Entah sejak kapan Uci sesengukkan. Rupanya dia terus merasa kedinginan. Akhirnya, sleeping bag dan selimut aluminium dililitkan pada tubuhnya. Langkah-langkah kecil mulai diambil. Ternyata aku memang sudah tertidur tadi. Tubuh rasanya berbeda. Seperti sudah di-recharge, meski beberapa persen.

Sekitaran tak lagi begitu gelap. Secercah warna jingga mulai tampak di batas horizon sebelah timur. Beberapa langkah di depan, Om dan Mami tampak sedang duduk beristirahat. Padahal kukira mereka sudah terus melaju ke atas. Kali ini kami yang meneruskan langkah. Rasanya ingin segera tiba di puncak. Aku sudah jemu dengan pasir-pasir ini. Kang Herman juga agaknya merasakan hal yang sama. Dia mulai melaju.

Kutemukan Halili seorang di belakangku. “Moo di mana? Di belakang, ya?”

“Iya, sama Mami.” Dan aku dapat melihat jaket jingganya beberapa meter di belakang.

Langit semakin terang. Aku melirik jam tanganku. Sudah pukul 6. Sementara angin masih menari dengan hebohnya, aku mulai mengharapkan kehangatan dari sang bola pijar. Di sana, di sebelah kiriku, raja siang itu beranjak dari tidurnya. Bulat dan amat terang hingga berwarna nyaris putih. Sinarnya menimpa rambutku. Aku tersenyum. Aku suka warna coklat keemasan dari perpaduan yang mereka hasilkan. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir aku melihat warna ini. Sudah selama itukah aku tidak saling sapa dengan mentari pagi?

Angin kembali bertiup kencang. Aku menarik tudung jaket menutupi kepala untuk mencegah penari alam itu mengacak-acak rambutku (yang memang sudah acak-acakan). Tapi usaha itu tak mempan untuk rambut-rambut pendek yang terus menerus jatuh menutupi wajah. Melihat Kang Herman beberapa langkah di depan mengingatkanku pada jepit rambut yang dia sematkan pada bendera di trekking pole-nya. Ketika jarak kami tinggal selangkah, aku meminjam jepit itu darinya lalu meraih senggenggam rambut nakal dan menahannya dengan jepit itu.

“Kamu cantik sekali pagi ini. Dengan jepit rambut itu.” Kang Herman masih saja punya energi untuk menitikkan semangat bagi orang lain.

“Dan matahari yang bersinar di sebelah sana,” sambungku lirih dengan sisa-sisa napas.

Kemudian Kang Herman kembali melaju di depan. Dengan bersemangat mengibar-kibarkan bendera Awaspala setiap beberapa langkah. Seolah berkata pada yang lain, “Ayo semangaaaattt… Puncak sedikit lagi!”

image

Aku tahu aku seharusnya tidak mempertanyakan kapan perjalanan ini berakhir. Tapi matahari mulai menebar sinarnya menerangi seluruh jalan di hadapanku. Puncak itu kini tampak jelas di hadapan mata. Hanya beberapa ratus meter. Ya, hanya beberapa ratus meter. Namun serasa bagai ribuan kilometer. Setiap langkah yang kutempuh terus susut oleh pasir yang merosot dan turut membawa pergi bukan energiku, melainkan semangatku. Apalagi beberapa pendaki telah bergerak menuruni bukit pasir. Bahkan si foreigner berjaket pink juga telah bergerak turun.

Aku menghitung. Dua puluh langkah. Aku berhenti. Kuhentak-hentakkan trekking pole ke permukaan pasir. Kesal. Rasanya sudah ingin menangis. Rasanya sudah ingin berkata pada Halili, “Tarik aku. Tarik saja. Aku sudah tidak mampu.” Tapi semua itu tertahan, mencekat kerongkonganku. Alih-alih, aku memutuskan kembali melangkah.

Kembali 20 langkah, aku berhenti. Kali ini erangan kesal dan putus asa melesat keluar dari batang tenggorok. “Kesel ya, nggak nyampe-nyampe,” Halili berkomentar. Aku hanya tertawa sedih. Sedih menatap jarak dengan titik tertinggi yang serasa tak kunjung menciut.

Kemudian bagai mampu membaca isi pikiranku, atau mungkin dia lelah melihatku lelah, Halili maju ke depan dan menarik tanganku. “Ayo. Sedikit lagi.” Kami melesat. Aku terengah, serasa oksigen disedot dari paru-paruku. Kaki-kakiku kewalahan mengikuti langkahnya. Tapi aku senang. Akhirnya, kami benar-benar bergerak.

 

Puncak Rinjani

Aku tidak tahu bagaimana harus menerjemahkannya dalam kata-kata; sensasi yang muncul saat kami tiba di puncak. Rasanya justru seperti mati rasa. Entah karena terlalu banyak emosi yang berpadu atau sekedar lelah yang bertumpuk. Kami menjatuhkan diri di atas pasir, menatap pada hamparan awan putih yang bagai tak berbatas.

wpid-1406762396680.jpg

Perlahan-lahan rasa bahagia itu naik. Perlahan-lahan kesadaran itu terasa nyata. Kemudian otakku memahami di mana aku sedang berada. Sebuah teriakan ingin meledak keluar dari kerongkonganku.

Pesan Cinta

Antrian untuk berfoto bersama Sang Merah Putih sembari mengangkat plat bertulisakan ‘Puncak Rinjani’ dengan bangga mengular naga panjangnya. “Seperti foto studio saja,” komentar beberapa orang. Dalam antrian tersebut tampak Kang Herman, Ria, dan Tebe. Tak lama Moo, Uci, Alpin, Mami, dan Om tiba. Mereka segera mengisi tempat-tempat kosong di kanan kiri kami. Semua tampak ceria dan lega. Segala lelah dan dingin seperti tak ada lagi tergantikan dengan semangat untuk mengabadikan momen. Sama seperti niatku untuk berganti kostum yang tak lagi ada.

Kertas-kertas dan alat tulis mulai dikeluarkan. Sudah menjadi tradisi untuk mengirim pesan di puncak gunung untuk orang-orang yang spesial. Tentu saja tradisi ini tak mungkin dilewatkan di Rinjani.

Beberapa bahkan sungguh-sungguh berniat dan sudah menyiapkan pesan mereka dari rumah. Ada yang mengirim pesan untuk keluarga, teman, dan tentu saja kebanyakan mengirim pesan untuk pasangan jiwa; entah sosok itu sedang berada di tempat berbeda, sudah dipertemukan namun belum dipersatukan, atau masih entah di mana.

Aku? Kukirimkan pesanku untuk seorang teman yang rasa percaya dirinya perlu dibangkitkan kembali. Bahwa pendapat seseorang mengenai diri kita tidak perlu menjadi diri kita sesungguhnya.

wpid-20140731_062518.jpg
“Valens siapa, Mba Cas?” tanya Moo yang sukarela memegangkan kertas. “Teman,” jawabku

“Boim bisa-bisa nggak muncak ni. Dia masih di bawah.” Aku mendengar seseorang berkata.

Namun dia salah. Boim, bersama Doel dan Cila, muncul dari tikungan batu. “Awaspalaaaaaaaa!!!!” serunya penuh semangat. Langkah-langkahnya tampak ringan. Senyum lebar tersungging di wajahnya. Dengan tibanya mereka bertiga, lengkaplah kami bersembilan belas di puncak Rinjani.

Aku menyingkir sejenak dari hiruk pikuk dan euforia mereka yang tengah membidikkan lensa pada setiap gerak. Melakukan apa yang begitu ingin kulakukan ketika berada di titik ini. Kuedarkan pandanganku.

wpid-20140731_062026.jpgAku tahu seluruh Lombok membentang di sana, meski tertutup lapisan awan. Memikirkan ini semua membuat adrenalin memacu jantungku lebih cepat. Mimpi yang dulu rasanya begitu jauh kini jadi nyata. Nyata! Setelah berulang kali coba mengambil kesempatan yang ada, namun selalu gagal, akhirnya aku benar-benar berada di sini. Di tempat di mana aku begitu ingin berpijak. Menatap dataran yang begitu ingin kurengkuh dalam pandanganku. Menyapa matahari yang tak henti tersenyum ceria. Menghirup udara yang terus memberi kehidupan.

Terima kasih karena telah setia di sini menungguku, Rinjani.

91
Tahu apa yang membuat semua terasa lebih ringan? Kebersamaan 🙂

Dan ternyata aku tidak menangis, seperti yang kukira akan terjadi. Syukurlah. Tak perlu ada adegan melodramatis yang sok fantastis.

Yeah! Meski belum berhasil pakai rok di puncak
Yeah! Meski belum berhasil pakai rok di puncak
Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

2 thoughts on “Rinjani: The Very Best Moment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s