Rinjani: Menuju Matahari Terbit

Tahun Ke-26, Bulan Pertama, Hari Ke-15

“Ditunggu di Sevel ya, Cas,” pesan Mami melalui telepon. Kalimat itu terdengar lirih akibat harus bersaing dengan deru kereta. Aku sedang dalam perjalananku menuju Jakarta, ke rumah Mami tepatnya. Di sanalah aku akan melewatkan malam sembari menunggu jam keberangkatan pesawat yang akan membawa kami ke Lombok.

Setibanya di Stasiun Gambir, aku segera menuju meeting point yang telah kami sepakati. Dari kejauhan tampak samar (iya, samar! padahal kacamata sudah bertengger di batang hidung) satu sosok yang familiar. Sosok itu juga menunjukkan gelagat mengenaliku. Semakin dekat jarak di antara kami, aku semakin yakin kalau dia adalah Om Quncen.

“Om!”

“Halo, Cas.”

Kami berjabat tangan. “Sini tasnya,” Om menawarkan. Carrier pun berpindah punggung. Kami melanjutkan berjalan menuju tempat sepeda motor diparkirkan di mana Mami telah menunggu. Dia mengenakan gaun putih panjang yang agaknya dikenakannya selama bersilaturahmi ke sanak saudara. Bahkan dalam jarak 20 langkah dia sudah tertawa. “Mau ke mana kamu, Cas?” Aku mendengarnya berseru. “Tinggi banget kerilmu.”

Aku balas tertawa. “Iya ni… berasa lebay. Tapi kan memang sudah langganan carrier-ku bentuknya begini.”

“Isi apa aja sih ini?”

“Bawa logistik ya?” Om menimpali.

“Ini,” aku menunjuk pada tas jinjing yang kutenteng.

“Sepatu masuk?”

“Sudah dipake.” Kuangkat kakiku beberapa derajat dari tanah untuk memperlihatkannya.

“Terus ini isinya apa?”

“Ya, standar. SB, baju…”

“O iya, Mas. SB-nya Cas besar.”

Perdebatan apa-isi-keril-Casper pun diakhiri dan kami melaju menuju rumah Mami. Jalanan Jakarta sepi, nyaris kosong. Inilah Jakarta sesungguhnya, tanpa para pendatang yang berusaha mengadu nasib. Saking kosongnya, jalan serasa milik sendiri. Mami pun memacu sepeda motornya kencang. Ngeri juga sebenarnya.

Sesampainya di rumah Mami, aku disambut kabar bahwa… mereka belum packing! Kesibukan hari raya meminta sebagian besar waktu mereka. Bahkan sebelum menjemputku di stasiun, mereka baru saja kembali dari rumah salah satu saudara.

wpid-img-20140728-wa0011.jpg

Pukul 1 pagi itu pun Mami harus membuat sambal teri yang menjadi tanggung jawab bawaannya (dan sempat tersingkirkan dari benak sejenak). Sementara Mami sibuk melumat berbagai bumbu, aku dan Om menikmati uli serta tape ketan hitam. Disuguhi penganan dari ketan ini membuatku teringat bahwa esok hari ada pula yang berkata akan membawa uli sebagai bekal perjalanan :9

Selesai memasak, Mami bergabung dalam pesta ketan tengah malam tersebut. Sedikit bercerita ini dan itu, jam menunjukkan pukul 2. Kami beranjak tidur, bermaksud mengistirahatkan tubuh meski sejenak.

Nite,” bisik Mami lirih ke balik bahunya saat kami bergerak menuju kamar.
“Aih, so sweet banget,” Om menanggapi sembari berkelakar dan tertawa senang.
Setelah menyetel alarm, kami tidur.

03.30 WIB. Dunia masih nyenyak. Namun kami telah bergerak. Mami segera memastikan ulang reservasi taksi kemudian kami bersiap-siap. Setengah jam kemudian taksi yang kami tumpangi telah membelah jalanan Jakarta, menuju bandara, Terminal 2.
Ketujuh teman yang lain; Boim, Alpin, Kang Herman, Halilintar, Caecilia, Yogi, dan Uci; sudah siap di Terminal 2F ketika kami tiba. Pertemuan langsung dibuka dengan berbagi senyum, berbagi salam, dan berbagi sapa. Rasanya meriah dan penuh haru seolah lama tak bertemu padahal baru 3 minggu berselang sejak pertemuan kami yang lalu. Suasana bandara, keril yang bertumpuk di troli (sebagian besar keluaran label populer dari Jerman, masih baru dan mulus, hasil berburu pada sale season bulan lalu), dan tim yang sudah setengah lengkap membuat adrenalinku meletup-letup. Rasanya ingin melompat dan berlari saking banyaknya energi yang dihasilkan dalam tubuhku.

Proses check in membutuhkan waktu cukup lama mengingat kami bersepuluh ditambah lagi keril-keril yang harus masuk ke bagasi. Menjelang pukul setengah 6, kami sudah siap di waiting room. Di sini kami bertemu dengan seorang Bogor yang juga hendak menuju Rinjani. Ternyata sejak dalam perjalanan dari Bogor menggunakan Damri pun dia sudah berjumpa dengan tim Bogor. Liburan di Rinjani dilakukannya bersama 3 orang temannya yang telah lebih dulu berada di Lombok. Tur yang mereka ikuti bernilai 2,5 juta rupiah belum termasuk tiket pesawat, membuatku bersyukur memiliki teman-teman untuk berbagi biaya, menemani, bahkan bersedia merepotkan diri sendiri *shed tears*

Langit masih gelap ketika kami melangkah menuju pesawat. Lampu berkelip di tengah hamparan landasan pesawat. Luapan adrenalin menarik ujung-ujung bibirku. Orang bilang, ‘Lemparkan cita-citamu setinggi bintang di langit.’ Pesawat ini akan membawaku ke bintang itu.

Rasanya hampir meledak saat pesawat tak kunjung bergerak. I was both excited and nervous. Tak perlu kuungkapkan lagi apa sebab excitement ini. Tapi aku cemas, jika tubuhku bereaksi pada perubahan tekanan. Entah apa yang akan kulakukan jika harus menahan sakit selama 1,5 jam perjalanan. Lalu pesawat mulai bergerak dan aku mulai panik. Perlahan burung besi itu menuju landasan pacu. Dari jendela di sisi kananku tampak mentari mengiring keberangkatan kami. Bulat utuh dan kemerahan dia merayap meninggalkan horizon. Sinarnya begitu terang dan cerah seolah sedang tersenyum. Aku balas tersenyum. Pesawat berbelok ke kanan. Baru kusadari bahwa kami akan terbang ke arah timur. Matahari itu tidak mengiringi keberangkatan kami, dia menyambut kedatangan kami.

 

Mawar Kuning

Bumi berubah menjadi petak-petak  merah dan hijau. Tubuh pesawat miring ke kanan sementara dia terus menambah ketinggian. Petak merah-hijau semakin kabur, tersaput lapisan putih awan. Lapisan yang sungguh indah bagai tirai transparan yang terbuat dari gula-gula kapas. Ketika lampu tanda sabuk pengaman tidak lagi menyala, aku hanya dapat melihat awan di bawahku. Oke, bisikku dalam hati, semua akan baik-baik saja.

“Kang Herman tadi bawa mawar,” Halili yang duduk di sebelahku bercerita, “tapi ketinggalan di bus.” Oya? “Mawar kuning,” imbuhnya.

“Wah, sayang dong. Gara-gara ngantuk ya?”

“Iya. Bangun tidur. Boim malah lebih lucu lagi. Waktu sudah turun, dia nyari kameranya. ‘Kamera gue mana? Kamera gue mana?’ Ternyata kameranya ngegantung di leher.”

Aku tertawa. “Untung nggak lari-lari manggil sopir busnya biar berhenti.”

“Caecil sudah mau manggil sopirnya itu.”

Pramugari tak henti hilir mudik sepanjang lorong; menawarkan permen (yang segera kuambil dan kukulum), mengedarkan sarapan (“Untuk sarapannya ada nasi kuning ayam dan omelet. Mau pilih yang mana?”), serta menarik kembali wadah yang telah kosong. (By the way, aku suka banget dessert cake cokelatnya. Ah, I shouldn’t have given back that one extra cake I got). Sementara itu, di luar sana gunung-gunung tinggi tampak menyeruak dari gerumbul awan. Setiap kali aku bertanya-tanya gunung apa itu, membayangkan seperti apa berada di sana, pernahkah aku berada di sana.

wpid-20140729_065343.jpg

Suara dari pengeras suara memberitahukan bahwa pesawat akan segera mendarat. Saat itu waktu Lombok menunjukkan pukul 8.50, satu jam lebih cepat daripada Jawa. Dari jendela aku dapat melihat tepian pulau.

wpid-20140729_074940.jpg
“Wah, sudah masuk Lombok,” seruku dalam hati

Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Dengan lega kusadari pesawat sudah mendarat. Satu perjalanan udara telah ditempuh. Kami segera menunggu bagasi dan menarik satu demi satu keril, menumpuknya pada troli.

wpid-screenshot_2014-08-09-08-34-14-1

Sesampainya di pintu kedatangan, tampak Bayu dan Hafit yang telah tiba lebih dahulu.

5

Kami menuju tempat parkir di mana anggota tim yang lain telah menunggu; Doel, Centhak, Zia, Gilang, Ria, Tebe, dan Moo yang tiketnya memegang predikat tiket termahal. Kesibukan segera beralih menjadi menurunkan-carrier-dari-troli-lalu-memasukkannya-ke-mobil. Mobil ini memang telah disewa untuk mengantar kami berkeliling Lombok. Tapi di tengah-tengah kerepotan itu, Kang Herman berseru, “Ah, sudah. Keril mah nomor 10, yang penting salam-salaman dulu.” Dia pun berlari meninggalkan tumpukan carrier dan menghampiri setengah anggota tim yang lain. Kami mengikuti jejaknya. Jadilah kami semua bertukar salam.

image
“Tuh, Mba, gunungnya sudah keliatan,” ujar Moo, menunjuk pada gundukan tinggi jauh di depan kami. “Dah, pulang yuk.”

“Ih, ada yang bawa boneka. Siapa tuh?” ujar salah satu dari kami, melihat salah satu tas besar yang tengah digotong menuju mobil.

“Yogi,” sahutku. Aku sempat melihat sebuah Doraemon dalam kepompong carrier-nya.

“Kang Herman juga bawa,” jawab yang lain.

“Ayo tunjukin dong, Kang Herman.” Kemudian semakin banyak suara meminta hal serupa. Yang disebut menampilkan gestur malu-malu, namun membuka tas kecil yang sejak awal dikenakannya di depan dada. Sebuah sapi berwarna coklat muda nampak dari dalam tas. Sosoknya sudah sedikit dimodifikasi dengan lilitan tali berwarna hijau dan karabiner pada ujungnya yang memungkinkan sapi itu untuk digantungkan.

“Kok nggak bawa bunga?” celetuk Ria. Agaknya heran karena Kang Herman memang dikenal dengan kekhasannya yang selalu membawa bunga dalam setiap pendakian.

“Ketinggalan bunganya… di bus. Sama tas keresek isi makanan minuman.”

“Ngantuk ya, Kang? Bangun tidur?”

“Iya. Padahal sudah disiapin. Eh, ketinggalan semua itu.”

“Ngga papa. Bisa beli lagi,” rujukku, lebih ke makanan dan minumannya.

“Ayo,” ujarnya semangat. “Kalau tahu di mana belinya, aku beli lagi dah.” Agaknya dia masih memikirkan mawar kuning itu.

Tapi tentu saja, kami tidak tahu di mana mendapatkan mawar kuning. Walau barang setangkai.

Perjalanan dilanjutkan ke Pasar Aikmel dengan tujuan melengkapi logistik sebelum memulai pendakian. Namun di tengah jalan, satu dari dua mobil yang kami sewa berbelok ke warung nasi. Ternyata penumpang mobil tersebut adalah mereka yang tiba lebih dulu di Lombok dan tidak mendapat makan dalam perjalanan di pesawat. Ketika kami masih tenang-tenang saja, lambung mereka sudah meronta minta diisi.

Sementara mereka memesan nasi, kami yang sudah sarapan duduk-duduk dan bertukar cerita. Om Quncen menuturkan bagaimana semalam dia memperkenalkan uli dan tape ketan hitam yangg khas Betawi padaku.

“Aku juga bawa uli tu,” sahut Kang Herman. “Bawa uli, bawa semur, bawa ketupat, bawa rendang.”

“Tapi ulinya Om beda, nggak digoreng,” ujarku, teringat penjelasan Kang Herman mengenai seperti apa uli itu.

“Sama,” kata Om Quncen. “Yang namanya uli kan cuma satu macem itu.”

“Memang nggak digoreng. Setelah 3 hari kan uli jadi keras tuh. Trus digoreng jadi dalemnya bisa lembek lagi,” jelas Kang Herman. “Tapi biasanya kita nggak sabaran, langsung aja digoreng.”

Masalah uli beres. Masalah perut lapar pun beres. Mobil kembali bergerak menuju Aikmel. Di tengah perjalanan, kenalan Alpin telah menunggu untuk melakukan transaksi gas dan spiritus. Setibanya di pasar kami melengkapi perbekalan; air, telur, dan makanan. Meski sayangnya, para penjual sayur belum kembali berdagang yang memastikan perjalanan kami miskin sayur.

Segalanya dilakukan dengan cepat. Realisasi waktu kami telah meleset dari rencana. Pendakian dijadwalkan mulai pada pukul satu. Namun jarum pendek jam telah menunjuk pada angka 2 dan kami masih berada di Aikmel.

Perjalanan menuju pos pendaftaran sangat menyejukkan mata dan hati. Gundukan-gundukan tinggi mengelilingi. Dan gerumbul awantak mau ketinggalan menyemarakkan pemandangan.

??????????

??????????

Usai melakukan pendaftaran, kami berhenti di sebuah warung untuk berkemas ulang. Kecemasanku menjadi-jadi. Bagaimana kalau aku tidak mampu mengangkat bebanku sendiri? That’d be pathetic! Doa-doaku dipenuhi kecemasan dan tarikan nafasku sarat usaha menenangkan diri.

Beberapa cowok terdengar menawarkan diri untuk membawakan beberapa barang karena masih ada ruang dalam carrier mereka (dan tentu saja masih ada ekstra tenaga).

“Ada yang mau dioper nggak?” Kali ini suara Moo yang berseru. “Uci? Mba Cas? Ah, Mba Cas si nggak perlu.”

“Mau oper air,” jawabku seperempat bercanda, tiga perempat serius.

“Oper apa gitu, yang serbuk-serbuk…” Dia (kayaknya sih) setengah bercanda.

Kemudian hening.

“Mba Cas, mana sini jadi oper ngga?”

“Oper air?” Aku setengah terkejut, setengah memastikan.

“Ya… air satu setengah liter, dua liter masih bisalah.”

Ih, Moo… Ih, Moo… I was speechless dan cuma bisa mengulurkan 1,5 liter airku dengan bersemangat, terharu, dan bahagia.

Tak lama, dua orang porter yang kami sewa tiba, menanyakan di mana barang-barang yang harus dia bawa. Kami telah menumpuk barang-barang tersebut di satu tempat; tenda, logistik mentah (termasuk yang kubawa), dan beberapa barang yang tidak akan digunakan selama di jalan. Melihat tumpukan itu, sang porter berseru terkejut, “Cuma segitu??”

Kami pun tertawa terkejut. Wow, seberapa beratkah beban yang mereka panggul biasanya?

Selesai berkemas, semua sibuk memakai sunblock. Matahari Rinjani yang terkenal garang membuat setiap dari kami menyiapkan tameng pelindung. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. “Ngapain pake sunblock?” kata Mami. “Mataharinya jam segini tuh sudah nggak ngebakar.”

“Kang Herman,” Ria berseru, “ada apa di Argopuro?”

“Dia bawa mawar, tapi ga dibawa muncak, ketinggalan di tenda,” sahut salah satu dari kami.

Wah, sedih banget. Ketinggalannya di tenda.

“Sekarang juga ngga bawa mawar lagi?”

“Ketinggalan di bus yang sekarang,” jawab pendaki yang khas dengan mawarnya itu sembari berpindah posisi. “Padahal mawarnya sudah aku siapin,” lanjutnya dalam suara rendah padaku. “Mawar kuning. Sudah aku siapin dari hari Minggu. Eh, malah ketinggalan.” Nada kecewa dalam suaranya turut meneteskan sedih pada hatiku. It’s okay, Kang Herman, masih ada puncak-puncak lain ke mana kau dapat membawa mawarmu. Mungkin puncak Rinjani (dan Argopuro) memang tak berjodoh dengan mawarmu.

Karena jumlah anggota rombongan yang besar, kami dibagi menjadi 3 tim jalan. Tim 1 berangkat lebih dulu. Kami; Hafit, Boim, Uci, aku, Kang Herman, Halili, dan Moo; yang tergabung dalam tim 3 berkumpul dalam lingkaran sebelum berangkat. “Yak, nanti kita lewat jalan pintas ya,” kelakar salah satu dari kami. Disusul tawa. Wejangan yang sesungguhnya pun disampaikan dan…

Perjalanan dimulai.

48_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: