Silver Day

Lagi-lagi aku melakukannya. Mengetuk layar sentuh ponselku agar dia menyala. Ini jadi seperti refleks. Bahwa setiap kali aku kehilangan dia, aku mengadu pada ponselku. Karena hanya benda ini yang tahu betapa jauh jarak memisahkan kami.

Sarafku menegang ketika sebuah notifikasi muncul. Segera jariku meluncur di layar, membuka messenger. Kecewa dan senyum menghambur bersamaan. Itu bukan dia. Tapi itu temanku yang tak kalah istimewa.

Happy birthday
Panjang umur, sehat selalu, semoga cita-cita ke Disneyland tercapai

Ucapan yang cantik. Aku segera mengaminkan doanya sekaligus mengucapkan terima kasih.

Banyak tawa, banyak senyum yang telah kukeluarkan hari ini. Bersumber dari banyak ucapan dan doa. Tapi tetap saja, ada yang kurang. Yang kunantikan tak kunjung datang. Sungguh ajaib kan? Bagaimana satu orang manusia bisa begitu berpengaruh pada keseluruhan hidupmu. Bagaimana dia bisa begitu berarti hingga nyaris meniadakan yang lain.

My dear, happy birthday…
Wish all the best for you :* :*

Sebuah pesan lain masuk. Aku mengirimkan balasan yang tak jauh berbeda dengan sebelumnya.

Kau tahu? Aku mengharapkan sekotak hadiah di depan pintuku. Tapi tak ada. Aku tak apa.

Aku mengharapkan boneka Sullivan berukuran hampir sebesar diriku bertengger di mejaku. Tapi tak ada. Aku masih tak apa.

Aku mengharapkan seikat lily dikirimkan secara anonim kepadaku. Juga tak ada. Dan aku masih tak apa.

Tapi ketika sungguh tak ada satu pun tanda-tanda kehadiran dirinya hingga jam ke-17 hari ini, aku sungguh kecewa!

Kuputuskan membeli seliter es krim. Selalu ada cara untuk membuat harimu lebih ceria, kan? Lagipula sedikit jalan-jalan dan hembusan angin selalu membuatku lebih baik. Matahari tengah turun ke balik horison memercikkan semburat jingga di langit. Hamparan biru muda itu pun sontak menjadi gradasi yang cantik. Biru gelap, biru muda, toska, kuning, jingga… Langkahku terhenti. Selama bertahun-tahun sebelum aku lulus kuliah aku selalu menyaksikan senja di puncak jembatan ini. Aku menangkap setiap momennya. Bagaimana langit berubah warna. Bagaimana burung berbondong-bondong pulang ke sarang. Tiga tahun tak lagi menyandang status mahasiswa, soreku selalu terlewatkan dalam ruangan atau di manapun yang beratap dan dinding. Tak kusangka pulang cepat hari ini memberikanku sebuah kesempatan istimewa yang kurindukan.

Ponselku bergetar. Sebuah panggilan masuk. Berbagai macam emosi berkecamuk ketika aku membaca nama yang tampak di layar.

“Halo.”

“…”

“Selamat ulang tahun.”

“…”

“Sehat selalu. Mimpi-mimpimu terwujud. Melangkah lebih jauh, lebih tinggi. Melihat lebih luas. Mengalami lebih banyak. Belajar lebih dalam.”

“…”

“Halo.”

“Amin. Terima kasih.”

Terdengar tawa kecil dan hembusan nafas. “Kau terdengar kesal.”

“Tentu saja. Kau pikir jam berapa sekarang?”

“Jam 6 sore. Lebih 8 menit saat aku meneleponmu tadi.”

“Hampir seharian kau membuatku menunggu dan bertanya-tanya.”

“Oke, aku mengharapkan banyak hal,” sambungku. “Tapi setidaknya kau bisa jadi yang pertama. Itu saja.”

Kembali terdengar tawa kecil dan hembusan nafas. “Bukankah kau yang bilang kalau kau lahir jam 6 sore lewat 8 menit? Bukankah itu berarti tahun barumu baru saja dimulai dan orang-orang yang mengucapkan selamat sebelum ini mengucapkannya pada menit-menit terakhir tahun ke-25-mu? Tidakkah itu menjadikanku orang pertama yang mengucapkannya di tahun ke-26-mu?”

Aku terdiam. Kata-kata seakan tersedot dari kerongkonganku. Hingga sejauh itukah dia memikirkan semuanya?

“Apa kau tak akan berada di sini? Di hadapanku?” desahku, mencari tuduhan agar dia tetap berada di sisi ‘bersalah’ sementara aku ‘korban’.

“Kalau aku ada di hadapanmu, apa yang akan kau lakukan?”

Aku terdiam sejenak. “Mencabik-cabikmu!” geramku seraya mencakar udara.

“Uh, mana mungkin aku datang kalau resikonya semengerikan itu.”

Aku menghela nafas. Tanpa kusadari helaan itu sungguh berat, seolah aku benar-benar lelah.

“Ada apa?”

Kerongkonganku serasa menyempit. “Tidak. Tidak ada.”

“Jangan menangis. Aku di sini.” Suara itu begitu dekat, berbisik di telingaku. Sepasang lengan kokoh mendekapku dari belakang. Tindakan ini justru membuat isakku pecah.

Aku berusaha berbalik untuk menatapnya, tapi lengannya menahanku. “Aku punya sesuatu untukmu.” Dia meraih tanganku yang tidak memegang ponsel dan meletakkan sesuatu di sana. Sebuah koin logam.

“Ini bahkan bukan perak,” senggukku. Kali ini dia membiarkanku berbalik badan menghadapnya.

“Memang. Itu adalah koin permohonan. Dengan koin itu kau bisa memohon apapun padaku. Dan aku akan memenuhinya. Sebisaku,” dia menambahkan.

Aku tertawa mendengus. “Jadi kau semacam sumur permohonan?”

Dia mengangguk.

Dia pasti meremehkanku, kan? Membiarkanku meminta apa saja. Aku bisa saja minta ke Disneyland sekarang juga. Atau kencan di atas permadani terbang seperti Aladdin dan Yasmin. Atau memintanya tinggal di sini selalu… selamanya… agar aku tak perlu mengadu pada ponsel lagi. Tapi melihat sinar matanya, mata yang turut memancarkan cahaya purnama di atas sana, dan senyum tulusnya yang menggelanyut pada wajah lelah itu…

Tanganku menggapai bungkusan di sebelah kanan. “Mungkin sudah agak meleleh. Mau menikmatinya bersama?”

Langit semakin gelap memberi ruang bagi purnama untuk semakin memancarkan terangnya. Bola perak di angkasa itu seakan tersenyum. Aku membalas senyumnya. Lalu menoleh pada sosok di sisiku.

His presence is the best present I ever get in my life.

Seharusnya aku tahu bahwa dia nggak akan pernah mengecewakanku. Bahwa dia selalu punya caranya sendiri untuk mengejutkanku. And that’s how I know that I never fall in love with the wrong guy 🙂

***

Note: Terus muak. I should really get over romance!

Note lagi: Sama seperti Wine Day, judulnya Silver Day karena setting waktu kisah ini saat Silver Day a.k.a 14 Juli *grin*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: