Posted in dreams, friendship, hiking, life, romance, things I love

Rinjani: Awal Mula

Tahun Ke-26, Bulan Pertama, Hari Pertama

Harinya hampir tiba. Mimpi 6 tahun itu… jadi nyata.

***

Tahun Ke-19, Bulan Ke-11, Hari Ke-Tak Diketahui

“Hei!” Gadis mungil itu menyapa seraya mengambil tempat di depanku. “Rutinitas?” godanya, mengikuti arah pandangku. Sudah sekitar sebulan aku melakukan hal yang sama; duduk di bangku yang sama di kantin fakultas, menatap ke arah yang sama.

Sebulan lalu adalah saat pertama aku bertatap dengannya secara tak sengaja di sini. Tapi itu bukan pertama kalinya kami bertemu. Aku telah mengenalnya lebih dahulu 2 bulan lalu. Dia adalah seniorku dalam Unit Kegiatan Mahasiswa yang kami ikuti.

Sebulan lalu adalah saat aku bersama teman-teman melewatkan jam antar kuliah di kantin ini. Dia tengah memarkirkan motornya. Pandangan kami bertemu. Dia tersenyum, melambaikan tangan. Aku membeku.

Sebulan lalu adalah saat aku menyadari bahwa gedung kampusnya berada tepat di sebelah kantin fakultas ini. Bahwa jika aku sering berada di sini maka aku dapat memperbesar kesempatan agar kami bertemu secara tak sengaja.

Sebulan… dan aku mulai mengenali jadwalnya… teman-temannya…

“Lombok?” Temanku itu, setelah kesal karena kuabaikan, menengok ke laptop di hadapanku, benda yang kujadikan tameng agar tak nampak ganjil berlama-lama di tempat ini. “Kenapa tertarik dengan Lombok?”

“Dia berasal dari sana.”

“Woaaa, pedes dong,” godanya.

“Hmmm,” wajahnya melintas dalam benakku, “tapi dia manis banget.” Dia tertawa. Aku tertawa.

“Ini,” kali ini aku memutar layar laptop agar menghadapnya, “Rinjani. Gunung tertinggi di Pulau Lombok.”

mount-rinjani

“Lalu?”

“Aku akan ke sana.”

“Hah?”

“Kau tahu kan aku suka gunung? Aku merasa harus ke sana. Gunung yang dalam pangkuannya dia dibesarkan. Gunung yang menjagainya selama dia bertumbuh. Gunung yang mengawasinya ketika dia menjalin hidupnya hari demi hari. Aku merasa harus ke sana. Menghirup udara yang dihirupnya selama 18 tahun. Menikmati matahari yang menyinarinya selama 18 tahun. Melihat apa yang dia lihat selama 18 tahun. Aku harus ke sana, ke Rinjani, berdiri di puncaknya dan berterima kasih karena telah menjaga malaikatku.”

***

Itulah yang mendasari mimpi 6 tahun ini. Sesederhana itu. Sekonyol itu. Setolol itu.

Meski akhirnya cinta berubah jadi kagum. Dan kagum mulai hablur oleh waktu. Tapi mimpiku akan Rinjani tak susut walau barang sejengkal.

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s