Posted in celoteh, things I love

Recollecting

“Kenapa Inggris?”

“Kenapa sih pengen banget ke Inggris?”

“Ada apa dengan Inggris?”

Itu adalah beberapa pertanyaan yang orang-orang lontarkan padaku menyusul pertanyaan yang lebih dulu muncul setelah melihat lukisan York Minster yang menutupi dinding kamarku atau foto London Eye yang kupajang di dinding kubikelku. “Kenapa tidak?” jawabku setiap kali. “Tapi selalu ada alasan kenapa seseorang begitu menginginkan sesuatu, kan?” “Yah, jatuh cinta tidak membutuhkan alasan. It just happens.” Aku tersenyum, mengakhiri interogasi yang tak kuinginkan ini.

Ya, aku menghindari menjawab pertanyaan itu. Yang kulakukan hanyalah berusaha memberi jawaban yang setidaknya membuat mereka berhenti bertanya. Karena aku tidak mungkin memberikan jawaban yang sesungguhnya. Aku tidak mungkin berkata, “Karena aku pernah menghabiskan 7 libur musim panas di sana.” Jawaban itu akan berbuntut pertanyaan-pertanyaan yang pada akhirnya memaksaku berkata, “Karena aku pernah melewatkan 7 tahun di Hogwarts. Karena aku penyihir!!”

Memang, setelah Riddle (oh, aku tak akan memanggilnya dengan nama yang dia susun sendiri) berhasil dikalahkan, tercapai kesepakatan bahwa dunia sihir tidak perlu menutup diri lagi dari dunia non-sihir. Tapi lihat apa yang terjadi beberapa tahun kemudian. Tsunami besar pada tahun 2004, badai topan yang melanda pantai timur Amerika, dan segudang bencana alam lain, semua akibat ulah Muggle rakus yang bekerja sama dengan penyihir sinting. Aku sangat mendukung keputusan Kementrian yang kembali menutup dunia sihir dari jangkauan Muggle. Masa yang berat. Kami harus memodifikasi ingatan milyaran Muggle dan memastikan tak ada satu pun yang terlewat (apalagi waktu itu aku baru saja lulus). Kisah-kisah penaklukan Riddle pun berubah menjadi kisah fiksi semata (yang kemudian menjadi novel fantasi bombastis. Rowling memang penulis hebat! Sayang, dia memutuskan berhenti dari Daily Prophet dan memilih berkarya di dunia Muggle). Sementara peron 9¾, pintu gerbang yang paling dekat dengan keseharian Muggle, terpaksa ditutup. Ada sedikit  insiden saat penyegelan gerbang ini. Saat itu, tiba-tiba saja seorang Muggle mencoba menerobos palang rintangan. Kini sebagian trolinya yang masih berada di Kings Cross itu menjadi objek-foto-yang-tak-boleh-dilewatkan bagi kebanyakan turis. Bagiku sendiri, benda tersebut adalah monumen penting yang menjadi pengingat tragedi bila batas antara dunia sihir dan Muggle dicabut.

Harry-Potter-Platform-9-3-4-kings-cross-600x400Sumber: Daily Prophet

Tragedi.Ya. Tragedi yang membuatku memutuskan meninggalkan dunia sihir, meninggalkan Inggris.

Tujuh tahun melarikan diri membuatku menyadari menyangkal kenyataan tidak membuat rasa sakit berkurang. Sebaliknya, sakit itu justru semakin nyata. Agaknya, yang harus kulakukan adalah berdamai dengan kenyataan. Berdamai dengan semua kenangan. Dengan demikian, aku bisa berdamai dengan kehidupanku.

Aku putuskan untuk kembali ke Inggris.

Aku ingin menyusuri kembali jejak yang kutinggalkan, yang kami tinggalkan. Ya, aku ingin menggenggam memori itu kembali. Sepasang manik coklat muda yang tatapannya mampu membuatku merasa sangat berarti. Rambut ikal sewarna madu yang sanggup membuat sinar mentari terasa lebih berseni. Ruang bawah tanah tempat kami mengaduk ramuan bersama. Lapangan Quidditch dimana dia pertama menyapaku. Menara Astronomi yang menjadi tujuan kencan diam-diam favorit kami pada malam hari. Dan tentu saja, Hutan Terlarang. Di sanalah dia menukar syal merah-emas-nya dengan syal hijau-perak-ku sebagai pertanda dia menerima semua perbedaan di antara kami, perbedaan yang juga diterima oleh Gryffindor dan Slytherin dalam persahabatan mereka.

Namun kenangan tidak hanya ada di sana. Tidak hanya di Diagon Alley, tapi juga di dunia di balik dinding bata merah dimana Leaky Chauldron hanyalah puing-puing.

Itu adalah pertama kalinya aku menginjak London. Pertama kalinya aku melihat kehidupan berlangsung tanpa sihir. Begitu lambat dan tidak efisien, pikirku saat itu. Kaleng-kaleng besi tidak mampu membawamu berpindah tempat dengan cepat layaknya portkey, tapi mereka malah memolesnya dengan apik dan menambahkan 4 roda di bawahnya. Aku merasa setuju dengan kata kedua orang tuaku, tidak ada yang menarik di dunia Muggle, apa gunanya ke sana. Hingga dia menunjukkan padaku apa yang tidak berhasil kulihat dengan mataku.

Bangunan-bangunan dengan arsitektur memukau dan semuanya dibangun secara manual, tanpa lambaian tongkat tanpa mantra. Yang paling berkesan adalah Westminster Abbey, sebuah gereja gotik di Westminster. Tempat dimana upacara penobatan raja/ratu Inggris dilaksanakan. Beberapa anggota keluarga kerajaan pun melangsungkan upacara pernikahan mereka di sini. Tapi bukan itu yang membuat Westminster Abbey memiliki arti lebih bagiku. Seperti para anggota keluarga kerajaan itu, kami berdua pun pernah berjalan menyusuri lorong gereja ini. Bukan sungguhan, memang. Namun rasa gempita yang ditimbulkannya sungguh nyata.

Westminster Abbey. Choir and apse looking eastWestminster Abbey (Sumber: di sini)

 

Listrik, kurasa itulah sihir milik Muggle. Dengan listrik, mereka membuat benda bersuara dan gambar bergerak. Dengan listrik, mereka menciptakan cahaya dalam warna-warni menawan.

Masih jelas dalam ingatanku. Malam itu Juli sedang mendekati akhir minggu kedua. Malam yang hangat. Rasanya sungguh sempurna untuk jalan-jalan malam menyusuri sungai. Bahkan Thames berkilau cantik oleh pantulan lampu di sekelilingnya. Kami sedang membahas Florean Fortescue rasa apa yang paling nikmat untuk melengkapi malam itu ketika tiba-tiba dia menghentikan langkah. Matanya menatap jauh ke seberang, pada kincir yang menjadi mata London, saat aku menoleh hendak menanyakan apa yang membuatnya berhenti.

???????????????????????????????????????????????????????????????London Eye (Sumber: di sini)

“Suatu hari aku akan mengajakmu ke sana,” katanya.

“Kenapa tidak sekarang?” godaku.

“Karena benda itu sedang tidak beroperasi,” balasnya disertai tawa yang menerbitkan garis-garis di kedua ujung mulutnya. Manis sekali. Namun ekspresi itu mendadak lenyap. Wajahnya berubah serius hingga seulas senyum muncul. “Aku menyimpannya untuk saat yang tepat.”

Saat itu menara jam di sisi kami berdentang. Kedua jarumnya bersatu, mengarah ke langit.

“Selamat ulang tahun,” dia berbisik. Dan senyumnya adalah hadiah pertama hari itu sekaligus terindah yang pernah kuperoleh.

 

Aku tak hanya perlu berdamai dengan semua kenangan manis itu. Aku juga perlu berdamai dengan tragedi yang memisahkanku dari kenangan itu. Memisahkanku dari sosok dalam kenangan itu… untuk selamanya. Hanya dengan begitu aku bisa sungguh melanjutkan hidupku.

Ya, aku harus kembali ke Inggris.

lovepotatoPotato always makes me feel better ^^

habisUntil nothing’s left

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

2 thoughts on “Recollecting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s