“Kita Berhak Nggak Sih Jatuh Cinta?”

Sudah 11 tahun berlalu, tapi aku masih bisa mendengar dengan jelas campur aduk emosi yang menyertai kalimat tersebut.

Saat itu kami berempat. Kami adalah teman dekat. Dia adalah salah satunya. Gadis yang jatuh cinta pada senior yang telah berada di sekolah itu 2 tahun lebih dulu. Jatuh cinta karena suatu tindakan sederhana. Sebuah pertemuan sekian detik. Sebuah kontak singkat. Jatuh cinta itu memang aneh.

Sayangnya, laki-laki ini menjatuhkan hatinya pada teman seangkatan kami yang lain. Dan seluuuuruh dunia tahu itu karena dia bahkan tak segan untuk menghampiri gadis itu setiap jam istirahat. Seluruh dunia agaknya juga setuju apabila dua insan ini bersatu.

Siang itu, pemandangan yang sama tampak kembali. Temanku segera mempercepat langkahnya menuju ruang kelas. Kami mengekor. Dia duduk di bangkunya. Wajah tersembunyi.

Wajah itu merah ketika nampak kembali. “Kita berhak nggak sih jatuh cinta?” rintihnya di sela sengguk tangis. Ada keputus asaan dalam nadanya. Juga amarah. Dan, tentu, kesedihan.

Aku yang saat itu masih ingusan, masih sangat percaya pada fairy tale, belum pernah jatuh hingga berdarah-darah, belum pernah menyayangi seseorang yang tak memiliki pertalian darah hingga sakitnya adalah sakitku dan ketiadaannya menggoreskan cemas, aku yang saat itu langsung merespon dalam hati, ‘Ya, berhak lah. Mana mungkin nggak berhak?’

Temanku yang lain menjawab dengan nada menghibur, “Berhak dong. Sudah, sudah…” Diusapnya punggung temankuĀ  itu.

Bertahun-tahun kemudian, aku baru menyadari makna pertanyaan ini.

Kenyataan yang ada adalah dianggap normal bila laki-laki melakukan pendekatan, entah apakah dia melakukannya karena memang ingin dekat atau sekedar iseng. Sementara perempuan dianggap terlalu agresif dan seabrek pandangan negatif lainnya jika memulai lebih dulu. Terlepas dari pandangan masyarakat mengenai hal ini, laki-laki sendiri cenderung merasa tidak nyaman ketika perempuan mendekati mereka (bener, nggak?).

Ya ya, aku tahu. Secara alami, memang laki-laki itu adalah pihak yang aktif, sementara perempuan pasif. “Lihat sperma dan ovum,” kata guru saya suatu hari. “Ovum itu diam, sperma yangbergerak mendekat. Jadi kalian anak-anak putri jangan agresif.”

Kembali ke pertanyaan tadi. Kalau perempuan harus selalu jadi pihak yang menunggu, berarti kita nggak berhak jatuh cinta dong. Hanya bisa menanti ketika seseorang tertarik untuk masuk ke hidup kita lalu memutuskan apakah kita akan mengijinkannya atau tidak. Sementara ketika kita sendiri ingin masuk ke kehidupan orang lain, kita dianggap tabu untuk berusaha.

How unfair…

 

Sekarang dia sudah punya pacar; seorang lelaki manis dengan mimik penuh kasih sayang. Setiap kali senyum mereka tersungging, aku tahu pertanyaan itu sudah tak berarti lagi untuknya. Bahkan mungkin dia sudah tak ingat. Tapi di sini, di dalam otakku, pertanyaan itu masih terus menuntut jawab.

“Kita berhak nggak sih jatuh cinta?”

atau pertanyaan sesungguhnya yang ingin dia serukan adalah

“Kita berhak nggak sih memperjuangkan cinta kita?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: