Posted in celoteh, life

Idealis vs Realistis

Hari ini ketika tengah berkutat dengan artikel yang tak kunjung selesai, telinga-(dan otak)-ku disambangi oleh 2 buah lagu yang kontras. Dua lagu yang kemudian membuatku berpikir. Dua lagu itu adalah…

Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
(Right Here Waiting – Richard Marx)
 
Biar aku yang pergi
Bila tak juga pasti
Adakah selama ini
Aku cinta sendiri
    Biar aku menepi
    Bukan lelah menanti
    Namun apalah artinya
   Cinta pada bayangan
(Cinta Sendiri – Kahitna)
 

Yang satu berkata akan terus menunggu whatever it takes, no matter how heart breaks. Yang lain berkata lebih baik pergi karena apa artinya cinta pada bayangan. Mana yang akan kau pilih? Terus menunggu seperti Richard Marx atau pergi seperti Kahitna?

Aku?

Dulu aku akan langsung menjawab dengan mantap, “Aku akan menunggu. Aku tidak mungkin memaksa hatiku untuk berpaling begitu saja.”

Dulu… yah, “dulu” agaknya terlalu ekstrem karena yang kumaksud dengan “dulu”adalah kira-kira setahun lalu. Anyway, dulu aku masihlah remaja ingusan, tak berpengalaman, memiliki idealisme tinggi, percaya pada cinta (sejati), termakan fairy tale, dan menganggap adults yang berkata, “Cinta? Nyari pasangan tu nggak cuma tentang cinta. Musti pake otak juga,” adalah orang-orang yang perasaannya sudah digerogoti kejamnya kehidupan.

Sekarang… sekarang aku mungkin salah satu dari orang yang perasaannya sudah digerogoti kejamnya kehidupan ;p Tapi, hei, mereka benar. Cinta itu tidak 100% tentang hati. Kita harus menggunakan otak juga. Bahkan, kata mereka yang sudah lebih banyak makan asam garam hidup, ketika pacaran otak harus lebih banyak berperan daripada hati. Ketika sudah menikah, barulah gunakan seluruh hatimu.

Reality is not fairy tale. Ada kalanya kita harus berhenti berkutat pada satu hal (atau orang) dan meneruskan hidup. Kita tidak bisa berkutat pada satu hal yang sama dan berharap happy ever after itu terwujud.

Jadi kalau sekarang ditanya apa yang akan kulakukan, menunggu atau pergi? Aku akan menjawab, “Pergi. Karena apa artinya cintapada bayangan ;)” Tapi pergi bukan berarti menambatkan hati pada hati yang baru. Pergi hanya berarti membebaskan hati dari keterikatan yang sekarang.

Aku selalu menganalogikan perjalanan hati itu seperti:
Kita berjalan. Ada kalanya kita jatuh. Di tempat dan pada saat yang tidak pernah bisa kita tentukan. Ketika tempat kita terjatuh itu tidak tepat, rasanya tentu sangat sakit. Keputusan kitalah untuk bangkit dan meneruskan berjalan atau membiarkan diri terpuruk, mengasihani diri, dan membiarkan rasa sakit itu menguasai kita. Keputusan kitalah untuk tetap tinggal di tempat yang sama atau bergerak maju dengan resiko terjatuh lagi.

Aku sendiri sudah beberapa kali terjatuh sebelum ini. Tapi pada detik aku terjatuh, aku menilai tempat itu, dan pada detik itu juga aku memutuskan untuk tidak tinggal berlama-lama. Karena aku sadar sepenuhnya tempat itu tidak sesuai untukku. Well, aku pernah juga terjatuh dan untuk sesaat aku merasa nyaman, berpikir di sinikah akhirnya aku akan tinggal? Aku terluka sesekali, aku berusaha menyesuaikan diri. Toh, kita tidak akan mungkin 100% cocok dengan sesuatu kan? Tapi lama kelamaan tempat itu menghimpitku. Dan aku tahu kalau sekali lagi aku harus memutuskan untuk pergi. Berat, memang. Ketika kita sudah terlalu nyaman, terlalu terbiasa… Tapi di depan sana ada sebuah tempat yang memang diciptakan untuk kita. Dan semua rintangan yang kita temui, semua sakit yang kita rasakan sebelum mencapai tempat itu akan meningkatkan rasa syukur kita terhadap tempat itu.

 

Aku pernah membaca: “Kita memang tidak bisa memilih dengan siapa dan kapan kita jatuh cinta. Tapi kita bisa memutuskan untuk pergi jika memang cinta itu bukan untuk kita.”

Be strong, face the reality, and move on 🙂

Life has more for you

0.O.0

P.S  gue nulis apa sih sebenernya ini? Perasaan tadinya cuma mau sharing lirik lagu plus sedikit embel-embel komentar. Kok malah jadi ngelantur begini o.O

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

One thought on “Idealis vs Realistis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s