Posted in celoteh, life

Angels Around Me

Rabu, 14 Mei 2014

Happy Rose Day~~~

Well, I didn’t get any rose today (yeah, who would give you anyway?) but I did get something special πŸ™‚

Jadi dalam perjalanan pulang sore ini (melewati gang-gang mungil) saya bertemu dua oranganak kecil yang tengah bermain. Seorang anak perempuan berusia sekitar 9 tahun dan adik laki-laki mungilnya yang terlihat 4 tahun lebih muda. Gadis itu membawa hulahop, memutar-mutarnya bak tali laso, memenuhi hampir seluruh lebar gang dengan benda melingkar itu.

Saat saya melintas di sebelahnya tepat saat dia mengangkat benda itu ke atas dan bersiap memutarnya lalu… benda itu mengenai saya. Otomatis saya mengangkat lengan untuk mencegah benda itu mengenai kepala. Anak itu terkejut, “Eh!” Sementara adik laki-lakinya berlari dengan kaki-kaki mungilnya menghampiri.

Menghampiri saya lalu mencengkeram kaki saya, di bagian kantong celana. Kebetulan saat itu saya menyimpan iPod di dalam saku jadi saya tidak merasakan apa-apa. Kebingungan yang saya rasakan mengenai sikap bocah ini lenyap ketika saya melihat wajahnya. Di sana jelas terukir ekspresi marah… geram.

Ya, dia marah. Dia pikir, atau merasa, saya telah mengganggu kakaknya. Seketika saya terharu (dan reminded to my brothers). Rasa haru yang dengan cepat berubah jadi sedih sekaligus tidak terima. Kenapa? Kenapa saya yang “dimarahi”? Bukankah saya yang jadi korban dari kejadian pertama? Bukankah saya yang harusnya dibela?

Dan kenapa nggak pernah ada orang berbuat demikian untuk saya?? Kenapa nggak pernah ada yang menghajar orang yang telah menyakiti saya?? Kenapa saya harus selalu sakit seorang diri???

Pikiran yang sarat rasa mengasihani diri ini (dan seruan sang kakak, “Remi, jangan!”) mengiringi langkah saya menjauh dari pasangan kakak-beradik itu.

Selangkah… dua langkah… tiga langkah… saya mulai menyadari bahwa saya memang tidak memiliki orang-orang yang bersedia menghajar orang yang menyakiti saya, tapi saya punya lebih dari itu. Saya memiliki orang-orang yang bersedia membalut luka-luka saya, memeluk saya, dan memastikan bahwa kapanpun saya terluka lagi mereka akan ada untuk menyembuhkan saya.

Orang-orang itu… yang bertanya, “Ada apa?”, yang berkata, “Share me your burden,” yang memeluk saya dengan erat, yang meyakinkan, “Kamu pasti bisa. Kamu kuat. Luka ini tidak ada apa-apanya.”

Orang-orang itu… yang dengan segala yang mereka lakukan membuat saya tetap bisa tersenyum dengan semua rasa sakit yang ada.

Terima kasih πŸ™‚

Anyway… Aku kan juga punya Petra yang selalu bersenandung “Cinta mengapa kau sengsara? Benci kumelihatnya. Oo… dia itu siapa bisa membuatmu merana. Cinta apa kau tak bahagia? Sini denganku saja~~~” ;p

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s