Digitalove: My Opinion

20140503_104948

6 penulis . 17 kisah . 5 media sosial.

Digitalove adalah berisi kisah-kisah cinta yang alurnya tak lepas dari media sosial; sebagian besar berawal dari sana, walau ada pula yang berakhir karenanya.  10 kisah berpusar di Twitter, 3 di Facebook, 1 di YouTube, 1 di Soundcloud, 1 di FourSquare, 1 di Path. Dari statistik sederhana ini terlihat bagaimana popularitas dan kemampuan Twitterdalam mempengaruhi kehidupan penggunanya. Sebagai Twitter-addict, saya merasa bangga, hahaha… *dilempar sandal*

Kembali tentang Digitalove. Sejak membaca judul buku ini dan melihat covernya saya langsung tertarik, secara-seperti yang sudah saya katakan-saya adalah seorang Twitter-addict. Beberapa nama yang tercantum pun sudah tidak asing; Ariev Rahman, yang twitnya saya nikmati setiap hari, dan Jenny Jusuf. Akhir-akhir ini saya sedang getol-getolnya dengan buku semacam ini. Beberapa penulis akan memberikan berbagai rasa dan warna dalam satu buku. Pun isinya yang berupa beberapa cerita pendek memberikan kesegaran dan menjauhkan dari rasa jemu akan satu ide cerita yang paaaaaaaaaaaaannnjang.

Benar saja. Saya sangat amat tidak kecewa sama sekali (ups, sorry for the so-ineffective sentence)  dengan buku ini. Banyak kejutan di dalamnya. Ide-ide cerita yang tidak biasa. Trik dan intrik. Buku ini tidak menawarkan kisah cinta yang biasa. Bukan sekedar roman yang dipenuhi bumbu kata-kata cinta atau air mata. Memang beberapa kisah adalah kisah romantis berakhir indah, cenderung fluff, namun tetap ditulis sedemikian rupa hingga tanpa sadar saya tersenyum ketika membacanya. Yah… kalau boleh dibilang, iri sebenarnya >.<

Dari ketujuh belas cerita itu, satu tulisan yang paling berkesan adalah Twitter on Saturday Night (10-11-12)-nya Ariev Rahman. Bodor, iya. Mengejutkan, iya. Brilian, iya banget!! Caranya menuliskan kisah ini itu loh… bukan dengan narasi. Alih-alih, dia menuliskan timeline kelima tokoh utama selama hari Sabtu, lengkap hingga ke waktu twit itu diunggah ke dunia maya. Aaaaahh, suka banget pokoknya!!

Hmm.. bagi saya pribadi, kisah-kisah dalam buku ini adalah cermin sekaligus tamparan. Well, I should change my way of sharing on social media, hehehe…

 

Oh, satu lagi…

Dorongan paling kuat yang membuat saya menarik buku ini dari rak adalah satu kalimat sederhana di sampul belakangnya:

“Namanya dunia maya, bukan berarti yang di dalamnya tak nyata”

20140503_105012

 

Bagi sebagian orang ini hanyalah media sosial.

Bagi yang lain ini adalah tempat mereka mengais rejeki.

Bagi beberapa di sinilah mereka bertemu sahabat bahkan pasangan jiwa.

Bagi kebanyakan ini adalah sarana katarsis, yang tak mereka dapat di dunia nyata.

Yang lain melihatnya sebagai bahaya yang harus diwaspadai.

 

Kamu, termasuk yang mana? 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: