Sayonara

Category           : Fiction, Songfic

Genre                 : Romance

Length               : 410 words

 

 

Kumenunggu dalam bimbang

Adakah sungguhnya aku kasih yang kau inginkan

 

Sekali lagi kusentuh layar 8 inch dalam genggamanku. Benda itu menyala, tapi tetap tak berbeda dari beberapa menit lalu. Tak ada pesan masuk. Pun panggilan tak terjawab. Aku menghela nafas. Entah kenapa aku merasa membutuhkannya. Dada ini rasanya sesak. Oleh kekecewaan kah? Oleh penantian kah?

Jam di pergelangan tanganku memberitahu bahwa penerbanganku masih satu jam lagi. Mungkin aku memang tidak penting. Kujejalkan earphone ke dalam lubang telinga, membiarkan lagu yang mengalun membawaku dalam alur yang diciptakannya.

 

“Ada rencana malam ini?”

“Tidak ada.”

“Mau menemaniku? Ada film yang ingin kutonton.”

“Film apa?”

 

Sebenarnya aku tak peduli film apa itu. Bagiku itu hanya berarti melewatkan waktu bersamamu.

Tapi… agaknya kamu memang sekedar butuh teman untuk nonton.

 

Biar aku yang pergi bila tak juga pasti

Adakah selama ini aku cinta sendiri

 

“Baik-baik saja?”

Sebuah gelengan. “Temani aku.”

Tak perlu kau minta pun aku akan melakukannya. Kau akan selalu memiliki bahuku untuk bersandar dan pelukanku untuk menenangkanmu.

Meski mungkin… bukan bahu dan pelukan ini yang kau inginkan.

 

“Tidakkah kau menginginkan seseorang di sisimu, Sam?”

Hening. “Tentu saja. Tentu saja aku mau.”

“Beritahu aku seperti apa orang yang kau inginkan? Atau jangan-jangan orang itu sudah ada?”

 

Kau tidak tahu.

Kau bahkan tidak menyadarinya.

Setelah semua yang kulakukan untukmu.

 

Pengumuman untuk segera masuk ke pesawat kembali terdengar. Waktunya sudah habis ya? Bahkan di saat terakhir pun…

 

Biar aku menepi bukan lelah menanti

Namun apalah artinya cinta pada bayangan

 

“Saaaaaammmm!!!” Suara yang kukenal. Suara yang selalu mengubah ritme jantungku.

“Josh?”

Laki-laki itu menghentikan larinya di depanku, terbungkuk, terengah. Ketika dia mendongak aku bisa melihat wajahnya yang memerah karena aliran darah menderas ke daerah itu.

“Jaga dirimu baik-baik, Sam.” Dia tersenyum. Lengkungan sederhana yang menyisipkan rasa menggelitik di dadaku. “Kau akan selalu jadi teman terbaik yang kumiliki.” Dia memelukku. Erat. Ada rasa sakit tak terjelaskan yang tiba-tiba menjalar.

Jemarinya bergerak mengusap pipiku. “Jangan menangis.” Iyakah? Aku bahkan tidak menyadari kapan benda itu mengalir.

Aku memberinya senyum selamat tinggal sebelum berbalik dan menyeret koperku menjauh.

 

Bahkan di saat terakhir pun, rasa sakit yang kudapat.

Mungkin memang benar. Selama ini… aku hanya cinta sendiri.

 

Pedih aku rasakan kenyataannya cinta tak harus slalu miliki

 

Pesawat melambung naik. Benda ini tidak hanya membawaku ke negara yang baru, lingkungan baru, tapi juga orang-orang baru, kehidupan baru. Aku menjauh. Berharap semua akan baik-baik saja.

Berharap aku akan baik-baik saja.

 

Jujur aku tak yakin bisa jalani hari tanpa dirimu

Namun apalah artinya cinta pada bayangan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: