Kisah Supir Angkot

Salah satu yang membuat saya menikmati bepergian menggunakan kendaraan umum adalah berjuta pengalaman yang bisa didapatkan dalam sebuah perjalanan singkat yang kita tempuh. Bertemu pengamen ganteng, misalnya. Bersuara indah pula, hihi… Pengamen ganteng ini bahkan membawakan sebuah nostalgia melalui lagu ‘Rahasia Hati’ milik Elemen dan ‘My Love’ yang tiba di telinga saya oleh Westlife.Tapi itu adalah pengalaman sekitar 4 tahun berselang. Apa yang saya alami hari ini benar-benar unik. Begitu uniknya sampai pada detik saya mengalaminya, saya tahu saya akan menuliskannya.

Gelap sudah turun. Jam tangan saya menunjukkan pukul 18 lewat 45 menit. Hujan yang telah turun selama kira-kira setengah jam menciptakan genangan di sepanjang tepi jalan yang saya lalui. Mengandalkan perlindungan payung kesayangan, saya melompat-lompat kecil menghindari genangan menuju perempatan. Di perempatan ini angkot dengan trayek incaran saya tengah nge-time, berusaha menjaring penumpang sebanyak-banyaknya.

Karena kuota angkot yang memang sudah hampir terpenuhi, tak lama setelah saya menempatkan diri angkot pun bergerak. Sepanjang jalan penumpang silih berganti turun dan naik. Hingga tersisa 5 orang penumpang, termasuk saya. Angkot kembali menepi untuk menaikkan seorang penumpang.

“Punten, Bu. Geser. Jangan di pintu,” pinta si supir angkot dengan sopan pada seorang ibu yang posisinya menyebabkan orang susah masuk ke dalam angkot. Saya sampai mengalihkan pandangan dari balapan air di kaca jendela ke arah supir angkot itu. Nada dan cara bicaranya sungguh tidak biasa. Kalau boleh saya bilang, terdengar berpendidikan. Nilai plus langsung saya tambahkan padanya.

Supir itu mengulang lagi permintaannya. Sementara si ibu hanya bergeser sedikit di tempatnya, enggan memberikan posisinya pada orang lain. “Sebentar juga turun kok,” sahut ibu itu tenang sementara si penumpang yang baru naik menempatkan dirinya dalam angkot. “Di depan.”

“Turun sekarang juga nggak papa kok,” si supir menimpali seraya mematikan mesin mobil. “Dikasi tahu susah si.”

Hek! Saya shock. Rasanya benar-benar seperti ketika guru atau orang tua sedang marah. ‘Keluar kelas sekarang atau saya tidak akan mengajar’ kira-kira begitu.

“Nanti, A’. Di depan,” jawab ibu itu masih dengan tenang.

“Turun di sini juga nggak papa.”

“Di depan sedikit. Berat bawaannya,” penumpang lain, seorang ibu, coba membantu.

Saya hanya berpikir, ibu-ibu ini mungkin sudah lama tidak dimarahi guru dan orang tua sehingga lupa rasanya. Mereka agaknya tidak menangkap kalau supir angkot itu sudah melemparkan peringatannya.

Hening.

Perempuan di sebelah saya menjadi tidak sabar. Dia memutuskan turun, sambil menggerutu, dan berganti angkot.

Bergeming.

Saya mulai menimbang-nimbang apakah sebaiknya mengikuti jejak perempuan tadi.

“Nungguin saya turun, A’?”

“Lagi nge-time!”

Akhirnya ibu itu turun dan saya tidak tahu lagi bagaimana kisah hidupnya. Sementara mesin angkot kembali dinyalakan (“Dikasi tahu susah. Anak TK aja lebih gampang dikasi tahu.”) dan melaju mulus hingga saya tiba di tujuan lalu menuliskan kisah ini.

***

Well, what do you guys think? Ada di pihak siapa kalian? Si ibu? Atau si supir?

Saya pribadi berada di pihak si supir. Kebiasaan kita untuk memilih tempat duduk di dekat pintu sementara keadaan angkot kosong itu sebenarnya menyusahkan dan menjadikan hal ini kurang tepat. Karena ya begitu, penumpang berikutnya menajdi kesusahan untuk masuk ke dalam angkot. Berdasar pengamatan pula, penumpang-penumpang ini susah diberitahu. Otot leher supirnya sampai nongol semua saking keselnya ngasi tahu. Mungkin kalau posisinya nggak kagok di belakang kemudi, dia bakal nggebukin orang-orang ini satu-satu. Dan yah… saya termasuk orang-orang yang bakal digebukin ini 😦

Jadi saya justru kagum pada perbuatan supir angkot yang saya jumpai sore ini. Memang begitu agaknya orang Indonesia harus diajar. Dipaksa. Dengan kekerasan. Untuk menekan egonya dan lebih tertib dalam hidup bersama 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: