Tentang Kenangan

Beberapa waktu lalu aku dan beberapa teman sedang berbagi cerita (kalau tidak bisa dibilang bergosip sih) mengenai seorang teman yang koleksi foto-foto masa lalunya tertangkap basah oleh pasangan yang sekarang.

“Harusnya dia simpan file-file itu di flash disk lalu titipkan pada teman yang nggak akan ada sangkut pautnya dengan hubungannya yang sekarang,” temanku yang telah banyak makan asam garam dalam berhubungan menanggapi.“Kalau aku sih,” dia melanjutkan, “seharusnya ini dibuat kesepakatan. Karena aku punya masa lalu, dan dia (pasangan temanku itu) juga punya masa lalu. Kita buat kesepakatan aja mengenai bagaimana masing-masing menyikapi masa lalu ini. Dan itu harus direkam,” pungkasnya.

 

Pagi ini… di depan hamparan awan-awan putih dalam naungan cahaya mentari, tiba-tiba aku merenungkannya. Masa iya sebuah hubungan pakai kesepakatan? Apakah itu tidak menjadikan hubungan ini seperti sebuah organisasi?

Bukankah masa lalu itu seharusnya tidak lagi berarti jika memang hati kita ada untuk pasangan yang sekarang? Bukankah seharusnya mudah saja men-SHIFT+DEL semua file itu?

Berkaca dari perasaanku sendiri, sekarang ini aku punya dua folder: yang satu bernama ‘R’, lainnya bernama ‘Pandora’. ‘R’ adalah folder berisi kenangan yang benar-benar telah lewat (walaupun masih menyenangkan kalau diliat lagi). Sementara ‘Pandora’ berisi hal-hal yang sedang berusaha kujadikan kenangan. Seandainya, folder ‘R’ terhapus, aku toh akan baik-baik saja. “Ah, ya sudahlah” paling itu tanggapanku. Lain halnya bila folder ‘Pandora’ yang terhapus. Aku mungkin terdiam. Serasa ditusuk tombak tepat di jantung. Menjerit histeris. Meratap. Aku… kehilangan sesuatu yang saaaaaaaaaaaaaaangat berharga!

Begitu. Jadi,kisah-kisah lama itu ya sejarah saja. Tidak dapat dipungkiri telah terjadi, tapi ya sudah. Bukan lagi harta berharga.

Seharusnya penyesuaian antara 2 pribadi dengan segala masa lalu dan masa kininya itu terjadi secara perlahan, dari hati ke hati. Bukan bagaikan hukum hitam di atas putih.

Namun, agaknya beberapa hati begitu pelik hingga dapat menebarkan cinta pada dua hati yang berbeda, aaahh… Semoga hati yang pelik itu tidak membawa pemiliknya pada jalan hidup yang pelik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: