Setapak Sriwedari dengan… Lale

Saya pernah melewatkan pergantian tahun di rumah teman sambil membakar jagung.

Saya pernah melewatkan pergantian tahun di rumah temannya teman sambil nonton film, main kartu, dan ketawa-ketawa.Saya pernah melewatkan pergantian tahun di dalam gua di salah satu ‘pasak’ Jawa Barat sambil duduk berhimpitan dengan yang lain untuk mengusir dingin.

Saya juga pernah melewatkan pergantian tahun dengan tidur di rumah.

Tahun ini saya melewatkan pergantian tahun di Convention Hall-nya Harris, Bandung sambil LONCAT-LONCAT, TERIAK-TERIAK! Tahun ini saya melewatkan pergantian tahun dengan menjadi fangirl!

20131231_21031120131231_210341

Adalah suatu ketidak sengajaan, or let’s say: destiny!, ketika saya melihat X-banner Maliq n d’essential Concert in Harmony. Serta merta saya menghubungi Khalis for I remembered her saying, “Aku suka banget Maliq. Pokoknya kalo Maliq konser, aku mau nonton.”

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kita langsung hampiri kantor promotornya dan sukses memboyong tiket presale yang harganya sekitar setengah kali lebih murah. Dan di sanalah kita pada malam tahun baru, menanti dengan tak sabar idola kami beraksi.

Dua pengisi acara pertama benar-benar membosankan. Saya bener-bener nggak tahu apa yang dia nyanyikan. Saya bahkan ingin berteriak, “Sudah! Cukup! Turun dari panggung! Aku mau Maliq!!!” Satu setengah yang benar-benar menyiksa.

Pengisi acara ketiga memiliki keahlian beat box. And he’s great 😀 Lalu tiba-tiba panggung menjadi penuh. Seseorang mengisi tempat di balik drum. Di depannya pemain terompet. Di sisi kirinya pembetot bass. Sebelah kirinya lagi seorang keyboardist. Di ujung sebelah kanan panggung satu sosok siap dengan gitarnya.

Gadis di depan saya mulai berisik. “Angganya mana? Angganya mana?” Kemudian dia menjerit saat yang dinanti muncul sembari bersenandung.

Woaaoww!! Itu bener-bener konser paling asik yang pernah kuhadiri. Loncatnya puas. Teriaknya puas. Jogednya puas. Fangirling-nya puas!

Sekitar 5 menit berlalu, Khalis menyuarakan apa yang hatiku jeritkan, “Gitarisnya ganteng!!”

Yap. Dia bahkan bukan sekedar ganteng. Dia itu perpaduan sempurna antara ganteng, manis, dan imut. Oh, astagaaa~~~

Sekian lagu kemudian Angga bilang, “Apakah kita akan mulai romantis sekarang?” Dan aku menjawab, “AAAAAAAAAAAAAAA~~~” Lagunya sudah bisa ditebak kan apa… “Kenapa gak dari tadi sih?” kata Khalis.

“Mungkinkah… kusadari sudah…” Lirik itu mulai memenuhi seluruh Convention Hall.

Tapi, saat itu lagu bertajuk ‘Untitled’ tersebut sama sekali tidak terasa romantis. Bahkan itulah pertama kalinya ‘Untitled’ sama sekali tidak berasa melankolis. Kami tetap berteriak. Kami tetap melompat. Hanya ada pesta di ruangan itu. Semua begitu larut bernyanyi hingga tak menghiraukan Angga yang tiba-tiba melintangkan telunjuknya di depan bibir saat lirik: “Salahkah ku bila”

“Biasanya,” gema suara sang vokalis melalui mikrofon. “Yang nyanyi berasal dari sini,” dia menunjuk dirinya dan Indah, “dari sini,” dia mengacu pada sepasang backing vocal, “dan pernah juga dari sini,” kali ini telapak tangannya mengarah pada sang pemain terompet. “Tapi malam ini,” tangannya memeluk pundak Lale, si ganteng+manis+imut, sang gitaris, “kita akan memberi kesempatan pada Lale.”

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~~” teriakku dan Khalis. Pada titik inilah sesi teriak dan fangirling mencapai puncaknya.

“Kaulah yang ada di hatiku…,” senandung Lale. Singkat. Tanpa perasaan. Dan… yah, he’s not singer, was he? Tapi kami tetap saja berteriak mendengar baris pendek yang dinyanyikan Lale ini.

Bagi saya dan Khalis, Lalelah pemilik panggung malam itu. Dialah bintangnya. Seolah hanya ada dia di sana. Posisinya berdiri 45 derajat dibelakang Angga. Tiap kamera fokus pada sang vokalis, gitaris mempesona ini juga tertangkap kamera. “Hahaha, bukan ngeliatin Angganya, tapi ngeliatin Lalenya,” kata Khalis.

Acara disela sesaat untuk countdown pergantian tahun. But, it was no longer important for me. The performance was what matter for me.

Usai layar-layar di kedua sisi panggung dimeriahkan dengan ‘Happy New Year 2014’, musik kembali terdengar.

Ketika Angga berkata, “Ayo kita joged,” dan ‘Drama Romantika’ mengalun, saat itulah sesi joged dan loncat mencapai maks.

Kemudian ‘Setapak Sriwedari’ terdengar…

“Lihat langit di atas selepas hujan reda dan kau lihat pelangi
Seperti kau di sini hadirkan Sriwedari dalam surga duniawi
Dan kita berpijak lalu… kau merasakan yang sama sepertiku”

Argh! Bener-bener suka! Rasanya dalam waktu sekitar 1,5 jam itu saya benar-benar menjadi diri sendiri 🙂 Lepas! Bebas! Puas :DDD

Setapak di taman Sriwedari

Setapak Sriwedari dengaaaaaan… mu

Setapak Sriwedari dengan… (seperti itu aku padamu…)

Setapak Sriwedari dengan… (seperti itu aku padamu…)

Setapak Sriwedari dengan… Lale :p

maliq

– Happy New Year –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: