I Like Adera and I’ll Tell You Why

Sekarang saya sedang menggilai Adera dan lagu-lagunya. Taraf gilanya bisa saya gambarkan sebagai ‘baru denger not pertama intronya aja aku sudah tahu itu lagu apa’. Tiada hari tanpa ngedenger lagunya Adera. Bahkan ada hari dimana aku nge-replay 7 lagunya berulang kali.

Seseorang pernah bertanya padaku, “Kenapa suka lagu-lagunya Adera?”

“Karena lagunya nggak cengeng,” jawabku.

“Lagunya kan ada yang melo juga,” katanya.

Dan saat itu aku berpikir, mungkin khalayak beranggapan melo (a.k.a melankolis) dan cengeng itu sama.

Well, menurutku tidak. Untuk menguatkannya, aku mengadu pada…. KBBI!

me·lan·ko·lis /mélankolis/ a dl keadaan pembawaan lamban, pendiam, murung, sayu; sedih; muram
ce·ngeng /céngéng/ a 1 mudah menangis; suka menangis: 2 mudah tersinggung (terharu dsb): 3 lemah semangat; tidak dapat mandiri

Nah, beda kan? Melankolis itu sedih, cengeng itu mudah menangis.

Lagunya Adera itu ada yang melankolis. Ya. Tapi nggak cengeng. Lagunya berpuisi, menurutku. Menggambarkan kesedihannya. Tapi nggak cengeng. (Oke, mulai kayak kaset rusak ngulang-ngulang satu kalimat ini)

Lirik dan musik lagu yang cengeng itu misalnya:

“Haruskah ku mati karenamu?”
“Bila harus menangis aku kan menangis, namun air mata ini telah habis” dan lagu-lagu lain dari band yang satu ini

Oke, aku nggak inget lagi lagu apa. Pokoknya dari band-band macam band yang nyanyiin lagu C.I.N.T.A itulah…

 

Walaupun sedih, lirik dan musiknya juga nggak jahat. Lirik dan musik yang jahat itu misalnya:

“Semoga Tuhan membalas semua yang terjadi kepadaku”
“Tinggalkan dia. Lupakanlah saja dia”
“Nafas benciku terlahir”
“Kau tak lebih dari manusia tak berharga”
“Jangan jodohkan dia dengan yang lain”
“Kuharap Tuhan cabut nyawamu” bleh
 

Liriknya juga nggak ada yang menuduh gender lain sebagai penjahat.

Pokoknya saya jatuh cinta banget sama lirik dan musiknya Adera. Terutama lirik dan musik yang ini:

“Bagiku kaulah yang membuat dunia indah”
“Di sudut relung hatiku yang membisu, kumerindukanmu”
“Melukis bayangmu, karena semua mungkin akan sirna”
“Sesungguhnya ingin kukatakan saja dari hati ini, kumencintaimu”
“Dan kau mengerling sekejap, aku terkesima”
 

Hanya ada satu lagu yang menurut saya lirik dan musiknya kurang mengena. Dari apa yang ditangkap pendengaran saya dan pengalaman saya merangkai kata, agaknya daya kerja hati kurang maksimal dalam proses penciptaan lirik dan musik lagu itu.

Kasih dengarkanlah aku, kini hatiku yang berbicara
Resah yang ada di jiwaku, ingin kulalui bersamamu
Karena ku yakin cintaku hanya tercipta untukmu
Tak ‘kan pernah sirna hingga akhir waktu.
 
Sejujurnya ingin ku katakan saja, dan hati ini, ku mencintaimu
Kuharapkan kau mengerti, dan percayakan hatimu
Semuanya kini terserah padamu
 
Sayang maafkanlah aku, bila ku tak selal di sisimu
Namun percayalah kasih, hatiku hanyalah untukmu
Tiada yang lain, yang menggantikanmu
Berasa… hmm, klise. Dan itulah yang terjadi tiap kali aku merangkai kata gak pake hati. Klise, norak, argh! nggak banget.
Ntah, itu sih pendapatku aja. Di luar semua itu, aku suka Adera!! suka suka sukaaaaaaaaaa 😀
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: