Posted in celoteh

Pekan Raya Tumpang #2: Menuju Danau di Ketinggian 2400 mdpl

Pendaftaran

Gerimis mulai menitik begitu pijakan kami kembali pada tanah. Buru-buru kami mencabut jas hujan dari dalam carrier dan melangkah menuju area base camp. Moo dan Ucup berjalan duluan. Menyusul saya dan Hafit. Kami langsung menuju pos pendaftaran untuk mengurus simaksi. Setibanya di pos, kami diberitahu bahwa tempat pendaftaran berada di bangunan yang lain. Bangunan tersebut dapat dicapai dengan menuruni tangga yang terletak beberapa meter di depan kami. Meninggalkan barang bawaan di sana, kami segera menuju bangunan yang ditunjuk.

Tetes-tetes air sudah semakin rapat ketika kami tiba di bangunan yang dimaksud. Lembar pendaftaran yang sudah diambilkan terlebih dahulu oleh Moo pun tidak luput dari terpaannya. Alhasil, kami mengambil lagi lembar yang masih kering. Proses berikutnya adalah mengisi lembar tersebut dengan data leader serta anggotanya. Pada lembar tersebut juga terdapat pernyataan bahwa pendaki yang melakukan pendakian hingga ke Mahameru tidak menjadi tanggung jawab Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) karena pendakian hanya diijinkan sampai Kalimati. Pernyataan ditutup dengan tanda tangan leader di atas meterai dan tanda tangan salah satu anggotanya.

Saya segera menyalin data anggota tim yang telah dikumpulkan di stasiun. Usai menuliskan nama anggota terakhir, saya menyerahkan lembaran tersebut pada Hafit yang mengimbuhkan sepotong kertas kecil di bawah tulisan ‘Ketua’.

Sambil berpikir kapan meterai itu dibasahi, dengan lagak bodoh saya bertanya, “Itu nempelnya pake apa?”

“Pake air,” jawabnya singkat, namun lambat-lambat.

Otak saya yang tidak bisa diam bertanya-tanya, ‘Air apa? Air aja atau air bla bla bla?

Berikutnya kami, eh Hafit ding, mengantri untuk melakukan pendaftaran. Sebelumnya, saya banyak mendengar antrian ini bakal seperti antrian sembako. Dalam pikiran saya sudah tercetak barisan yang panjang, lama, dan sesak bak deretan orang di depan loket bioskop pada pemutaran perdana film populer. Nyatanya, yang saya dapati waktu itu hanya antrian sepanjang kira-kira 15 orang. Selama menunggu antrian bergerak, saya membaca informasi-informasi yang tercetak pada papan-papan pengisi dinding dalam ruang itu. Satu papan memaparkan kekayaan flora dan fauna TNBTS, satu papan yang lain memamerkan keindahan alam Semeru dengan danau dan padangnya, sementara satu papan lagi masih merupakan misteri karena terlalu jauh untuk saya jangkau. Semakin mendekati meja pendaftaran, saya menghampiri antrian, menuju Hafit yang berdiri menggenggam segepok fotokopi KTP plus Surat Keterangan Sehat dari dokter. Cowok itu tampak sibuk menekuri lembar pendaftaran. Begitu tiba di sisinya, saya tahu apa yang menjadi permasalahan. Setengah bagian meterai tampak tidak lagi menempel pada kertas.

“Wah, lepas sebagian,” saya berucap.

“Iya, dibasahin lagi aja, ya?” jawabnya dengan sebuah kalimat retoris.

“Pakai apa?” Kali ini kalimat jahil itu tidak hanya bersuara dalam otak.

“Dijilat,” jawabnya, tertawa kecil. “Pakai apa lagi. Kalo meterai sama perangko si bisa ditempel pake liur.” Dengan malu-malu, Hafit membasahi lagi meterai itu… dengan lidahnya. Saya sebagai penonton dari sisi panggung menahan tawa geli dengan sebuah gigitan di bibir.

Antrian terus bergerak hingga tiba giliran kami. Data-data dicatat, formulir diarsip, biaya dihitung hingga muncul nominal Rp 235.000,-. Selesai dengan urusan daftar mendaftar, kami kembali ke bangunan pertama, mengangkut kembali carrier dan mencari teman-teman yang lain. Melihat kucuran air dari langit yang tampaknya tidak akan berhenti dalam waktu dekat, kami memutuskan untuk mengenakan jas hujan terlebih dahulu.

Perjalanan Dimulai

Teman-teman tengah berkumpul dalam lingkaran, masing-masing dalam jas hujannya, ketika kami bergabung dengan kembali dengan mereka. Briefing-singkat-sebelum-perjalanan pun dimulai.

“Kita lewat jalur resmi ya. Dari sini sampai Ranu Kumbolo kira-kira 5 jam.” Saat itu jarum pendek jam telah memposisikan diri di angka 3. Lima jam dari sekarang berarti jam 8. Artinya, kami akan melakukan perjalanan hingga gelap turun. Cemas mulai menghantui saya. Saya memiliki pengalaman yang kurang nyaman dalam perjalanan pertama saya saat gelap. Sejak itu saya benar-benar cemas setiap kali teman seperjalanan mengajukan ide untuk bergerak sebelum matahari terbit atau hingga matahari sudah tenggelam. Faktanya, hingga detik ini saya belum pernah melakukan perjalanan dalam gelap lagi. Setiap rencana mengejar matahari terbit selalu berakhir dengan alam yang sembab di pagi hari sisa hujan malam sebelumnya atau bangun kesiangan. Namun sekarang, kegelapan itu tidak akan bisa dihindari lagi.

“Target jam 7 nyampe,” celetuk sebuah suara yang adalah milik Mba Suci.

Hati saya langsung menjerit, “Mampus. Ini bahkan cewek-ceweknya jago semua. Tamat deh… Tamat deh kalau aku sampe jadi yang paling lelet dari semuanya.”

“Itu sandalnya aman, ngga?” tunjuk salah satu dari kami pada alas kaki yang dikenakan Mba Suci. Ternyata sandal yang dikenakannya bukanlah jenis yang memang diperuntukkan untuk trekking.

“Aman kok. Ngga licin. Sudah dicoba.”

“Dicoba di mana?”

“Di batu-batu,” sang adik turut menjawab. Kemudian briefing ditutup dengan doa. Momen ini selalu menjadi saat bagi saya untuk mengadu sekaligus menghimpun kekuatan.

“Dibagi jadi 2 tim ya. Tujuh-tujuh,” leader member instruksi begitu doa selesai. “Ceweknya dibagi dua-dua.” Saya langsung tahu saya pasti satu tim dengan Mba Lina dan saya senang 😀 “Nanti ketemu sebelum Ranu Kumbolo. Pokoknya tim yang duluan nyampe nunggu di situ.”

Lingkaran spontan membelah dua. Hafit, Moo, Ucup, Barkah, Om Quncen, Mba Suci, serta Mba Rini di satu sisi dan saya, Mba Lina, Boim, Bang Sis, Bang Rochmat, Yogi serta Centhak di sisi yang lain. Mungkin melihat komposisi pengalaman yang kurang seimbang; sisi yang satu berisi orang-orang yang sudah pernah menginjak Semeru sebelumnya sementara sisi yang lain berisi para pendatang baru; akhirnya Hafit bertukar posisi dengan Centhak.

“Nama kelompoknya apa nih?” celetuk Hafit.

“Ewo aja,” sahut Ucup. “Nanti teriaknya ‘ewo’, dijawab ‘wo’.”

Semua langsung sepakat dengan usul tersebut.

“Oke, Ewo 1 berangkat duluan ya.” Berangkatlah tim dengan saya sebagai salah satu anggotanya itu meninggalkan desa Ranu Pani.

Jangan-jangan Aku Kurang Darah

Kami berjalan beriringan di antara semak-semak yang rimbun di sisi kanan dan kiri setapak. Lonceng Hafit yang berada di ujung belakang mulai memperdengarkan dentingnya seolah memberitahu bahwa perjalanan kini telah benar-benar dimulai. Tak lama kami tiba di depan gapura. Selayaknya anak manusia, kami tak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen di sini.

1010917_627958667217382_812537477_n

Kebetulan saat itu ada sepasang pendaki yang baru turun. Kami pun bertanya bagaimana cuaca beberapa hari ke belakang.

“Bagus kok. Cerah.”

“Oh, baru ini aja ya hujannya?”

“Iya.”

Sedikit rasa kecewa dan was-was terbersit. Apakah lagi-lagi saya harus hidup di gunung ditemani hujan?

Sembari berdoa dan meyakinkan diri kalau cuaca akan cerah, saya melanjutkan langkah bersama yang lain. Semakin lama jalan semakin menanjak. Meski kemiringan tanjakan hanya beberapa derajat, punggung dan nafas saya mulai kepayahan menghadapinya. Tubuh pun serasa ringan dan tidak bertenaga. Saya mulai cemas dan bertanya-tanya ada apa dengan tubuh saya. Kemudian seperti hendak mengingatkan keberadaannya, rasa nyeri di perut kembali terasa. Ah, apakah gara-gara ini? Jangan-jangan saya jadi kurang darah? Aduuuhh, gawat kalau sampai pingsan.

Tenaga serasa benar-benar terkuras. Saya berjalan begitu lambat hingga terbentuk jarak yang cukup jauh dengan anggota di depan.

“Pelan-pelan aja jalannya. Sudah makan, kan?” tanya Hafit yang berjalan di belakang saya.

‘Sudah, tapi belum mengonsumsi sukrosa,’ jerit otak saya. Tubuh saya punya kebiasaan yang berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya. Katanya, orang Indonesia tidak akan merasa sudah makan sebelum menyantap nasi. Saya, baru merasa benar-benar sudah makan setelah menjejalkan sukrosa pasca makan besar.

Sementara itu hati saya bertanya-tanya, ‘Sekelihatan itu ya? Ketidak mampuanku?

“Iya, sudah,” lidah menjawab dengan standar, seperti yang selalu dilakukannya.

Punggung yang terasa tidak nyaman saya asumsikan sebagai akibat posisi carrier yang kurang tepat. Beruntung, ketika rombongan yang lain nampak, mereka sedang menunggu kami sambil beristirahat. Kesempatan ini saya gunakan untuk memperbaiki pengaturan carrier.

Begitu semua sudah siap untuk berjalan lagi, kami pun menegakkan diri. Namun, rasa tidak nyaman itu masih ada. Bahkan menjadi-jadi. Ada apa sebenarnya? Seingat saya, saya nggak selemah ini deh, hihi…

Mesin Diesel Ternyata…

Kami kembali beristirahat. Terpikir oleh saya untuk menjejali tubuh dengan gula merah. Mungkin asupan sukrosa memang yang saya butuhkan. Tapi rasa lelah dan susahnya menggapai ke bagian dalam carrier membuat rasa malas memenangkan pertarungan batin. Ketika iring-iringan kembali bergerak, saya memilih kembali ke posisi semula, nomor dua dari belakang, menyesuaikan dengan langkah lambat saya. Kondisi yang sama berulang beberapa kali. Hingga akhirnya rasa malas tidak bisa lagi menahan saya untuk mengorek-ngorek isi carrier. Benda kecoklatan nan manis itu saya lahap dengan ganas, lagi, lagi, dan lagi. Benar-benar nikmat sensasi yang diberikannya ketika lumer di mulut. Sekonyong-konyong saya jadi berenergi. Mungkin kedengarannya berlebihan, tapi memang begitu adanya. Saat mulai berjalan lagi, saya sudah jauh lebih segar. Menahan nyeri dan hasrat ingin menangis pun jadi lebih mudah.

Dengan energi yang telah di-recharge, ingatan saya kembali ke masa-masa yang telah lalu, perjalanan-perjalanan yang telah saya lakukan sebelum ini. Bukankah selama ini selalu begitu? Di awal perjalanan saya selalu merasa kepayahan. Sekian menit berlalu, setelah tubuh cukup ‘panas’, barulah saya bisa merasa nyaman.

Saya jadi teringat pada kata-kata papa, “Kamu itu seperti mesin diesel. Pertama pelan dulu, setelah panas baru bisa kenceng.”

Yah, apapun itu… entah sukrosa entah diesel, yang jelas saya sudah bisa berlari-lari kecil sekarang.

Pos Satuuuuuuuu  \(^_^)/

Entah berapa putaran yang telah ditempuh jarum jam saat shelter di sisi kiri jalan setapak itu akhirnya nampak. Dengan bahagia, tiap-tiap orang menurunkan gendongan mereka, menjadi satu dengan pendaki-pendaki lain yang sudah lebih dahulu tiba. Beberapa mengeluarkan perbekalan dan mengedarkannya. Di sini saya melihat carrier dalam gendongan Mba Rini berubah menjadi daypack kecil. Otak saya yang doyan ikut campur urusan orang mulai bertanya-tanya, ‘Loh? Kok?’ Tapi pertanyaan itu hanya sampai di situ. Saya bahkan tidak tahu siapa partner-nya dalam pertukaran beban ini.

Sesuatu yang memberikan sepercik sensasi kejut terjadi setelahnya: carrier Moo bergulir ke jurang!

Nggak bener-bener bergulir sampai ke jauh ke dasar si, hanya beberapa puluh sentimeter, tapi cukup memancing jerit juga. Setelah tumbang dari posisi berdirinya, carrier itu berguling ke sisi jurang lalu berhenti. Si pemilik carrier yang berdiri agak terpisah, tampak terkejut melihat ini hingga tangannya otomatis terjulur. Namun gerakannya terhenti seiring dengan berhentinya gerakan carrier. Tak disangka, detik berikutnya carrier malah bergerak menuruni jurang.

Kejadian yang menghebohkan, tapi tidak menimbulkan dampak fatal ini sempat menimbulkan tawa di antara kami. Ah, entah bagaimana kelanjutan kisah ini kalau carrier itu sampai menghilang ke kedalaman jurang.

Sebelum berangkat kembali, beberapa orang mengingatkan untuk meletakkan headlamp di tempat yang mudah dijangkau karena gelap sudah tampak samar di langit.

“Mba Casper, headlamp-nya sudah ditaro di atas?”

“Sudah. Ada di sini.” Saya menepuk tas kecil yang menggantung di pinggang.

Mahameru di Balik Kabut

Gelap perlahan turun seiring turunnya matahari ke lindungan bumi. Headlamp mulai dipasang dan dinyalakan. Langkah-langkah kaki kami terhenti di satu titik yang agak terbuka. Dari sana tampak Semeru menjulang kokoh, meski samar di balik kabut tipis yang melayang-layang di udara. Tentu saja view yang satu ini tidak dilewatkan untuk diabadikan.

380_4944665028908_1151483792_n

8551_10200202351043632_563124071_n

Di sini pertanyaan saya beberapa waktu lalu mendapat jawab. Tampak Ucup menggendong 2 buah carrier. Sementara Mba Rini terlihat menenteng pisang-pisang menggiurkan milik Ucup.

Setelah sekian pose dan sekian bidikan kamera, kami kembali melanjutkan perjalanan.

“Kayaknya perlu ganti baterai ni…” Hafit mengacu pada headlamp-nya yang telah redup.

“Diganti aja kalo gitu.”

“Nanti aja di Pos 2. Susah ngambilnya di dalem.”

“Baterainya AAA? Aku ada ni. Mau?”

Dengan bangga saya membuka tas kecil dan mengeluarkan satu pak baterai. Saat itu saya merasa rada aneh karena baterai terlihat lebih besar dari yang seharusnya. Meneliti lebih jauh lagi, saya menemukan label AA pada bungkusnya. Sial!

Pada saat yang sama Hafit seolah menegaskan, “Bukan itu. Itu AA.” Saya benar-benar ingin menjerit, ‘Iya! Sudah tahu!’

“Ya sudah. Nanti aja di Pos 2,” kata Hafit.

Sementara saya digelanyuti perasaan kesal. Bagaimana bisa saya membeli barang yang salah, padahal jelas-jelas waktu itu saya mengambil baterai AAA?? Ah! Sekarang saya jadi tidak punya baterai cadangan.

“Pisang… Pisang…”

Penanda Pos 2 adalah sebuah shelter di sisi kanan setapak. Kalau di Pos 1 saya hanya ‘menumpangkan’ beban bawaan ke dinding tanah, di sini saya benar-benar duduk. Lelah. Begitu pantat menyentuh bumi dan punggung bersandar pada carrier, posisi pun menjadi begitu nyaman untuk tidur.

“Istirahatnya dilamain aja di sini,” kata Hafit yang baru selesai mengganti baterai headlamp-nya dan ikut duduk-duduk di tanah. “Nanti di pos 3 nggak usah istirahat. Deket kok dari pos 3 ke pos 4.”

“Berapa lama?”

“Paling setengah jam.”

“Kalo dari pos 1 ke pos 2, pos 2 ke pos 3?”

“Sekitar satu jam lebih.”

“Ada yang mau pisang?” terdengar suara feminin menawar-nawarkan.

Tentu saja mau. Pisang kan buah paling enak di dunia. Yang selalu enak bagaimana pun penyajiannya. Jadi saya melahap satu.

“Pisang… pisang… siapa yang mau pisang lagi?”

“Wah, dibagi-bagi biar ngurangin beban ya?” goda suara yang lain.

“Nggak ih. Yang bawa juga bukan aku.”

Pos Shelter Rubuh

“Enaknya di sini, tiap pos ada shelter-nya. Cuma yang Pos 3 shelter-nya sudah rubuh makanya sering disebut Pos Shelter Rubuh,” jelas Hafit di awal perjalanan kami. Sekarang ke Pos Shelter Rubuh itulah kami menuju.

Hujan sudah berhenti, namun tetesan airnya meninggalkan genangan dan setapak licin yang memberikan tantangan ekstra dalam perjalanan kami. Jemu dengan becek dan lelah dengan perjuangan yang masih harus kami lakukan meski dunia telah meredupkan cahayanya siap untuk beristirahat, saya mulai bertanya-tanya di mana ujung jalan ini. Mana shelter rubuh itu? Mana danau yang keindahannya selalu didengung-dengungkan orang itu?

Ketika sebuah suara dalam diri saya berkata, ‘Buka tenda di sini saja kalo gitu’, suara di belakang saya memompakan semangat, “Sudah deket kok. Lima belas menit lagi. Nanti ada jembatan. Terus nyampe pos 3.”

Saya tahu kok ‘lima belas’ yang diucapkannya tidak seperti lima belas dalam 8 ditambah 7 atau 5 dikali 3, tapi ada harapan yang ditabur dalam angka itu. Harapan yang kata banyak orang palsu, tapi yang bagi saya merupakan recharge bagi harapan yang sudah tergerus oleh lelah. Maka dari itu, saya lebih menyukai suntikan semangat dalam ‘lima menit lagi’ daripada kejujuran yang ada dalam ‘satu jam lagi’.

Senyum pun terkembang saat jembatan yang dimaksud akhirnya nampak. Seperti apa tampilan shelter di Pos 3 yang telah rubuh pun dapat kami saksikan sendiri tak lama kemudian. Sesuai rencana, kami tidak beristirahat di pos ini.

 

Saya Nggak Akan Pernah ke Sini Lagi

Melewati pos shelter rubuh, kami disambut sebuah tanjakan. Dalam hati saya berseru, ‘Buset!! Kenapa orang-orang cuma ribut tentang Tanjakan Cinta, kalau di sini aja sudah ada tanjakan yang asoiii begini.’ Entah berapa sudut elevasi tanjakan itu, yang jelas selama menapakinya, saya terus mengulang dalam hati, “Saya nggak akan pernah ke sini lagi. Saya nggak akan pernah ke sini lagi.” Tapi yah… kata-kata saya mana bisa dipercaya si? Begitu tanjakan berakhir, kalimat itu sudah bagai angin yang hilang bersama waktu.

Setengah Jam

Menuju Pos 4, medan semakin menantang. Akar mencuat di mana-mana. Jalan setapak bergelombang oleh naikan dan turunan kecil, masih pula dihiasi becek dan licin. Jarak yang katanya dekat dan dapat ditempuh dalam setengah jam itu tak kunjung menemui akhir. Yah, setengah jam di gunung memang berbeda dengan setengah jam di kota.

Jarak saya dengan teman-teman di depan semakin jauh. Saya hanya bisa melihat gelap. Kalau bukan karena denting lonceng itu, saya pasti sudah merasa completely alone. Tak berapa lama, tampak sosok Bang Sis yang keliatan mencari-cari sesuatu. Ternyata dia kehilangan baterai headlamp-nya. Untuk sesaat kami sibuk mencari benda mungil itu di setapak yang gelap sampai Hafit berkata, “Sudah. Sudah. Jalan dulu aja.” Agaknya kami tengah menghalangi pengguna jalan yang lain. Jadi, kami berjalan lagi dengan Bang Sis di depan saya.

Melangkah dengan cepat untuk menyusul yang lain, saya membuat beberapa pijakan yang salah. Beberapa kali saya pijakan saya meleset oleh licinnya setapak atau batu yang mencuat di sana sini.

“Mba Cas, kalo capek istirahat dulu aja.”

“Oke.” Tapi saya tetap melangkah.

Lelah menatap tanah, saya mengedarkan pandang ke sekeliling. Jauh di atas sana, bintang mulai berkelip dan… ouch! Pijakan saya meleset lagi. Saya oleng. Kembali terdengar suara Hafit, “Mba Cas, kalo capek istirahat dulu deh. Jalannya sudah sempoyongan gitu.” Kali ini nadanya terdengar agak tidak sabar. Hihi, maaf ya… Saya merasa seperti anak nakal yang tidak patuh pada nasehat.

Ternyata benar saya lelah. Saat kaki tidak perlu lagi menopang dan punggung tidak perlu lagi memanggul, saat semua beban dapat ditumpukan pada bumi, saat rasa nyaman menjalar, saat itulah pemahaman ini muncul. Saya lelah. Duduk berselonjor kaki terasa begitu nikmat. Bernapas perlahan. Ternyata ‘lelah menatap tanah’ hanya kamuflase, tubuhlah yang sebenarnya lelah.

Suasana hening. Hanya ketenangan malam dan taburan bintang yang menemani. Kalau boleh, saya mau tidur saja di situ, tidak perlu berjalan lebih jauh lagi.

Tapi bagaimanapun saya berkata, “Yuk, jalan lagi.”

Kami bertemu dengan yang lain tak lama kemudian. Tampaknya mereka sedang membicarakan kami yang tiba-tiba terpisah dari iring-iringan. Kedatangan kami langsung disambut dengan pertanyaan, “Kalian kok tiba-tiba ngilang?” dan “Tadi kalian nyenterin Bang Sis, ngga?”

Kekurangan energi, saya jadi tidak bisa fokus dan amnesia sejenak. “Nggak,” jawab saya sembari menyandarkan tubuh.

“Loh? Loh? Terus tadi yang nyenterin aku siapa?” sahut Bang Sis.

Pertanyaan lain ikut bermunculan. Pikiran-pikiran mistis mulai bangkit.

“Nah… nah…”

“Jangan-jangan…”

Kemudian memori saya kembali dan mendadak saya paham maksud pertanyaan mereka. “Ooohhhh,,, iya iya,, tadi ketemu sama Bang Sis. Kita yang nyenterin Bang Sis.”

Festival Lentera

Dari Pos 4, lampu-lampu yang bertebaran di tepi Ranu Kumbolo mulai tampak. Cantik. Seolah Festival Lentera sedang diselenggarakan di sana.

Melihat tempat tujuan yang sudah dalam jarak pandang, langkah kaki saya menjadi lebih ringan. Nyamannya terbungkus sleeping bag dalam tenda dan hangatnya makanan sudah membelai-belai angan.

Beberapa meter dari camping area, kami dihadapkan pada sebuah percabangan. Yang satu adalah jalan menurun, lebih singkat sekaligus beresiko tinggi terlebih dengan kondisi jalan yang licin dan gelap. Seseorang yang tengah beristirahat di situ pun mengungkapkan peringatan senada. Alternatif lain adalah jalan memutar yang lebih aman, namun tentu saja lebih panjang. Kami memutuskan mengambil alternatif kedua, setelah sempat menuruni jalan dan menemukan bahwa jalan tersebut memang benar-benar beresiko untuk dilalui.

Benar-benar sensasi lega yang luar biasa ketika kami tiba di area membangun tenda. Rasanya seperti tiba di rumah, aman dan nyaman. Menit-menit setelahnya kami isi dengan membangun tenda. Sesekali saya menengok ke jalur yang kami lewati tadi. Iringan cahaya tak putus membentuk ular-ularan cahaya di sepanjang jalur tersebut. Begitu mempesonanya sampai membuat saya tidak sadar kalau cahaya-cahaya itu sama artinya dengan orang-orang yang akan mengisi lahan-lahan kosong di sini.

Di tengah kesibukan mendirikan tenda, terdengar suara, “Ewoo~~”

Mendengar kode ini, beberapa dari kami langsung menyahut, “Ewoooo~~”

Sahut-sahutan terus berulang hingga satu sosok muncul, Centhak, yang tampak lelah dan langsung menjatuhkan diri di tanah.

“Yang lain mana?” tanya salah satu dari kami melihat Centhak datang seorang diri.

“Loh? Yang lain belom datang? Kepisah tadi soalnya. Aku istirahat dulu di tengah jalan.”

Night Chat

Begitu tenda-tenda berdiri, saya langsung dengan tidak sabar masuk ke dalamnya. Isi carrier saya keluarkan dengan brutal. Sesi beberes diri pun dilakukan dengan secepat kilat sebelum penghuni tenda yang lain berdatangan. Benar saja, tak lama suara-suara mereka terdengar.

Sempat menunggu beberapa menit di luar, pasangan kakak-beradik itu pun akhirnya bergabung dengan saya dan Mba Lina dalam tenda. Semakin banyak barang yang diurai dari pack-nya. Dalam sekejap tenda berubah bagai gudang.

“Cukup ngga ya kita di sini berempat?” sebuah suara menyeletuk di tengah keasikan menata barang.

“Cukuplah. Kan ini memang kapasitasnya buat 4 orang.”

“Tapi barang-barangnya banyak.”

“Harusnya memang tadi tendanya jangan ditinggal. Aku kan memang sudah mau bawa tenda sendiri tadi.”

Lebih karena keegoisan dan rasa enggan saya setenda dengan mereka, saya mengusulkan, “Ya udah, tu tendanya Hafit, Moo, Ucup, sama Barkah kan 2-2. Tukeran aja apa?”

“Iya. Gitu aja apa?”

Bergeming. Tidak ada yang mengambil tindakan.

“Kayaknya memang kita harus tenda sendiri deh,” celetuk suara yang pertama lagi. “Aku basah banget ini soalnya. Memang kalian mau tidur bareng aku? Kalian kering semua gitu.”

Lagi-lagi lebih karena keegoisan dan rasa enggan saya setenda dengan mereka, saya menyanggupi untuk menjadi orang yang menyampaikan usulan tersebut. “Iya, aku bilang ke Hafit.”

“Harus bongkar lagi dong kalo gitu,” respon Hafit pada ide tersebut. Dia menoleh pada tendanya dan Barkah yang sudah tertata rapi. Yah, jaman sekarang cowok-cowok memang lebih rapi daripada cewek-cewek. “Tunggu dulu deh. Liat yang laen dulu gimana.” Kali ini dia menoleh ke tenda merah di sebelah kirinya dimana Moo dan Ucup masih asik di dalamnya.

“Oke,” saya menyahut ringan.

Sementara itu, mata saya menangkap satu aktivitas yang telah dinanti-nanti. Di bawah bentangan flysheet, kompor dan nesting ditata. Bahan-bahan makanan ditumpuk.

“Bang Barkah, mau masak mie ya? Ikut!”

“Mana mie-nya?”

Saya langsung masuk ke tenda dan mencomot mie lalu mengangsurkannya pada Barkah.

“Mau bikin teh manis, tapi nggak bawa gula,” gumamnya.

“Aku bawa,” sahut Mba Lina.

Logistik Mba Lina pun ikut ditumpuk di dapur sementara itu.

“Mba Lina mau bikin mie juga?”

“Engga. Aku minta airnya aja. Mau bikin bubur.”

Setelah air yang dijerang cukup panas, sebagian dituang ke wadah berisi bubur instan milik Mba Lina. “Aku makan di dalem ya. Di sini dingin,” pamitnya. Sementara itu, Barkah menuang sebagian air lagi ke gelas untuk tehnya.

Kemudian hening. Hanya air dalam nesting di atas kompor yang asik bernyanyi.

“Bentar ya, Mba. Saya sudah terlanjur nuang bumbu mie yang ini.” Barkah menunjuk mie miliknya.

“Ngga dicampur aja?” usulku, mengingat pengalaman makan mie di gunung selama ini.

“Oh, gitu? Mau dicampur?”

“Iya, dicampur aja.”

Kali ini obrolan mengisi jeda ketika kami menunggu makanan berpengawet dan berpenyedap rasa itu dilumat oleh air yang mendidih.

“Denger Om Barkah ngemodus tuh,” celetuk Moo dari dalam tenda. Yang namanya disebut langsung menyahut sementara saya tertawa.

“Bikin mie berapa, Om? Dua?” Moo melongok dari balik tenda.

“Ini Mba Casper…”

“Loh? Bukaaannn… dua tuh buat bareng-bareng maksudnya.”

“Oh, kirain Mba Casper mau dua. Ngga papa dicampur-campur gini?”

“Iya, ngga papa. Aduuhh, aku jadi mengacaukan ya? Maafff…”

“Mba Casper di sini ya, saya di sini,” Barkah menunjuk pada dua nesting berbeda. “Masak kita makan satu nesting berdua.”

Saya menahan tawa. “Iya. Iya. Oke.”

Mie dibagi ke dalam 2 nesting tersebut. Kemudian… makaaaaannnnn, akhirnya 🙂

Kedua nesting segera kosong dalam hitungan detik. Barkah yang mendapati tehnya sudah jadi pun serta merta menambahkan gula lalu… “Kurang manis ya? Minumnya sambil ngeliat ke sana si…” goda saya pada Barkah yang posisinya waktu itu memang membelakangi saya.

Walaupun tidak melihat wajahnya, dari gestur yang dibuatnya saya tahu ekspresi seperti apa yang muncul. Dan ini membuat saya mendengus tertawa.

“Mba Cas mau teh anget?” tawarnya setelah menandaskan teh-kurang-manisnya.

“Mauuuu…”

“Sebentar ya saya cuci-cuci dulu.” Kemudian dia menghilang bersama setumpuk nesting kotor.

Saya keluar dari naungan flysheet. Dinginnya udara malam membelai-belai kaki. Di luar tenda hanya ada Hafit yang sedang serius memasak spaghetti.

“Masuk aja kalo dingin,” ujarnya mengacu pada tendanya.

 Sebagai tamu yang baik, saya tidak mungkin menolak kebaikan hati tuan rumah.

Benar, di dalam tenda memang hangat.

“Mau susu jahe?” Dia mengacungkan serenteng susu jahe bawaannya.

“Mauu…” Segala mau, haha…

“Ini,” dia menyodorkan susu jahe tadi dan sebuah gelas plastik. “Airnya ada di dalem termos.”

Oke. Berikutnya, saya sibuk mengaduk susu jahe yang terasa ratusan kali lebih nikmat saat menyentuh lidah itu.

“Kita bagi berdua yuk.” Spaghetti yang telah masak masuk ke tenda bersama pemiliknya. “Nggak biasa makan sendiri ni…”

Duh, basa basi nih… “Sudah kenyang,” jawab saya, yang memang benar, sayangnya #eh

Tak lama Barkah kembali, memenuhi salah satu nesting dengan air sambil berisik mengumumkan kalau dia hendak memasak agar-agar untuk summit besok.

Satu demi satu penghuni tenda yang belum tidur bermunculan, Om Quncen yang memberitakan betapa nyamannya sleeping bag milik Yogi, Moo yang duduk di pintu tenda, dan Boim dengan celana ketatnya yang langsung disambut gaduh oleh yang lain.

Kemudian Hafit juga beranjak untuk cuci-cuci. Saya jadi bertanya-tanya danaunya di sebelah mana sih? Posisi kita itu sebenarnya bagaimana?

Sejauh mata memandang hanya kegelapan yang ada. Iring-iringan headlamp pun sudah amat jarang. Tapi, hei, bintang-bintang sudah berbaris manis di atas sana. Tersenyum dan mengedip. Menggoda untuk tidur berselimutkan langit malam saja, kepala menyembul keluar dari tenda agar dapat terus memandang mereka hingga mimpi membawa terlelap.

“Kenapa sih kok agar-agar?” tanya saya penasaran pada gerombolan kecil itu. Padahal kan agar-agar melancarkan pencernaan.

“Kan bikin kenyang, Mba. Agar-agar kan padet,” sahut Boim.

Perbincangan yang asik terus berlanjut di antara mereka berlima.

“Mba Cas, gabung sini, Mba Cas. Tapi ini pembicaraan laki-laki si.”

‘Ga papa. Saya juga laki-laki kok,’ saya menyahut… dalam hati.

Lalu… Pembicaraan laki-laki itu benar terjadi.

“Gimana sii? Kalau di gunung aja gagah, begitu di depan cewek…”

“Iya. Biarlah begitu…” Salah satu dari mereka menjawab dengan nada yang membuat saya tersenyum karena merasakan manisnya obrolan ini.

Karena para pemilik tenda menunjukkan gelagat ingin tidur, maka saya pun beranjak dari sana menuju tenda yang diperuntukkan bagi saya sendiri.

Tenda sudah gelap. Ketiga penghuni yang lain sudah lelap. Perlahan, sebisa mungkin tidak gaduh-walaupun gagal, saya mencari sleeping bag. Benda itu ternyata sedang difungsikan sebagai bantal oleh Mba Rini. Alhasil, saya harus membangunkannya. “Ah, untung kamu datang. Dingin ni…,” gumamnya.

Ketika beringsut pada celah yang tersisa antara Mba Rini dan Mba Lina, saya tidak sengaja membuat sosok yang satu lagi terbangun. Hmph, lengkap sudah.

Terbungkus bak kepompong dalam sleeping bag yang hangat saya terlelap tak lama kemudian. Pagi, saya terbangun dengan perasaan cukup tidur meski dinginnya malam membuat saya terbangun beberapa kali untuk menenggelamkan diri lebih lagi ke dalam sleeping bag. Di luar telah terdengar suara-suara, milik Hafit dan Moo.

Teringat pembicaraan malam sebelumnya, saya segera menyerbu keluar. Benar saja, mereka sedang bersiap-siap untuk ke sisi lain Ranu Kumbolo. “Aku ikuuut!” segera menyembur dari mulut.

Danau di Ketinggian 2400 mdpl

Kami memutari tepian Ranu Kumbolo, pada setapak yang melingkari sisi bukit. Dari situ, indahnya Ranu Kumbolo benar tampak. Airnya yang tenang, bukit yang mengelilinginya, dan sinar matahari yang membuat lapisan air itu berkilau.

rakum1

Tiba di sisi Ranu Kumbolo yang menurut istilah beberapa orang merupakan bagian VIP-nya, saya menyaksikan sendiri apa yang dimaksud dengan ‘kayak pasar malam’. Gerombolan tenda dengan penghuninya yang sibuk hilir mudik serta mengoceh benar-benar membuat tempat itu bagai area pekan raya.

pasar

‘Waw,’ desah saya dalam hati.

Di sinilah plang ‘Selamat Datang di Ranu Kumbolo’ terpasang.

 slamat datang

Dan di sanalah Ranu Kumbolo yang kecantikan selalu didengung-dengungkan itu terbentang… dilatari 2 bukitnya dan matahari yang tengah beranjak menunaikan tugas.

 rakum2

 rakum

bidikSegenap keindahan dunia dalam satu bidikan kamera :p

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

2 thoughts on “Pekan Raya Tumpang #2: Menuju Danau di Ketinggian 2400 mdpl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s