Posted in celoteh

“Linu, ngga?”

Akhirnya saya ke dokter gigi lagi Sabtu kemarin sembari dengan amat sangat berat hati menolak 3 (TIGA!) ajakan untuk keluyuran: ke Papandayan-Garut, ke Situ Gede-Tasik, dan ke Gunung Munara-Bogor. Masalahnya, 2 gigi geraham sudah menganga sebesar kawah Papandayan dan Ciremai.

Sekitar satu jam lebih sekian menit menunggu, giliran saya tiba juga. Begitu bertatap muka (kata-kata ini kurang tepat sebenarnya karena si dokter pake masker), kata yang langsung terpikir oleh saya adalah ‘ganteeeeeeeeeeeeeng’ hahahaha…
Tapi kegantengannya ini nggak membuat saya lantas luluh saat dia menunjukkan tanda-tanda untuk ketemuan lagi seminggu kemudian. Sampai sekarang, saya masih merasa geli mengingatkan percakapan kami.
Dokter ganteng (menekuri gigi saya) : “Ini yang kiri nggak linu?” (gigi yang lubang seimbang, kanan satu kiri satu)
Saya (berbaring tidak nyaman di kursi periksa) : “Em-gek” (bersuara nggak jelas karena rongga mulut penuh selang penyedot liur, bor, jemari dokter ganteng…)
Dokter ganteng : “Yakin nggak pernah sakit?”
Saya : “Em-gek”
Dokter ganteng : “Sekalipun nggak pernah sakit?”
Saya : (ikut-ikutan keukeuh bilang enggak)
Dokter ganteng : “Sekarang juga nggak sakit?” (sembari mengedarkan kepala bor ke sekeliling ceruk pada gigi saya)
Saya : (diam) (kehabisan tenaga untuk menjawab)
Sudah pengen teriak, “Sudah dong, Dok, ngebornya!! Linu banget ini! LInuuuuuuu…”
Dokter ganteng ngga tau aja selama percakapan sarat perhatian itu kedua jemari saya saling kait, menggenggam erat satu sama lain.
Klimaksnya terjadi saat penambalan. Waktu obat entah-apa-itu menyentuh dinding ceruk gigi saya, linunya benar menjadi-jadi. Sungguh! Mana prosesnya berasa panjang dan lama banget pula! Hampir saya menyerah dan melolong, “Dok, sakiiiiiiiiitttttttttt…” Karena saat itu saya juga dihantui rasa takut ‘bagaimana kalau setelah tambalan terpasang, giginya justru terasa ngilu?’
Nyatanya, yang saya lakukan hanya memegang pipi. Si suster yang dengan setia menyedot liur saya agaknya mengira saya sudah lelah membuka mulut sehingga dia berkata, “Tunggu sebentar ya. Ini sudah hampir selesai kok.”
Baiklah, Sus…
An eternity later, si dokter ganteng bilang, “Sudah, selesai.”
Dan tahu apa? Linunya sama sekali nggak berasa! Syukurlah, saya tadi tidak jadi melolong 😀
Sebelum saya meninggalkan ruang praktiknya, si dokter ganteng berulang kali mengingatkan, “Jangan makan dulu sebelum satu jam ya.”
Baiklah, Ganteng… hihihi…
Dua jam kemudian baru saya melakukan test drive gigi baru dengan sepiring lasagna dan dua potong pancake durian :9

Sakit hati atau sakit gigi? Ah, yang jelas, gigi sehat, hati bahagia…

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s