Pekan Raya Tumpang 6-8 Juni 2013: Awal Mula

Mungkin memang benar. Saya keracunan.

Tapi racun itu bukan dari foto-foto Ranu Kumbolo dan Oro-oro Ombo atau kemegahan Mahameru yang setiap hari, setiap jam, setiap detik mengalir di lini masa Twitter dan Facebook. Racun itu berasal semangat dan gairah para pengunggahnya yang dengan bangga pun penuh syukur menunjukkan memori perjalanan mereka.

Saya heran sendiri ketika saya merasa merana dengan teman-teman yang merencanakan perjalanan mereka ke Semeru. Bahkan saya iri. Kenapa? Semeru tidak pernah menjadi destinasi impian saya. Bahkan ketika sekonyong-konyong penduduk negeri ini memasukkan Semeru dalam daftar destinasi wisata mereka pasca pemutaran film ‘5cm’, hati saya bergeming. Selama 4 tahun, gunung yang saya kenal, saya impikan, dan ingin saya ‘peluk’ adalah Rinjani. Hanya Rinjani. Tapi, hari itu, 8 Mei 2013, saya menempatkan Semeru sebagai destinasi saya berikutnya.

 

“Yogi, ya?”

Ketika matahari mencapai ubun-ubun Rabu, 5 Juni 2013, saya dengan bersemangat mematikan komputer dan menyambar tas keluar dari kantor. Adrenalin yang terus terpompa oleh antusiasme yang tak kunjung reda membuat saya berlari sepanjang perjalanan kembali ke kost. Masih terngiang di kepala saya pesan dari seorang teman di messenger:

 

May God Bless You. Reach The Top.

 

Kalimat pendek yang membuat saya semakin tidak sabar untuk memulai petualangan.

Setelah makan siang, memastikan semua barang yang diperlukan sudah dibawa, saya pun melenggang ke stasiun Bandung. Di tempat ini saya akan bertemu dengan rekan tim pertama, Yogi.

Sedianya, kami akan berangkat bertiga dari Bandung. Seorang rekan lagi, Tata, mendadak membatalkan keikut sertaannya karena harus menjalani siding skripsi sore itu juga. Berulang kali dia mengucap maaf dalam pesan singkat yang dikirimnya. Saya sih nggak marah, hanya merasa sayang karena Tata terdengar sangat bersemangat untuk perjalanan ini. Sejak 3 minggu lalu dia sudah berkata, “Juni ternyata masih lama ya, Casper?”

Untuk mencapai stasiun, mula-mula saya harus menggunakan jasa angkot Leuwi Panjang-Cimahi. Dari semua angkot yang saya gunakan di Kota Kembang, angkot ini adalah yang kedua termenyebalkan setelah angkot Dago-Caringin. Jarak Kopo-Jendral Sudirman yang dapat ditempuh dalam 15 menit bisa mengembang menjadi 2 kali lipat atau lebih. Apalagi kalau bukan karena angkutan umum itu terus berhenti sembarangan di beberapa titik, yang menurut sang sopir, strategis.

Sampai di bundaran Jendral Sudirman kaki saya sudah sangat gatal. Pada hari-hari yang lain saya selalu lebih memilih turun di titik ini dan berjalan sekitar 7 menit ke Jalan Garuda demi menghindari leletnya laju angkot. Tapi tidak siang itu. Tidak dengan benda berkapasitas 55L yang bersandar di sisi saya ini. Bukan karena beratnya, tapi ukurannya. Menggendong carrier di kota saat matahari bersinar selalu berarti menjadi Miss Indonesia dadakan: semua mata tertuju padamu *sigh*. Maluuuu…

Sabar, saya menunggu hingga Batas Kota. Di sini barulah saya beralih menggunakan angkot jurusan Cimahi-St. Hall. Melewati Pasar Ciroyom yang terkenal dengan aroma khasnya, memasuki Jalan Aruna… ponsel saya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.

Saya sudah di stasiun

Membaca kabar dari Yogi ini, saya hanya mengamankan kembali ponsel ke dalam saku celana.

Dua belas menit kemudian ketika angkot memasuki Jalan Pasir Kaliki, baru saya mengetik balasan:

yup yup.. sbntr lg nyampe..

Pesan yang masuk berikutnya memberitahukan kalau si pengirim menunggu di depan counter Roti O.

Saat itu penumpang dalam angkot tersisa 2 orang termasuk saya.  Beberapa meter dari pintu stasiun, si sopir angkot berseru, “Stasiun, Neng?” dan langsung saya iyakan. Usai menyeret bawaan saya turun dan membayar ongkos, saya berlari-lari kecil menuju meeting point.

Pencarian Yogi yang saya kira akan mudah-tinggal cari yang membawa carrier saja-ternyata tidak begitu. Di dalam stasiun telah berkumpul rombongan pria dan wanita kerir lain yang saya yakin juga merupakan penumpang kereta Malabar.

Mengintip ke sekitaran Roti O, yang saya temukan hanya orang-orang yang telah memiliki rombongan mereka sendiri. Sembari terus mengedarkan pandang, jemari saya mulai sibuk mencari-cari di phonebook ponsel hingga tertumbuklah tatapan saya pada seseorang yang berdiri agak terpisah dari yang lain. Perlahan seraya mengirimkan sinyal ‘kamukah orang yang saya cari?’, saya mendekati sosok itu. Sinyal yang saya kirim agaknya tertangkap dan respon yang dikirimkan positif. Begitu jarak di antara kami tersisa satu langkah, saya lontarkan pertanyaan itu, “Yogi, ya?”

“Mba Casper?”

Jabat tangan pun mengawali perkenalan kami.

Ada satu yang tidak asing pada diri cowok yang kemudian mengiringi langkah saya ke peron itu. Kaus yang dikenakannya adalah kaus yang dibeli teman saya 3 hari berselang. Aah, what a coincidence

 

18 Jam Perjalanan

Kami berpisah di depan gerbong Bisnis 1, kelas yang digunakan Yogi. Saya sendiri berjalan 2 gerbong ke arah timur, menuju gerbong Ekonomi. Terpukau, agaknya bukan kata yang berlebihan untuk mendeskripsikan reaksi saya kala itu. Berbekal pengalaman menumpang KRD Bandung dan kereta malam jurusan Semarang-Bandung, benak saya sudah dipenuhi was-was akan seperti apa gerbong kelas ekonomi yang akan menjadi tempat bernaung saya selama 18 jam ke depan. Ternyata, kelas ekonomi Malabar memiliki kondisi yang lebih membuat nyaman daripada kelas bisnis kereta yang beberapa kali saya gunakan untuk pulang ke Semarang. Diliputi perasaan lega, saya segera menuju tempat duduk sesuai yang tercetak pada tiket.

Tak berapa lama, dugaan saya terbukti benar. Para pria dan wanita kerir yang saya lihat di pintu stasiun tadi memasuki gerbong ini. Segera saja bagian atas gerbong dipenuhi carrier-carrier berukuran besar. Bahkan cowok-cowok yang duduk di belakang saya asik berkisah tentang pengalaman mereka dari gunung ke gunung.

Sesuai jadwal, pukul 15.35 kereta berderak meninggalkan stasiun. Lagi-lagi kereta yang menyusuri jalur selatan pulau Jawa ini menunjukkan betapa dia berbeda dengan kereta yang selama ini saya tumpangi. Kalau selama ini saya hanya melihat bentangan laut samar dan jejeran rumah penduduk dalam gelap pekat malam, dalam perjalanan berkereta kali ini, mata saya dimanjakan oleh bentangan sawah, hutan, ngarai dengan sungai yang meliuk ke laut. Bahkan ada satu titik yang menawarkan pemandangan bukit, ngarai, dan jalan tol sekaligus. Hingga matahari terlelap ke balik cakrawala sore itu, pandangan saya tak lepas dari balik jendela.

Saat gelap menuntup tirai parade alam ini, saya tersenyum pada diri sendiri. Empat jam sebelumnya, saya berkata, “Bisakah kali ini kita melewatkan bagian ‘perjalanan’-nya dan fokus ke ‘tempat tujuan’?” Bayangan duduk 18 jam dalam kereta ekonomi benar-benar membuat saya tidak berselera. Well, it turned out to be not that bad. It’s awesome, indeed.

Ketika alam memanjakan saya, beberapa manusia membuat saya kesal. Sejak awal, pendengaran saya sudah direcoki dengan obrolan berisik sekumpulan cewek yang duduk di seberang kanan. Belum lagi seorang bapak satu ‘kompartemen’ yang main atur seenaknya (dan ujung-ujungnya dia pindah ke kelas bisnis bersama temannya, huh). Menjelang tengah malam, balita di seberang saya merengek tanpa henti. Pada setiap kejadian semacam ini, saya selalu kesal kenapa sang orang tua tampak tidak berusaha untuk menenangkan anaknya. Apa mereka tidak tahu kalau mereka sedang berada di tempat umum? Apa mereka tidak sadar kalau mereka sedang mengganggu ketenangan orang lain? Apa mereka tidak malu? Apa saya yang harus membekap anak itu supaya dia nggak berisik lagi?

Meredam semua kekesalan, saya melipat kaki, meletakkan kepala di atas lutut-membentuk benteng pertahanan saya sendiri- sebisa mungkin menenggelamkan diri dalam mimpi.

 

O ow, Sepertinya Dia Datang

Dini hari saya mulai merasakan sesuatu yang membuat hati resah. Perut saya nyeri… dan…

Mempersiapkan perjalanan ini, saya memang sudah mengecek kalender lalu dengan ngeri mendapati kalau tanggal mens saya akan jatuh pada tanggal 9. Sejak itu, saya sudah terus berdoa agar tanggal tersebut dapat bergeser sedikit ke angka 11. Setidaknya pada tanggal itu saya sudah nyaman di Bandung. Tapi… ini…

Tidak berani mengetahui apa yang sungguh terjadi, saya hanya duduk diam, “Nanti saja kalau sudah di stasiun kita cek,” saya berujar menenangkan hati.

Memasuki stasiun Malang Kota Lama, sosok Yogi muncul.

“Setelah ini kita turun,” ujarnya sembari menawarkan satu pak permen. “Dikasih teman sebangku,” jelasnya akan asal-usul permen itu. Rupanya si teman telah turun lebih dahulu dengan meninggalkan satu pak permen tersebut untuk Yogi.

Setengah 8 pagi kereta berhenti di stasiun Malang Kota Baru. Di otak saya hanya ada satu kata: toilet!

“Yogi, kita ke toilet dulu ya,” ajak saya.

Pintu berhiaskan papan dengan tulisan besar-besar ‘TOILET GRATIS’ itu tampak begitu menggoda sekaligus menyeramkan. Seraya tetap berharap perasaan saya salah, saya menutup pintu toilet dan… voila!

 

Liburan Berdarah

Saya nggak pernah berharap dan membayangkan menjalani masa-masa seperti ini di gunung. Tidak sama sekali. Di daratan saja sudah repot, bagaimana dengan di gunung? Kondisi yang minim air, ketiadaan toilet, ketiadaan tempat tidur yang empuk untuk bergulung saat nyeri menyerang…

Tapi… mau bagaimana lagi? Masa mau batal lalu mengalihkan tujuan liburan ke Malang dan Batu? Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Itu tidak akan terjadi.

Maka, saya kembali ke peron, berpikir dan bertindak seolah tidak ada kejadian menghebohkan apapun. Percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

 

Perjumpaan

Tak berapa lama setelah menyandarkan carrier pada sebuah tiang, terdengar pengumuman bahwa kereta Matarmaja tengah memasuki stasiun Malang Kota Lama. Saya dan Yogi langsung berseru senang. Itu artinya teman-teman kami akan tiba dalam beberapa menit. Dia pun memberitahukan posisi kami pada rombongan Matarmaja.

Tak sampai 5 menit, gaduh logam beradu mengumumkan kedatangan kereta ekonomi AC Jakarta-Malang tersebut. Sejurus kemudian, mata saya menangkap sosok yang tak asing. Setengah berlari saya menghampirinya.

“Eh, baru mau ditelepon,” ujar Hafit seraya menjauhkan ponsel dari telinganya begitu kami bertemu muka.

Rombongan Matarmaja seluruhnya berjumlah 8 orang: Hafit, Moo, Ucup, Barkah, Lina, Boim, bang Rochmat, dan bang Sis. Bersama saya dan Yogi, jadilah rombongan ini 10 orang. Tak lama bang Quncen, yang sedianya sudah menunggu di depan stasiun sebelum Malabar tiba, meramaikan lingkaran kecil kami. Bersebelas, kami duduk-duduk santai di depan toilet sembari menunggu kedatangan kereta Gajayana yang membawa 2 anggota lain. Yogi tak melewatkan kesempatan ini untuk menawarkan permen yang sebelumnya dia tawarkan pada saya di kereta. Sementara Hafit menyarankan untuk mendata setiap personil yang ada. Data ini akan digunakan ketika melapor di pos pendaftaran nanti. Momen yang sedikit riuh terjadi ketika giliran pendataan jatuh pada bang Quncen dan dia menyebutkan usianya. Ternyata yang bersangkutan sudah lahir jauh sebelum kami lahir.

“Kita panggil dia ‘Om’,” gurau salah satu dari kami.

Dan sejak itu kami memanggilnya ‘om’, om Quncen…

Sekian menit menunggu rupanya sopir angkot yang dicarter untuk membawa kami dari stasiun menuju Tumpang sudah tidak sabar lagi. Sopir ini sudah menunggu sejak pagi benar dan mengalami dilema antara menunggu kami yang tak kunjung tiba atau meninggalkan kami sejenak untuk mengantar penumpang yang melimpah ruah. Diputuskan sebagian anggota; Om Quncen, Boim, bang Rochmat, dan bang Sis; plus 5 orang lain yang kami ajak berbagi ongkos angkot berangkat lebih dahulu.

Tak lama 7 orang yang tersisa pun bergerak untuk memasukkan barang bawaan ke dalam angkot. Menit-menit penantian kami diisi oleh kisah sang sopir tentang pengalamannya mengantar pendaki dari stasiun menuju Tumpang serta peristiwa-peristiwa spesial yang terjadi dalam pendakian ke Semeru beberapa kurun waktu terakhir. Waktu pun berlalu tanpa terasa. Tiba-tiba 2 sosok yang ditunggu-tunggu muncul. Di mata saya saat itu, mereka terlihat sebagai sosok-sosok sudah fasih dengan gunung dan semua keasikan petualangan yang menyertainya. Tidak membuang waktu lagi, kami naik ke angkot dan bergerak meninggalkan stasiun.

Perjalanan stasiun-Tumpang membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Kami melewati jalan yang saya kenal. Meski tidak ingat dengan pasti nama jalannya (kalau nggak salah sih jalan-jalan di situ dinamai dengan nama gunung), saya mengenali hypermarket yang ada di perempatan jalan itu. Dua setengah tahun yang lalu, saya sudah begitu dekat dengan Bromo, gunung yang sampai sekarang belum kunjung dapat saya pijak. Kenyataannya, saat kembali lagi ke sisi timur pulau Jawa, saya sedang dalam perjalanan menuju gunung yang bertetangga dengan Bromo.

“Yang dari Makassar nggak jadi ikut,” mba Suci, salah satu dari dua anggota yang terakhir bergabung, menginformasikan. Menurut rencana yang saya tahu, rombongan mba Suci berjumlah 6 orang dengan label ‘rombongan dari Makassar’. “Mereka ketinggalan pesawat.” Ternyata mba Suci dan adiknya, mba Rini, berasal dari Jakarta. Dia sekedar mengkoordinir keempat orang lain dari Makassar.

Angkot terus melaju, membawa kami menyusuri jalan-jalan yang tidak lagi saya kenal. Yang saya tahu berikutnya, kami sudah tiba di Tumpang.

Di kota mungil ini kami mendapat kebaikan hati mba Nur. Adapun kediaman mba Nur ini sudah bagai basecamp bagi para pendaki. Semua, baik yang akan memulai perjalanan maupun yang baru saja menyelesaikannya, singgah di rumah ini untuk melepas lelah serta bebersih. Sang empunya rumah pun menyambut setiap yang datang dengan senyum ramah dan sapaan hangat.

Beberapa dari kami langsung memanfaatkan kamar mandi yang ada untuk membasuh diri. Antrian untuk menggunakan kamar mandi ini bagai antrian di dokter gigi, tidak putus. Saya termasuk salah satu orang dalam antrian itu, tapi bukan untuk mandi tentu saja, hehe.. Begitu saya keluar dari kamar mandi, satu wajah baru lagi telah ada di antara kami. Sosok yang kemudian saya ketahui bernama Centhak, anggota ke-14 tim kami. Berdasar keterangan Hafit, masih ada 2 orang lagi yang akan bergabung.

 

Getting Ready

Kami berkumpul sejenak untuk briefing memastikan alokasi tenda, jumlah kompor, dan logistik.

“Mba Suci dan Mba Rini bawa tenda?” Hafit mengawali.

“Iya, kita bawa semua kok, lengkap,” jawab mba Rini. Nah, respon yang membuat saya semakin yakin kalau mereka ini sudah lama bergumul dengan gunung.

Hafit pun mulai menghitung hingga diperoleh keputusan bahwa tenda yang ada sudah mencukupi tanpa perlu ada tenda tambahan dari mba Suci dan mba Rini. Berikutnya, kompor yang dihitung. Ini pun berakhir dengan kompor dari pasangan bersaudara tersebut tak perlu dibawa. Dengan senyum senang, mba Rini mengumumkan bebannya yang berkurang banyak.

“Logistik gimana?”

“Aku bawa spaghetti.”

“Aku juga bawa spaghetti,” sahut sebuah suara seakan tak mau kalah.

Saya tidak ingat bagaimana pastinya pembicaraan berlangsung. Yang jelas, sejak kalimat itu dilontarkan udara hanya dipenuhi oleh suara kedua kakak beradik yang heboh membicarakan spaghetti, bagaimana mereka akan memasak spaghetti itu, sampai akhirnya mereka berkata akan memasakkan untuk semuanya.

Mendengar riuhnya mereka berbicara, saya punya firasat kalau kami tidak akan terlalu cocok.

“Yang penting setiap orang bawa logistik untuk diri sendiri dilebihin sedikit,” sebuah suara dengan bijak mengakhiri kericuhan.

“Masing-masing bawa air minimal 2 botol 1,5 literan ya,” kata sang leader mengakhiri briefing.

Usai itu, masing-masing segera melengkapi bawaannya, melakukan repack, kemudian makan. Brunch, kalau orang barat bilang. Awalnya, kami berencana menyantap bakso Malang di Tumpang ini. Menurut tim F4 yang sudah pernah melakukan perjalanan ini sebelumnya, bakso ini begitu nikmat dan memiliki 2 versi porsi: porsi biasa dan porsi pendaki. Sayangnya, yang dinanti-nanti tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan. Menu pun beralih ke nasi pecel plus telur dan teh. Teh yang sesuai definisi orang Jawa: diperkaya gula dan es batu.

 

Berang-berang Makan Coklat, Berangkattttt…

Sekitar pukul 11.30 sebuah truk telah siap membawa kami menuju Ranu Pani. Dua orang terakhir belum juga nampak batang hidungnya. Saya tidak tahu dengan pasti bagaimana, tapi agaknya diambil keputusan bahwa kami tidak lagi menunggu mereka. Carriers dinaikkan, pemiliknya berdiri menunggu giliran. Saat itulah saya melihat Ucup datang memeluk setandan pisang. Wajahnya dihiasi senyuman.

“Wah, Ucup!” seru salah satu dari kami. Agaknya dia juga merujuk ke gerumbul pisang yang tampak menggiurkan itu.

Di atas bak truk, saya segera memposisikan diri tepat di sisi truk. Selain agar bisa berpegangan, tentunya agar bisa mengedarkan pandang dengan leluasa. Ternyata kami berbagi truk dengan ibu-ibu serta bapak-bapak paruh baya. Saya jadi bertanya-tanya apakah 30 tahun silam mereka adalah pendaki. Status yang mereka lakoni hingga sekarang? Apakah saya bisa seperti mereka, hingga 30 tahun ke depan berdiri dalam truk seperti ini, tertawa bersama teman-teman, menuju sebuah petualangan yang siap memberikan sejuta kenangan dan pelajaran?

Lamunan saya dibuyarkan oleh rebut-ribut kecil, “Mba Suci sama mba Rini mana?”

Sosok kakak beradik tersebut tak tampak baik di sekitar truk maupun di rumah mba Nur. Akhirnya, beberapa dari kami berinisiatif mengangkut barang bawaan mereka terlebih dahulu. Selanjutnya, yang dapat dilakukan hanya menunggu… dan mengabadikan momen 😀

 421621_4180188722838_1445394126_n

Mendekati tengah hari, tampaklah sepasang gadis berjalan ke arah kami. Seruan “Carrier-nya sudah dinaikkin” dilontarkan pada mereka dan agar mereka bergegas. Awalnya mereka sudah naik ke bak truk dan mengisi ruang di sisi kiri saya. Namun saat itu diumumkan bahwa kursi di sisi sopir masih kosong yang membuat mereka, dengan inisiatif dari mba Rini yang tampak tidak tahan dengan suasana truk, segera mengambil kesempatan ini. Somehow, saya senang dengan keputusan mereka ini.

Pintu-pintu ditutup, gigi persneling dimasukkan, mesin truk menggerung, dan menggelindinglah keempat roda truk membawa kami ke titik yang lebih tinggi, lebih dekat ke titik awal petualangan kami. Bersama truk kami, berangkat pula satu truk lagi.

Sepanjang perjalanan truk tak henti meliuk ke sana kemari mengikuti alur jalan. Sepanjang perjalanan itu pula, mata tak henti dimanjakan. Gerumbul pepohonan, barisan rapi tanaman di sawah, terasering… semua yang hijau dan semua yang biru dengan corak putihnya…

Sapuan angin dingin membuat jemari saya yang berpegang erat pada ruang-ruang kosong di dinding truk berulang kali kram. Akibatnya, berulang kali pula saya harus menepuk-nepuk dan mengibas-ngibaskannya. Meski demikian, tak terbersit keinginan untuk duduk dan berlindung dari terpaan angin. Iya, saya selalu begitu, kan? Bahkan sejak sebelum saya bisa mengeja ‘mama’ dan ‘papa’.

Tiba-tiba truk berhenti. Gerasak gerusuk mulai terdengar.

“Ada apa?”

“Ada apa?”

Ternyata truk yang berangkat beriringan dengan kami kehabisan bensin. Sebagai ‘saudara’, truk kami pun memberikan sebagian bahan bakarnya. Beberapa rekan dari rombongan tetangga cemas bagaimana bila nantinya ‘donor bensin’ ini malah menyebabkan truk kami yang kehabisan bahan bakar. Terus terang saja, kecemasan ini segera menular pada saya. Ketika terdengar beberapa saran agar ’donor’diambil dari truk yang sedang dalam perjalanan turun, dalam hati saya mendukungnya. Namun, para penanggung jawab truk agaknya tahu apa yang mereka lakukan.

Begitu truk tersebut mendapat energi kembali, perjalanan dilanjutkan. Memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, gunung Bromo yang hijau berdiri menebarkan pesonanya di sisi kiri. Sayangnya, saya berdiri di sisi kanan saat itu sehingga tidak dapat melihat gunung itu dengan jelas.

Pukul 14.00 kurang sekian menit, truk menghentikan lajunya.

Kami telah tiba di Ranu Pani.

Ranu Pani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: